6.000 Obat Hepatitis C Sofosbuvir Tersedia Gratis

6.000 Obat Hepatitis C Sofosbuvir Tersedia Gratis

JAKARTA, KOMPAS — Tahun ini, obat hepatitis C sofosbuvir dan kombinasinya, yakni ledivaspir dan declatasvir, tersedia gratis di layanan pengobatan hepatitis C di rumah sakit. Pada tahap awal, obat tersedia untuk 6.000 pasien. Ke depan, diharapkan obatnya bertambah.

Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Samsuridjal Djauzi, Jumat (6/1), di Jakarta, mengatakan, sofosbuvir adalah obat yang sangat dinantikan pasien hepatitis C, baik yang monoinfeksi maupun yang koinfeksi dengan HIV.

Nantinya, 6.000 sofosbuvir itu akan didistribusikan ke sejumlah rumah sakit yang memberikan layanan pengobatan hepatitis C. Menurut Samsuridjal, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, sebagai pusat rujukan nasional, salah satu yang mendapatkan kuota. “Informasi ini harus disebarluaskan sehingga pasien mengetahui dan bisa mengaksesnya,” ujarnya.

Sejak ditemukan sofosbuvir, hepatitis C dinilai bukan lagi penyakit menakutkan. Tingkat kesuksesan pengobatan dengan sofosbuvir mencapai 99 persen. Sejak 1 Juli 2016, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberikan izin peredaran sofosbuvir generik di Indonesia.

Samsuridjal menambahkan, pada pasien hepatitis C, sejak terinfeksi hingga pengerasan (sirosis) hati terjadi butuh waktu sekitar 20 tahun. Namun, pada pasien hepatitis C koinfeksi HIV prosesnya bisa lebih cepat, 15-16 tahun. Karena itu, pengobatan hepatitis C dan HIV yang teratur akan bisa menekan angka kesakitan dan kematian.

Hingga kini, hepatitis C masih jadi masalah kesehatan serius di Indonesia. Diperkirakan, ada 3-4 juta penduduk terinfeksi. Sebagian baru mengetahui terinfeksi setelah sirosis dan kanker hati. Setiap tahunnya, hepatitis C diperkirakan menyebabkan kematian lebih dari 15.000 penduduk.

Sementara itu, sekitar 70 persen pasien HIV terinfeksi hepatitis C, yang juga menjadi penyebab kematian utama pasien HIV. Sejumlah 80-90 persen pasien HIV koinfeksi hepatitis C itu adalah pengguna narkoba suntik. Banyak pasien HIV meninggal bukan karena virus HIV, melainkan koinfeksi yang dideritanya.

Di dunia, hepatitis C menginfeksi lebih dari 140 juta jiwa. Penyakit itu diperkirakan membunuh lebih dari 500.000 penduduk setiap tahun.

Direktur Eksekutif Indonesia AIDS Coalition Aditya Wardhana mengapresiasi upaya pemerintah menyediakan sofosbuvir gratis. Itu langkah awal mengendalikan penyakit hepatitis C.

Meski demikian, Aditya memberikan beberapa catatan terkait sofosbuvir yang bisa diakses gratis itu. Satu di antaranya, gencar sosialisasi ketersediaan sofosbuvir gratis agar dokter dan pasien hepatitis C mengetahuinya. Dengan demikian, dokter akan meresepkan sofosbuvir untuk pasien hepatitis C. (ADH)

Sumber: http://health.kompas.com/read/2017/01/07/140900223/6.000.obat.hepatitis.c.sofosbuvir.tersedia.gratis