Pasien HIV/AIDS Ragu Berobat

Pasien HIV/AIDS Ragu Berobat

MANADO — 2016 ini sudah 37 pasien HIV/AIDS yang melapor di Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) Tikala Baru. Sayangnya, dari jumlah tersebut, hanya 21 yang mengambil obat anti retro virus (ARV). Hal ini diungkapkan Olga Sondakh, petugas di bagian Infeksi Saluran Reproduksi PKM Tikala Baru. “Belum datang semua. Alasannya bisa karena mereka belum siap berkomitmen untuk pengobatan. Karena itu seumur hidup, tidak boleh berhenti. Setiap hari harus mengonsumsi obat. Jadi, harus sudah siap benar,” ujarnya.

Dijelaskan Sondakh, pengobatan ini berfungsi menekan risiko dari virus HIV, agar tidak membelah diri dan berkembang, yang bisa memperparah kondisi pasien. Untuk menjangkau penderita potensial, PKM Tikala memiliki petugas yang sering turun langsung ke lapangan untuk mengarahkan pasien ke PKM. Selain itu, bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Manado, sering diadakan sistem mobile yang langsung datang ke titik-titik tertentu untuk mengadakan pengobatan.

Diketahui, terhitung Mei 2016, Dinas Kesehatan Kota Manado mulai memberlakukan sistem penanganan HIV/AIDS dalam skala yang lebih kecil. Yakni di PKM. Hingga sekarang, PKM yang diberdayakan untuk langsung memberikan pengobatan adalah PKM Tikala Baru.

Dikatakan Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kota Manado dr Joy MA Zeekeon, pengobatan yang dulunya harus ke rumah sakit, akan diusahakan bisa diakses di setiap PKM terdekat. “Tapi untuk saat ini, yang kami persiapkan baru PKM Tikala. Sumber daya disiapkan dan diuji coba di PKM Tikala dulu. Nanti, kalau sudah berjalan bagus, akan siapkan tempat baru yang bisa menangani HIV juga,” terang Zeekeon.

Mengenai program ini, Zeekeon mengatakan kalau pihaknya sudah menjalankan sosialisasi ke populasi kunci (kelompok masyarakat yang rentan dengan HIV/AIDS, red). “Diharapkan, mereka yang membutuhkan pengobatan bisa langsung datang ke PKM untuk berkonsultasi. Agar penanganannya bisa lebih cepat dan efektif,” tukasnya.

Pengamat sosial, Lidya Kandowangko SSos MA mengatakan, stigma yang diberikan masyarakat luas pada pengidap HIV/AIDS menjadi salah satu alasan pasien enggan berobat. “Dari banyak penelitian, sebagian besar masyarakat beranggapan HIV/AIDS itu sebuah penyimpangan. Cenderung ditimbulkan karena seks bebas dan narkoba. Akhirnya mereka malu ambil obat,” sebut jebolan Universitas Gadjah Mada Jogjakarta ini.

Selain itu, bisa juga karena budaya orang Manado yang gengsi. “Mereka takut status sosial terpengaruh. Kalau akhirnya diketahui sedang berobat, posisi sosial mereka terancam,” tukas Kandowangko. Sedangkan alasan terakhir menurutnya adalah dukungan keluarga. “Saya kira jika keluarga mendukung, komitmen untuk berobat bisa muncul dari penderita. Mereka juga akan lebih terbuka terkait penyakit mereka,” tandasnya.(pri/gel)

http://manadopostonline.com/read/2016/10/10/Pasien-HIVAIDS-Ragu-Berobat/18160