Ancaman Narkoba, PR Kita Bersama!

Ancaman Narkoba, PR Kita Bersama!

Oleh: Indah Wardani

Photo by Robert Zunikoff on Unsplash

Banyak pengguna narkoba yang kita lihat di TV berakhir dipenjara, apakah penjara merupakan tempat yang tepat bagi pengguna? Apakah semua pengguna narkoba itu seorang penjahat yang pantas dipenjara? Kita mungkin sering mendengar narkoba adalah zat yang berbahaya namun kita belum tahu cara kerjanya bagaimana? sehingga narkoba terlihat berbahaya. Narkoba ternyata digunakan dalam dunia kedokteran, tapi banyak orang yang menyalahgunakannya secara ilegal dan membuatnya berdampak buruk bagi dirinya. Kenapa seseorang yang mengidap HIV/AIDS juga sering berkaitan dengan pengguna narkoba? semua informasi dan ketidakjelasan tentang semua itu akhirnya terjawab setelah mengikuti pembekalan Harm Reduction yang diisi oleh teman-teman dari PPH, kios atmajaya, dokter dan narasumber lain yang paham dengan HIV/AIDS dan penyalahgunaan narkoba.

Setelah mengikuti pembekalan tentang “Harm Reduction” saya jadi mengetahui bahwa tidak seharusnya pengguna narkoba itu dipenjara, saya juga tahu tentang metode-metode apa saja yang digunakan untuk mengatasi HIV/AIDS khususnya yang dialami oleh para pecandu narkoba. Metode tersebut salah satunya adalah program pembagian jarum suntik steril dan alat kontrasepsi, cara tersebut memang terdengar kontroversional untuk kita yang tidak tahu alasan-alasannya. Sebelumnya, kita akan berfikir kenapa diberi jarum suntik atau kontrasepsi bukannya itu bagian dari fasilitas mereka untuk memakai narkoba dan seks bebas, kenapa program ini seakan menjadi fasilitator mereka untuk tetap menyuntikkan narkoba kedalam tubuh mereka? Hal tersebut pasti akan menimbulkan kontra disebagian banyak orang. Program ini ternyata dikatakan berhasil dalam mengatasi HIV/AIDS pada penasun (pengguna jarum suntik) dalam beberapa tahun terakhir. HIV/AIDS sering ditularkan melalui jarum suntik yang tidak steril karena digunakan bertukaran antar pengguna, dan HIV/AIDS juga bisa ditularkan melalui seks bebas yang tidak aman. Tujuan utama dari program ini adalah memutus hal tersebut, dengan adanya program pemberian jarum suntik steril dan alat kontrasepsi diharapkan dapat menurunkan penderita HIV/AIDS khususnya pada para pengguna narkoba.

Dalam penanganan kasus narkoba lainnya ada juga program yang bernama terapi methadone, terapi ini juga dilakukan untuk memutus mata rantai penularan HIV/AIDS dari pengguna narkoba akibat penggunaan jarum suntik yang tidak steril khususnya pada pengguna zat heroin. Methadone adalah obat yang termasuk golongan analgesic narkotika (opiate) dengan fungsi untuk mengobati nyeri berat yang berkelanjutan. Methadone digunakan untuk mengobati ketergantungan pada obat narkotika (seperti heroin) sebagai program terapi yang telah disetujui. Di Jakarta sendiri sudah ada puskesmas-puskesmas yang memberikan layanan terapi methadone diantaranya puskesmas grogol petamburan, puskesmas tambora dan puskesmas tebet. Biaya untuk mengikuti terapi methadone juga tidak begitu mahal hanya sekitar Rp 5000 – 15.000, dan bisa menggunakan BPJS. Harga ini tidak sebanding dengan harga obat illegal seperti ganja, sabu, heroin, dan sebagainya yang memberikan efek hampir sama pada pengguna narkoba. Bedanya, penggunaan methadone pada progam terapi, dosisnya akan dikontrol oleh dokter dan perawat yang menangani sampai pasien benar-benar bebas dari ketergantungan obat.

jangan sampai stigma masyarakat yang negatif ini merusak program-progam yang sudah dijalankan dan mengembalikan mereka ke lubang yang sama

Selain itu juga, sudah banyak panti-panti rehabilitasi dan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang didirikan untuk menangani dan membantu pengguna narkoba, baik itu milik pemerintah ataupun milik swasta. Salah satu LSM yang membantu dalam menangani HIV/AIDS dan pengguna narkoba  lewat program Harm reduction adalah “Kios Atmajaya”. Disana orang dengan ketergantungan obat akan dibantu untuk sembuh oleh tim kios yang terdiri dari beberapa divisi. Pengguna obat yang ingin sembuh dan datang ke kios akan dibimbing oleh tim sesuai dengan kebutuhan para pengguna. Kebutuhan tersebut akan muncul setelah melalui proses assessment awal sebelum ditentukan pengobatan atau perawatan yang cocok untuk pengguna dengan HIV atau tanpa HIV. Dengan adanya LSM dan panti rehabilitasi untuk para pengguna ketergantungan obat, ini semakin membuka jalan untuk mereka dapat sembuh dan berfungsi lagi seperti biasa. Meski label “pengguna”, “pemakai”, “Kriminal”, “Pecandu” dan sebagainya sulit hilang setelah mereka sembuh dan jangan sampai stigma masyarakat yang negatif ini merusak program-progam yang sudah dijalankan dan mengembalikan mereka ke lubang yang sama.

Sudah banyak program-program pemerintah yang dikeluarkan untuk menangani narkoba di Indonesia, dan kasus ini masih juga menjadi PR untuk pemerintah Indonesia. Kasus narkoba merupakan kasus yang rumit untuk ditangani, karena narkoba jika digunakan bebas akan sangat buruk bagi tubuh dan jika sudah mengganggu tubuh maka dampak negatif yang lain akan mengikuti. Sangat sayang sekali banyak dari generasi muda kita khususnya dikota-kota besar yang bermain-main dengan zat adiktif ini. Mereka yang sudah menjalani hidup dengan ketergantungan obat seakan hidupnya hanya disitu-situ saja, seperti orang yang berada dalam lubang dan susah untuk keluar. Kita sebagai orang awam yang melihat mungkin geram dan akan dengan mudahnya memberi label negatif kepada mereka. Tapi daripada berfikir negatif, lebih baik kita berfikir bersama mencari cara untuk mengulurkan tali pertolongan kepada mereka yang membutuhkan.

Sebagai calon psikolog klinis dewasa dan calon praktisi, kasus-kasus narkoba yang terjadi di Indonesia tentu akan menjadi PR tersendiri untuk kita. Kita bisa masuk dan membantu sesuai bidang kita, seperti membantu dalam program terapi psikologi dan atau membuat program pencegahan maupun pengobatan yang dibutuhkan. Dikarenakan hal ini terjadi bukan hanya karena satu hal namun banyak hal yang dapat menjadi pemicu kenapa seseorang dapat menyalahgunakan obat. Sehingga perlu adanya integrasi dari berbagai bidang untuk mengatasi masalah–masalah kesehatan maupun sosial yang disebabkan narkoba dan diharapkan kasus ini dapat semakin berkurang dan tuntas. Lingkungan dan diri sendiri sering dikatakan adalah faktor penentu awal seseorang dapat masuk ke jurang narkoba.

Kita mungkin memiliki adik, kakak, dan atau orang dekat lainnya yang bisa saja menjadi korban selanjutnya dari narkoba dan kita tidak ingin hal itu terjadi. Mungkin saja mereka belum tahu resiko yang harus diterima jika menggunakan narkoba, akan sangat bermakna jika kita bisa mencegah hal tersebut terjadi dilingkungan keluarga dengan cara memberitahu bahaya narkoba. Bayangkan jika selalu ada 1 orang seperti itu di tiap keluarga indonesia, 1 orang yang dapat menjaga anggota keluarganya dari narkoba, ini pasti akan sangat membantu dalam pencegahan narkoba. Mungkin ini bukan sesuatu yang besar yang dapat kita berikan untuk menanggulangi narkoba tapi apa salahnya kalau kita menyelamatkan orang-orang disekitar kita terlebih dahulu daripada tidak sama sekali dan semua itu menjadi terlambat dan kita menyesal karena terlalu tidak peduli.

 

 

Catatan: Tulisan ini merupakan refleksi penulis setelah mengikuti kegiatan “Kursus Harm Reduction 2017” oleh Program Magister Fakultas Psikologi Klinis Unika Atma Jaya Dan Pusat Penelitian HIV-AIDS Unika Atma Jaya. Penulis adalah mahasiswa Program Magister Psikologi Profesi Unika Atma Jaya

Artikel mengenai Kursus Harm Reduction 2017 dapat dibaca melalui tautan ini: Mengenalkan Konsep Harm Reduction dalam Pelayanan Kesehatan

Tiga Hari Yang Membuka Mata Hati

Tiga Hari Yang Membuka Mata Hati

Oleh : Luh Kadek Diah Paramitha Wulandari

Narkoba merupakan bahan kimia yang dapat mengubah mood dan perilaku seseorang ketika dihisap, disuntikkan, diminum, dihirup, atau ditelan dalam bentuk pil. Narkoba (Narkotika dan Obat terlarang) dapat juga disebut sebagai NAPZA. Penyalahgunaan NAPZA semisal ganja, sabu, MDMA/ ekstasi, putau, mushroom, pil koplo, dan kokain,  merupakan permasalahan yang sudah ada sejak lama dan sampai sekarang belum juga terselesaikan di Indonesia. Banyaknya pengguna NAPZA di Indonesia khususnya di Jakarta menjadi tolak ukur bahwa penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya) menjadi salah satu upaya yang dilakukan oleh seseorang untuk sekedar penyelesaian sementara dari  permasalahan hidup yang dihadapi walaupun dapat berujung addiction (ketergantungan) hingga dapat menyebabkan kematian. Hal ini berhubungan dengan efek yang didapatkan ketika menggunakan zat tersebut seperti rasa senang, tidak cemas , rileks, merasa dunia itu indah, lebih terjaga, mudah fokus dan tidak merasa lelah. Disisi lain bisnis yang terjadi dalam proses jual-beli narkoba ini juga menggiurkan imbalannya sehingga tak jarang dijadikan juga oleh seseorang sebagai jalan pintas untuk mencari uang yang berkontribusi dalam pengedarannya barang terlarang tersebut. Akan tetapi imbalan yang diterima tidak sebanding dengan dampak yang terjadi di masyarakat sebab penggunaan barang terlarang ini merupakan salah satu mata rantai penyambung laju epidemi HIV/AIDS terutama melalui penggunaan NAPZA suntik (penasun) seperti pengguna heroin / putauw (junkie) yang tak jarang menggunakan jarum suntik walaupun sudah tidak steril secara massal (bersama-sama).

Selama diadakannya pembekalan HARM REDUCTION terhitung mulai dari tanggal 10 s/d 12 Juli 2017 oleh Tim PPH Unika Atmajaya merupakan suatu momentum tersendiri dalam rangka meningkatkan kesadaran bagi masyarakat pada umumnya dan civitas akademika pada khususnya,  seperti yang saya rasakan sebagai calon psikolog klinis untuk dapat mengenal konsep HARM REDUCTION dalam pelayanan kesehatan bagi pengguna NAPZA khususnya NAPZA suntik (penasun), memahami permasalahan NAPZA, ketergantungan NAPZA dan permasalahan HIV/AIDS dalam konteks psikologi maupun disiplin ilmu lainnya, memahami terapi yang digunakan dalam penanganan NAPZA dan HIV/AIDS, memahami tentang layanan kesehatan untuk penanggulangan AIDS pada kelompok pengguna NAPZA, dan memahami kegiatan lapangan untuk mempromosikan status psikososial dan kesehatan pengguna NAPZA yang lebih baik.

Hal yang paling berat dihadapi oleh junkie adalah stigma masyarakat. Stigma yang telah melekat dan diterima oleh para pengguna NAPZA terutama pengguna NAPZA suntik (penasun) sangatlah buruk, terlebih sampai dianggap sebagai “sampah masyarakat” yang mempunyai masa depan suram dan membawa pengaruh buruk bagi orang-orang disekitarnya. Padahal mereka juga merupakan individu yang ingin  memperbaiki diri dan berkembang menjadi orang-orang yang berguna bagi lingkungan sekitarnya. Ingin dihargai sebagai bagian dari kelompok masyarakat (walaupun beberapa dari mereka sadar sedari awal mereka tidak dapat menghargai diri mereka sendiri), ingin hidup seperti orang yang “ normal” (mempunyai pekerjaan, keluarga yang harmonis, ada tempat untuk pulang kembali). Banyak orang beranggapan bahwa para pengguna NAPZA berasal dari keluarga yang broken-home, yang  menerima didikan orang tua yang tidak adekuat, padahal tidak seluruhnya benar dan tidak juga seluruhnya salah seperti adanya yang terjadi dilapangan. Ketika diadakan penelusuran lebih dalam ada berbagai macam alasan yang menyebabkan seseorang melakukan penyalahgunaan NAPZA misalnya  saja seorang anak yang hidup dalam lingkungan keluarga yang harmonis dapat saja terjerumus ke dalam penyalahgunaan NAPZA kemungkinan disebabkan oleh perilaku coba-coba agar dapat diterima oleh lingkungan sosialnya dengan menunjukkan eksistensinya sehingga dapat dianggap sebagai “anak popular”, “keren” dan “berani”. Ada juga  individu yang sedari masa kecilnya  memang sudah terpapar oleh perilaku orang tua yang alkoholik yang tidak dapat  terprediksi dan disfungsi sehingga menciptakan ketegangan dan rasa tidak aman sehingga ketika kelak terpapar oleh masalah yang menimbulkan ketegangan (stress) maka tidak menutup kemungkinan akan menunjukkan pola penggunaan dan penyalahgunaan zat alkohol sama seperti role model-nya terdahulu yaitu orang tua untuk menghilangkan rasa tegang itu (Halgin dan Whitbourne,2013). Oleh karena itu penyalahgunaan NAPZA tak hanya dapat dipandang dari satu sudut pandang saja, banyak faktor yang berperan dalam hal tersebut yaitu faktor biologis, faktor psikologis dan juga faktor sosial-kultural.

Sebenarnya melalui pembekalan HARM REDUCTION  saya sebagai calon psikolog klinis dapat lebih memahami bahwa penggunaan zat dalam batas yang wajar dan sesuai dengan kebutuhan tidak termasuk dalam kategori penyalahgunaan zat dan ketergantungan zat, semisalkan penggunaan morphine untuk pasien kanker yang menjalani kemoterapi, untuk mengurangi rasa nyeri yang sangat menyakitkan dialami oleh pasien kanker dokter memberikan morphin, untuk pasien dengan gangguan tidur dokter meresepkan obat tidur yang bersifat sedatif, untuk pasien dengan gangguan cemas dokter meresepkan obat anxiolytic (anti cemas), asalkan dikonsumsi dengan dosis yang tepat dan sesuai dengan  dan dibawah pengawasan dokter yang menangani maka hal tersebut tidak menjadi masalah, berbeda dengan  yang disebut oleh penyalahgunaan zat, yaitu suatu kondisi dimana individu mengalami :

  1. Kegagalan untuk memenuhi kewajiban utama dalam pekerjaan, sekolah maupun rumah.
  2. Penggunaan zat dilakukan secara berulang dalam situasi yang berbahaya secara fisik.
  3. Terjadinya permasalahan hukum yang berhubungan dengan penggunaan zat berulang.
  4. Tetap digunakannya zat meskipun masalah sosial maupun interpersonal yang menetap karena memakainya.

 

Seperti yang dikemukakan oleh Halgin & Whitbourne (2013), pada umumnya kehidupan seseorang yang menyalahgunakan zat dicirikan dengan masalah interpersonal. Selama masa intoksikasi (kondisi peralihan yang timbul  akibat menggunakan NAPZA sehingga terjadi gangguan kesadaran, gangguan fungsi kognitif, persepsi afek, perilaku atau fungsi dan respon psikofiologis lainnya), orang tersebut menjadi argumentatif dan mungkin melakukan kekerasan pada keluarga ataupun orang sekitarnya, bahkan saat mereka tenang hubungan yang dibina biasanya tegang dan tidak bahagia selain itu  aspek utama dari penyalahgunaan zat adalah pola perilaku ketika seseorang meneruskan penggunaan zat tersebut bahkan ketika sudah sangat jelas beberapa perilakunya menciptakan masalah-masalah yang signifikan dalam kehidupannya hingga menyebabkan ketergantungan zat yaitu pola maladaptive dari  penggunaan zat yang dimanifestasikan dengan gejala-gejala hendaya kognitif, perilaku dan psikologis.

Saya sebagai calon psikolog klinis berharap dapat membantu para pengguna NAPZA untuk dapat lebih hidup dan berperilaku secara lebih “sehat”

Oleh sebab itu diperlukannya bantuan dari kerjasama multidisiplin ilmu seperti kedokteran, psikologi dan kesehatan masyarakat untuk dapat menangani permasalahan penyalahgunaan zat ini.  Untuk itulah salah satu hal yang menjadi penekanan pada pembekalan HARM REDUCTION yang diberikan selama tiga itu adalah pengenalan layanan jarum suntik steril (LJSS) dan terapi substistusi metadon bagi pengguna heroin/putau selain itu juga teknik CBT untuk pengguna NAPZA yaitu BDRRC. Menurut saya dengan dibekalinya seorang calon psikolog klinis dengan pengetahuan lebih dalam mengenai cara penanganan NAPZA dan pengetahuan dasar mengenai NAPZA itu sendiri maka dapat semakin mengasah kepekaan klinis dan juga empati yang selalu terus-menerus dilatih sehingga kedepannya diharapkan dapat memberikan kontribusi yang setimpal dengan apa yang telah dipelajari dan di praktikkan. Saya sebagai calon psikolog klinis berharap dapat membantu para pengguna NAPZA untuk dapat lebih hidup dan berperilaku secara lebih “sehat”, sekaligus juga memberikan pengertian pada masyarakat awam khususnya mengenai etiologi penyalahgunaan NAPZA itu sendiri untuk mengurangi stigma yang sudah melekat pada penggunna NAPZA.

 

DAFTAR PUSTAKA

Halgin, R.P, Whitbourne, S.K. (2013). Abnormal Psychology : Clinical Perspectives on Psychological Disorder 7th Ed. New York : McGraw-Hill Education

 

Catatan: Tulisan ini merupakan refleksi penulis setelah mengikuti kegiatan “Kursus Harm Reduction 2017” oleh Program Magister Fakultas Psikologi Klinis Unika Atma Jaya Dan Pusat Penelitian HIV-AIDS Unika Atma Jaya.  Penulis adalah mahasiswa Program Magister Psikologi Profesi Unika Atma Jaya.

Artikel mengenai Kursus Harm Reduction 2017 dapat dibaca melalui tautan ini: Mengenalkan Konsep Harm Reduction dalam Pelayanan Kesehatan

Pendekatan Harm Reduction untuk Para Pecandu

Pendekatan Harm Reduction untuk Para Pecandu

Oleh Zia Majiatul Arobiah

Selama proses kuliah pembekalan harm reduction berlangsung banyak pengetahuan baru yang bisa didapatkan, baik terkait penyalahgunaan Narkoba, istilah-istilah yang digunakan dalam proses pengobatan dan pencegahan Narkoba. Selain itu, kita juga bisa lebih memahami bahaya Narkoba terhadap penyakit lainnya seperti HIV/AIDS dan hepatitis B dan C, serta teori dan intervensi yang bisa digunakan dalam menangani kasus Narkoba. Selain itu, kita juga mampu memahami bagaimana proses Narkoba dapat mempengaruhi otak kita sehingga bisa menjadi ketergantungan, dan mempengaruhi cara orang dalam berfikir merasa dan berperilaku.

Narkoba atau NAPZA atau zat adiktif menurut WHO 1982, merupakan semua jenis zat (kecuali oksigen dan air) yang jika masuk ke dalam tubuh dapat mempengaruhi cara orang berfikir, merasa dan berperilaku. Sedangkan, menurut Badan Narkotika Nasional, dengan berdasar pada Undang-Undang Narkotika (UU no 22 tahun 1997) Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Saat ini penyalahgunaan Narkoba atau NAPZA sudah menjadi perhatian penting pemerintah dan masyarakat Indonesia. Informasi atas masalah gangguan penggunaan Narkoba menjadi jauh lebih terbuka. Pendirian Badan Koordinasi Narkotika Nasional yang awalnya hanya memiliki fungsi koordinatif kemudian menjadi fungsi implementatif yaitu Badan Narkotika Nasional. Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN), jumlah pengguna Narkoba di Indonesia hingga November 2015 mencapai 5,9 juta orang. Kurang lebih 22 % dari total pengguna Narkoba tersebut adalah anak dan remaja usia sekolah. Dari survei BNN dan Puslitkes UI yang terakhir (2014) menunjukkan prevalensi penyalahgunaan Narkoba di tahun 2014 pada penduduk Indonesia usia 10 – 64 tahun adalah 2.18%, turun 0.02% dari prevalensi tahun 2011.

Ada beberapa banyak jenis-jenis Narkoba berikut jenis dan gejalanya (Eleanora, 2011):

  • Opium (Heroin, Morfin) dengan gejala perasaan tenang dan bahagia, apatis, malas bergerak, mengantuk, rasa mual dan gangguan perhatian.
  • Ganja dengan gejala rasa senang dan santai, mata merah, mulut kering, nafsu makan meningkat, kurang konsentrasi dan sering mengantuk.
  • Shabu dengan gejala kewaspadaan meningkat, bergairah, rasa senang dan bahagia, denyut nadi dan tekanan darah meningkat susah tidur dan hilangnya nafsu makan.
  • Kokain dengan gejala gelisah, denyut nadi meningkat, banyak bicara, kewaspadaan meningkat, tekanan darah meningkat, berkeringat, kekakuan otot leher, mudah berkelahi.

Gejala di atas terjadi karena penggunaan Narkoba memiliki pengaruh terhadap kerja sistem saraf, misalnya hilangnya koordinasi tubuh, karena di dalam tubuh pemakai kekurangan dopamin. Dopamin merupakan neurotransmitter yang terdapat di otak dan berperan penting dalam merambatkan impuls saraf ke sel saraf lainnya. Hal ini menyebabkan dopamin tidak dihasilkan. Apabila impuls saraf sampai pada bongkol sinapsis, maka gelembung-gelembung sinapsis akan mendekati membran presinapsis. Namun karena dopamin tidak dihasilkan, neurotransmitter tidak dapat melepaskan isinya ke celah sinapsis sehingga impuls saraf yang dibawa tidak dapat menyebrang ke membran post sinapsis. Kondisi tersebut menyebabkan tidak terjadinya depolarisasi pada membran post sinapsis dan tidak terjadi potensial kerja karena impuls saraf tidak bisa merambat ke sel saraf berikutnya. Neurotransmiter juga dapat mempengaruhi terjadinya perubahan perilaku dan emosi bahkan cara berpikir. Narkoba yang masuk ke dalam tubuh melalui darah menuju otak akan mempengaruhi keseimbanganan neurotransmiter tersebut sesuai jenis-jenisnya.

Bagaimana Narkoba dapat menyebabkan beberapa penyakit seperti HIV/AIDS dan hepatitis B dan C? Penularan penyakit tersebut bisa disebabkan akibat adanya pertukaran jarum suntik yang tidak steril. Pemakaian alat suntik secara bergantian sangat umum terjadi di kalangan Penasun (Pengguna Napza Suntik). Jika salah satunya terinfeksi HIV, dia dapat menularkan virus ini kepada siapapun yang memakai peralatan suntik bergantian bersamanya.  Penggunaan alat bergantian juga menularkan virus hepatitis B, virus hepatitis C, dan penyakit lain. Darah yang terinfeksi terdapat pada semprit (insul) kemudian disuntikkan bersama dengan Narkoba saat pengguna berikutnya memakai semprit tersebut. Ini adalah cara termudah untuk menularkan HIV karena darah yang terinfeksi langsung dimasukkan pada aliran darah orang lain.

Bagaimana dengan penularan HIV/AIDS pada pengguna Narkoba oral? Seperti yang dijelaskan di atas bahwa penggunaan Narkoba dapat mempengaruhi otak sehingga pengguna akan mengalami ketidaksadaran saat berhubungan intim tanpa menggunakan pengaman (kondom) hal ini juga dapat mempengaruhi penularan HIV/AIDS . Itu sebabnya pentingnya beberapa pendekatan dalam menangani masalah tersebut dengan mengembangkan program harm reduction, salah satunya adalah dengan layanan alat suntik steril, pembagian kondom dan program terapi rumatan metadon (PTRM).

Mengapa orang bisa menggunakan Narkoba? Ada beberapa faktor mengapa orang menggunakan Narkoba salah satunya adalah masalah keluarga, pengaruh teman sebaya, kesehatan mental secara keseluruhan dan riwayat candu keluarga. Hal tersebut didukung dengan penemuan penulis di lapangan di salah satu puskesmas di jakarta bahwa dari keempat alasan di atas faktor yang sangat besar mempengaruhi seseorang menggunakan Narkoba adalah adanya masalah dalam keluarga “perceraian orang tua” dan “pengaruh teman sebaya”. Maka yang terpenting adalah kita harus mengetahui terlebih dahulu apa alasan orang tersebut mengkonsumsi Narkoba? Apa pemicu utama yang menyebabkan hal tersebut terjadi?.

Selain dari pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan di atas kita juga harus memahami terlebih dahulu bahwa kepribadian orang adiksi itu ada 3 yaitu: harm avoidant: menghindari rasa sakit atau tidak enak dengan cara memilih obat untuk menghilangkannya, reward dependant: mendapatkan reward atau hadiah seperti kepuasan dalam diri saat menggunakan obat-obatan (meningkatkan mood), novelty seeking: perasaan ingin tau yang besar dan ingin mencari sesuatu yang baru dan berbeda.

Ada beberapa teori psikologi yang dapat menjelasakan adiksi dalam diri seseorang, menurut psikoanalisis semua perilaku adiktif karena adanya fiksasi di masa oral. Berbeda dengan psikoanalisis bahwa model psikososial menjelaskan adicted behavior adalah sesuatu yang bisa dipelajari dan menjadi suatu habit “bad habit” model psikososial percaya bahwa perilaku tersebut bisa diubah dari bad habit menjadi good habit dengan menggunakan pendekatan cognitive behavioral therapy (CBT). Selain cognitive behavior therapy (CBT) ada beberapa banyak intervensi yang diajarkan selama mengikuti kuliah pembekalan harm reduction, behavioral drug risk reduction counseling (BDRRC), terapi komunitas NAPZA berbasis institusi, methadone therapy termasuk salah satunya adalah harm reduction. Semua terapi tersebut sangat bermanfaat dalam mengurangi dampak buruk dari penyalahgunaan Narkoba.

Harm reduction adalah pendekatan yang pragmatis dan humanisti untuk mengurangi kerusakan secara individu maupun sosial, terutama yang berkaitan dengan penggunaan Narkoba dan zat psikotropika, khususnya untuk menekan resiko penularan HIV. Harm reduction merupakan suatu upaya pengurangan dampak buruk terhadap pengguna Napza dan masyarakat luas. Harm reduction menyadari realita dari pengguna Napza bahwa beberapa pengguna Napza sulit untuk menghentikan ketergantungan terhadap obat, meskipun mereka menyadari bahwa resiko yang terjadi berupa HIV/AIDS dan virus lain yang ditularkan lewat darah (Kim, Brannstrom, Worrall, 2014).

Fokus harm reduction untuk menahan serta mengurangi ketergantungan Narkoba dan mengurangi penyebaran HIV dikalangan Penasun maka harm reduction berfokus pada pengurangan dampak buruk. Pengurangan dampak buruk NAPZA dapat dipandang sebagai upaya pencegahan terhadap dampak buruk NAPZA tanpa mengurangi jumlah penggunaanya, dengan menekankan perubahan pada praktik yang lebih aman terhadap penggunaan Narkoba. Dengan kata lain harm reduction lebih mengutamakan pencegahan dampak buruk NAPZA dan bukan pencegahan penggunaan NAPZA (Edmonton, 2007).

Salah satu kegiatan harm reduction memiliki hierarki sarana sebagai berikut untuk mencapai tujuan khusus:

  • Penasun didorong untuk berhenti memakai Narkoba
  • Jika Penasun bersikeras untuk memakai Narkoba, maka ia didorong untuk berhenti memakai cara menyuntik
  • Jika Penasun bersikeras dengan cara menyuntik, maka ia didorong dan dipastikan tidak memakai atau berbagi peralatan suntiknya secara bergantian dengan pengguna lain.
  • Jika tetap terjadi penggunaan bergantian, maka Penasun didorong dan dilath untuk menyucihamakan peralatan suntiknya.

Beberapa kebijakan terkait dengan program Harm Reduction di Indonesia (Suharni, 2015) antara lain adalah;

  1. Kepmenkes No. 494/Menkes/SK/VII/2006 tetang penetapan Rumah Sakit dan Satelit Uji coba Serta Pedoman Pogram Terapi Rumatan Metadon.
  2. Peraturan Menko Kesra No.2/2007 tentang Kebijakan Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS melalui Pengurangan Dampak Buruk Pengguna Narkotika Psikotropika dan Zat Adiktif Suntik.
  3. Kepmenkes No. 486/Menkes/SKIV/2007 tentang Kebijakan dan Rencana Strategi Penanggulangan Penyalahgunaan NAPZA.
  4. Kepmenkes No. 420/Menkes/SK/III/2010 tentang Pedoman Layanan Terapi dan Rehabililitasi Komprehensif pada Gangguan Pengguna NAPZA berbasis Rumah Sakit.
  5. Kepmenkes No. 421/Menkes/SK/III/2010 tentang Standar Pelayanan Terapi dan Rehabilitasi Gangguan Penggunaan NAPZA.
  6. Kepmenkes No. 350/Menkes/SK/IV/ tentang penetapan rumah sakit pengampu dan satelit program terapi rumatan metadon serta pedoman program terapi rumatan metadon.
  7. Kepmenkes No. 378/Menkes/SK/IV/2008 tentang pelayananan rehabilitasi medik di rumah sakit.
  8. Kepmenkes No. 567/Menkes/SK/VII/ tetang Pedoman Pelaksanaan Pengurangan Dampak Buruk Narkotika, Psikotropik dan Zat Adiktif (NAPZA);
  9. Peraturan Pemerintah No 25 Tahun 2011 tentang Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu Narkotika
  10.  Keputusan Menteri Kesehatan No 1305 tahun 2011 tentang Instusi penerima Wajib Lapor
  11. Keputusan Menteri kesehatan No 2171 tahun 2011 tentang Tatacara Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu Narkotika tahun 2011
  12. Surat Edaran Mahkama Agung No 7 Tahun 2009 tentang Menempatkan Pemakai Narkoba Ke dalam Panti Terapi dan Rehabilitasi.

 

Pendekatan Harm Reduction  khususnya untuk para pecandu menawarkan suatu langkah yang lebih mendorong proses rehabilitasi dan pencegahan sebagai bagian dari pendekatan berbasis kesehatan masyarakat melalui pendekatan bertahap untuk mengurangi dampak secara lebih terukur sesuai dengan kondisi. Perlu sebuah paradigma alternatif yang lebih bisa merasakan (empati).

Manfaat yang didapatkan selama kuliah pembekalan harm reduction yaitu bertambahnya pengetahuan terkait teori-teori yang dapat diaplikasikan dalam penanganan Narkoba, keterampilan dalam berkomunikasi dengan para junkies (sebutan yang biasa digunakan untuk para pengguna) secara langsung dan melatih empati. Selain itu, perubahan sikap dan cara pandang penulis terhadap proses pengobatan yang dilakukan pada para junkies yang awalnya kaku menjadi lebih fleksible dan semakin mendukung pada pelaksanaan program harm reduction.

memahami individu harus secara menyeluruh dengan memperhatikan beberapa aspek baik biologis, psikologis dan juga sosial

Selama perkuliahan dan proses terjun kelapangan penulis mendapatkan beberapa banyak inspirasi salah satunya adalah dalam memahami individu harus secara menyeluruh dengan memperhatikan beberapa aspek baik biologis, psikologis dan juga sosial (biopsikososial). Salah satu yang harus diperhatikan juga adalah pentingnya dukungan keluarga dalam proses pemulihan para junkies. Selain itu, penting juga untuk mensosialisasikan tentang harm reduction dan bahaya Narkoba pada orang disekitar dengan dimulai dari orang yang terdekat. Penting juga untuk menjaga kesehatan dengan cara cek VCT, IMS dll. Dan terpenting adalah menjaga diri kita dan orang-orang terdekat untuk tidak menyentuh Narkoba sama sekali.

 

 

Daftar Pustaka

Badan Narkotika Nasional (BNN). 2015. Survei Nasional Perkembangan Penyalahgunaan Narkoba. Jakarta.

BNN & Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia. 2014. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia. Jakarta: Universitas Indonesia.

Edmonton, A, B. (2007). Working with People who use Drugs: A Harm Reduction Approach. Canadian Liver Foundation: Needle use Initiative.

Eleanora, N, F. (2011). Bahaya Penyalahgunaan Narkoba Serta Usaha Pencegahan dan Penanggulangannya (Suatu Tinjauan Teoritis). Journal Hukum: Bahaya Penyalahgunaan Narkoba. Vol. XXV (1), 439-452.

Kim, W, S. Brannstrom, P, M, A.Worral, S, J (2007). Comparing the Cost Effectiveness of Harm Reduction Strategies: A Case Study of Ukrina. Cost Effectiveness and Resource Allocation, 25: 12-25.

Sarasvita, R. (2017). Cognitive Behavior Therapy, Behavioral Drug Risk Reduction Counseling & Gangguan Penggunaan Napza: Pengetahuan Dasar. Presentasi Pembekalan Magister Profesi Psikologi Klinis Dewasa Universitas Atma Jaya.

Suharni, M. (2015). Pendekatan Penanggulangan Narkoba dan Kebijakan Harm Reduction. Kebijakan AIDS Indonesia.

 

Catatan: Tulisan ini merupakan refleksi penulis setelah mengikuti kegiatan “Kursus Harm Reduction 2017” oleh Program Magister Fakultas Psikologi Klinis Unika Atma Jaya Dan Pusat Penelitian HIV-AIDS Unika Atma Jaya. Penulis adalah mahasiswa Program Magister Psikologi Profesi Unika Atma Jaya

Artikel mengenai Kursus Harm Reduction 2017 dapat dibaca melalui tautan ini: Mengenalkan Konsep Harm Reduction dalam Pelayanan Kesehatan

Ku Tinggalkan Canduku, Demi Hari Esok yang Lebih Baik

Ku Tinggalkan Canduku, Demi Hari Esok yang Lebih Baik

Oleh Diana Christina

Dok, saya kapan bisa selesai minum metadon? Cape dok, harus bolak-balik

Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar kata “pecandu”? Tentu Anda sekalian memiliki tanggapan yang beraneka ragam, akan tetapi ijinkan saya menyampaikan opini saya sebagai calon seorang Psikolog yang saat ini sedang mempersiapkan diri untuk mengabdi kepada masyarakat.

Bermula dari kehadiran rekan-rekan PPH (Pusat Penelitian HIV) sebagai narasumber mengenai Harm Reduction, yakni sebuah program yang bertujuan untuk mengurangi dampak negatif bagi para pengguna NAPZA. Saya pun tanpa sadar mengingat kembali pengalaman saya ketika duduk di bangku SD (Sekolah Dasar) betapa kami seakan-akan diajarkan untuk sangat takut terhadap pengguna NAPZA. Tidak hanya narkoba sebagai suatu hal yang membahayakan, bahkan sedapat mungkin kita sebagai orang muda sebaiknya tidak berteman dengan para pengguna. Khawatir kalau-kalau kita terpengaruh oleh mereka.

Seiring berjalannya waktu, pengalaman tersebut terbawa hingga saat ini, dapat dikatakan saya cukup skeptis ketika membahas tentang orang-orang pengguna NAPZA. Bagi saya mereka pengguna NAPZA telah memilih jalan hidup mereka sendiri. Mereka memilih untuk menggunakan obat terlarang itu, jadi silahkan tanggung akibatnya. Hal ini yang pertama kali terlintas dibenak saya tanpa memberi ruang untuk mengetahui alasan dan perjuangan mereka untuk terbebas dari segala jenis obat terlarang.

Tanpa bermaksud mendiskriminasi, saya pribadi secara otomatis memikirkan berbagai macam cara dan alasan untuk menghindari mereka. Di benak saya, menghindar seakan-akan telah menjadi suatu hal logis yang memang perlu dilakukan.

Berhenti tidak semudah itu

Mungkin mudah bagi kita untuk mengatakan atau setidaknya sering pernah mendengar “…ya, kalau mau berhenti ya berhenti, semua tergantung niat kok!”, namun apakah kita sesungguhnya tahu persis apa yang mereka hadapi ketika berusaha untuk berhenti demi meraih kembali kehidupan mereka sebelum mengenal narboka? Sejujurnya saya tidak tahu apa yang mereka alami, sehingga saya pun meyakini hal yang sama bahwa berhenti itu tergantung niat.

Melalui kehadiran rekan-rekan PPH, saya sedikit demi sedikit membuat sebuah ruang dalam benak saya tentang cara pandang dan sikap yang baru terhadap para pecandu. Rasa ingin tahu saya perlahan muncul. Saya membaca kembali literatur mengenai penggunaan NAPZA dan dampaknya terhadap tubuh. Satu hal menarik yang saya temui, ternyata setiap manusia memiliki kecenderungan adiksi. Otak manusia secara konstan memproduksi hormon yang hampir serupa dengan marijuana (Kalat, 2009). Hal ini membuat saya berpikir bahwa pada dasarnya setiap manusia dengan rangsangan yang tepat dapat memicu kecenderungan adiksi mereka terhadap sesuatu.

Temuan saya meruntuhkan apa yang saya yakini selama ini. Bahwa saya cukup kuat untuk tidak terpengaruh, rasanya tidak demikian. Saya hanya orang yang beruntung, saya berada di lingkungan yang akses terhadap narkoba tergolong sulit. Bagaimana dengan mereka yang lingkungannya justru membuat akses terhadap narkoba semakin mudah? Sulitnya keadaan ekonomi, kondisi rumah yang tidak harmonis, lingkungan pertemanan yang memudahkan akses ke penggunaan narkoba, dan masih banyak lagi. Ya, sekali lagi temuan saya menyadarkan bahwa saya hanya beruntung.

Pecandu juga ingin pulih

Photo by William Farlow on Unsplash

Saya bersama rekan satu profesi lainnya didampingi oleh rekan PPH berkesempatan untuk datang ke Puskesmas dan bertemu langsung dengan para pecandu yang menjalani Terapi Metadon. Terapi Metadon yakni salah satu bentuk terapi yang diberikan sebagai bentuk pengganti penggunaan heroin. Metadon sendiri diketahui memiliki efek yang sama dengan heroin namun dapat dikatakan lebih aman karena dikonsumsi secara oral, tidak dengan jarum suntik.

Mungkin Anda sekalian berpikir bahwa, “Mereka enak ya, bisa ada penggantinya. Kalau berhenti kan seharusnya berhenti saja, kalau hanya diberikan pengganti kapan putus obatnya?” Saya pribadi memikirkan hal yang sama, sampai saya memiliki kesempatan untuk mengobrol langsung dengan para pecandu yang menjalani Terapi Metadon.

Rupaya terapi yang kita anggap enak ternyata tidak demikian halnya bagi mereka. Saya beberapa kali mendengar perbincangan dengan dokter di Puskesmas “Dok, saya kapan bisa selesai minum metadon? Cape dok, harus bolak-balik“. Beberapa orang yang sempat berbincang dengan saya pun mengaku bahwa “Cukup lah bikin ibu sedih… Udah harus bisa tanggung jawab, jalanin terapi supaya bisa dipercaya lagi sama keluarga…” Beberapa dari mereka pun ingin berkeluarga, dan ingin kembali memiliki pekerjaan tetap.

Percakapan singkat dengan mereka membuat saya sadar bahwa mereka hanya orang-orang yang tanpa sengaja terjerumus ke dalam penggunaan NAPZA, tanpa ada niat membahayakan dan menyulitkan orang-orang disekitarnya. Ketika saya menanyakan sejauh ini bagaimana relasi dengan keluarga dan teman-teman mereka menyatakan bahwa teman-teman mereka satu per satu meninggalkan mereka, keluarga pun sudah tidak mempedulikan mereka. Hal ini kemudian membuat saya berpikir, “lantas, apakah mungkin sikap acuh tak acuh kita sebagai orang terdekat justru membuat mereka pengguna NAPZA semakin jauh dari kehidupan yang lebih sehat?” Pada saat mereka membutuhkan dukungan dari orang terdekat, justru orang-orang terdekat mereka yang pertama melangkah mundur menjauhi mereka. Tanpa sadar justru sikap tidak peduli kita pada akhirnya membuat merasa tersingkirkan dan semakin terjerumus ke dalam candu mereka. Kini yang tersisa hanya  candu dan diri mereka.

Akhir-akhir ini media informasi banyak membahas mengenai keberhasilan pihak kepolisian untuk menangkap dan memenjarakan baik pengedar maupun pemakai narkoba. Saat ini pemerintah juga sedang aktif bertindak dalam upaya memerangi narkoba yang dianggap dapat merusak kesehatan baik secara mental maupun fisik para calon penerus bangsa. Melalui opini singkat saya, apakah selama ini upaya yang telah dilakukan sudah tepat sasaran? Mengingat salah satu kebutuhan utama para pecandu adalah perhatian dan penguatan dari orang-orang di sekitarnya. Bukankah kita sebagai orang-orang yang dapat dikatakan terbebas dari narkoba seharusnya bisa berpikir lebih jernih dari mereka para pecandu? Lantas, langkah nyata apa yang sekiranya sudah kita lakukan selama ini untuk membantu mereka? Atau mungkin selama ini kita merupakan salah satu dari orang-orang yang “menutup mata” padahal kita tahu mereka membutuhkan bantuan kita?

DAFTAR PUSTAKA

Kalat, J.W. (2009). Biological psychology. 10th Ed. Belmont, CA: Wadsworth.

 

Catatan: Tulisan ini merupakan refleksi penulis setelah mengikuti kegiatan “Kursus Harm Reduction 2017” oleh Program Magister Fakultas Psikologi Klinis Unika Atma Jaya Dan Pusat Penelitian HIV-AIDS Unika Atma Jaya. Penulis adalah mahasiswa Program Magister Psikologi Profesi Unika Atma Jaya.

Artikel mengenai Kursus Harm Reduction 2017 dapat dibaca melalui tautan ini: Mengenalkan Konsep Harm Reduction dalam Pelayanan Kesehatan

OFFICE WORK

OFFICE WORK

Lorem Ipsum is simply dummy text of Lorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text of

MEETING ROOM

MEETING ROOM

Lorem Ipsum is simply dummy text of Lorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text of

DISCUSSION ABOUT WORK

DISCUSSION ABOUT WORK

Lorem Ipsum is simply dummy text ofLorem Ipsum is simply dummy text of…Lorem Ipsum is simply dummy text of…Lorem Ipsum is simply dummy text of…Lorem Ipsum is simply dummy text of…Lorem Ipsum is simply dummy text of…Lorem Ipsum is simply dummy text of…Lorem Ipsum is simply dummy text of…Lorem Ipsum is simply dummy text of…Lorem Ipsum is simply dummy text of…Lorem Ipsum is simply dummy text of…Lorem Ipsum is simply dummy text of…Lorem Ipsum is simply dummy text of…Lorem Ipsum is simply dummy text of…Lorem Ipsum is simply dummy text of…Lorem Ipsum is simply dummy text of…Lorem Ipsum is simply dummy text of…Lorem Ipsum is simply dummy text of…Lorem Ipsum is simply dummy text of…Lorem Ipsum is simply dummy text of…Lorem Ipsum is simply dummy text of…Lorem Ipsum is simply dummy text of…Lorem Ipsum is simply dummy text of…Lorem Ipsum is simply dummy text of…Lorem Ipsum is simply dummy text of…Lorem Ipsum is simply dummy text of…

POTRET KERENTANAN ANAK JALANAN DI DKI JAKARTA 2016

POTRET KERENTANAN ANAK JALANAN DI DKI JAKARTA 2016

Oleh : Kekek Apriana, MSi

Potret Kerentanan Anak Jalanan

Kerentanan anak jalanan masih menjadi salah satu perhatian dalam penelitian yang di kembangkan PPH Atma Jaya. Anak jalanan adalah sosok muda yang tumbuh, berkembang dan bekerja di jalanan. Atau dapat dikatakan bahwa anak jalanan adalah mereka yang berusia 4-24 tahun yang menghabiskan hidupnya di jalanan. Khusus di DKI Jakarta, diperkirakan terdapat sekitar 8200 lebih anak jalanan yang menghabiskan hidup dan tinggal di jalanan (Data Paparan Dinsos DKI Jakarta, 2015). Dari angka 8200 tersebut sebagian besar terdeteksi selama 24 jam selalu hidup di jalan atau melakukan kegiatan di jalan dan tidak memiliki tempat tinggal tetap. Menurut de Moura (2002), anak-anak jalanan dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yakni anak yang bekerja di jalanan dan anak yang hidup di jalanan. Mayoritas anak-anak yang bekerja dan hidup di jalanan ini menghadapi beragam keadaan sulit yang menimbulkan kerentanan seperti kekerasan, kriminalitas, terancam tidak sekolah, penyalagunaan narkoba dan tertular HIV AIDS. Kerentanan menurut Kepmensos RI no. 49/HUK2014 adalah keluarga yang berisiko mengalami masalah, baik dari diri maupun dari lingkungan sehingga tidak dapat mengembangkan potensi.

Anak Jalanan termasuk dalam kategori kelompok rentan karena mudah dilanggar haknya sehingga mudah menjadi korban (baik secara individu maupuan kelompok) dikarenakan kekhasan/kekhususan yang dimiliki. Rentan mengandung pengertian adanya kekhususan tertentu yang menyebabkan mereka (kelompok rentan) lebih berisiko terlanggar hak-haknya/lebih berisiko menjadi korban sehingga memerlukan perlindungan yang lebih dibandingkan mayoritas masyarakat pada umumnya (Mediasi HAM, Ditjen HAM, Kementrian Hukum dan HAM RI, Februari 2012).

Dalam sebuah FGD yang diselenggarakan oleh PPH Atma Jaya bulan April 2016 lalu bersama dengan kelompok anak jalanan tampak bahwa isu-isu kerentanan yang ditemukan adalah kekerasan phikis, kekerasan fisik seperti pemukulan oleh petugas, oleh sebaya, oleh orang dewasa di sekitar hingga kekerasan seksual. Isu kerentanan lain yang tampak pada penggunaan jenis narkoba yang beredar seperti pil, shabu dan minuman keras yang dioplos khusus. Kerentanan pada anak jalanan ini menimbulkan berbagai masalah sosial dan kesehatan seperti gangguan pada tumbuh kembang anak, rentan terhadap berbagai potensi bahaya dan tindak kekerasan secara fisik, psikis maupun seksual. Kekerasan dan eksploitasi tersebut bisa dari teman sebaya, abang-abangan ataupun orang yang tidak dikenal. Menurut Soetarso (2004), masalah anak jalanan tidak dapat dilepaskan dari berbagai hal seperti:

  1. Berlangsungnya kemiskinan struktural dalam masyarakat tanpa pengawasan.
  2. Semakin terbatasnya tempat bermain bagi anak karena pembangunan yang semakin tidak mempertimbangkan kepentingan dan perlindungan anak.
  3. Semakin meningkatnya gejala ekonomi upah dan terbukanya peluang bagi anak untuk mencari uang dari jalanan

Kecenderungan menjadi pelaku atau korban dari perilaku kekerasan, korban dari perilaku kekerasan seksual berisiko di kalangan remaja jalanan juga menempatkan anak jalanan terkena HIV dan infeksi menular seksual lainnya (IMS). Kebanyakan anak-anak jalanan yang berhubungan seks, karena desakan dari sebaya atau orang dewasa baik secara langsung atau tidak langsung untuk menjaga keharmonisan hidup di jalanan. Hubungan seks berisiko ini seringkali ditukar dengan imbalan uang, tempat tinggal, makanan, atau obat-obatan terlarang dari kehidupan jalanan, seperti memiliki banyak pasangan seksual, penggunaan kondom yang tidak konsisten, dan aktivitas seksual berisiko tinggi (Irwanto, 1995; Haley, 2004).

Menanggapi Potret Anak Jalanan

Karakteristik demografi anak jalanan berdasarkan data dari Dinas Sosial Propinsi DKI Jakarta menyebutkan terdapat 426 anak jalanan laki laki dan 290 anak jalanan perempuan yang pernah dijangkau selama tahun 2015. Populasi anak jalanan ini terpecah-pecah di berbagai wilayah dan di pinggiran DKI Jakarta seperti Depok, Tangerang dan Bekasi. Hampir separuh dari anak jalanan pernah dijangkau pada tahun-tahun sebelumnya. Dan sebagai besar dari anak jalanan itu tidak mendapatkan pendidikan formal dari sekolah dan sudah hidup di jalanan karena orangtuanya adalah anak jalanan juga.

Anak jalanan ini meneruskan profesi orangtuanya sebagai anak jalanan dengan bekerja sebagai pemulung, penjual barang bekas, pekerja seks, pengamen, dan tenaga kerja harian. Sebagian besar anak jalanan berkumpul di pasar, stasiun, terminal, pelabuhan, taman, pinggir jalan dan kuburan. Menanggapi potret tersebut gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan bahwa fenomena anak jalanan ini bukanlah hal yang baru dan jumlahnya selalu meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan ini mendapatkan respon yang kongkret dari pemerintah propinsi DKI Jakarta. Salah satu respon dilakukan adalah mengeluarkan kebijakan khusus untuk menekan jumlah anak jalan dengan program menurunkan satgas dan P3S (Petugas Pelayanan, Pengawasan dan Pengendalian Sosial) untuk menjangkau anak jalanan dibeberapa titik dan mengamankannya. Anak jalanan yang dijangkau akan dirujuk ke rehabilitasi sosial untuk mendapatkan pembinaan (Tribun, Maret 2014).

Potret anak jalanan yang tampaknya di respon dengan intervensi penertiban oleh Pemda DKI Jakarta belum menjawab isu kerentanannya yang sebenarnya menjadi masalah dari anak jalanan. Masalah seperti minim akses pendidikan, ketrampilan, informasi, kekerasan, narkoba dan HIV AIDS. Sebut saja informasi dari petugas sosial dari Dinas Sosial Jakarta Utara yang menjelaskan kasus anak perempuan jalanan mulai usia 14 tahun mengalami pelecehan seksual dan terpaksa menjadi pekerja seks. Dinas Sosial sendiri belum memiliki formula khusus untuk menanganinya. Selain belum memiliki sistim penanganan selaian penertikan, pendokumentasian kasus inipun tidak dilakukan karena belum ada upaya lebih lanjut untuk mengatasi kekerasan di jalanan. Hal lain dari kerentanan HIV AIDS ini adalah anak jalanan tidak mendapatkan ruang di masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan dan cenderung tidak dianggap menjadi bagian dari masyarakat. Banyak perilaku anak jalanan yang dianggap sangat mengancam kehidupan masyarakat lain seperti pencopet dan tukang palak.

Bagaimana Sebaiknya Menanggapi Potret Anak Jalanan

Besar harapannya, DKI Jakarta memiliki program pencegahan yang inovatif, dapat diakses, dan ditargetkan untuk didedikasikan kepada anak jalanan. Program ini penting untuk memberikan pola perilaku dalam mengurangi kekerasan dan bahkan meniadakan kekerasan pada anak jalanan program yang mampu memutus rantai penularan penyebaran HIV dan penyalahgunaan narkoba. Indonesia terutama DKI Jakarta adalah tempat yang ideal dan sesuai untuk mengembangkan dan menguji intervensi dengan model yang tersebut diatas. Program yang melibatkan anak jalanan untuk menolong diri mereka dan pendampingan yang kuat dari pemerintah kepada mereka.

Jika remaja jalanan mendapatkan intervensi pemberdayaan yang tepat, mereka akan lebih siap untuk membuat keputusan yang lebih aman yang mampu mengurangi isu kerentanan yang dapat terjadi seperti tersebut diatas. Kegiatan ini dapat melibatkan LSM pendamping anak jalanan, Kementrian Sosial, Dinas sosial, Lembaga Perlindungan Anak dan perwakilan lain di DKI Jakarta. Kegiatan ini dimulai dengan merancang program pencegahan dan penanganan yang inovatif pada anak jalanan terkait dengan intervensi pengurangan kerentanan pada anak jalanan di Indonesia, bagaimana situasi terkini anak jalanan di DKI Jakarta, pengetahuan HIV AIDS, Napza dan perilaku seksual pada anak jalanan di DKI Jakarta. Dinas Sosial dan LSM pendamping anak jalanan dapat meningkatkan kapasitasnya terkait dengan penanganan kekerasan, informasi IMS, HIV AIDS dan Narkoba.

 

 

Semangat Kerelawanan pada LSM HIV di Indonesia sebagai Motivasi Berkarya

Semangat Kerelawanan pada LSM HIV di Indonesia sebagai Motivasi Berkarya

Anindita Gabriella

Epidemi HIV di Indonesia merupakan masalah yang semakin berkembang. Semakin banyak lembaga yang mendampingi ODHA dan kelompok risikonya muncul dan berkembang, baik yang mendampingi penasun, transgender dan perempuan pekerja seks, serta laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki.   Lembaga-lembaga ini dibentuk dari kepedulian komunitas ODHA maupun komunitas kelompok risiko tersebut. Lembaga-lembaga ini sudah mulai muncul sejak akhir tahun 1990an, ketika epidemi HIV mulai berkembang di Indonesia.

Kebanyakan orang yang bekerja di lembaga-lembaga ini merupakan orang-orang yang sedikit-banyak terdampak oleh HIV. Beberapa pembicaraan dengan penggiat di LSM HIV-AIDS mengatakan bahwa keterlibatan mereka di LSM tersebut merupakan bentuk kepedulian mereka karena “perasaan senasib” dan yang memotivasi mereka untuk terus berkarya adalah keinginan menolong orang lain karena telah ditolong pada saat mereka membutuhkan layanan. Kebanyakan dari penggiat LSM ini kemudian menjadikan keterlibatan mereka sebagai pekerjaan utama, yang menjadi sumber penghasilan utama mereka pula. Padahal, seringkali pekerjaan di LSM HIV-AIDS dapat dikatakan sebagai pekerjaan yang altruis, karena didasari oleh dorongan untuk menolong orang lain tanpa imbalan.

Dalam pekerjaan, motivasi kerja menjadi salah satu faktor utama yang bisa mempengaruhi performa kerja seseorang. Motivasi sendiri terbagi menjadi motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi yang dipacu dari dalam diri dan dari luar diri. Motivasi intrinsik adalah dorongan untuk melakukan sesuatu demi kepuasan pribadi, bukan karena konsekuensi atau imbalan dari pihak luar diri (Ryan & Deci, 2000), dan merupakan tantangan yang didasarkan pada minat pribadi serta bertujuan untuk mengasah kemampuan yang dimiliki (Woolfolk, dalam Sembiring & Purwanti, 2007).

Motivasi intrinsik menjadi sangat penting karena akan mempengaruhi performa, ketekunan, dan kesejahteraan seseorang selama hidup (Ryan & LaGuardia, dalam Ryan & Deci, 2000). Konsep motivasi intrinsik dapat dianalogikan dengan keterampilan memotivasi diri (Pandia & Purwanti, 2007), karena keterampilan seseorang untuk dapat memotivasi dirinya untuk memilih pekerjaan sesuai minat, memberikan usaha dan bertekun dalam bidang tersebut merupakan indikator adanya motivasi pada individu tersebut (Pintrich & Schunk, dalam Sembiring & Purwanti, 2007).

Motivasi penggiat LSM HIV-AIDS untuk tetap bekerja di bidang yang sama juga dipengaruhi oleh motivasi intrinsik serta motivasi ekstrinsik. Salah satu motivasi intrinsik yang disebutkan oleh penggiat LSM sebagai alasan mengapa mereka tetap bertahan adalah keinginan membantu orang lain, seperti mereka dulu dibantu, serta perasaan “ingin membantu orang yang membutuhkan bantuan”. Perasaan ini sering dikaitkan dengan konsep yang disebut sebagai “belief in a just world” atau “keyakinan akan dunia yang adil”. “Keyakinan akan keadilan” adalah sebuah konsep psikologis yang digunakan untuk menjelaskan keyakinan bahwa pada dasarnya dunia adalah tempat yang adil, di mana orang mendapatkan apa yang pantas ia dapatkan dan pantas mendapatkan apa yang ia dapat (Lerner, dalam Suwartono & Limandibrata, 2007).

Dalam penelitian-penelitian sebelumnya, dapat dikatakan bahwa perilaku altruistik berkorelasi baik secara positif maupun negatif terhadap “keyakinan akan keadilan”. Rubin & Peplau (dalam Andre & Velasquez, 1990) menemukan bahwa orang yang memiliki kecenderungan kuat untuk memiliki keyakinan akan keadilan cenderung tidak terlalu merasakan kebutuhan untuk teribat dalam kegiatan yang dapat mengubah masyarakat atau mengurangi “beban” kelompok yang menjadi korban situasi sosial. Di lain pihak, studi oleh Zuckerman (dalam Begue, et.al, 2008) menunjukkan bahwa orang-orang dengan keyakinan akan keadilan yang tinggi akan berperilaku lebih altruistik saat dihadapkan pada situasi yang membutuhkan bantuan mereka.

Di sisi lain, penelitian mandiri yang dilakukan oleh PPH Unika Atma Jaya mengenai pengaruh lembaga donor asing terhadap keberadaan LSM HIV di Indonesia menunjukkan ketergantungan yang sangat besar terhadap pendanaan asing, di mana ketiadaan pendanaan berdampak langsung terhadap berhentinya banyak program pendampingan. Altruisme memang masih terlihat, namun keberadaan donor cenderung menjadikan karya LSM semakin mengarah ke “bisnis”, dan altruisme relawan cenderung semakin berkurang.

Salah satu tantangan yang kemudian muncul adalah bagaimana membangun dan memupuk kembali semangat altruisme untuk menjadi motivasi intrinsik pekerja LSM HIV di Indonesia. Hal ini diharapkan dapat mendorong kemandirian dan keberlangsungan LSM HIV dalam berkarya. Terkait mengenai “keyakinan akan keadilan”, muncul pertanyaan seperti apakah konsep “keadilan” yang dimiliki oleh para pekerja LSM HIV? Apakah masih sebanding dengan upaya untuk bekerja relawan dan mengabdikan diri?

Dibutuhkan upaya untuk menjaga semangat kerelawanan pekerja LSM HIV, dan hal ini yang kelihatannya masih belum menjadi salah satu hal yang dikuatkan dalam pengembangan kapasitas LSM HIV. Semangat kerelawanan ini tidak pernah diejawantahkan ke dalam bentuk penguatan yang konkrit dan terpadu, padahal hal ini yang dapat mempengaruhi keberlangsungan lembaga dan LSM, meskipun pendanaan mungkin berkurang. Aktivisme perlu menjadi semangat yang mendasari kerja LSM, dan menjadi tugas kita bersama untuk semakin meningkatkan semangat ini.
Daftar Pustaka:

Bègue L., Charmoillaux, M., Cochet, J., Cury, C., de Suremain, F. (2008). Altruistic Behavior and the Bidimensional Just World Belief. The American Journal of Psychology Vol. 121, No. 1 (Spring, 2008), pp. 47-56. University of Illinois Press

Ryan, R.M., & Deci, R.L. (2000). Intrinsic and Extrinsic Motivations: Classic Definitions and New Directions. Contemporary Educational Psychology 25, 54–67

available online at http://www.idealibrary.com

Andre, C. & Velasquez, M. (1990). The Just World Theory. Issues in Ethics – V. 3, N. 2 Spring 1990, Markkula Center for Applied Ethics, Santa Clara Univers

Suwartono, C. & Limandibrata, K.F. (2007). Pengembangan Skala Keyakinan Akan Keadilan. Jurnal Ilmiah Psikologi Manasa, Volume 1 No. 2, Desember 2007

Sembiring, W.S.P, & Purwanti, M.,(2007). Gambaran Keterampilan Memotivasi Diri, Keterampilan Mengelola Diri, dan Keterampilan Teknis Praktis Mahasiswa Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya. Jurnal Ilmiah Psikologi Manasa, Volume 1 No. 2, Desember 2007

CATATAN HARI IV KONFERENSI AIDS KE-21, 21 JULI 2016

CATATAN HARI IV KONFERENSI AIDS KE-21, 21 JULI 2016

Sesi Pleno: Peran Populasi Kunci dan CSO dalam Perluasan Respon dan Mengenai Kesepakatan Global.

Sesi ini lebih berfokus pada harapan-harapan terhadap peran populasi kunci dan CSO dalam upaya untuk mengakhiri epidemi AIDs pada tahun 2030. Topik pertama adalah tentang strategi untuk memperluas pencegahan dan perawatan HIHV dan AIDS bagi semua orang yang berisiko dan mereka yang membutuhkannya. Pembicara ini kembali menegaskan pentingnya partisipasi yang bermakna populasi kunci di dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan monev dari penanggulangan AIDS yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun labaga internasional. Situasi yang dihadapi oleh mereka yang berisiko dan membutuhkan adalah mereka sendiri sehingga ‘bertanya’ kepada mereka merupakan sebuah keharusan jika tujuan untuk perluasan layanan pencegahan dan perawatan ini bisa berhasil.

Sementara itu, pembicara lain menyajikan topik tentang posisi penanggulangan AIDS dalam isu kesehatan global dan agenda sustainable devlopment goals. Pembicara ini menegaskan arti strategis dari Badan PBB untuk mewujudkan komitmen global agar upaya penanggulangan AIDS ini bisa diperhatikan oleh negara-negara yang menjadi anggotanya. namun demikian, perlu juga secara kritis melihat kepentingan negara yang didesakkan melalui atau mengkooptasi forum PBB untuk kepentingan negara atau swasta bukan kepentingan dari orang yang mengalami ketidakadilan sosial termasuk populasi yang termarginalisasi. Untuk itu menjadi penting bagi CSO unjtuk menjadi wacthdog baik di tingkat global untuk mengawal kepentingan masyarakat yang tidak diuntungkan dalam pengambulan keputusan dan di tingkat regional atau nasional untuk memastikan kesepakatan tersebut dilaksanakan.

Aktivisme AIDS dari Waktu ke Waktu

Sesi ini menghadirkan sejumlah aktivis dari berbagai negara yang berbeda generasi untuk berbagi pengalaman tentang motivasi aktivisme dalam penanggulangan AIDS dan hambatan-hambatan yang dihadapi dalam mewujudkan tujuan dari gerakan tersebut. Ada perbedaan besar dalam tujuan aktivisme penanggulangan AIDS dari waktu ke waktu. Pada awal epidemi, aktivisme lebih dipicu oleh mereka yang yang secara langsung terdampak dengan HIV baik ODHA maupun orang dekat dari ODHA di Amerika dan Eropa. Tujuan aktivisme pada waktu itu lebih untuk mencari pengobatan atas penyakit yang dialaminya sehingga terbangun solidaritas yang kuat antar aktivis untuk mewujudkan tujuan itu. Aktivisme semakin meluas ketika permasalahan ini juga dialami oleh negara-negara lain sehingga terbangun solidaritas global yang bertujuan untuk mendesak pemerintah dan lembaga internasional untuk membkan perhatian kepada permasalahan AIDS.

Aktivisme global ini semakin kuat ketika mulai tersedia obat yang bisa digunakan untuk terapi yang pada waktu itu hanya tersedia di negara-negara maju. Desakan dari aktivis agar ODHA bisa mengakses perawatan dan pengobatan yang tersedia memuncak pada Konferensi AIDS di Durban pada tahun 2000. Meski demikian, isu stigma dan diskriminasi terhadap HIV dan AIDS di masyarakat bahkan di populasi yang terdampak pun juga semakin menguat. Ada masa dimana para aktivis tidak mampu membicarakan tentang status AIDS secara terbuka karena kekhawatiran akan mengalami stigma dan diskriminasi diantara sesama aktivis.

Sementara aktivisme saat ini cenderung lebih lebih berfokus pada penyediaan layanan, dan keterlibatan dalam proses pengambilan keputusan di tingkat nasional maupun internasional yang seringkali justru lebih menunjukkan tokenisme atau kooptasi atas populasi kunci dan CSO. Selain itu ada kecenderungan bahwa ada efek samping dengan ditemukannya obat untuk terapi ARV dan ketersediaannya yang meluas yaitu berkurangnya solidaritas aktivis karena merasa nyaman, terpenuhi kebutuhannya dan layanan sudah tersedia. Meski telah mengalami kemajuan dalam perawatan dan pengobatan, satu hal yang belum mampu diubah oleh aktivis hingga saat ini adalah masih banyaknya ketidakadilan yang dialami oleh mereka yang miskin, dimarjinalkan dan tidak diuntungkan misalnya masih kuatnya kriminalisasi populasi kunci, diskriminasi dan pembatasan-pembatasan atas layanan kesehatan yang telah tersedia serta ketidakpedulian negara atas isu-isu ketidakadilan sosial. Jika hal ini tidak menjadi fokus kembali dari aktivisme AIDS ke depan maka impian untuk mengakhiri AIDS pada tahun 2030 tidak akan terwujud.

Sesi Satelit: Pembiayaan AIDS

Sesi ini diselenggarakan oleh UNDP dengan tujuan untuk melihat pendekatan yang inovatif untuk meningkatkan pendanaan AIDS dalam rangka mengakhiri AIDS pada tahun 2030. Bukti yang disajikan menunjukkan bahwa akan ada kesenjangan yang cukup besar antara dana yang diperkirakan tersedia dengan dana yang dibutuhkan untuk penanggulangan AIDS khususnya di nagara berpenghasilan rendah dan menengah bawah karena ada kecenderungan dukungan internasional semakin berkurang ke depan, sementara negara-negara tersebut merupakan negara yang paling terdampak oleh HIV dan AIDS. Pendekatan untuk meningkatkan pendanaan dalam negeri sebenarnya merupakan strategi yang layak tetapi kenyataan bahwa sebagian besar negara-negara tersebut mengkriminalkan populasi kunci maka tampaknya menjadi sulit untuk mendorong pendanaan yang lebih besar untuk AIDS. Meskipun demikian upaya untuk meningkatkan pendanaan domestik bisa dilakukan dengan cara: meningkatkan efisiensi alokatif dan teknis dari anggaran yang tersedia, mendorong kebijakan fiskal yang lebih besar untuk pembiayaan AIDS, dan advokasi anggaran HIV pada pemerintah nasional atau sub-nasional. (Gambit)

 Menggunakan Analisis Geospasial untuk Program HIV yang Efektif

Penerapan geospasial sudah ada sejak dulu seperti yang telah dilakukan oleh John Snow untuk penyakit kholera yang mewabah pada zamannya. Geospasial menjadi salah satu cara mengekstrak data untuk memudahkan menyampaikan pesan/informasi yahg mudah disebarkan dan diterima oleh orang lain. Ada beberapa aplikasi yang digunakan seperti HIVEMap, AiDSvu, HIVContinuum. Geospasial dapat menjelaskan seberapa besar kasus yang terjadi pada masing-masing wilayah, dapat membantu analisa apa masalah di wilayah tersebut, apa yang mungkin untuk dilakukan pada daerah/wilayah dengan prevalensi HIV tinggi. Geospasial juga merupakan pendekatan untuk menampilkan big data dengan skala yang lebih baik, walaupun dengan sumber daya yang terbatas dapat memberikan hasil yang maksimal. Walaupun begitu, geospasial memiliki keterbatasan seperti di Chicago memiliki tantangan untuk mendpatkan peta geografis yang detail (wilayah terkecil). Apabila peta geografis tersedia, bisa menampilkan data geospasial seperti kasus HIV di Alabama setiap wilayah, dibandingkan dengan jumlah tenaga kesehatan profesional yang ad di wilayah tersebut, ketika dilihat ternyata Wilayah dengan HIV tinggi memiliki tenaga kesehatan yang rendah dan jauh dari jangkauan layanan kesehatan baik mengakses maupun diakses. Secara keseluruhan, geospasial dapat menunjukkan wilayah mana yang perlu perhatian dan peningkatan layanan, sehingg membantu pembuat kebijakan untuk membuat keputusan.

Menjangkau Laki-laki yang Bukan Populasi Kunci

Penelitian ini dilakukan karena ingin menjangkau laki-laki yang sebenarnya berisiko menyebarkan HIV tetapi bukan menjadi bagian dari populasi kunci, seperti pekerja di kapal, sopir truk. Dilihat dari data penelitian, angka yang memenuhi untuk ART tidak jauh berbeda antara kelompok perempuan dengan laki-laki, tetapi yang banyak mengonsumsi ART adalah kelompok perempuan dibanding dengan laki-laki. Sedangkan di Afrika sendiri jumlah perempuan yang mengonsumsi ART jauh lebih banyak daripada laki-laki. Kaus lainnya adalah angka kejadian HIV baru sering terjadi pada perempuan tapi banyak kematian pada laki-laki. Faktor-faktor yang mempengaruhi laki-laki tidak mau mengikuti tes dan pengobatan HIV antara lain: kepercayaan bahwa laki-laki lebih kuat/kebal, stigma, sosioekonomi, budaya gender, homophobia, transportasi. Sehingga cara yang sudah dilakukan untuk pendekatan kepada laki-laki adalah melakukan pengobatan melalui klinik keliling yang mudah diakses perempuan dan laki-laki, membentuk kelompok dukungan sebaya yang bisa menyebarkan pengetahuannya kepada keluarga dan teman kerjanya, memberikan pengetahuan pada kelompok umur 15 tahun ke atas. (Mietta)