Tahap 1: Hasil Asesmen Awal

Program “Yes, I Can!” merupakan proyek yang berlangsung dalam kurun waktu 30 bulan. Proyek ini terdiri atas 5 tahap, yakni Asesmen Awal, Pelatihan Reflektif, Pelatihan Profesional, Pendirian Klinik Usaha dan Advokasi.

Tahap pertama, yakni Asesmen Awal telah dilakukan pada tanggal 27 November sampai 2 Desember 2017 silam. Kegiatan ini melibatkan sebanyak 279 responden yang berasal dari komunitas transpuan, anak jalanan, dan pekerja seks di DKI Jakarta.

Asesmen awal bertujuan untuk memperoleh gambaran persepsi komunitas terhadap pekerjaan yang diemban saat ini, serta persepsi komunitas terhadap perubahan pekerjaan di masa depan. Selain itu, asesmen awal dilakukan juga untuk mengidentifikasi faktor- faktor yang dimiliki individu dari komunitas yang dinilai sukses/berhasil. read more

“Kualitas melalui inklusi”: Evaluasi pelatihan dan advokasi layanan kesehatan oleh komunitas di Indonesia

“Kualitas melalui inklusi”: Evaluasi pelatihan dan advokasi layanan kesehatan oleh komunitas di Indonesia

Penelitian terhadap populasi minoritas seksual dan gender (atau LGBTI) seringkali membuktikan bahwa populasi ini lebih rentan untuk memiliki kondisi kesehatan yang terganggu. Penelitian dari Institute of Medicine (IOM,2011) misalnya, menemukan bahwa minoritas seksual dan gender lebih rentan untuk dilecehkan, menjadi korban viktimisasi, menderita depresi hingga kecenderungan bunuh diri, dan cenderung memiliki prevalensi konsumsi rokok dan alkohol yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan populasi heteroseksual. Hal ini bisa jadi ada hubungannya dengan kenyataan bahwa populasi tersebut masih hidup dalam stigma, marjinalisasi, dan diskriminasi. Kondisi hidup tersebut, secara langsung atau tidak langsung, kemudian mempengaruhi kondisi kesehatan populasi minoritas seksual dan gender. read more

Sumbangan untuk Permenkes RI No 21 Tahun 2013 yang Lebih Baik

Sumbangan untuk Permenkes RI No 21 Tahun 2013 yang Lebih Baik

Permenkes RI No 21 Tahun 2013 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS sudah digunakan selama lima tahun terakhir sebagai payung hukum yang menjadi fondasi dari seluruh program HIV-AIDS di Indonesia dalam semua level. Program-program yang diatur mencakup program individual dan keluarga, promosi kesehatan komunitas, pencegahan, diagnosa, perawatan, maupun rehabilitasi. Meskipun begitu, dalam lima tahun terakhir, banyak pula perubahan dan perkembangan terkait program HIV-AIDS yang mungkin belum dipertimbangkan dan dicantumkan dalam pembuatan Permenkes tersebut. Perkembangan terbaru tersebut mencakup ketersediaan akses pengobatan bagi ODHA tanpa mempedulikan tingkat keparahan dan CD4, promosi ARV, monitoring & evaluasi, dan lain sebagainya. Selain itu, perpindahan fungsi Komite Penanggulangan AIDS Nasional menjadi Program AIDS Nasional juga belum tercantum dalam peraturan tersebut. Padahal, peraturan tersebut selama ini sudah menjadi panduan dalam pembagian tugas antar distrik, provinsi, dan pemerintah pusat agar program HIV yang ada dapat dijalankan secara berkesinambungan. read more