Catatan Hari III Konferensi AIDS Internasional ke 21, DURBAN, 20 Juli 2016

Catatan Hari III Konferensi AIDS Internasional ke 21, DURBAN, 20 Juli 2016

21st International AIDS Conference (AIDS 2016), Durban, South Africa. Sunrise Branding Images of Durban ICC Photo©International AIDS Society/Abhi Indrarajan
21st International AIDS Conference (AIDS 2016), Durban, South Africa.
Sunrise Branding Images of Durban ICC
Photo©International AIDS Society/Abhi Indrarajan

Catatan Hari III Konferensi AIDS Internasional ke 21, 20 Juli 2016

Oleh: dr. Asti Widihastuti, MHC

Inovasi Pada Tes HIV dan Pendekatan-Pendekatannya

Ini adalah sesi workshop ilmiah yang berlangsung di Session Room 9 tanggal 20 Juli 2016. Sesi ini berfokus pada diskusi seputar target UNAIDS 90-90-90 (90 orang mengetahui statusnya, 90 mendapatkan ARV, dan 90 mengalami supresi virus) pada tahun 2020.

Saat ini baru 51% orang yang hidup dengan HIV mengetahui statusnya dan oleh karenanya ada banyak strategi yang perlu dilakukan untuk meningkatkan tes dan pengobatan.  Untuk ini, sangat perlu memperkuat diagnostik HIV (laboratorium) serta layanan-layanan untuk mengetahui status HIV seseorang dan memastikan ia mengakses layanan untuk mengetahui status supresi virus (viral load). read more

CATATAN HARI II KONFERENSI AIDS  INTERNASIONAL KE 21, DURBAN, 19 Juli 2016

CATATAN HARI II KONFERENSI AIDS INTERNASIONAL KE 21, DURBAN, 19 Juli 2016

CATATAN HARI II KONFERENSI AIDS  INTERNASIONAL KE 21, DURBAN, 19 Juli 2016

Oleh: Ignatius Praptoraharjo, PhD.

Integrasi HIV Sebagai Penyakit Kronis ke Dalam Penyakit Tidak Menular (PTM)

Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan penyakit yang juga banyak dialami oleh Orang Dengan HIV AIDS (ODHA). PTM yang sering ditemukan pada ODHA adalah hipertensi, diabetes, epilepsi, hipertensi, jantung dan ashma. Ada kemungkinan tingkat PTM akan semakin meningkat karena saat ini ODHA kemungkinan hidup lebih lama karena efektivitas dari ART.  Sejumlah bukti menunjukkan bahwa upaya preventif ibisa dilakukan untuk mengurangi PTM bisa dilakukan melalui penghentian rokok, menghindari napza, kegemukan, dan melakukan olah raga yang cukup. Meski demikian upaya-upaya tersebut belum diintegrasikan ke dalam perawatan HIV yang saat ini disediakan. read more

CATATAN HARI I KONFERENSI AIDS  INTERNASIONAL KE 21, DURBAN, 18 Juli 2016

CATATAN HARI I KONFERENSI AIDS INTERNASIONAL KE 21, DURBAN, 18 Juli 2016

CATATAN HARI I KONFERENSI AIDS  INTERNASIONAL KE 21, DURBAN, 18 Juli 2016

Oleh: Ignatius Praptoraharjo

Fast Track Cities 

Pertemuan satelit ini diorganisasikan oleh IAPAC, sebuah asosiasi internasional penyedia layanan untuk perawatan HIV. Diskusi tentang isu ini berfikus tentang pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dengan organisasi masyarakat sipil. Isu lain yang strategis didisuksuikan adalah tentang bagaimana konsistensi data tentang setiap tahapan bisa ditangkat dari berbagai layanan. read more

LGBTs and the Role of the State On the recent LGBT controversy

LGBTs and the Role of the State On the recent LGBT controversy

by Asti Widihastuti (The writer is a medical doctor and researcher at Atma Jaya HIV Research Center. Views expressed are her own)

Pros and cons regarding Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender (LGBT) people have existed in Indonesia for quite some time, however, recent comments expressed by Indonesian leaders, such as ministers, majors, governors, religious leaders, community leaders, professionals and the Indonesian vice president have led to heated debates in the media and to a certain extent society at large. A statement by the Minister for Research, Technology and Higher Education M. Nasir, that LGBT communities should be banned from campuses due to their alleged threat to Indonesian values and morality, which came in response to pamphlets distributed by an organization at the University of Indonesia (UI) called Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC), set the ball rolling. read more

Layanan Psikologis dan Kesehatan Jiwa dalam Penanggulangan HIV dan AIDS

Layanan Psikologis dan Kesehatan Jiwa dalam Penanggulangan HIV dan AIDS

(Anindita Gabriella – PPH Atma Jaya) Dalam pembukaan konsitusinya, WHO mendefinisikan kesehatan sebagai suatu keadaan (state) kesejahteraan fisik, mental, dan sosial, bukan hanya tidak adanya penyakit fisik (WHO, 1948). Meskipun demikian, kesehatan jiwa adalah aspek yang sering kali terlupakan ketika membicarakan mengenai kesehatan. Secara umum, pendekatan kesehatan seringkali hanya memikirkan kesehatan fisik, yaitu tidak-adanya (absence of) penyakit yang disebabkan patogen maupun disfungsi fisik lainnya. Aspek kesejahteraan mental seringkali dilupakan dalam membicarakan kesehatan. Kalaupun dibicarakan, digunakan pendekatan biomedis, di mana kesehatan jiwa dibahas dalam tatanan pemberian pengobatan tertentu, bukan pendekatan psikologis yang mengarah pada perubahan perilaku. read more

Oase di Tengah Epidemi HIV AIDS

Oase di Tengah Epidemi HIV AIDS

(John Gentar)

Pengantar

Kios Atma Jaya hanyalah setitik unit kecil dari puluhan elemen organisasi internal Unika Atma Jaya. Lebih dari itu Kios juga merupakan cikal-bakal munculnya Pusat Penelitian HIV dan AIDS (PPH) Unika Atma Jaya. PPH Unika Atma Jaya adalah lembaga yang melakukan penelitian di bidang kebijakan kesehatan terkait dengan permasalahan HIV dan AIDS. Dalam operasionalisasinya, lembaga ini di bawah koordinasi Lembaga Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unika Atma Jaya.

Kios merupakan pionir di dunia penanggulangan AIDS khususnya program harm reduction dengan filosofi outreach sebagai ujung tombak untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi orang-orang yang diasingkan dari masyarakat umum seperti pengguna narkoba suntik. Upaya kemanuasiannya telah menyelamatkan ratusan bahkan ribuan orang dari penularan HIV dan AIDS. Tengok saja hasil-hasil kerja nyata Kios selama lebih dari 12 tahun ini, ribuan Penasun telah terjangkau dan mendapatkan hak mereka mengakses layanan. Ratusan orang telah mengubah jalan hidupnya, mendapatkan pengetahuan penting, menjadi relawan kesehatan yang bertebaran di masyarakat, menjadi enterpreneur sosial dan pemimpin organisasi. Mereka membuka diri dengan dunia luar baik lokal maupun internasional dengan membangun jaringan sosial penting antar negara dan masyarakat dunia read more

Kesehatan Reproduksi Remaja dan HIV

Kesehatan Reproduksi Remaja dan HIV

(Lydia Verina Wongso) Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. WHO mengkategorikan remaja pada rentang usia 10-19 tahun, sedangkan menurut Permenkes 25/2014, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-18 tahun. Adapula yang menggabungkan pembahasan remaja (10-19 tahun) dengan pemuda/youth (15-24 tahun) kemudian disebut dengan orang muda/Young People (10-24 tahun). Berbagai sumber mendefinisikan usia remaja dengan cukup bervariatif, pada pembahasan ini akan berfokus pada remaja dengan rentang usia 10-19 tahun, mengacu pada kategori yang juga digunakan pada berbagai hasil survei. Berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus 2015, jumlah penduduk di Indonesia usia 10-14 tahun sebanyak 23,4 juta orang dan usia 15-19 tahun sebanyak 21,1 juta. Sekitar 17,5% dari jumlah penduduk Indonesia adalah remaja. Para remaja inilah yang nantinya menjadi penentu kemajuan Bangsa Indonesia. Potensi yang besar dapat diperoleh dengan memberikan investasi pendidikan yang tepat pada masa ini. Namun, beriringan dengan potensi, resiko pun melingkupi para remaja, salah satu adalah terkait isu kesehatan, termasuk penularan HIV. read more

Krisis Kesehatan Bagi Penghuni Penjara

Krisis Kesehatan Bagi Penghuni Penjara

(oleh Mietta Mediestya Mahanani) Penjara merupakan sebuah bangunan yang berfungsi untuk mengurung/mengisolasi/membatasi ruang gerak seseorang yang terjerat hukum. Lingkungan penjara identik dengan ruangan yang sempit, terbatas, dan lembab. Sehingga menyebabkan situasi di dalam sel tahanan menjadi kotor, sesak, dan tidak produktif. Selain itu, ruangan penjara yang saat ini tersedia sudah melebihi batas kapasitas yang seharusnya. Keadaan tersebut mengancam para tahanan karena menimbulkan dampak buruk kesehatan dan lingkungan di penjara. read more

Mampukah Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) HIV di Indonesia

Mampukah Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) HIV di Indonesia

(Gracia Simanullang)

Di Indonesia, respon terhadap epidemi HIV sudah berlangsung secara formal sejak tahun 1994 melalui dibentuknya Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) diikuti dengan berbagai kerjasama dengan organisasi internasional. Kerjasama baik bilateral maupun multilateral ini mendorong adanya pengalokasian dana hibah asing untuk program HIV AIDS di Indonesia yang selama ini dikenal dalam skema Inisiatif Kesehatan Global (Global Health Initiative – GHI).

Lembaga-lembaga donor asing seperti USAID, DFAT, GF, World Bank dan banyak lembaga donor lainnya yang telah mengalokasikan dana yang besar untuk program HIV AIDS di negara kita ini. Dana tersebut tidak hanya disalurkan secara langsung kepada pemerintah melalui upaya-upaya dalam sistem kesehatan namun juga kepada lembaga non-pemerintah termasuk Organisasi Masyarakat Sipil (OMS). read more

Pelaksanaan Program Terapi Rumatan Metadon Saat Ini

Pelaksanaan Program Terapi Rumatan Metadon Saat Ini

(Penulis Theresia Puspo Arum)

Program terapi rumatan metadon (PTRM) atau terapi substitusi oral merupakan salah satu metode yang paling efektif untuk mengatasi ketergantungan pada pengguna opioid. Sebagai terapi substitusi, salah satu tujuan PTRM adalah menghentikan kebiasaan penggunaan rutin napza – terutama melalui pemakaian suntik – dan menggantikannya dengan metadon yang dikonsumsi dengan diminum. Di Indonesia, pelaksanaan PTRM di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 2006, namun masih banyak isu terkait pelaksanannya. read more