CATATAN HARI II KONFERENSI AIDS  INTERNASIONAL KE 21, DURBAN, 19 Juli 2016

CATATAN HARI II KONFERENSI AIDS INTERNASIONAL KE 21, DURBAN, 19 Juli 2016

CATATAN HARI II KONFERENSI AIDS  INTERNASIONAL KE 21, DURBAN, 19 Juli 2016

Oleh: Ignatius Praptoraharjo, PhD.

Integrasi HIV Sebagai Penyakit Kronis ke Dalam Penyakit Tidak Menular (PTM)

Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan penyakit yang juga banyak dialami oleh Orang Dengan HIV AIDS (ODHA). PTM yang sering ditemukan pada ODHA adalah hipertensi, diabetes, epilepsi, hipertensi, jantung dan ashma. Ada kemungkinan tingkat PTM akan semakin meningkat karena saat ini ODHA kemungkinan hidup lebih lama karena efektivitas dari ART.  Sejumlah bukti menunjukkan bahwa upaya preventif ibisa dilakukan untuk mengurangi PTM bisa dilakukan melalui penghentian rokok, menghindari napza, kegemukan, dan melakukan olah raga yang cukup. Meski demikian upaya-upaya tersebut belum diintegrasikan ke dalam perawatan HIV yang saat ini disediakan.

Mengapa HIV dan PTM tidak diintegrasikan ke dalam layanan primer dimana Layanan HIV disediakan? Salaah satu alasan utama adalah bahwa layanan primer dirancang menjadi layanan episodik dari pada layanan kronis. Dengan semakin meningkatnya efektivitas ART maka aHIV telah menjadi pyqkit yang bersifat kronis sehingga ketika disediakan di layanan primer maka rancangan sebagai layanan episodik tersebut harus diorientasikan pada layanan kronis, termasuk mengintegrasikan layanan kesehatan bagi penyakit PTM.

Beberapa model integrasi pelayanan pada layanan primer disajikan oleh beberapa presenter baik dari sisi konseptual maupun empirik. Salah satu model yang dirkomendasikan adalah modifikasi dari model WHO untuk manajemen PTM dengan memberikan fokus pada tingkat mikro, mezo dan makro dimana fokus tersebut direpresentasikan dengan pnggunaan perspektif interaksi biologis, individual, penydia layanan kesehatan hingga perspektif sistem kesehatan. Model lain adalah integrasi HIV dan PTM seharusnya difokuskan pada layanan primer dimana selama ini layanan primer hanya dirancang untuk perawatan episodik bukan perawatan kronik.

Upaya untuk mengintegrasikan layanan HIV dan PTM dituntut adanya komitmen politik dengan pembiayaan yang berkelanjutan. Tetapi tantangannya adalah kepentingan politik yang selalu tidak sejalan dengan upaya tersebut, stigma yang masih tampak pada pelayanan kesehatan dan mekanisme pendanaan yang cenderung saat ini tidak berkelanjutan. Ketersediaan layanan, kemampuan tenaga kesehatan yang terbatas, ketersediaan data, penyediaan logistik dan alat/lab kesehatan juga menjadi tantangan teknis di lapangan.

Pengalaman keberhasilan ditunjukkan oleh Kamboja dalam mengintegrasikan HIV ke dalam PTM khususnya dalam penyakit diabetes. Zambia mengintegrasikan HIV dengan kanker serviks.  KEnya mengintegrasikan Perwatan HIV dengan penyakit jantung. Komponen dari upaya ini adalah mengintegrasikan pada tingkat layanan, sumber daya manusia dan manajemen komoditi dan diagnostik serta meningkatan keterlibatan komunitas. Pada awalnya integrasi ini masih tergantung oleh program spesifik tetapi akhirnya menjadi layanan terstandar secara nasional. Gambaran tersebut juga menggaris bawahi bahwa struktur dan manajemen HIV dalam digunakan sebagai model untuk mengintegrasikan HIV dengan PTM.

Kriminalisasi Penularan HIV

Sesi ini berfokus pada identifikasi berbagai hukum dan regulasi yang melakukan kriminalisasi pada penularan atau keterpaparan HIV. Meski banyak yang mendukung kriminalisasi terhadap penerapan hukum ini sebagai upaya untuk melindungi perempuan, tetapi pada kenyataannya justru perempuan yang rentan dengan penerapan hukum ini dengan mempertimbangkan posisi kekuasaan pada perempuan. Pengalaman di beberapa negara menunjukkan banyak perempuan yang dituduh atau dalam proses hukum terkait dengan penerapan hukum ini. Demikian juga perpuan menjadi lebih rentan terhadap kekerasan baik pada domain publik atau pribadinya.

Faith Based Response dalam penanggulangan AIDS

Cukup sulit untuk mendefinisikan apa itu faith based response karena begitu luas dan cairnya kategori ini. Menjadi lebih penting untuk melihat akses, pemanfaatan, pembiayaan, kepuasan, penjangkauan kepada kelompok miskin dan sebagainya.  Meski memiliki market share yang rendah, layanan berbasis agama cenderung lebih memberikan kepuasan yang lebih besar. Menjadi lebih penting, layanan berbasis agama ini ketika sistem kesehatan di sebuah negara lemah. Response terhadap penangulangan AIDS cenderung lebih bervariasi mulai dari yang sangat informal hingga yang sangat formal. Demikian pula mencakup layanan yang sangat bervariasi meski seringkali tidak sesuai dengan strategi internasional.

Meski permasalahan yang terjadi seringkali menggunakan alasan agama seperti pernikahan dini, mutilasi genital perempuan, atau kekerasan terhadap peremupuan tetapi sejumlah  intervensi di berbagai negara  telah dikembangkan dan efektif untuk merespon permasalahan tersebut dengan melibatkan kelompok agama. Beranjak dari pengalaman tersebut maka menjadi penting di masa depan menghubungkan secara sinergis antara pemimpini agama, pembuat kebijakan kesehatan, organisasi kesehatan berbasis agama dan pemerintah daerah yang bertanggungjaeab etrhadap penyediaan layanan kesehatan. (Gambit)

Menjangkau yang Tidak Dijangkau

Banyak penduduk yang berada diwilayah berpendapatan rendah sampai tinggi belum mendapat akses yang bagus untuk tes & program pengobatan HIV. Apalagi mereka yang menjadi populasi kunci, tidak mudah untuk mendapatkan akses karena stigma (tak terlepas juga bagi mereka yang difable akan mendapat stigma, diskriminasi, atau kriminalisasi lebih).

Penolakan Pengobatan

20% dari Orang Dewasa di Soweto (Afrika Selatan) yang Melakukan Test HIV Menolak Pengobatan  orang dewasa Yang VCT – 7287 orang ; terinfeksi HIV- 2562; ART 743 ; mulai ART-595 orang; menolak ART -148 orang. Penyebab menolak ART : stigma, budaya dan kepecayaan, tidak dapat mengikuti, efek samping, tidak dapat membuka status, merasa sehat.

Dengan metode prospective cohort study, jumlah perekrutan 1071 orang : 360 tidak dapat dihubungi kembali setelah tes; 500 dari 711 orang menjadi partisipan ( median umur:35 th, perempuan 63%, med. CD4 244cells/mm3; tidak bekerja 57%; mengulang tes 62%; hasil tes positif 60%)Sebanyak 6.6 % yang memenuhi syarat untuk ART sudah mengatakan tidak mau mengikuti pengobatan.Viral load suppression : 125 partisipan selama 9 bulan.

Dampak jangka panjang : rendahnya tingkat viral load suppression pada populasi kunci yang berisiko tinggi; penolakan pengobatan behubungan dengan kurangnya viral load suppression

Online-to-offline Model untuk Optimalisasi Pencegahan HIV

Bangkok memiliki website resmi untuk lelaki melakukan seks dengan lelaki (LSL) dan Trans Gender (TG) nama website http://www.adamslove.org , dengan website ini cara intervensi bagi mereka yang tidak bisa dijangkau. Siapapun bisa mengakses informasi kesehatan di sini, temasuk konseling. Kebanyakan yang mengakses adalah umur 26-30 tahun. Setiap negara memiliki cara yang berbeda untuk melakukan pencegahan dan intervensi. Cara dengan website resmi dari organisasi The Thai Red Cross AIDS Research Center, Thailand ini diterima baik di negaranya. Di Indonesia tes HIV dapat dipromosikan melalui brand ambassador artis papan atas. Di Malaysia dapat dilakukan di mall-mall atau dengan pelayanan rumah sakit dan salah satu service center bernama Teman-teman ya g fokus memberikan informasi tentang penyakit menular seksual.

Teknologi canggih tidak dapat berjalan sendiri, mereka memiliki sumber daya yang tidak mendiskriminasi, melakukan tugas seperti menginput data tanpa memberi label terhadap kliennya. Sebanyak 272.568 orang LSL dan TG menerima pesan/sms promosi tentang PrEP, 425 orang menerima konsultasi elektronik dan menerima pesan online, 325 orang melakukan tes HIV dan PrEP servis (168 orang PrEP users & 148 HIV tester) (Mietta)