Premarital HIV testing: Are we aware of the consequences?

Premarital HIV testing: Are we aware of the consequences?

hiv_testAsti Widihastuti, Jakarta | Opinion | A new local regulation enforcing mandatory premarital HIV testing has just been endorsed by the Bogor city mayor, Bima Arya Sugiarto. It requires couples who wish to marry to conduct HIV tests to be able to gain their marriage certificates. This regulation comes in the wake of increasing cases of HIV and AIDS in Bogor.

Two kinds of HIV testing procedures are approved by the Health Ministry: voluntary counseling and testing and health provider-initiated testing and counseling. Both procedures include counseling and are not mandatory. For the latter service, one can decline to take the offered HIV test. Mandatory premarital HIV testing in Bogor will be the first regulation in Indonesia that obliges people to undergo HIV testing. read more

Manajemen Kasus  HIV Sebagai  Intervensi  Yang  Harmoni

Manajemen Kasus HIV Sebagai Intervensi Yang Harmoni

pitamerahPada awal tahun 2015, Komisi Penanggulangan AIDS Propinsi (KPAP) DKI Jakarta memiliki komitmen pendanaan untuk beberapa program operasional  HIV AIDS. Salah satu program yang diandalkan adalah pelayanan manajemen kasus untuk HIV AIDS. Pelayanan manajemen kasus, dirasakan penting oleh KPAP DKI Jakarta untuk menjawab kebutuhan orang dengan HIV agar mendapatkan dukungan layanan yang lengkap sesuai dengan kondisi dan situasi klien.

Untuk mendukung operasional pelayanan manajemen kasus HIV AIDS, KPAP Propinsi DKI Jakarta mengandeng beberapa mitra kerja. Beberapa mitra kerja ini  mendapatkan tugas pokok fungsi masing-masing. Misalnya, Pusat Penelitian HIV AIDS Atma Jaya sebagai salah mitra kerja mendapatkan tugas sebagai penyedia bimbingan teknis operasional manajemen kasus HIV. 10 LSM yang bekerja untuk HIV AIDS di seluruh DKI Jakarta mendapat tugas sebagai pelaksana operasional dari layanan manajemen kasus di puskesmas dan rumah sakit. Kegiatan ini juga mendapatkan dukungan dari Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta melalui 15 puskemas dan 3 rumah sakit di DKI Jakarta. Peran puskesmas dan rumah sakit adalah menemukan sebanyak mungkin orang dengan HIV melalui layanan konseling dan tes HIV untuk dirujuk ke pelayanan manajemen kasus sebagai salah satu intervensi program berkelanjutan. Pusat penelitian HIV AIDS Atma Jaya dipilih karena berpengalaman dalam mengelola intervensi manajemen kasus pada program peningkatan kapasitas di PPH Atma Jaya sendiri dan program lapangan yang diselenggarakan di Kios Atma Jaya dalam intervensi pengguna napza suntik dan program di LAP dalam intervensi pada anak HIV AIDS. read more

Peranan Manajemen Kasus dalam Pelaksanaan Positive Prevention

Peranan Manajemen Kasus dalam Pelaksanaan Positive Prevention

Manajemen Kasus HIV dan AIDS merupakan salah satu metode pelayanan yang bisa digunakan untuk membantu Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA). Pelayanan Manajemen Kasus menggunakan pendekatan individual secara holistic dan terpadu, yang mengkaitkan dan mengkoordinasikan klien dengan sumber layanan baik medis, psikososial dan spiritual.

Positive Prevention salah satu strategi yang bertujuan untuk meningkatkan harga diri dan kemampuan ODHA untuk melindungi kesehatan dirinya dan mencegah/menghindari penularan infeksi kepada orang lain. Dengan intervensi dalam positive prevention ODHA dapat menjaga kondisi kesehatannya dan mampu meningkatkan kwalitas hidupnya. Intervensi positive prevention dalam pelayanan manajemen kasus HIV dan AIDS mencakup edukasi dan dukungan kesehatan, dukungan komoditas berkaitan dengan perawatan dan pengobatan, pengembangan sistem jaringan rujukan layanan, pelibatan ODHA dalam program penanggulangan HIV dan AIDS dengan memberikan pelatihan dan keterampilan. read more

Manajemen Kasus HIV

Manajemen Kasus dapat dijabarkan sebagai; penggelolaan secara terkoordinasi semua sistim pemberi jasa perawatan guna memenuhi kebutuhan klien atau kelompok klien tertentu. ( Fleisher dan Hendrickson,2002).

Secara konsep dan praktek manajemen kasus HIV dikenalkan di Komunitas kesehatan Indonesia Oktober 2001 oleh seorang Pekerja Sosial profesional yang saat itu bekerja di Family Health international (FHI). Perkenalan ini dilanjutkan dengan diskusi dengan pekerja sosial dari STISIP Widuri. Dengan bantuan Tehknis dari FHI, dibuat lah pilot project manajemen kasus untuk HIV. Pada awalnya terjadi sedikit tumpang tindih peran antara manager kasus dan konselor VCT ( Volountary counseling and testing / tes HIV yang dilakukan dengan konseling dan sukarela), karena melihat adanya beberapa fungsi yang mirip. read more

Hartini: Walau Terinfeksi HIV Jangan Pernah Menyerah

Hartini: Walau Terinfeksi HIV Jangan Pernah Menyerah

Ibu rumah tangga yang terinfeksi virus tersebut, antara lain dialami Hartini.

Suara.com – HIV bisa menjangkiti siapapun. Data menyebutkan orang yang terinfeksi virus ini bukan hanya pekerja seks komersial, tapi kalangan pekerja dan ibu rumah tangga yang tidak punya aktivitas berisiko pun bisa kena.

Ibu rumah tangga yang terinfeksi virus tersebut, antara lain Hartini. Di salah satu acara yang diselenggarakan di Jakarta Selatan, Hartini mengungkapkan dia terjangkit HIV dari suaminya. Hartini berhasil keluar dari masa sulit setelah tahu kena HIV. Hartini tidak mau ada orang yang terkena virus lagi. Dia sekarang menjadi konselor VCT dan membagikan pengalamannya kepada masyarakat. read more

Begini Cara Ungkapkan Status HIV pada Pasangan

Begini Cara Ungkapkan Status HIV pada Pasangan

status HIV pada pasangan memang bukan hal yang mudah.

Suara.com – Orang dengan HIV AIDS (ODHA) bukan melulu yang paling bertanggung jawab atas penyakit yang menginfeksinya. Besar kemungkinan mereka hanya korban yang terdampak dari perbuatan tak bertanggung jawab dari penderita HIV AIDS.

Seperti yang dialani Hartini, salah satu ODHA yang terinfeksi virus HIV sejak 2008. Meski tak mau menyalahkan, Hartini mengakui bahwa virus ini dibawa ke rumah oleh mantan suaminya yang kerap ‘jajan’ di luar. read more

Laporan Penelitian Operasional Kelayakan Integrasi Penemuan Kasus TB Secara Aktif pada kelompok Populasi Kunci ke dalam Kegiatan Outreach Program HIV

Hasil kajian terhadap proses intervensi program TB REACH di empat kab/kota terpilih menunjukkan beberapa hal yang perlu memperoleh perhatian sebagai berikut:

  1. Walaupun tidak semua petugas outreach belum memahami mekanisme pengelolaan program TB, pelaksanaan di tingkat layanan telah mengacu pada pedoman yang digunakan. Adanya persamaan pengetahuan mengenai prinsip dasar pelaksanaan rujukan TB baik di tingkat layanan maupun klien misalnya dalam persyaratan untuk mengakses layanan TB memberi daya ungkit yang cukup dalam pelaksanaan kegiatan ini.
  2. Jumlah klien dari tiga komunitas yang mengakses layanan rujukan TB cukup kelihatan polanya pasca dilakukan intervensi pelatihan sehingga bisa digambarkan besaran prevalensi TB pada tiap populasi kunci ini dimasing-masing kab/kota terpilih seperti yang sudah disajikan didalam evaluasi hasil intervensi bab IV.
  3. Komunikasi pelaksanaan program TB REACH juga menjadi penentu penting dari keberhasilan sebuah program sehingga informasi yang sampai dilapangan tidak sepotong-potong melalui beberapa periode waktu tertentu. Hal ini akan sangat berdampak terhadap kejelasan sebuah pelaksanaan program dilapangan.
  4. Adanya ketidakpastian terkait proses klaim sampai menjelang berakhirnya periode program TB REACH sangat mempengaruhi proses kesuksesan pelaksanaan kegiatan program ini karena adanya penurunan motivasi pada petugas penjangkau dibeberapa lembaga swadaya masyarakat. Dukungan kebijakan lokal yang berpihak pada program mulai dari tingkat fasyankes dengan pemberian kemudahan dalam mengakses rujukan TB akan memberi motivasi tambahan bagi petugas penjangkau dalam merujuk klien dengan suspek TB.
  5. Begitu juga dukungan kebijakan suku dinas kab/kota setempat yang mau ikut telibat aktif dalam pengelolaan program akan sangat membantu dalam menjembatani komunikasi antara penyedia layanan (fasyankes) dengan petugas outreach di lembaga swadaya masyarakat agar secara bersama-sama ikut berkontribusi mendongkrak angka capaian rujukan TB REACH ini.

Berdasarkan evaluasi kegiatan intervensi TB REACH di empat kab/kota tersebut, maka dikembangkan sebuah intervensi asistensi teknis dalam pengelolaan program TB yang dimaksudkan untuk meningkatkan efektivitas rujukan TB ini. Permasalahan strategis yang diantisipasi dalam pengembangan intervensi ini adalah terkait pengelolaan manajemen program TB di masing-masing lembaga swadaya masyarakat. Intervensi asistensi teknis ini  dilakukan agar manajemen lemabaga swadaya masyarakat bisa memahami pengelolaan program TB secara komprehensif. read more

Pengaruh Global Health Initiative Terhadap Keberadaan dan Peran Organisasi Masyarakat Sipil dalam Pengendalian HIV di Indonesia

Pusat Penelitian HIV AIDS Unika Atma Jaya telah selesai melaksanakan penelitian dengan judul “Pengaruh Global Health Initiative (GHI) Terhadap Keberadaan dan Peran Organisasi Masyarakat Sipil dalam Pengendalian HIV di Indonesia”. Penelitian ini dilaksanakan selama 7 bulan dari mulai bulan Februari – September 2015. Tujuan umum penelitian adalah melihat pengaruh dan dampak GHI terhadap peran OMS pada sistem kesehatan di dalam upaya peningkatan kapasitas dan penanggulangan HIV AIDS. Penelitian berisikan informasi, data dan analisis hasil wawancara yang dilakukan ke KPAN, KPA tingkat propinsi, Kementerian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan tingkat propinsi dan kota, penyandang dana dan LSM yang bekerja pada program HIV AIDS di wilayah Surabaya, Malang, DKI Jakarta, Medan, Denpasar, dan Bandung. Dalam sajian penelitian ini juga memperlihatkan bahwa peran GHI cukup besar dalam mendukung partisipasi masyarakat sipil untuk terlibat dalam penanggulangan HIV AIDS karena peran strategiknya dalam penanggulangan HIV AIDS.
Dalam kesempatan yang baik melalui hasil penelitian yang PPH Unika Atma Jaya lakukan, kami mengucapkan terimakasih kepada semua narasumber yang telah terlibat dan memberikan informasi dalam penelitian ini. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Knowledge Sector Initiative (KSI) karena telah memberikan bantuan dana dalam mendukung penelitian mandiri ini. Semoga Penelitian ini dapat menjadi masukan yang ilmiah dalam pengelolaan program HIV AIDS melalui dana GHI di masa yang akan datang. read more