Berbicara Tentang Program Terapi Rumatan Metadon

Berbicara Tentang Program Terapi Rumatan Metadon

Oleh: Angellia Lestari Christiani

Pusat Penelitian HIV/ AIDS Atma Jaya (PPH) telah secara rutin mengadakan Harm Reduction Workshop bagi mahasiswa magister psikologi profesi klinis dewasa. Salah satu tujuan dari adanya kursus ini adalah untuk mengenalkan konsep harm reduction kepada kami para mahasiswa. Saya sebagai mahasiswa klinis dewasa menyadari kurangnya pemahaman mengenai pemarsalahan NAPZA, ketergantungan NAPZA terutama dalam konteks psikologi. Oleh karena itu, kali ini saya hendak berbagi mengenai tiga hari yang saya lalui dalam kursus ini.

Istilah harm reduction menjadi istilah yang penting untuk dipahami bagi kami calon psikolog, serta sering digunakan sepanjang tiga hari ini. Harm reduction merupakan kebijakan, program dan praktik yang bertujuan untuk mengurangi kerugian terkait dengan penggunaan obat psikoaktif pada orang yang tidak mampu atau tidak mau berhenti (Hunt, 2010). Mengapa penting untuk memahami harm reduction ini? Karena 43-56% pengguna jarum suntik (penasun) yang terdapat pada empat kota (Medan, Jakarta, Bandung, dan Surabaya) di Indonesia telah terinfeksi HIV (Surveilans Terpadu-Biologis Perilaku Pada Kelompok Berisiko Tinggi di Indonesia [STBP], 2007). Penasun masih memiliki prevalensi HIV tertinggi di antara kelompok paling berisiko di Indonesia. Prevalensi HIV antara yang menyuntik NAPZA selama dua tahun atau kurang, jauh lebih rendah daripada yang telah menyuntik selama lebih dari dua tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa banyak infeksi HIV pada Penasun dapat dicegah jika mereka dijangkau sedini mungkin melalui intervensi (STBP, 2007).

Salah satu pencegahan yang kami pelajari selama tiga hari kursus bersama PPH adalah Program Terapi Rumatan Metadon (PRTM). PRTM adalah pemberian obat metadon harian kepada pasien ketergantungan heroin di institusi kesehatan seperti Puskesmas atau Rumah Sakit dengan pengawasan langsung oleh petugas kesehatan. Sifatnya rumatan atau mempertahankan pasien selama mungkin menjalani terapi tersebut sampai akhirnya dosis dapat diturunkan bertahap dan, bila memungkinkan, berhenti (Leavitt, 2004). Metadon diproduksi dalam bentuk cairan, tablet, dan bubuk. Yang digunakan untuk pengobatan adalah yang berbentuk cairan yang diminum, dan karenanya lebih aman daripada penggunaan heroin yang disuntikkan. Oleh karena itu, kami mendapatkan tugas untuk mengunjungi puskesmas yang memberikan layanan PRTM agar dapat mengobservasi langsung pasien, pemberi layanan kesehatan, serta petugas lapangan.

Saya bersama empat orang mahasiswa lainnya melakukan kunjungan kepada Puskesmas Tebet Timur. Layanan PRTM di Puskesmas Tebet Timur sudah memasuki tahun kesepuluh. Layanan PRTM pada puskesmas dilayanani oleh dua orang dokter yang secara bergantian berhadapan dengan pasien. Satu per satu pasien akan dipanggil ke dalam ruangan dengan pintu yang terbuka, sehingga pasien lain yang menunggu giliran dapat melihat kegiatan yang terjadi di dalam ruangan.

Durasi pasien menjalani PRTM beragam, mulai dari beberapa minggu hingga 10 tahun, atau sejak pertama PRTM dibuka di Puskesmas Tebet Timur. Saya dapat merasakan suasana “kekeluargaan” selama layanan PRTM dibawakan oleh Dokter Juju, salah satu dokter yang bertugas dan kerap dipanggil “Bunda” oleh para pasien. Saya membayangkan apabila saya harus bertemu dengan Dokter Juju setiap hari selama 10 tahun berturut-turut, maka otomatis saya juga akan ikut memanggil beliau dengan sebutan “Bunda”. Dokter Juju dengan ramah mengajak berbicara setiap pasien, serta menanyakan mengenai significant other dari para pasien. Pada saat Dokter Juju memanggil satu per satu nama pasien, pasien lain yang berdiri di depan pintu langsung membantu memanggil masuk pasien yang dimaksud. Mereka terlihat sudah menghafal nama dan wajah dari sebagian besar pasien. Saya menyadari, bertemu setiap hari, merasakan telah mengalami masa lalu yang sama, proses yang sama, menjalani terapi yang sama, tentunya menimbulkan “kekeluargaan” yang saya maksud tersebut.

Saat saya berbicara dengan pasien dan menanyakan mengenai pengalaman mereka menerima layanan PRTM di Puskesmas Tebet Timur, mereka mengatakan bahwa hal tersebut juga mereka rasakan. Para dokter terbuka mendengarkan keluhan mereka, dan meskipun terkadang ada beberapa pasien yang “kabur” dari PRTM, pada saat mereka kembali setelah bolos, para pemberi layanan kesehatan tetap menerima mereka dengan ramah. Kehadiran kami para mahasiswa untuk berbicara dan mewawancarai mereka juga diterima dengan baik oleh para pasien. Para pasien bahkan membantu memanggilkan teman-teman yang dapat diajak untuk wawancara. Kemudian mereka tidak mengganggu ketika wawancara dilakukan oleh para mahasiswa.

Saya menemukan beberapa pasien yang sudah mulai mendapat dosis methadone yang cukup kecil dan bahkan dapat membawa pulang methadone. Pada saat berbincang dengan mereka, salah satu hal yang selalu mereka kemukakan, pendorong nomor satu mereka dapat mencapai tahap saat ini adalah diri sendiri. Faktor eksternal tidak dapat memerankan peran sebesar motivasi intrinsik. Keinginan pribadi berperan besar dalam mempertahankan konsistensi dan kekuatan batin mereka agar dapat setia datang ke puskesmas tiap hari, menghindari mixing menggunakan obat-obatan terlarang lain, dan membuat hidup mereka menjadi lebih baik. Masalahnya, tidak semua orang mencapai kesadaran ini dengan mudah. Akan tetapi, berbicara dengan pasien-pasien yang mencapai kesadaran ini membuat saya merasa bangga pada mereka. Meskipun saya baru bertemu satu kali, namun mendengar berat badan mereka yang naik sejak mengikuti PRTM, mendengar rencana mereka untuk menikah dengan pasangan mereka saat ini, melihat sendiri istri yang setia menemani datang membuat saya memiliki optimisme sendiri.

Kunjungan ini juga turut mengusik saya dari sisi lain, yaitu karena adanya kekecewaan pribadi yang saya rasakan. Puskesmas Tebet Timur membuka layanan PRTM mulai dari pk 13.00 hingga 15.00. Salah satu alasan mengapa layanan PRTM dilaksanakan pada siang hari adalah karena menghindari padatnya masyrakat yang berobat pada pagi hari. Petugas layanan berusaha menghindarkan pasien lain yang berobat ke puskesmas, agar tidak bertanya-tanya mengenai metadon yang diminum. Karena warnanya yang merah dan diminum oleh semua pasien PRTM yang datang, beberapa pasien jadi menanyakan obat apakah itu, dan untuk siapakah obat tersebut. Oleh karena itu, layanan dibuka pada siang hari, saat kepadatan puskesmas mulai menurun.

Saya sendiri menyayangkan karena adanya pandangan seperti di atas. Selain itu, pemberian layanan PRTM yang terbatas hanya pada beberapa puskesmas saja. Berdasarkan wawancara saya bersama dokter yang bertugas, ada beberapa pasien yang datang dari lokasi yang cukup jauh dari puskesmas, dikarenakan tidak ada layanan PRTM di puskesmas yang dekat dengan rumahnya. Salah satu alasan mengapa PRTM tidak dilakukan pada banyak puskesmas adalah karena penolakan masyarakat sekitar. Masyarakat keberatan saat para mantan pengguna narkoba ini datang ke puskesmas untuk menerima layanan tersebut. Pandangan negatif yang masih banyak diterima mantan pengguna narkoba membuat mereka memiliki keterbatasan dalam akses layanan kesehatan.

Saya menyadari perjuangan melawan NAPZA masih panjang, PRTM sendiri merupakan satu titik terang yang memberi hasil cukup mengejutkan. Kondisi dimana putauw yang sedang sulit, bahkan hampir mustahil untuk didapatkan tentunya mendorong kondisi ideal dari PRTM ini. Akan tetapi, kita perlu turut memikirkan layanan terapi lain yang dapat ditujukan bagi NAPZA yang masih banyak beredar di luar sana seperti shabu-shabu. Apakah ada terapi lain yang dapat diberikan dan membawa efektivitas yang serupa seperti PRTM ini? Kita sebagai mahasiswa calon psikolog klinis dewasa tentunya dapat turut berperan dalam mewujudkan kondisi ideal layanan PRTM, atau bahkan memunculkan terapi bagi NAPZA lainnya. Tentunya akan pengalaman berharga selama tiga hari dari PPH ini, adalah salah satu langkah yang diupayakan bagi para calon psikolog klinis dewasa untuk menuju kesana.

Daftar Pustaka

Hunt, N. (2010). A review of the evidence-bae for harm reduction approaches to drug use. Diakses pada Kamis, 13 Juli 2017 dari http://www.forward-thinking-on-drugs.org/review2-print.html

Leavitt, S. B. (2004). A community-cantered solution for opioid addiction: Methadone maintenance treatment (TMT). Mundelein: Addiction Treatment Forum.

Surveilans Terpadu-Biologis Perilaku Pada Kelompok Berisiko Tinggi di Indonesia [STBP]. (2007). Rangkuman surveilans pengguna NAPZA suntik. Diakses pada Kamis, 13 Juli 2017 dari http://www.aidsindonesia.or.id/repo/IBBSHighlightsIDU2007-ind.pdf

 

Catatan: Tulisan ini merupakan refleksi penulis setelah mengikuti kegiatan “Kursus Harm Reduction 2017” oleh Program Magister Fakultas Psikologi Klinis Unika Atma Jaya Dan Pusat Penelitian HIV-AIDS Unika Atma Jaya.  Penulis adalah mahasiswa Program Magister Psikologi Profesi Unika Atma Jaya.

Artikel mengenai Kursus Harm Reduction 2017 dapat dibaca melalui tautan ini: Mengenalkan Konsep Harm Reduction dalam Pelayanan Kesehatan