Keberpihakan Bagi Mereka Yang Terpinggirkan

Dalam rangka memperingati International Day Against Homophobia, Transphobia, & Biphobia 2018

International Day Against Homophobia, Transphobia, & Biphobia (IDAHOTB) merupakan suatu gerakan yang dibentuk pada tahun 2004 untuk menarik perhatian pimpinan negara, pembuat kebijakan, gerakan-gerakan sosial, media, serta masyarakat terkait dengan isu kekerasan dan diskriminasi yang dialami oleh anggota komunitas LGBTI. Tanggal 17 Mei secara spesifik dipilih untuk memperingati keputusan dari World Health Organization (WHO) yang mengeluarkan homoseksualitas dari kategori gangguan mental. Dalam kurun waktu kurang dari satu dekade, 17 Mei telah terbangun dengan sendirinya sebagai tanggal paling penting bagi komunitas-komunitas LGBT untuk bergerak dalam skala internasional untuk mendukung pengakuan hak-hak setiap orang, terlepas dari orientasi seksual, identitas dan ekspresi gender yang dimiliki. read more

Kehidupanku Sebagai Mahasiswa: Bayang-bayang HIV AIDS

Kasus HIV/AIDS di Indonesia pertama kali dilaporkan di Provinsi Bali pada tahun 1987. Sejak pertama kali ditemukan sampai dengan Desember 2017, kasus HIV/AIDS telah dilaporkan oleh 421 (81,9%) dari 514 kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia, di mana DKI Jakarta memiliki jumlah infeksi HIV tertinggi. Dalam laporan Kemenkes (2017) dinyatakan bahwa jumlah kasus HIV yang dilaporkan dari tahun 2005 sampai dengan 2017 mengalami kenaikan tiap tahunnya, dengan persentase kumulatif AIDS tertinggi pada kelompok usia 20-29 tahun (32,5%). Selain itu, laporan ini juga menjelaskan bahwa faktor risiko penularan terbanyak adalah melalui hubungan seksual berisiko heteroseksual. read more

Meningkatkan Strategi HIV Early Testing & Treatment lewat HATI (Inject)

Meningkatkan Strategi HIV Early Testing & Treatment lewat HATI (Inject)

HATI Inject (HIV Awal (Early) Testing & Treatment Indonesia for People Who Inject Drugs) merupakan proyek penelitian dan intervensi pilot kepada Penasun (pengguna napza suntik) dengan HIV di Indonesia, khususnya Jakarta dan Bandung. Penasun sendiri merupakan populasi  dengan prevalensi HIV tertinggi, yaitu pada angka 40-55%. HATIinject merupakan hasil kolaborasi antara Pusat Penelitian HIV/AIDS UNIKA Atma Jaya, Universitas Padjajaran Bandung, RS Hasan Sadikin Bandung, Kirby Institute UNSW Australia, dan World Health Organization (WHO) Indonesia. Tujuan dari proyek ini ada dua, yaitu : read more

Outcome Measurement 2015: United For Body Rights (UFBR) Program

Unite for Body Rights Program (UFBR) merupakan inisiatif kolaboratif dari lima LSM Belanda yang berfokus pada Kesehatan Seksual dan Reproduksi (SRHR) dengan tujuan untuk meningkatkan kesehatan reproduksi seksual dan hak-hak di negara berkembang di kalangan perempuan, laki-laki, remaja, dan kelompok marginal terlepas dari budaya mereka dan latar belakang agama, usia, jenis kelamin, dan orientasi seksual.

Di Indonesia, UFBR dilaksanakan pada empat provinsi, yakni DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Lampung, dan Jambi dari 2011 hingga 2015. Sebelum program UFBR dilaksanakan, outcome measurement awal (baseline) dilakukan pada tahun 2011 (dan pada tahun 2013 untuk kurikulum intervensi SETARA). Laporan ini akan menjelaskan hasil outcome measurement akhir (endline) yang dilakukan pada tahun 2015 untuk melacak perubahan di area target SRHR sejak dimulainya program UFBR. read more

Laporan Penelitian: Faktor-faktor yang Memungkinkan dan Menghambat Akses Layanan Kesehatan, Sosial dan Psikososial bagi Anak dengan HIV di Indonesia

Jumlah anak terinfeksi HIV dan angka kematian terkait HIV pada anak semakin meningkat. Secara global, pada tahun 2013 diestimasikan ada 3.3 juta anak berusia kurang dari 15 tahun di dunia terinfeksi HIV (WHO, UNICEF, UNAIDS, 2013). Dari jumlah tersebut, sebanyak 240.000 anak (11%) merupakan angka baru infeksi HIV di tahun 2013.

Hampir semua kasus HIV pada anak merupakan hasil penularan virus dari ibu yang positif melalui proses selama kehamilan, melahirkan maupun menyusui. Walaupun program Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak (PPIA) sudah mulai dikembangkan di berbagai negara, beberapa penelitian menemukan bahwa angka keberhasilan program tersebut masih cukup rendah (Meyers et al., 2007). Persentase ibu hamil yang melakukan tes HIV di negara miskin dan berkembang diperkirakan baru mencapai (21%) pada tahun 2011 (WHO, UNICEF, UNAIDS, 2013). Hal ini mengakibatkan jumlah anak yang terinfeksi HIV sejak lahir masih cukup tinggi. Lebih lanjut, beberapa studi menunjukkan bahwa inisiasi dini terhadap terapi ARV pada anak dapat mengurangi angka kematian pada anak dengan HIV. Namun, cakupan perawatan ART pada anak terinfeksi HIV masih rendah yaitu sebesar (34%) di tahun 2012 (UNAIDS, 2013). Hal ini menunjukkan bahwa masih minimnya keberhasilan pendidikan dan dukungan bagi ibu terinfeksi HIV serta masih lemahnya layanan diagnosis HIV pediatrik. read more

Laporan Penelitian: Surveilans Biologis dan Perilaku terhadap Penularan HIV/AIDS, Hepatitis B, Hepatitis C, dan Sifilis pada Pengguna Sabu di Enam Kota di Indonesia

Dalam rangka melengkapi pengetahuan mengenai penggunaan sabu di Indonesia, penelitian ini dilakukan dari awal Februari 2016 hingga Juni 2017. Dengan memilih enam kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta Barat, Denpasar, Batam, Makassar, Medan dan Bandung, penelitian ini dilakukan dengan melibatkan 1498 partisipan pengguna aktif sabu. Sebagai surveilans terpadu biologis dan perilaku pertama yang dilakukan pada pengguna sabu dalam konteks intervensi HIV/AIDS, disimpulkan beberapa temuan mengenai karakteristik dan faktor penggunaan sabu, serta konteks jaringan sosial, seksual, dan akses ke layanan. Beberapa rekomendasi terkait program dan kebijakan, serta untuk penelitian selanjutnya juga telah disampaikan. Simak figur berikut untuk informasi lebih lanjut: read more

“Kak, Kondom Itu untuk Apa?”

Oleh: Ilona Gok Dame, Ketua Tim Peduli AIDS Atma Jaya

Ilustrasi oleh Lia Kantrowitz

Tim Peduli AIDS Atma Jaya atau dikenal dengan sebutan TPA, merupakan sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa yang bergerak di bidang sosial, secara khusus mengenai isu HIV-AIDS. TPA melakukan banyak program dan kegiatan setiap tahunnya. Salah satu kegiatan yang dilakukan TPA adalah penyuluhan dan kampanye pada bulan Desember 2017 yang dilakukan dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember. Kampanye dilakukan secara langsung di Kampus Atma Jaya Semanggi dan BSD serta secara digital di media sosial instagram. read more

Tes HIV? Siapa takut!

14 Maret 2014

Pernahkan terlintas di kepalamu, ketakutan-ketakutan akan kemungkinan dirimu terkena HIV? Normal jika kamu khawatir tentang HIV, tapi untuk apa membiarkan diri kita takut pada hal yang tidak pasti? Kita bisa menghilangkan kekhawatiran kita dengan pengujian awal.

Melalui pengujian awal atau tes HIV, kita dapat mengetahui apakah kita terinfeksi atau tidak. Antibodi kita akan di cek untuk mengetahui keberadaan virus HIV dalam darah. Setiap antibodi dalam diri kita bersifat unik dan bertugas untuk menyerang kuman tertentu. Jadi, bila ditemukan antibodi terhadap virus HIV pada saat kita melakukan tes HIV, maka dapat dikatakan kalau kita mengidap virus HIV. read more

Mengenal Ary Bumi Kartini: Project Officer Proyek “Yes, I Can!”

Nama saya Ary Bumi Kartini, biasa dipanggil “Ary” atau “Bumi oleh keluarga dan teman-teman. Saya lahir di Jogjakarta pada tanggal 23 April, terlahir sebagai anak bungsu dari 5 bersaudara.

Saya menyelesaikan S1 pada tahun 2003 di salah satu PT Swasta di Jogjakarta, namun sebelum wisuda S1 saya mencoba mencari kesibukan dengan menjadi relawan di salah satu lembaga sosial masyarakat yaitu PKBI DIY yang bergerak di isu kesehatan reproduksi. Saya memang memiliki ketertarikan dengan isu tersebut dan kebetulan teman sepermainan lebih dulu bergabung dengan lembaga ini. Melalui lembaga inilah yang kemudian  membawaku memiliki banyak teman dan pengalaman. read more

ODHA, Strategi 90:90:90, dan Peran Focal Point dalam Pemantauan ARV

ODHA, Strategi 90:90:90, dan Peran Focal Point dalam Pemantauan ARV

Strategi 90:90:90 sudah mulai dicanangkan pada tahun 2016 dalam rangka penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia. Apa yang sebenarnya dimaksud dengan strategi 90:90:90? 90 pertama artinya 90% masyarakat terutama populasi kunci mengetahui status HIV-nya. 90 kedua artinya 90% orang dengan HIV AIDS (ODHA) sudah diterapi. 90 ketiga artinya 90% yang sudah menjalani Antiretroviral Therapy (ART) sudah mengalami viral suppression atau virus sudah tidak terdeteksi lagi. Dalam mewujudkan cita-cita ini, maka pemantauan terhadap ARV menjadi hal penting yang perlu dilakukan. read more