Apa yang Salah dengan Judul-Judul Berita  Tentang ‘Jumlah Kaum Gay di Depok’ ?

Apa yang Salah dengan Judul-Judul Berita Tentang ‘Jumlah Kaum Gay di Depok’ ?

depokAkhir tahun lalu (November 2015) banyak media online mengangkat berita tentang meningkatnya ‘jumlah kaum gay di Depok’. Media-media yang menyebarkan berita ini adalah media-media yang cukup dikenal sebagai media yang kredibel, alias bukan media abal-abal. Penelurusan via Google menunjukkan bahwa media online seperti Tempo, Republika, Vivanews, JPNN, Detik, Indopos dan lain-lain mempublikasikan artikel-artikel dengan tema ini (peningkatan jumlah kaum gay/homoseksual di Depok) dengan pengemasan judul yang bervariasi.

Artikel-artikel tersebut dibuat berdasarkan pernyataan sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) kota Depok mengenai hasil pemetaan komunitas LSL (laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki lainnya) yang dilakukan KPA di kota Depok. Dalam penanggulangan HIV, LSL merupakan salah satu populasi yang memiliki risiko untuk terinfeksi HIV dibandingkan populasi umum karena perilaku seksual yang tidak terlindungi (sering juga disebut perilaku seksual tidak aman atau hubungan seks –dalam hal ini seks anal- tanpa menggunakan kondom atau pelicin). Seperti yang kita ketahui, HIV dapat ditularkan melalui hubungan seksual (baik dalam hubungan seks melalui vagina atau anus) tanpa menggunakan kondom dan pelicin dengan orang yang mempunyai virus HIV dalam tubuhnya.

Jika LSL memang merupakan populasi yang mempunyai risiko yang lebih tinggi, sehingga kemudian dipetakan agar dapat dilakukan intervensi yang tepat pada komunitas ini untuk melindungi mereka (dan selanjutnya pasangan mereka maupun anggota masyarakat lainnya) dari infeksi HIV, lalu apa yang salah dengan penulisan artikel-artikel tersebut?

Pertama, seluruh artikel tersebut menyamakan definisi LSL (orang-orang yang oleh karena perilakunya mempunyai risiko tertular HIV) dengan gay atau homoseksual (sebuah orientasi seksual, yaitu sebuah ketertarikan emosional dan seksual terhadap jenis kelamin tertentu). Kelompok gay memang termasuk pada kelompok LSL, namun tidak semua kelompok LSL adalah kelompok gay.   LSL adalah sebuah istilah programatik dalam respon terhadap HIV yang merupakan istilah besar yang menekankan pada perilaku seksual antar laki-laki. Sehingga, berdasarkan definisi ini, siapapun dapat disebut sebagai kelompok LSL selama ia melakukan perilaku seksual dengan laki-laki lainnya: baik kelompok laki-laki gay/homoseksual, baik kelompok laki-laki heteroseksual, kelompok laki-laki biseksual, maupun kelompok waria (meskipun memasukkan waria dalam kelompok LSL adalah problematik karena waria tidak mengidentifikasikan dirinya sebagai laki-laki).

Ada banyak laki-laki yang orientasi seksualnya adalah heteroseksual (artinya, menyukai lawan jenis secara emosional dan seksual) namun melakukan hubungan seksual dengan sesama laki-laki karena berbagai alasan seperti untuk mendapatkan uang (dengan menjual seks pada laki-laki), atau untuk menyalurkan dorongan seksual karena tidak adanya perempuan pada suatu waktu atau kondisi (misalnya peperangan atau pada saat di penjara). Laki-laki biseksual juga berhubungan seks baik dengan perempuan maupun dengan laki-laki. Kebanyakan waria (orang yang secara biologis laki-laki namun mengidentifikasikan dirinya sebagai perempuan) juga berhubungan seksual dengan laki-laki. Sehingga, menyamakan LSL dengan gay saja merupakan sebuah pemahaman yang tidak tepat.

Yang kedua, meskipun kelompok gay merupakan bagian dari definisi LSL, menggunakan istilah gay ketika menjelaskan risiko terinfeksi HIV adalah keliru. Risiko HIV melekat pada perilaku seksual (hubungan seks melalui vagina atau anus) tanpa perlindungan kondom dan pelicin dan bukan pada orientasi seksual. Gay, lesbian, biseksual, atau heteroseksual adalah orientasi seksual, yaitu kepada siapa seseorang tertarik secara seksual dan emosional.   Artinya, seorang heteroseksual atau biseksual juga mempunyai risiko yang lebih tingi terhadap infeksi HIV jika ia melakukan hubungan seks yang tidak terlindung oleh kondom dan pelicin dengan orang yang telah terinfeksi HIV.   Sebaliknya, seorang laki-laki homoseksual yang melakukan anal seks dengan orang yang terinfeksi HIV tidak serta merta berisiko terinfeksi HIV jika ia menggunakan kondom dan pelicin setiap kali ia melakukan hubungan seksual.   Sebagian kecil dari kelompok gay tidak melakukan anal seks (misalnya mereka yang oleh karena tekanan sosial yang tinggi untuk hidup sebagai seorang heteroseksual kemudian menikah dengan perempuan biologis dan menekan ketertarikannya kepada laki-laki) juga mempunyai risiko terinfeksi HIV lebih rendah, jika pasangan seksualnya tidak mempunyai risiko infeksi HIV.

Ketiga, kelompok gay serta laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki lainnya adalah kelompok yang sampai saat ini banyak mendapatkan stigma atau cap buruk dari masyarakat umum karena orientasi seksual dan atau perilaku seksualnya.   Pengemasan berita yang tidak tepat akan membuat anggapan-anggapan buruk terhadap kelompok-kelompok ini semakin kuat, yang kemudian akan semakin membatasi kelompok ini dari informasi dan layanan HIV karena kelompok-kelompok ini akan semakin tertutup dan takut untuk mendapatkan informasi yang benar tentang HIV maupun perawatan dan pengobatannya. Pada gilirannya, pemberitaan ini justru kontraproduktif terhadap respon HIV yang sedang dilakukan oleh pemerintah saat ini dan di masa mendatang.

Belajar dari kasus ini, orang-orang yang bekerja dalam isu HIV perlu memastikan penggunaan istilah yang tepat dalam berbagai kegiatan komunikasi, informasi dan edukasi, termasuk ketika berbicara kepada wartawan serta kepada masyarakat yang lebih luas. Dalam era teknologi informasi dan telekomunikasi yang memungkinkan orang berbagi informasi (yang benar ataupun yang tidak benar) dan menjangkau lebih banyak orang lainnya secara cepat, hal ini menjadi sangat penting.

Masih di bulan yang sama (November 2015), berita ‘jumlah kaum gay meningkat di kota Depok’ telah berkembang menjadi ‘Waspada, 5.791 Pria Gay di Depok Intai Toilet Umum’.   Ini adalah sebuah contoh bagaimana sebuah berita dapat dengan cepat diartikan (dan kemudian disajikan) dengan cara yang sangat berbeda. Dari sisi lain, cara-cara penulisan berita tentang peningkatan jumlah gay pada beberapa media daring yang dibahas diatas juga memberi kesan yang salah bahwa orientasi seksual itu ‘menular’.

Pemahaman ini (bahwa gay atau orientasi seksual itu menular atau dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan) keliru dan dapat menciptakan kepanikan masyarakat yang pada gilirannya akan meningkatkan lebih banyak tekanan, stigma, dan diskriminasi kepada kelompok gay dan LSL lainnya. Jika hasil survey atau pemetaan kelompok yang mengidentifikasikan dirinya sebagai homoseksual atau laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki lainnya meningkat, ini tidak dapat disimpulkan sebagai orientasi seksual yang ‘menular’.   Jumlah yang lebih banyak saat pendataan dapat disebabkan oleh kecenderungan keterbukaan kelompok ini yang meningkat dari masa-masa sebelumnya (yang disebabkan oleh berbagai factor termasuk strategi pendataan yang mendorong keterbukaan).

Meskipun KPA Depok pada tanggal 18 November telah mengklarifikasikan berita ini, namun masih ada beberapa hal mendasar yang luput dari klarifikasi lebih lanjut.   Ini termasuk belum ada klarifikasi serta edukasi tentang perbedaan antara gay dan LSL; penggunaan istilah hubungan seks menyimpang yang masih terus dipakai (ini adalah istilah yang tidak spesifik dan membingungkan, tendensius dan berkonotasi buruk); serta penjelasan perubahan perilaku oleh KPA yang berkesan melakukan pembinaan untuk membuat kelompok gay dan LSL tidak lagi melakukan ‘hubungan seks menyimpang’ dan bukannya melakukan hubungan seks yang aman dengan menggunakan kondom dan pelicin.

Artinya, kita semua punya pekerjaan rumah untuk mulai menggunakan terminologi yang tepat (dan melakukan klarifikasi untuk penggunaan istilah yang terlanjur keliru) dan belajar lebih banyak tentang keberagaman seksual (ingin belajar informasi dasar tentang orientasi seksual, identitas dan ekspresi gender? Silahkan klik disini). Yang dimaksud kita disini adalah termasuk siapapun yang bekerja dalam respon HIV (baik pemerintah dan non pemerintah) serta para penulis berita yang menjadi salah satu ujung tombak dalam penyebarluasan informasi yang benar tentang HIV. (Asti Widihastuti)

Disclaimer: Tulisan ini mewakili opini penulis dan tidak menggambarkan opini dan sikap Pusat Penelitian HIV Atma Jaya