Berdamai dengan Diri Sendiri

Berdamai dengan Diri Sendiri

Oleh Jessica Wilhelmina A 

Penyalahgunaan narkoba baik di Indonesia maupun internasional sudah terjadi dalam waktu yang lama. Narkoba hadir sebagai “sarana rekreasi” bagi para penggunanya yang berasal dari berbagai kalangan dan lapisan masyarakat. Pada awalnya, pengguna umumnya tidak benar-benar mengetahui dampak dari penyalahgunaan obat tersebut. Mereka hanya menikmati efek obat yang dikonsumsinya dan tanpa disadari membuat mereka terus menggunakannya secara berulang hingga menjadi kecanduan.

Narkoba merupakan permasalahan yang kompleks dan untuk memahaminya dengan baik dibutuhkan cara pandang yang lebih luas dan menyeluruh. Perlu pendekatan multidimensional untuk menjelaskan permasalahan narkoba secara komprehensif. Misalnya, tidak ada faktor tunggal yang dapat menentukan mengapa seseorang menjadi pecandu (Mooney, Dold, & Eisenberg, 2014). Biasanya para pecandu mengaku bahwa alasannya untuk mencoba menggunakan narkoba adalah ikut-ikutan teman. Namun tidak serta merta kita dapat menentukan bahwa faktor lingkungan yang menjadi penyebab utama. Pada kenyataannya, ada pula orang-orang yang tetap tidak menggunakan narkoba walaupun orang-orang sekitarnya mayoritas adalah pecandu narkoba. Hal tersebut memberikan pemahaman yang mendalam bahwa kemungkinan terdapat hal-hal lain yang dapat menjelaskan mengapa individu memiliki kecenderungan untuk menggunakan narkoba dan menjadi ‘ketagihan’.

Saya berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan beberapa pecandu narkoba terkait pengalaman mereka saat masih mengkonsumsi. Banyak alasan mengapa mereka memutuskan untuk mencoba narkoba sampai pada akhirnya menjadi kecanduan, antara lain ikut-ikutan teman, stress karena patah hati, ingin mencari pengakuan di dunia luar, dan masih banyak alasan lainnya. Kesimpulannya, mereka menggunakan narkoba bukan semata-mata karena terpengaruh lingkungan, namun pada dasarnya kecenderungan perilaku tersebut dilatarbelakangi oleh adanya berbagai masalah dikehidupan pribadi para pecandu yang membuat mereka memilih narkoba sebagai ‘jalan keluar’ untuk menyelesaikan masalahnya. Padahal, para pecandu, khususnya yang saya wawancara, sangat menyadari bahwa narkoba hanya dapat memberikan efek sementara yang membuat seakan-akan masalah mereka hilang dari pikiran akan tetapi pada kenyataannya masalah tersebut tetaplah ada dan tidak terselesaikan dengan tuntas. Dengan kata lain, para pecandu narkoba memilih penyelesaian masalah yang keliru karena mereka tidak mengetahui bagaimana cara mengatasi masalah utama dalam kehidupannya dan tanpa disadari mereka menambah masalah baru dengan menjadikan narkoba sebagai ‘pelarian’. Hal ini sejalan dengan hasil sebuah penelitian yang mengatakan bahwa kurangnya kemampuan seseorang untuk melakukan problem solving dapat meningkatkan kecederungan seseorang untuk menggunakan narkoba (Herzog, 1990).

Selain itu, faktor psikologis yang ternyata mempengaruhi kecenderungan individu menggunakan narkoba adalah penilaian individu terhadap harga dirinya. Individu yang memiliki penilaian rendah terhadap harga dirinya memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk menggunakan narkoba (Khajehdaluee, dkk., 2013). Para pecandu narkoba yang sempat saya wawancara mengatakan bahwa kebanyakan dari mereka mulai menggunakan narkoba mulai dari umur 18 tahun sampai dengan 20 tahun ke atas. Pada masa itu individu sedang dalam tahap mencari jati diri. Para pecandu mengakui bahwa ketidaksabilan emosi, keiinginan untuk tampil hebat dan perasaan ingin diakui menjadi alasan mengapa mereka menggunakan narkoba. Tanpa disadari efek menggunakan narkoba justru sebaliknya, semakin membuat mereka merasa rendah diri terutama dalam melakukan relasi sosial. Pecandu pada umumnya cenderung menarik diri dari lingkungan social.

Melalui pemaparan di atas terlihat bahwa banyak faktor yang menjadi penyebab individu memiliki kecenderungan untuk menggunakan narkoba. Begitu pula sebaliknya, banyak faktor yang membuat individu pada akhirnya memutuskan untuk berhenti menggunakan narkoba dan menghilangkan adiksinya. Saya belajar dari pengalaman para pecandu bahwa hal yang terpenting ketika pecandu ingin menghentikan adiksinya adalah memiliki keinginan yang kuat dan tulus untuk lepas dari narkoba. Namun, untuk melepaskan diri dari narkoba para pecandu perlu menjalani proses yang panjang. Ketika individu mengalami kecanduan terhadap narkoba, hal tersebut berdampak pada berbagai aspek kehidupannya.

Penggunaan narkoba yang berlebihan tentunya berdampak negatif pada kondisi biologis individu itu sendiri karena ketika individu sudah mulai mengalami adiksi, maka ada perubahan pada system saraf pusat. Selain itu, kecanduan narkoba membawa perubahan yang cukup besar kondisi psikologis individu, seperti emosi yang tidak stabil, impulsif dan sebagainya. Perubahan-perubahan ini tentunya memberikan dampak yang cukup besar terhadap lingkungan para pecandu. Tidak jarang para pecandu mendapatkan stigma negatif sehingga pada akhirnya kehilangan orang-orang di sekitarnya dan merasa terkucilkan. Oleh karena itu, proses recovery perlu dipahami sebagai proses yang panjang, membutuhkan usaha yang besar dan dukungan dari lingkungan sekitar sehingga dibutuhkan kesabaran dan kerja keras untuk melakukannya. Sayangnya, tidak semua pecandu yang ingin lepas dari narkoba tahu bagaimana cara melakukannya. Oleh karenanya, penting bagi pecandu untuk mencari pertolongan dari pihak luar dan bersedia untuk terbuka menceritakan kepada keluarga atau orang terdekat sebagai salah satu upaya seeking for help. Selain itu, mencari pertolongan kepada tenaga professional atau komunitas yang berhubungan erat dengan rehabilitasi juga sangat membantu. Intinya, pecandu harus terus berupaya untuk terkoneksi dengan lingkungan untuk membantu proses recovery.

Semua ketergantungan memiliki efek psikologis pada individu, baik pengguna maupun orang-orang sekitarnya. Dengan segala kerugian yang dihasilkan oleh para pecandu terhadap lingkungannya, mungkin tidaklah mudah untuk menerima kembali kehadiran pecandu dan mempercayai keinginan mereka untuk kembali ‘hidup normal’. Akan tetapi, penerimaan dari lingkungan akan sangat membantu pecandu untuk tetap berada dalam proses recovery dan tidak kembali untuk mengkonsumsi narkoba. Sulitnya menjalani proses recovery harus dipahami dengan baik oleh lingkungan sekitar para pecandu. Oleh karenanya, kemajuan sekecil apapun sangat berarti.

Melalui pengalaman para pecandu, saya belajar tentang pentingnya memiliki keyakinan diri dan pondasi yang kuat dalam hidup. Selain itu, lari dari masalah bukanlah pilihan yang tepat. Pada akhirnya, kita tetap harus berdamai dengan diri sendiri dan membiarkan diri untuk diproses oleh kehidupan sehingga dapat bertransformasi menjadi individu yang lebih baik.

Referensi :

Herzog, Laura. (1990). Drug usage and interpersonal problem solving deficits (Honors Theses, Southern Illnois University Carbondale). Diakses melalui http://opensiuc.lib.siu.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1027&context=uhp_theses  

Khajehdaluee, M., A. Zavar, M. Alidoust, & R. Pourandi. (2013). The relation of self-esteem and illegal drug usage in high school students. Jurnal dari National Library of Medicine National Institute of Health. Vol.15(11).  

Mooney, Al J., Catherine Dold, & Howard Eisenberg. (2014). The recovery book : Answers to all your questions about addiction and alcoholism and finding health and happiness in sobriety. New York, USA : Workman Publishing Co., Inc.

 

Catatan: Tulisan ini merupakan refleksi penulis setelah mengikuti kegiatan “Kursus Harm Reduction 2017” oleh Program Magister Fakultas Psikologi Klinis Unika Atma Jaya Dan Pusat Penelitian HIV-AIDS Unika Atma Jaya.  Penulis adalah mahasiswa Program Magister Psikologi Profesi Unika Atma Jaya.

Artikel mengenai Kursus Harm Reduction 2017 dapat dibaca melalui tautan ini: Mengenalkan Konsep Harm Reduction dalam Pelayanan Kesehatan