Semangat Kerelawanan pada LSM HIV di Indonesia sebagai Motivasi Berkarya

Semangat Kerelawanan pada LSM HIV di Indonesia sebagai Motivasi Berkarya

Anindita Gabriella

Epidemi HIV di Indonesia merupakan masalah yang semakin berkembang. Semakin banyak lembaga yang mendampingi ODHA dan kelompok risikonya muncul dan berkembang, baik yang mendampingi penasun, transgender dan perempuan pekerja seks, serta laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki.   Lembaga-lembaga ini dibentuk dari kepedulian komunitas ODHA maupun komunitas kelompok risiko tersebut. Lembaga-lembaga ini sudah mulai muncul sejak akhir tahun 1990an, ketika epidemi HIV mulai berkembang di Indonesia.

Kebanyakan orang yang bekerja di lembaga-lembaga ini merupakan orang-orang yang sedikit-banyak terdampak oleh HIV. Beberapa pembicaraan dengan penggiat di LSM HIV-AIDS mengatakan bahwa keterlibatan mereka di LSM tersebut merupakan bentuk kepedulian mereka karena “perasaan senasib” dan yang memotivasi mereka untuk terus berkarya adalah keinginan menolong orang lain karena telah ditolong pada saat mereka membutuhkan layanan. Kebanyakan dari penggiat LSM ini kemudian menjadikan keterlibatan mereka sebagai pekerjaan utama, yang menjadi sumber penghasilan utama mereka pula. Padahal, seringkali pekerjaan di LSM HIV-AIDS dapat dikatakan sebagai pekerjaan yang altruis, karena didasari oleh dorongan untuk menolong orang lain tanpa imbalan.

Dalam pekerjaan, motivasi kerja menjadi salah satu faktor utama yang bisa mempengaruhi performa kerja seseorang. Motivasi sendiri terbagi menjadi motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi yang dipacu dari dalam diri dan dari luar diri. Motivasi intrinsik adalah dorongan untuk melakukan sesuatu demi kepuasan pribadi, bukan karena konsekuensi atau imbalan dari pihak luar diri (Ryan & Deci, 2000), dan merupakan tantangan yang didasarkan pada minat pribadi serta bertujuan untuk mengasah kemampuan yang dimiliki (Woolfolk, dalam Sembiring & Purwanti, 2007).

Motivasi intrinsik menjadi sangat penting karena akan mempengaruhi performa, ketekunan, dan kesejahteraan seseorang selama hidup (Ryan & LaGuardia, dalam Ryan & Deci, 2000). Konsep motivasi intrinsik dapat dianalogikan dengan keterampilan memotivasi diri (Pandia & Purwanti, 2007), karena keterampilan seseorang untuk dapat memotivasi dirinya untuk memilih pekerjaan sesuai minat, memberikan usaha dan bertekun dalam bidang tersebut merupakan indikator adanya motivasi pada individu tersebut (Pintrich & Schunk, dalam Sembiring & Purwanti, 2007).

Motivasi penggiat LSM HIV-AIDS untuk tetap bekerja di bidang yang sama juga dipengaruhi oleh motivasi intrinsik serta motivasi ekstrinsik. Salah satu motivasi intrinsik yang disebutkan oleh penggiat LSM sebagai alasan mengapa mereka tetap bertahan adalah keinginan membantu orang lain, seperti mereka dulu dibantu, serta perasaan “ingin membantu orang yang membutuhkan bantuan”. Perasaan ini sering dikaitkan dengan konsep yang disebut sebagai “belief in a just world” atau “keyakinan akan dunia yang adil”. “Keyakinan akan keadilan” adalah sebuah konsep psikologis yang digunakan untuk menjelaskan keyakinan bahwa pada dasarnya dunia adalah tempat yang adil, di mana orang mendapatkan apa yang pantas ia dapatkan dan pantas mendapatkan apa yang ia dapat (Lerner, dalam Suwartono & Limandibrata, 2007).

Dalam penelitian-penelitian sebelumnya, dapat dikatakan bahwa perilaku altruistik berkorelasi baik secara positif maupun negatif terhadap “keyakinan akan keadilan”. Rubin & Peplau (dalam Andre & Velasquez, 1990) menemukan bahwa orang yang memiliki kecenderungan kuat untuk memiliki keyakinan akan keadilan cenderung tidak terlalu merasakan kebutuhan untuk teribat dalam kegiatan yang dapat mengubah masyarakat atau mengurangi “beban” kelompok yang menjadi korban situasi sosial. Di lain pihak, studi oleh Zuckerman (dalam Begue, et.al, 2008) menunjukkan bahwa orang-orang dengan keyakinan akan keadilan yang tinggi akan berperilaku lebih altruistik saat dihadapkan pada situasi yang membutuhkan bantuan mereka.

Di sisi lain, penelitian mandiri yang dilakukan oleh PPH Unika Atma Jaya mengenai pengaruh lembaga donor asing terhadap keberadaan LSM HIV di Indonesia menunjukkan ketergantungan yang sangat besar terhadap pendanaan asing, di mana ketiadaan pendanaan berdampak langsung terhadap berhentinya banyak program pendampingan. Altruisme memang masih terlihat, namun keberadaan donor cenderung menjadikan karya LSM semakin mengarah ke “bisnis”, dan altruisme relawan cenderung semakin berkurang.

Salah satu tantangan yang kemudian muncul adalah bagaimana membangun dan memupuk kembali semangat altruisme untuk menjadi motivasi intrinsik pekerja LSM HIV di Indonesia. Hal ini diharapkan dapat mendorong kemandirian dan keberlangsungan LSM HIV dalam berkarya. Terkait mengenai “keyakinan akan keadilan”, muncul pertanyaan seperti apakah konsep “keadilan” yang dimiliki oleh para pekerja LSM HIV? Apakah masih sebanding dengan upaya untuk bekerja relawan dan mengabdikan diri?

Dibutuhkan upaya untuk menjaga semangat kerelawanan pekerja LSM HIV, dan hal ini yang kelihatannya masih belum menjadi salah satu hal yang dikuatkan dalam pengembangan kapasitas LSM HIV. Semangat kerelawanan ini tidak pernah diejawantahkan ke dalam bentuk penguatan yang konkrit dan terpadu, padahal hal ini yang dapat mempengaruhi keberlangsungan lembaga dan LSM, meskipun pendanaan mungkin berkurang. Aktivisme perlu menjadi semangat yang mendasari kerja LSM, dan menjadi tugas kita bersama untuk semakin meningkatkan semangat ini.
Daftar Pustaka:

Bègue L., Charmoillaux, M., Cochet, J., Cury, C., de Suremain, F. (2008). Altruistic Behavior and the Bidimensional Just World Belief. The American Journal of Psychology Vol. 121, No. 1 (Spring, 2008), pp. 47-56. University of Illinois Press

Ryan, R.M., & Deci, R.L. (2000). Intrinsic and Extrinsic Motivations: Classic Definitions and New Directions. Contemporary Educational Psychology 25, 54–67

available online at http://www.idealibrary.com

Andre, C. & Velasquez, M. (1990). The Just World Theory. Issues in Ethics – V. 3, N. 2 Spring 1990, Markkula Center for Applied Ethics, Santa Clara Univers

Suwartono, C. & Limandibrata, K.F. (2007). Pengembangan Skala Keyakinan Akan Keadilan. Jurnal Ilmiah Psikologi Manasa, Volume 1 No. 2, Desember 2007

Sembiring, W.S.P, & Purwanti, M.,(2007). Gambaran Keterampilan Memotivasi Diri, Keterampilan Mengelola Diri, dan Keterampilan Teknis Praktis Mahasiswa Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya. Jurnal Ilmiah Psikologi Manasa, Volume 1 No. 2, Desember 2007