Catatan Seminar: Menyikapi Determinan Sosial dalam Penanggulangan HIV AIDS di Indonesia (3)

Catatan Seminar: Menyikapi Determinan Sosial dalam Penanggulangan HIV AIDS di Indonesia (3)

Artikel ini adalah artikel ketiga sebagai catatan seminar “Menyikapi Determinan Sosial dalam Penaggulangan HIV AIDS di Indonesia”. Seminar ini diadakan pada tanggal 16 Maret 2017 yang lalu. Sebagai keynote speaker dalam seminar ini adalah Prof. Irwanto PhD, beliau adalah peneliti senior pada PPH Unika Atma Jaya

Pada kesempatan ini, Prof. Irwanto menyampaikan materi mengenai “PROBLEM SOLVING DAN NORMA SOSIAL-BUDAYA- AGAMA”

Norma sosial-budaya, dan agama sebagai deeper knowledge. Dalam evolusinya selama ribuan tahun, disepakati adanya norma sosial dan budaya. Selanjutnya, ketika keyakinan dari pencipta menjadi bagian dalam hidup kita, maka muncullah norma agama. Norma-norma inilah yang digunakan untuk mengatur hidup kita sebelum adanya hukum positif. Nantinya, norma-norma ini akan dimasukkan ke dalam hukum positif atau legal framework.

Kecerdasan manusia dibatasi oleh norma sosial-budaya dan agamanya. Norma kerap digunakan untuk memecahkan masalah, karena norma ini tidak membutuhkan pembuktian dan dianggap sah. Ketika norma sosial-budaya dan agama tidak dapat atau tidak mau berubah maka banyak masalah tidak terpecahkan.

Pendekatan normatif sosial-budaya dan agama dimaksudkan untuk menyeleksi “in-group members” dan meminggirkan “kelompok luar”. Ketika ada manusia atau komunitas yang tidak dapat diakomodasi, mereka menjadi pecundang yang dipinggirkan. Jika masyarakat umum merasa terancam oleh masalah yang dihadapi oleh komunitas yang sudah terpinggirkan, mereka mencari solusi dalam norma-norma yang sama dengan kata lain dipaksakan.