Ancaman Narkoba, PR Kita Bersama!

Ancaman Narkoba, PR Kita Bersama!

Oleh: Indah Wardani

Photo by Robert Zunikoff on Unsplash

Banyak pengguna narkoba yang kita lihat di TV berakhir dipenjara, apakah penjara merupakan tempat yang tepat bagi pengguna? Apakah semua pengguna narkoba itu seorang penjahat yang pantas dipenjara? Kita mungkin sering mendengar narkoba adalah zat yang berbahaya namun kita belum tahu cara kerjanya bagaimana? sehingga narkoba terlihat berbahaya. Narkoba ternyata digunakan dalam dunia kedokteran, tapi banyak orang yang menyalahgunakannya secara ilegal dan membuatnya berdampak buruk bagi dirinya. Kenapa seseorang yang mengidap HIV/AIDS juga sering berkaitan dengan pengguna narkoba? semua informasi dan ketidakjelasan tentang semua itu akhirnya terjawab setelah mengikuti pembekalan Harm Reduction yang diisi oleh teman-teman dari PPH, kios atmajaya, dokter dan narasumber lain yang paham dengan HIV/AIDS dan penyalahgunaan narkoba.

Setelah mengikuti pembekalan tentang “Harm Reduction” saya jadi mengetahui bahwa tidak seharusnya pengguna narkoba itu dipenjara, saya juga tahu tentang metode-metode apa saja yang digunakan untuk mengatasi HIV/AIDS khususnya yang dialami oleh para pecandu narkoba. Metode tersebut salah satunya adalah program pembagian jarum suntik steril dan alat kontrasepsi, cara tersebut memang terdengar kontroversional untuk kita yang tidak tahu alasan-alasannya. Sebelumnya, kita akan berfikir kenapa diberi jarum suntik atau kontrasepsi bukannya itu bagian dari fasilitas mereka untuk memakai narkoba dan seks bebas, kenapa program ini seakan menjadi fasilitator mereka untuk tetap menyuntikkan narkoba kedalam tubuh mereka? Hal tersebut pasti akan menimbulkan kontra disebagian banyak orang. Program ini ternyata dikatakan berhasil dalam mengatasi HIV/AIDS pada penasun (pengguna jarum suntik) dalam beberapa tahun terakhir. HIV/AIDS sering ditularkan melalui jarum suntik yang tidak steril karena digunakan bertukaran antar pengguna, dan HIV/AIDS juga bisa ditularkan melalui seks bebas yang tidak aman. Tujuan utama dari program ini adalah memutus hal tersebut, dengan adanya program pemberian jarum suntik steril dan alat kontrasepsi diharapkan dapat menurunkan penderita HIV/AIDS khususnya pada para pengguna narkoba.

Dalam penanganan kasus narkoba lainnya ada juga program yang bernama terapi methadone, terapi ini juga dilakukan untuk memutus mata rantai penularan HIV/AIDS dari pengguna narkoba akibat penggunaan jarum suntik yang tidak steril khususnya pada pengguna zat heroin. Methadone adalah obat yang termasuk golongan analgesic narkotika (opiate) dengan fungsi untuk mengobati nyeri berat yang berkelanjutan. Methadone digunakan untuk mengobati ketergantungan pada obat narkotika (seperti heroin) sebagai program terapi yang telah disetujui. Di Jakarta sendiri sudah ada puskesmas-puskesmas yang memberikan layanan terapi methadone diantaranya puskesmas grogol petamburan, puskesmas tambora dan puskesmas tebet. Biaya untuk mengikuti terapi methadone juga tidak begitu mahal hanya sekitar Rp 5000 – 15.000, dan bisa menggunakan BPJS. Harga ini tidak sebanding dengan harga obat illegal seperti ganja, sabu, heroin, dan sebagainya yang memberikan efek hampir sama pada pengguna narkoba. Bedanya, penggunaan methadone pada progam terapi, dosisnya akan dikontrol oleh dokter dan perawat yang menangani sampai pasien benar-benar bebas dari ketergantungan obat.

jangan sampai stigma masyarakat yang negatif ini merusak program-progam yang sudah dijalankan dan mengembalikan mereka ke lubang yang sama

Selain itu juga, sudah banyak panti-panti rehabilitasi dan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang didirikan untuk menangani dan membantu pengguna narkoba, baik itu milik pemerintah ataupun milik swasta. Salah satu LSM yang membantu dalam menangani HIV/AIDS dan pengguna narkoba  lewat program Harm reduction adalah “Kios Atmajaya”. Disana orang dengan ketergantungan obat akan dibantu untuk sembuh oleh tim kios yang terdiri dari beberapa divisi. Pengguna obat yang ingin sembuh dan datang ke kios akan dibimbing oleh tim sesuai dengan kebutuhan para pengguna. Kebutuhan tersebut akan muncul setelah melalui proses assessment awal sebelum ditentukan pengobatan atau perawatan yang cocok untuk pengguna dengan HIV atau tanpa HIV. Dengan adanya LSM dan panti rehabilitasi untuk para pengguna ketergantungan obat, ini semakin membuka jalan untuk mereka dapat sembuh dan berfungsi lagi seperti biasa. Meski label “pengguna”, “pemakai”, “Kriminal”, “Pecandu” dan sebagainya sulit hilang setelah mereka sembuh dan jangan sampai stigma masyarakat yang negatif ini merusak program-progam yang sudah dijalankan dan mengembalikan mereka ke lubang yang sama.

Sudah banyak program-program pemerintah yang dikeluarkan untuk menangani narkoba di Indonesia, dan kasus ini masih juga menjadi PR untuk pemerintah Indonesia. Kasus narkoba merupakan kasus yang rumit untuk ditangani, karena narkoba jika digunakan bebas akan sangat buruk bagi tubuh dan jika sudah mengganggu tubuh maka dampak negatif yang lain akan mengikuti. Sangat sayang sekali banyak dari generasi muda kita khususnya dikota-kota besar yang bermain-main dengan zat adiktif ini. Mereka yang sudah menjalani hidup dengan ketergantungan obat seakan hidupnya hanya disitu-situ saja, seperti orang yang berada dalam lubang dan susah untuk keluar. Kita sebagai orang awam yang melihat mungkin geram dan akan dengan mudahnya memberi label negatif kepada mereka. Tapi daripada berfikir negatif, lebih baik kita berfikir bersama mencari cara untuk mengulurkan tali pertolongan kepada mereka yang membutuhkan.

Sebagai calon psikolog klinis dewasa dan calon praktisi, kasus-kasus narkoba yang terjadi di Indonesia tentu akan menjadi PR tersendiri untuk kita. Kita bisa masuk dan membantu sesuai bidang kita, seperti membantu dalam program terapi psikologi dan atau membuat program pencegahan maupun pengobatan yang dibutuhkan. Dikarenakan hal ini terjadi bukan hanya karena satu hal namun banyak hal yang dapat menjadi pemicu kenapa seseorang dapat menyalahgunakan obat. Sehingga perlu adanya integrasi dari berbagai bidang untuk mengatasi masalah–masalah kesehatan maupun sosial yang disebabkan narkoba dan diharapkan kasus ini dapat semakin berkurang dan tuntas. Lingkungan dan diri sendiri sering dikatakan adalah faktor penentu awal seseorang dapat masuk ke jurang narkoba.

Kita mungkin memiliki adik, kakak, dan atau orang dekat lainnya yang bisa saja menjadi korban selanjutnya dari narkoba dan kita tidak ingin hal itu terjadi. Mungkin saja mereka belum tahu resiko yang harus diterima jika menggunakan narkoba, akan sangat bermakna jika kita bisa mencegah hal tersebut terjadi dilingkungan keluarga dengan cara memberitahu bahaya narkoba. Bayangkan jika selalu ada 1 orang seperti itu di tiap keluarga indonesia, 1 orang yang dapat menjaga anggota keluarganya dari narkoba, ini pasti akan sangat membantu dalam pencegahan narkoba. Mungkin ini bukan sesuatu yang besar yang dapat kita berikan untuk menanggulangi narkoba tapi apa salahnya kalau kita menyelamatkan orang-orang disekitar kita terlebih dahulu daripada tidak sama sekali dan semua itu menjadi terlambat dan kita menyesal karena terlalu tidak peduli.

 

 

Catatan: Tulisan ini merupakan refleksi penulis setelah mengikuti kegiatan “Kursus Harm Reduction 2017” oleh Program Magister Fakultas Psikologi Klinis Unika Atma Jaya Dan Pusat Penelitian HIV-AIDS Unika Atma Jaya. Penulis adalah mahasiswa Program Magister Psikologi Profesi Unika Atma Jaya

Artikel mengenai Kursus Harm Reduction 2017 dapat dibaca melalui tautan ini: Mengenalkan Konsep Harm Reduction dalam Pelayanan Kesehatan