Apa itu SOGIE (Sexual Orientation Gender Identity and Expression) ?

Apa itu SOGIE (Sexual Orientation Gender Identity and Expression) ?

Orientasi seksual adalah ketertarikan emosi, romantik dan atau seksual kepada lawan jenis (disebut heteroseksual), kepada jenis kelamin yang sama (disebut homoseksual) atau keduanya (disebut biseksual). Istilah homoseksual mempunyai istilah lain yang lebih spesifik untuk laki-laki dan perempuan yaitu gay dan lesbian.

Istilah lesbian menjelaskan perempuan yang secara romantik, emosional dan seksual tertarik kepada perempuan lainnya. Istilah gay menjelaskan laki-laki yang secara romantik, seksual atau emosional tertarik pada laki-laki lainnya, dan biseksual menjelaskan individu yang secara romantik, seksual dan emosional tertarik pada laki-laki dan perempuan. read more

Editorial Minggu Ini

Editorial Minggu Ini

Berita di media online pada November 2015 ramai-ramai mengangkat berita cukup menghebohkan meningkatnya gay di Depok. Judulnya beritanya banyak yang bombastis dan ada juga yang menghubungkan dengan agama. Ketika dibaca isi beritanya, ternyata masih terjadi kesalahan pemahamam antara pemakaian istilah LSL (Lelaki Seks dengan Lelaki Lain) dan gay. Sebenarnya LSL belum tentu gay.

Melihat adanya kesalah pahaman dalam menggunakan istilah tersebut, Asti Widihastuti, salah satu peneliti PPH Atma Jaya, menuliskan opininya. Dia menerangkan dengan bahasa yang lugas, apa itu LSL dan Gay dan bagaimana mereka bisa melindungi diri mereka agar tidak terinfeksi HIV. Kita juga diajak berpikir bagaimana kita menerima keanekaragaman orientasi seksual. Diharapkan setelah membaca opininya, baik itu masyarakat, mereka yang bekerja di isu HIV ataupun pemerhati masalah HIV dapat menggunakan istilah dengan tepat dalam melakukan kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi. read more

Jangan Takut Berhenti dari Narkoba, Mulailah Hidup Barumu!

Jangan Takut Berhenti dari Narkoba, Mulailah Hidup Barumu!

Bagi para pemakai narkoba dan sudah telanjur menjadi pecandu, jangan pernah takut untuk berhenti. Kesempatan untuk memulai hidup yang lebih baik lagi masih terbentang luas, jangan biarkan kehidupan dikuasai dann diperbudak oleh narkoba. Hidup hanya untuk memakai, mencari narkoba dan tak melakukan apapun yang lebih berguna. Pengguna narkoba bukan penjahat atau pelak kriminal karena mereka hanya korban kejahatan dari para pengedar narkoba.

Membaca kisah Nursigit di  Majalah Buletin P4GN BNN Edisi 11 Tahun 2012, Nursigit yang mantan pecandu narkoba ini bercerita ketika ia merantau ke Jambi dan menjadi operator alat berat di sebuah perusahaan, meraup gaji bulanan yang mencapai 10 Juta per  bulannya. Ia menggunakan gajinya sangat tidak bijak, foya-foya, judi dan terjerumus narkoba. read more

Kisah Penderita AIDS Jadi Instruktur Rehabilitasi Narkoba

Kisah Penderita AIDS Jadi Instruktur Rehabilitasi Narkoba

Oleh : Suryanta Bakti Susila, Nur Faishal (Surabaya)     

“Jangan nama asli, panggil saja saya Mayong.”

VIVA.co.id – Mayong namanya. Jakarta tempat lahirnya, Desember 1961 silam. Tubuhnya jangkung, tapi tak tegak. Rambutnya pendek, tapi tak cepak. Bolongan kecil bekas tindikan tampak di dua telinganya. Sorot matanya tak fokus. Giginya banyak yang tanggal. Tato naga menghiasi hampir seluruh kedua lengannya.

“Jangan nama asli, panggil saja saya Mayong,” katanya membuka obrolan saat VIVA.co.id menemuinya di kantor Yayasan Orbit, tempat dia direhabilitasi sekaligus mendampingi pecandu narkotika yang ingin pulih, di kompleks perumahan Jalan Rungkut Pandugo, Rungkut, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu sore, 28 November 2015. read more

Menjadi Pengguna Narkoba: Tinjauan Lifecourse Pada Penggunaan Narkoba

Menjadi Pengguna Narkoba: Tinjauan Lifecourse Pada Penggunaan Narkoba

Menjadi Pengguna Narkoba: Tinjauan Lifecourse Pada Penggunaan Narkoba[1]

Ignatius Praptoraharjo[2]

Abstrak

Ketergantungan napza selama ini dilihat hanya merupakan sebuah episode dalam kehidupan seseorang sehingga harapan masyarakat bahwa seseorang yang telah melakukan perawatan ketergantungan narkoba juga merupakan satu episode lain yang harus dilakukan agar orang bisa kembali ‘sehat’. Namun kenyataan dalam komunitas medis dan ilmiah semakin membuktikan bahwa ketergantungan napza merupakan sebuah ‘penyakit kronis’ yang membutuhkan perawatan jangka panjang. Dalam artikel ini digambarkan tentang pola dinamis dari penggunaan narkoba yang mencakup awal penggunaan, penggunaan secara teratur, berhenti, menggunakan kembali termasuk pengalaman perawatan dan keterpaparannya terhadap penegakan hukum. Kebijakan tentang perawatan narkoba hendaknya mampu mengakomodasi pola dinamis ini jika mengharapkan sebuah kebijakan yang efektif. Jika tidak, maka kebijakan ini hanya akan merefleksikan kepentingan dominan (penegakan hukum, harapan masyarakat, kepentingan program) dengan mengabaikan pengalaman bagi mereka yang hidup dalam dan mengalami ketergantungan narkoba. read more

Life Course Pengguna Narkoba

Life Course Pengguna Narkoba

Berhenti sebagai pecandu narkotika, merupakan sebuah fase berat yang harus dilalui oleh seorang pecandu. Dimana setelah dia mengikuti perawatan ketergantungan narkotika, diharapkan si pecandu akan kembali ‘sehat’. Pada saat mengambil sebuah keputusan untuk melakukan perawatan harus juga dilihat kisah bagaimana awal mula menjadi pecandu, penggunaan narkotika secara teratrur dengan dosis yang terus naik, dan kenapa seseorang itu ingin berhenti menggunakan narkotika. Belum lagi bila pecandu tersebut bersentuhan dengan penegak hukum. Maka akan semakin pelik permasalahannya. Untuk itu diperlukan sebuah kebijakan perawatan narkotika yang dapat mengakomidasi kebutuhan pecandu dengan tidak mengabaikan pengalaman pada saat ketergantungan narkotika. read more

Mau sampai kapan saya metadon?: Memperkuat layanan program terapi rumatan metadon

Permasalahan layanan program terapi metadon (PTRM) utama adalah Pembelajaran yang diperoleh dari penelitian operasional ini yaitu, kurang konsisten dilaksanakannya pedoman pelaksanaan program oleh penyedia layanan maupun oleh pemanfaat layanan, kejenuhan klien yang disebabkan karena tidak ada layanan psikososial dalam PTRM yang mengakibatkan tingginya penggunaan napza lain selain metadon, peran staf dan kader puskesmas belum optimal, dan adanya faktor eksternal yang sangat berpengaruh terhadap kapatuhan dalam terapi seperti ketersediaan narkoba, permasalahan keluarga, persoalan hubungan dengan teman. read more

Perlukah promosi test HIV pada pasangan populasi kunci dan serodiskordan?

Situasi perawatan dan pengobatan Anti Retro Viral (ARV) selama ini masih terdapat kesenjangan yang besar antara jumlah ODHA yang mengetahui statusnya, jumlah ODHA yang masuk perawatan HIV meskipun memenuhi syarat untuk mengikuti terapi, jumlah ODHA yang memperoleh Terapi ARV, dan jumlah ODHA yang masih on treatment.

Pada sisi lain masih ditemukan lost to follow up yang tinggi dari mereka yang pernah mengikuti Terapi ARV. Langkah strategis untuk mengurangi kesenjangan dan mendorong perawatan HIV sedini mungkin serta mendukung kepatuhan dalam terapi ARV adalah dengan perluasan tes HIV. Mempertimbangkan situasi epidemi di sebagian besar wilayah Indonesia yang terkonsentrasi pada populasi kunci dan mulai meluas pada populasi umum maka melakukan promosi tes HIV kepada pasangan populasi kunci dan pasangan serodiskordan1 menjadi satu langkah yang sangat strategis. read more

Untuk komunitas dari komunitas: Jangan hanya di puskesmas dan rumah sakit!

Perluasan cakupan perawatan HIV hingga saat ini masih terbatas karena adanya berbagai hambatan baik dari sisi kebutuhan maupun penyediaan layanan. Akibatnya cascade of HIV care di Indonesia masih menunjukkan kesenjangan yang besar.

Kesenjangan ini akan lebih besar jika secara lebih spesifik dilihat pada komunitas pengguna napza suntik (penasun) karena masih kuatnya stigma pada penyedia layanan terkait dengan perilaku adiksinya dan pada sisi yang lain masih sedikitnya dukungan sosial diantara mereka sendiri untuk melakukan perawatan HIV. Penentuan layanan hanya pada fasilitas kesehatan umum memiliki potensi untuk membatasi akses populasi kunci untuk memperoleh layanan ARV. read more

Dukungan bagi Ibu-Ibu yang Hidup dengan HIV?

Perempuan yang terinfeksi HIV dan mempunyai anak yang HIV positif menghadapi tantangan besar dalam hidupnya. Sayangnya, kebijakan nasional yang ada tampaknya belum menyentuh kepentingan ibu dengan HIV dan anak yang hidup dengan HIV dan keluarganya secara menyeluruh.

Studi ini dimaksudkan untuk menggali kebutuhan-kebutuhan Ibu dan keluarga yang berhubungan dengan kualitas hidup anak. Pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran kuesioner kepada 48 pengasuh anak dengan HIV. Selain itu, diskusi kelompok terarah dilakukan untuk menggali pengalaman pengungkapan status dan bantuan pemerintah yang pernah diterima anak atau keluarga. read more