Laporan Penelitian: Faktor-faktor yang Memungkinkan dan Menghambat Akses Layanan Kesehatan, Sosial dan Psikososial bagi Anak dengan HIV di Indonesia

Jumlah anak terinfeksi HIV dan angka kematian terkait HIV pada anak semakin meningkat. Secara global, pada tahun 2013 diestimasikan ada 3.3 juta anak berusia kurang dari 15 tahun di dunia terinfeksi HIV (WHO, UNICEF, UNAIDS, 2013). Dari jumlah tersebut, sebanyak 240.000 anak (11%) merupakan angka baru infeksi HIV di tahun 2013.

Hampir semua kasus HIV pada anak merupakan hasil penularan virus dari ibu yang positif melalui proses selama kehamilan, melahirkan maupun menyusui. Walaupun program Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak (PPIA) sudah mulai dikembangkan di berbagai negara, beberapa penelitian menemukan bahwa angka keberhasilan program tersebut masih cukup rendah (Meyers et al., 2007). Persentase ibu hamil yang melakukan tes HIV di negara miskin dan berkembang diperkirakan baru mencapai (21%) pada tahun 2011 (WHO, UNICEF, UNAIDS, 2013). Hal ini mengakibatkan jumlah anak yang terinfeksi HIV sejak lahir masih cukup tinggi. Lebih lanjut, beberapa studi menunjukkan bahwa inisiasi dini terhadap terapi ARV pada anak dapat mengurangi angka kematian pada anak dengan HIV. Namun, cakupan perawatan ART pada anak terinfeksi HIV masih rendah yaitu sebesar (34%) di tahun 2012 (UNAIDS, 2013). Hal ini menunjukkan bahwa masih minimnya keberhasilan pendidikan dan dukungan bagi ibu terinfeksi HIV serta masih lemahnya layanan diagnosis HIV pediatrik. read more

Laporan Penelitian: Surveilans Biologis dan Perilaku terhadap Penularan HIV/AIDS, Hepatitis B, Hepatitis C, dan Sifilis pada Pengguna Sabu di Enam Kota di Indonesia

Dalam rangka melengkapi pengetahuan mengenai penggunaan sabu di Indonesia, penelitian ini dilakukan dari awal Februari 2016 hingga Juni 2017. Dengan memilih enam kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta Barat, Denpasar, Batam, Makassar, Medan dan Bandung, penelitian ini dilakukan dengan melibatkan 1498 partisipan pengguna aktif sabu. Sebagai surveilans terpadu biologis dan perilaku pertama yang dilakukan pada pengguna sabu dalam konteks intervensi HIV/AIDS, disimpulkan beberapa temuan mengenai karakteristik dan faktor penggunaan sabu, serta konteks jaringan sosial, seksual, dan akses ke layanan. Beberapa rekomendasi terkait program dan kebijakan, serta untuk penelitian selanjutnya juga telah disampaikan. Simak figur berikut untuk informasi lebih lanjut: read more

“Kak, Kondom Itu untuk Apa?”

Oleh: Ilona Gok Dame, Ketua Tim Peduli AIDS Atma Jaya

Ilustrasi oleh Lia Kantrowitz

Tim Peduli AIDS Atma Jaya atau dikenal dengan sebutan TPA, merupakan sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa yang bergerak di bidang sosial, secara khusus mengenai isu HIV-AIDS. TPA melakukan banyak program dan kegiatan setiap tahunnya. Salah satu kegiatan yang dilakukan TPA adalah penyuluhan dan kampanye pada bulan Desember 2017 yang dilakukan dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember. Kampanye dilakukan secara langsung di Kampus Atma Jaya Semanggi dan BSD serta secara digital di media sosial instagram. read more

Tes HIV? Siapa takut!

14 Maret 2014

Pernahkan terlintas di kepalamu, ketakutan-ketakutan akan kemungkinan dirimu terkena HIV? Normal jika kamu khawatir tentang HIV, tapi untuk apa membiarkan diri kita takut pada hal yang tidak pasti? Kita bisa menghilangkan kekhawatiran kita dengan pengujian awal.

Melalui pengujian awal atau tes HIV, kita dapat mengetahui apakah kita terinfeksi atau tidak. Antibodi kita akan di cek untuk mengetahui keberadaan virus HIV dalam darah. Setiap antibodi dalam diri kita bersifat unik dan bertugas untuk menyerang kuman tertentu. Jadi, bila ditemukan antibodi terhadap virus HIV pada saat kita melakukan tes HIV, maka dapat dikatakan kalau kita mengidap virus HIV. read more

Mengenal Ary Bumi Kartini: Project Officer Proyek “Yes, I Can!”

Mengenal Ary Bumi Kartini: Project Officer Proyek “Yes, I Can!”

Nama saya Ary Bumi Kartini, biasa dipanggil “Ary” atau “Bumi oleh keluarga dan teman-teman. Saya lahir di Jogjakarta pada tanggal 23 April, terlahir sebagai anak bungsu dari 5 bersaudara.

Saya menyelesaikan S1 pada tahun 2003 di salah satu PT Swasta di Jogjakarta, namun sebelum wisuda S1 saya mencoba mencari kesibukan dengan menjadi relawan di salah satu lembaga sosial masyarakat yaitu PKBI DIY yang bergerak di isu kesehatan reproduksi. Saya memang memiliki ketertarikan dengan isu tersebut dan kebetulan teman sepermainan lebih dulu bergabung dengan lembaga ini. Melalui lembaga inilah yang kemudian  membawaku memiliki banyak teman dan pengalaman. read more

ODHA, Strategi 90:90:90, dan Peran Focal Point dalam Pemantauan ARV

ODHA, Strategi 90:90:90, dan Peran Focal Point dalam Pemantauan ARV

Strategi 90:90:90 sudah mulai dicanangkan pada tahun 2016 dalam rangka penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia. Apa yang sebenarnya dimaksud dengan strategi 90:90:90? 90 pertama artinya 90% masyarakat terutama populasi kunci mengetahui status HIV-nya. 90 kedua artinya 90% orang dengan HIV AIDS (ODHA) sudah diterapi. 90 ketiga artinya 90% yang sudah menjalani Antiretroviral Therapy (ART) sudah mengalami viral suppression atau virus sudah tidak terdeteksi lagi. Dalam mewujudkan cita-cita ini, maka pemantauan terhadap ARV menjadi hal penting yang perlu dilakukan. read more

Apa itu Harm Reduction?

Apa itu Harm Reduction?

Oleh: Yanuar Wilda

But next time I won’t be so stupid, except there won’t be any next time! I will never ever, ever, under any circumstances use drugs again. They are the root and cause of this whole rotten, stinking mess I am in, and I wish with all my heart and soul that I had never heard of them (Anymous, 2004)

Kalimat tersebut ditulis oleh seorang remaja berusia lima belas tahun (anonim) dalam buku hariannya (diary) ketika menghadapi masalah berat kecanduan Narkoba dan seks bebas. Buku harian tersebut kemudian diterbitkan oleh Simon & Schuster Inc. pada tahun 1998 dengan judul Go Ask Alice. Tulisan tersebut mengingatkan kita betapa peliknya perjuangan sesorang yang ingin keluar dari penyalahgunaan dan ketergantungan Narkoba. Di Indonesia sendiri kasus penggunaan Narkoba cukup memprihatinkan. Sebuah surat kabar menulis bahwa jumlah jumlah pengguna Narkoba atau Narkotika atau Zat adiktif (semua sebutan tersebut merujuk pada hal yang sama) di Indonesia hingga November 2015 mencapai 5,9 juta orang (Rachmawati, 2016) dan 2,8 persen dari total tersebut (sekitar 14 ribu jiwa) merupakan individu dengan rentang usia 12-21 tahun (Indriani, 2016). read more

Menengok Kembali Sejarah Penutupan Lokalisasi Kramat Tunggak

JAKARTA, KOMPAS.com– Wacana penutupan lokalisasi di Kalijodo masih hangat dibicarakan. Dari perkembangan terakhir, surat edaran yang memuat informasi soal penertiban dan penutupan Kalijodo telah diberikan kepada warga di sana.

Jika menengok kembali puluhan tahun yang lalu, pada masa kepemimpinan Gubernur Sutiyoso, lokalisasi Kramat Tunggak di Jakarta Utara juga resmi ditutup, digantikan dengan Jakarta Islamic Centre, lembaga pengkajian Islam di Jakarta.

Dari sisi luas wilayah dan jumlah pekerja, Kramat Tunggak jauh lebih besar ketimbang Kalijodo. Lokalisasi Kramat Tunggak eksis pada zamannya dan menjadi lokalisasi terbesar di Asia Tenggara tahun 1970-1999. read more

Program Positif Bagi Drug User, Sebuah Refleksi Mengenai Harm Reduction

Program Positif Bagi Drug User, Sebuah Refleksi Mengenai Harm Reduction

Oleh: Luthfi Mardhiansyah

Refleksi saya dalam mengikuti mata kuliah harm reduction adalah saya dipaparkan tentang jenis-jenis obat narkotika. Satu hal yang menarik adalah narkotika jenis terbaru yakni “NPS” New Psychoactive Substance yakni narkotika jenis terbaru seperti Flaka,metilon dan juga narkotika yang berbentuk sintetis yang bisa menyebabkan halusinogenik. Pada pelajaran lain yang telah didapat adalah epidemology, epidemology yakni ilmu yang mempelajari tentang penyebaran penyakit, bagaimana saat jarum suntik itu berganti-ganti dari satu individu ke individu lain bisa menularkan penyakit HIV. Selain itu penyebaran HIV bisa melalui free sex dan kemungkinan untuk sakit hepatitis juga besar,  saya juga berusaha untuk memahami bagaimana sulitnya dinamika kehidupan drug user dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Jika sudah terkena narkoba terlebih sampai jarum suntik, selama hidupnya hanya mencari dan menggunakan narkoba, apapun yang terjadi pada dirinya “barang” tersebut harus didapatkan. Drug user tidak bisa melakukan aktivitas yang  normal seperti pada orang umumnya, maka dari itu banyak waktu yang terbuang hanya untuk mencari zat tersebut. Saya juga diajarkan bagaimana pengaruh dunia farmasi pada drug users. Dari berbagai ilmu yang telah pembicara jelaskan bahwa ada terapi obat yang bisa digunakan seperti Metadon & Suboxone untuk menggantikan obat-obatan yang sering drug user gunakan. Akan tetapi efek dari Metadon & Subuxone tidak terlalu optimal seperti narkotika yang sehari-hari mereka gunakan. Dari kursus Harm Reduction yang telah saya dapat selama 3 hari, bagaimana treatment  psikologis CBT/BDRRC, yakni treatment untuk mengubah perilaku pada drug user.  Terapi ini lebih menekankan pada perilaku drug user untuk kembali ke aktivitas sehari-hari, memberikan jadwal yang rutin yang harus dilakukan pada pengguna untuk kembali melakukan aktivitasnya. Lalu jika drug user terlihat sudah pulih, psikolog harus menanyakan jika sudah keluar dari treatment apa yang akan dilakukan, jika ingin kerja, kerja apa? Kejar terus pertanyaan tersebut hingga jelas tujuanya agar tidak kembali ke narkotika. read more

Berbicara Tentang Program Terapi Rumatan Metadon

Berbicara Tentang Program Terapi Rumatan Metadon

Oleh: Angellia Lestari Christiani

Pusat Penelitian HIV/ AIDS Atma Jaya (PPH) telah secara rutin mengadakan Harm Reduction Workshop bagi mahasiswa magister psikologi profesi klinis dewasa. Salah satu tujuan dari adanya kursus ini adalah untuk mengenalkan konsep harm reduction kepada kami para mahasiswa. Saya sebagai mahasiswa klinis dewasa menyadari kurangnya pemahaman mengenai pemarsalahan NAPZA, ketergantungan NAPZA terutama dalam konteks psikologi. Oleh karena itu, kali ini saya hendak berbagi mengenai tiga hari yang saya lalui dalam kursus ini. read more