Puskesmas Diminta Fokus Tangani HIV/AIDS dan Gizi Buruk

Puskesmas Diminta Fokus Tangani HIV/AIDS dan Gizi Buruk

Jakarta – Saat mengunjungi Puskesmas Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara (Jakut), Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, meminta Puskesmas Kecamatan untuk fokus pada penanganan HIV/AIDS dan gizi buruk di Jakarta. Hal tersebut, terkait dengan program peningkatan Puskesmas menjadi Rumah Sakit (RS) Tipe D.

“Puskesmas ini, saya minta fokus pada penanganan beberapa bidang. Tapi kita kasih perhatian atau fokus untuk penanganan HIV/AIDS dan gizi buruk ditata dengan baik,” kata Djarot, Kamis (13/10).

Dalam mewujudkan hal itu, Puskesmas Kecamatan tidak bisa bekerja sendiri, tanpa didukung Puskesmas Kelurahan, aparat kelurahan, serta RT dan RW. Agar dapat memantau kondisi kesehatan warga Jakarta, Puskesmas harus mulai membangun database kesehatan pasien. Sehingga saat penderita HIV/AIDS mau berobat ke puskesmas lain, data pasien tersebut sudah terintegrasi dalam satu base data.

“Bagaimanapun juga, puskesmas ini juga harus mempunyai data base yang cukup untuk menangani pasien, terutama HIV/AIDS. Karena penderitanya itu bisa sangat mobile, jadi bisa terlacak,” ujarnya.

Sebab, ketika seseorang terkena HIV, maka ia harus secara kontinyu mengkonsumsi pil HRv. Ketika berobat di Puskesmas, maka penderita HIV bisa mendapatkan pil tersebut gratis.

“Pil HRv itu gratis semua. Seumur hidup dia. Karena begitu kena HIV/AIDS, dia harus minum pil itu seumur hidup. Masyarakat seperti inikan tanggungjawab kami. Jangan samapi kena HIV/AIDS dan gizi burulk. Kalau terkena keduanya, SDM kita akan merosot kualitasnya,” terangnya.

Puskesmas Kecamatan Cilincing merupakan salah satu puskesmas yang telah fokus menangani pasien HIV/AIDS. Di Jakarta Utara sudah ada tiga puskesmas yang menangani HIV/AIDS, yaitu di Kecamatan Cilincing, Kecamatan Koja dan Tanjung Priok.

“Di Jakarta Pusat, Barat juga ada. Saya minta kalau seperti ini, penanganan penyakit ini ditaruh di tempat-tempat yang populasi kuncinya besar,” paparnya.

Rencana perekaman kesehatan warga Jakarta dalam satu database kesehatan, menurutnya akan dilakukan Dinas Kesehatan DKI kedepan. Sehingga setiap warga yang berobat ke puskesmas atau rumah sakit mana pun, dokternya sudah tahu riwayat kesehatan pasien.

“Tadi Pak Kepala Dinas Kesehatan DKI mengatakan kedepan ini, akan merekam seluruh data medical record dari penduduk Jakarta. sehingga dia bisa berobat kemanapun, itu dokter atau rumah sakit yang menangani tahu riwayat pengobatan ‎yang bersangkutan. Ini buat satu sistem yang terintegrasi,” jelasnya.

Lenny Tristia Tambun/FER BeritaSatu.com

http://www.beritasatu.com/megapolitan/392444-puskesmas-diminta-fokus-tangani-hivaids-dan-gizi-buruk.html

 

 

Ketahui Ini Sebelum Jalani Pengobatan HIV/AIDS

Ketahui Ini Sebelum Jalani Pengobatan HIV/AIDS

BELUM ada obat untuk mengatasi penyakit HIV/AIDS. Namun, kombinasi berbagai obat dapat digunakan untuk mengendalikan virus.Setiap kelas obat anti-virus HIV diberikan dengan cara yang berbeda. Hal terbaik untuk menggabungkan, setidaknya tiga obat dari dua jelas untuk menghindari strain HIV yang kebal terhadap obat tunggal.

 Kelas obat anti-HIV meliputi:

Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitors (NNRTIs)

NNRTI menonaktifkan protein yang dibutuhkan oleh HIV untuk membuat salinan dari dirinya sendiri. Contohnya termasuk efavirenz (Sustiva), etravirine (Intelence) dan nevirapine (ARV).

  1. Nucleoside atau nucleotide reverse transcriptase inhibitors (NRTI)

NRTI adalah versi gagal dari blok pembentukan yang diperlurkan HIV untuk membuat salinan dari dirinya sendiri. Contohnya termasuk Abacavir (Ziagen), kombinasi emtricitabine-tenofovir (Truvada), dan lamivudine-zidovudine (Duviral).

  1. Protease Inhibitor (pls)

Pls menonaktifkan protease, protein lain yang diperlukan HIV untuk membuat salinan dari dirinya sendiri. Contohnya termasuk atazanavir (Reyataz), darunavir (Prezista), fosamprenavir (Lexiva) dan indinavir (Crixivan).

  1. Pemasukan atau fusion inhibitor

Obat ini memblok masukanya HIV ke dalam sel CD4. Contohnya adalah enfuvirtide (Fuzeon) dan maraviroc (Selzentry).

  1. Inhibitor integrase

Obat ini bekerja dengan menonaktifkan integrase, sebuah protein yang digunakan HIV untuk memasukkan materi genetik ke sel CD4. Contohnya meliputi raltegravir (Isentress), elvitegravir (Vitekta) dan dolutegravir (Tivicay).

Kapan harus mulai pengobatan:

Semua orang dengan infeksi HIV, terlepas dari jumlah CD4, harus ditawarkan obat antivirus. Terapi HIV sangat penting untuk situasi berikut ini:

– Anda memiliki gejala yang parah

– Mengalami infeksi opotunistik

– Jumlah CD4 di bawah 350

– Anda sedang hamil

– Memiliki penyakit ginjal terkait HIV

– Sedang dirawat karena terkena hepatitis B atau C

(hel)

http://lifestyle.okezone.com/read/2016/10/20/481/1519639/ketahui-ini-sebelum-jalani-pengobatan-hiv-aids

 

DKI Upayakan Percepatan Penanggulangan HIV/AIDS

DKI Upayakan Percepatan Penanggulangan HIV/AIDS

JAKARTA, NETRALNEWS.COM –  Dinas Sosial DKI Jakarta melakukan pertemuan dengan Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi dalam upaya percepatan penanggulangan penderita AIDS yang ada di DKI.

Hal tersebut dilakukan merespon tingginya Orang Dengan HIV-AIDS di DKI Jakarta, kata Sekretaris KPAP Rohana Manggala di Jakarta, Minggu (23/10/2016)

Dikatakan, Gubernur DKI Jakarta meminta untuk segera menindaklanjuti percepatan penanggulangan AIDS serta mengharapkan adanya penampungan atau semacam panti untuk ODHA.

“KPAP sudah melakukan pelatihan-pelatihan kepada petugas panti. Gubernur siap mendanai dan memfasilitasinya. Karena dalam usaha penanganan ODHA, perlu dari sisi sosialnya,” ujar Rohana.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial DKI Jakarta Masrokhan menuturkan penyediaan tempat penampungan atau panti khusus ODHA bukan ranah Dinsos.

Namun, pihaknya siap membantu dalam peningkatan sumber daya manusia yang ada di panti sosial.

“Sebenarnya kami punya Panti Sosial Pamardi Putra Husnul Khotimah untuk penderita narkoba. Itu pun cuma satu panti untuk penanganan narkoba.Tapi ada rencana mau ditarik untuk Kemensos,” kata Masrokhan.

Untuk itu, pihaknya mengajak KPAP untuk memberikan solusi tingginya angka ODHA di Jakarta, misalnya mengadakan pelatihan bersama para petugas panti sehingga jika terdapat Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang ODHA, petugas panti bisa melakukan penanganan yang lebih baik.

Dinsos dan Suku Dinas Sosial lima wilayah setiap hari melakukan penjangkauan terhadap PMKS jalanan untuk dibawa ke panti dan kemungkinan salah satu dari PMKS itu merupakan ODHA.

Selain itu, pihaknya mengusulkan kerjasama dengan Kemensos yang memiliki Panti ODHA di Sukabumi. Pihaknya siap memfasiltasi KPAP untuk kerja sama dengan Kemensos.

“Pertumbuhan ODHA yang tinggi perlu kerja sama dalam penelitian tempat-tempat penyebaran AIDS. Seperti hotel-hotel atau tempat hiburan dan lainnya. Perlu didorong untuk melakukan tindakan preventif juga,” kata Masrokhan.

Editor : Marcel Rombe Baan. Sumber : Antara

http://www.netralnews.com/news/kesra/read/31698/dki.upayakan.percepatan.penanggulangan.hiv.aids

Kemkes: HIV/AIDS Penyakit yang Sulit Menular

Kemkes: HIV/AIDS Penyakit yang Sulit Menular

Batam – Kementerian Kesehatan (Kemkes) menyatakan HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang sangat sulit menular sehingga masyarakat tidak perlu takut dan menghindari penderitanya.

“HIV/AIDS adalah penyakit menular yang sangat sulit menular,” kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Muhammad Subuh dalam pengukuhan Duta HIV/AIDS dalam rangkaian peringatan Hari AIDS internasional di Batam Kepulauan Riau, Rabu (19/10).

Cara penularan HIV/AIDS sangat terbatas yaitu melalui kegiatan seksual di luar norma, injeksi atau transfusi dan dari ibu ke anak. Selain itu, maka HIV/AIDS tidak akan menular ke orang lain.

Ia bercerita pada suatu kesempatan, dirinya berbagi minuman dalam satu gelas yang sama dengan ODHA, untuk meyakinkan bahwa berinteraksi normal dengan ODHA tidak akan menularkan penyakitnya. Meski tidak mudah menular, namun Subuh menekankan virus itu harus dikendalikan. Masyarakat disebutnya harus berani melakukan memeriksakan diri demi memastikan dirinya bebas dari virus.

Pemerintah menjadikan penanggulangan HIV-AIDS sebagai prioritas pembangunan selama dua RPJMD pada 10 hingga 15 tahun ke depan. Salah satunya dengan terus melakukan sosialisasi mengenai HIV-AIDS. Sosialisasi diperlukan agar pemahaman masyarakat terus meningkat dan sasaran utamanya adalah masyarakat dengan usia 15 tahun ke atas.

“Pengetahuan bagaimana HIV menular, caranya bagaimana, maka tahu pencegahannya,” kata dia.

Staf Ahli Menteri Bidang Regulasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Katarina menyatakan berdasarkan penelitian 2010, pengetahuan kelompok umur 14 hingga 24 tahun tentang HIV/AIDS hanya mencapai 11,4 persen. Data itu menunjukan rendahnya tingkat pengetahuan remaja pada HIV/AIDS.

Kementerian Pendidikan sudah memasukan materi tentang HIV/AIDS dalam kurikulum kompetensi dasar. Untuk siswa SD, pengetahuan itu dimasukan dalam pelajaran Pendidikan Jasmani dan Olahraga, dimulai dari jajanan sehat, bahaya napsa dan perlunya menjaga kesehatan alat reproduksi. Kemudian pada tingkat SMP diajarkan kompetensi dasar pada seks bebas, bahaya HIV/AIDS dan penyakit seksual lainnya.

“Guru memiliki tanggung jawab pada siswa agar pencegahan dapat dilakukan sedini mungkin, agar upaya melawan menjadi gerakan bersama,” katanya.
/CAH ANTARA

http://www.beritasatu.com/kesehatan/393698-kemkes-hivaids-penyakit-yang-sulit-menular.html

Komunitas kompak tanggapi rencana BNN & DPR merevisi UU Narkotika

Komunitas kompak tanggapi rencana BNN & DPR merevisi UU Narkotika

Kamis 2 Juni 2016 di Kantor Pusat KPAN (Komisi Penanggulangan AIDS Nasional), komunitas-komunitas penggerak isu Narkotika duduk bersama membahas penyusunan Naskah Akademik (NA) Amandemen UU Narkotika No.35 tahun 2009. Kegiatan yang diinisiasi oleh Rumah Cemara dan PKNI (Persaudaraan Korban NAPZA Indonesia) tersebut dihadiri oleh LBHM (Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat), Stigma, LeIPS (Lembaga Indepensi Pemantau Peradilan), CDS (Center for Detention Studies), MAPPI FHUI (Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia Fakultas Hukum Universitas Indonesia), Wiki DPR, LGN (Lingkar Ganja Nusantara), dan BNN (Badan Narkotika Nasional). Selain itu, kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Ahli Ilmu Perundang-undangan, Sony Maulana Sikumbang, MH.

Ardhany Suryadarma, National Policy Manager Rumah Cemara, mengemukakan, “Kami memiliki agenda untuk turut berpartisipasi dalam amandemen UU Narkotika No.35 tahun 2009. Ternyata PKNI juga punya agenda serupa, jadi kita inisiasi bersama-sama. Dalam tahap awal ini, kami sengaja mengundang Bang Sonny Maulana dan kawan-kawan komunitas untuk mendapatkan gambaran proses revisi UU dan mengumpulkan bahan.”

Laporan Singkat Rapat Dengar Pendapat Komisi III DPR RI dengan BNN yang dilakukan pada bulan februari lalu menyatakan bahwa Komisi III DPR RI mendukung untuk dilakukannya perubahan terhadap UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Pakar ilmu hukum perundang-undangan, Sonny Maulana, mengingatkan, “Naskah Akademik yang dibuat oleh komunitas harus mampu menjawab pertanyaan, kenapa peraturan yang lama gagal mengatasi permasalahan yang ada? Baru kemudian solusi apa yang ditawarkan oleh komunitas.”

Suhendro Sugiharto, Manajer Program PKNI, yang akrab disapa Ebe menutup dengan harapan yang sederhana, “Kendala yang komunitas hadapi adalah kurang kolaboratif. Saya percaya jika kerjasama ini terus dijaga dan dibina, bahkan kalau perlu diskursus seperti hari ini dikembangkan juga di daerah-daerah, maka bukan mustahil perubahan kebijakan narkotika yang lebih humanis serta pro rakyat dan korban napza bisa tercapai.”

http://www.lgn.or.id/komunitas-kompak-tanggapi-rencana-bnn-dpr-merevisi-uu-narkotika/

Pembinaan Anak Jalanan & Keberadaan Rumah Singgah : Adakah upaya untuk pembinaan yang menyeluruh?

Pembinaan Anak Jalanan & Keberadaan Rumah Singgah : Adakah upaya untuk pembinaan yang menyeluruh?

Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara” – UUD 1945, Pasar 34 Ayat 1

Badan Pusat Statistik (BPS) melansir data terbaru jumlah penduduk Indonesia. Per September 2014, jumlah penduduk miskin Indonesia tercatat sebesar 27.73 juta orang atau mencapai 10.96% dari keseluruhan penduduk.

Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar dengan pendekatan kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan darisisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan.

Metode yang digunakan adalah menghitung garis kemiskinan yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM). GKM merupakan nilai pengeluaran makanan yang disetarakan dengan 2,100 kalori per kapita per hari sedangkan GKBM adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan.

Seperti yang dilansir beritasatu, Paket komoditi kebutuhan dasar non-makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di pedesaan.

Penduduk miskin ini tercatat di database pemerintah (i.e data RT, RW, Kelurahan) dan menjadi acuan bagi pemerintah dalam program pelayanan terhadap penduduk miskin seperti pelayanan kesehatan, pendidikan, dan lainnya.

Lantas bagaimana dengan statistik anak terlantar di Indonesia?

Berdasarkan UU No.23 tahun 2002 yang disebut anak terlantar adalah anak-anak yang tidak dipenuhi kebutuhannya secara wajar, baik fisik, mental, spiritual, dan juga sosial.Bagaimana cara mengukur seorang anak sudah terpenuhi kebutuhannya secarawajar? Hal ini merupakan sebuah tantangan tersendiri.

Berdasarkan data Kementrian Sosial Indonesia tercatat :

Anak jalanan merupakan gejala sosial yang muncul akibat krisis di berbagai bidang dan menjadi salah contoh nyata dari sekian anak terlantar yang ada di Indonesia. Mereka adalah anak-anak di bawah umur 16 tahun yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di jalanan untuk mencari uang.

Seperti yang kutip dari Blogdetik.com, data terakhir (2008) yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa anak jalanan Indonesia berjumlah 154,861 jiwa, dimana hampir separuhnya berada di Jakarta, dan sisanya menyebar di kota besar lainnya seperti Medan, Palembang, Batam, Serang, Bandung, Jogja, Surabaya, Malang, Semarang, dan Makasar.

Menurut Soetarso (2004), masalah anak jalanan tidak dapat dilepaskan dari berbagai hal seperti:
1. Berlangsungnya kemiskinan struktural dalam masyarakat.
2. Semakin terbatasnya tempat bermain bagi anak karena pembangunan yang semakin tidak mempertimbangkan kepentingan dan perlindungan anak.
3. Semakin meningkatnya gejala ekonomi upah dan terbukanya peluang bagi anak untuk mencari uang dari jalanan.

Kondisi lain seperti keharmonisan keluarga, kasus perceraian, dan juga kasus kekerasan dalam rumah tangga menjadi faktor pendukung lain anak keluar dari rumah dan menetap di jalanan.

Seperti yang dikutip oleh Blog Detik.com Anak Jalanan dapat dibagi ke dalam 3 kategori, yaitu :

  1. Children of the Street yaitu kelompok anak yang hidup 24 jam di jalanan, tidak ada kontak dengan keluarga, tidak lagi pulang ke rumah (meskipun ada), dan tidak bersekolah.
  2. Children on the Street yaitu kelompok anak yang masih memiliki keluarga dan pulang ke rumah, sebagian ada yang bersekolah. Berdasarkan data yang ada, kategori ini yang meroket jumlahnya semenjak krisis 1997 melanda Indonesia. Hal ini dikarenakan adanya penurunan penghasilan orang tua akibat gelombang PHK sehingga membantu orang tua termasuk membiayai sekolah menjadi alasan mereka berada di jalan.

3.Children of Vulnarable to be on the Street yaitu kelompok anak yang berteman dengan dua tipe diatas dan terkadang ikut-ikutan turun ke jalan.

Berdasarkan seringnya kejadian berpapasan dengan anak jalanan (baik itu yang masuk di kategori (1), (2), ataupun (3)), membuat saya menduga jumlah anak jalanan di Jakarta, Depok, dan Bogor (tiga kota yang terdekat dengan tempat tinggal), meningkat nyata di bandingkan 2008.

Di tahun 2002, berdasarkan hasil Susenas yang diselenggarakan oleh BPS & Pusdatin Kementrial Sosial tercatat sebanyak 94,674 anak jalanan di Indonesia. Terjadi peningkatan 64% anak jalanan dari 2002 – 2008 atau rata-rata sekitar 10.6% per tahun peningkatannya. Menggunakan asumsi terjadi peningkatan 10.6% per tahun untuk angka anak jalanan, maka di akhir 2015 diperkirakan terdapat tiga ratus ribu anak jalanan di Indonesia (estimasi dengan pendekatan yang sangat konservatif).

Bayangkan jika tidak ada strategi pembinaan anak jalanan yang tepat sasaran serta menyeluruh dan juga tidak adanya strategi untuk mencegah munculnya anak jalanan yang baru? Diperkirakan angka anak jalanan akan mencapai lebih dari setengah juta jiwa di akhir tahun 2020. Alert untuk banyak pihak.

Kita semua menyadari bahwa anak-anak adalah aset bangsa yang harus dijaga. Mereka adalah generasi penerus banga dan salah satu tiang pembangunan di masa depan. Kekurangan pendidikan yang berdampak pada pola pikir dan pola berperilaku, kemudian kehidupan yang tidak memadai yang juga berdampak pada kesehatan, yang dialami oleh anak-anak jalanan, akan menciptakan siklus kehidupan Anak Jalanan baru di masa depan.

Upaya pembinaan & pemberdayaan anak jalanan juga pastinya menjadi salah satu program pemerintah dan juga lembaga sosial non-pemerintah. Sebagai contoh sejak tahun 1998, Pemda DKI Jakarta telah mencanangkan program rumah singgah, dimana bagi mereka disediakan rumah penampungan dan pendidikan. Selain pemerintah, beberapa LSM juga mempunyai perhatian terhadap masalah ini. Banyak diantara mereka yang melakukan pembinaan dalam menyediakan alternatif pendidikan bagi anak jalanan. Namun, daya serap LSM masih sangat terbatas.

Keterbatasan statistik anak-anak jalanan menjadi tantangan tersendiri bagi Dinas Sosial atau pun lembaga sosial non pemerintah dalam proses pemberdayaan & pembinaan. Untuk dapat melakukan program yang tepat sasaran & menyeluruh, diperlukan suatu pemetaan anak jalanan di seluruh daerah di Indonesia yang kemudian diintegrasikan dengan data program pembinaan terpadu (Rumah Singgah) yang sudah dilakukan oleh dinas sosial atau pun LSM. Mengkombinasikan dua data ini, dapat dilakukan identifikasi GAP (mana anak jalanan yang sudah mendapatkan program pembinaan dan mana yang belum) yang selanjutnya dapat dijadikan acuan untuk pengembangan atau pengadaan program selanjutnya.

Menggunakan pendekatan metode yang sudah dilakukan untuk melakukan pencacahan penduduk miskin yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik, saya membayangkan seandainya bisa dilakukan pencacahan & pencatatan serupa untuk anak-anak jalanan, maka tentunya akan sangat membantu banyak pihak yang ingin terlibat dalam proses pembinaan terpadu anak jalanan ataupun program lain untuk menekan pertumbuhan anak jalanan di kota-kota di Indonesia.

Dengan informasi ini, maka pemerintah dapat melakukan estimasi jumlah rumah singgah yang diperlukan untuk menampung dan membina anak-anak jalanan (tentunya disesuaikan dengan kapasitas ideal untuk masing-masing rumah singgah), re-focusing daerah yang paling banyak memiliki anak jalanan dengan melakukan pengembangan ekonomi kerakyatan dan juga melakukan pembinaan terhadap keluarga sebagai upaya pencegahan timbulnya gejala sosial anak jalanan, dan lain sebagainya.

Sangat dipahami jika pencacahan atau sensus anak jalanan & rumah singgah merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi pemerintah. Namun, mengacu kepada UUD 1945 ayat 1 dimana anak terlantar dipelihara oleh Negara, maka sudah menjadi kewajiban bagi pemerintah untuk mulai mengumpulkan data secara detail dan mewakili populasi sebagai satu dasar untuk perencanaan strategi di masa yang akan datang. Selain itu, dengan adanya integrasi data tujuan untuk memiliki program yang merata dan menyeluruh dapat terwujud.

http://datascience.or.id/2015/08/02/pembinaan-anak-jalanan-keberadaan-rumah-singgah-adakah-upaya-agar-pembinaan-yang-menyeluruh/

21st International AIDS Conference (AIDS 2016)

21st International AIDS Conference (AIDS 2016)

This year’s conference uses a new approach that will more fully incorporate several pre-conference meetings into the main conference programme. The new format will offer these pre-conference meetings within the main conference venue on 16-17 July, leading up to the Opening Session. These meetings, which have customarily been held off-site at surrounding areas, are open to all conference delegates. Attendees will have the ability to register online for pre-conference meetings during the AIDS 2016 registration process as part of the package.

“This was a strategic decision to offer a more holistic format to the traditional conference set-up,” said Chris Beyrer, IAS President and AIDS 2016 Co-Chair. “It will better enable delegates to access the strong pre-conference programming that will be offered.”

Olive Shisana, AIDS 2016 Local Co-Chair said, “This is the second time that Durban will be hosting the International AIDS Conference and marks a major milestone in the HIV response. We want to create an enhanced conference experience for everyone involved.”

Every year the International AIDS Conference has a dedicated theme, this year is “Access Equity Rights Now”. It is a call to action to work together and reach the people who still lack access to comprehensive treatment, prevention, care and support services. For example, more than 60% of people living with HIV remain without antiretroviral therapy; women and girls, men who have sex with men, transgender people, sex workers, young people, and people who use drugs and other marginalized groups remain under-prioritized in the response; investments in HIV prevention research appear to have flattened; and widespread violations of human rights including criminalisation continue to undermine effective responses.

AIDS 2016 is convened by five permanent partners: IAS, Global Network of People Living with HIV (GNP+), The International Community of Women with HIV/AIDS (ICW), International Council of AIDS Service Organizations (ICASO) and UNAIDS in collaboration with international and South African scientific and civil society partners. It is expected to convene over 18,000 delegates from around the world, including up to 1,000 journalists.

http://www.everywomaneverychild.org/news-events/events/1239-21st-international-aids-conference-aids-2016

 

 

IDAHOT (International Day Against Homophobia, Biphobia, and Transphobia) 2016

IDAHOT (International Day Against Homophobia, Biphobia, and Transphobia) 2016

Weinberg mengartikan homophobia sebagai ketakutan terhadap homoseksual dan bentuk-bentuk lain yang menunjukkan keintiman dua jenis kelamin yang sama (Allgeier, 1991). Sedangkan Transphobia adalah ketakutan dan kebencian, atau perasaan yang sangat tidak nyaman dengan orang – orang yang memiliki identitas gender dan ekspresi gender yang tidak sama dengan yang diharapkan atau dipakemkan oleh budaya tertentu.

IDAHOT (International Day Against Homophobia and Transphobia) pertama kali diperingati pada tahun 2004. IDAHOT menjadi moment dimana semua orang dapat memanfaatkannya dengan mengambil tindakan untuk memerangi fobia terhadap keberagaman ekspresi gender, identitas gender dan orientasi seksual.

Peringatan IDAHOT jatuh setiap tanggal 17 Mei. Tanggal ini dipilih untuk mengingatkan pada keputusan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karena tanggal 17 Mei 1990 secara resmi mengeluarkan homoseksual-transgender sebagai gangguan kejiwaan (bukan penyakit).

Putusan itu berdasarkan putusan dari Asosiasi Psikologi/Psikiatri di seluruh dunia, yang sudah mengeluarkan homoseksual maupun transgender sebagai gangguan kejiwaan. Sedangkan di Indonesia melalui Pedoman Penggolongan Diagnosa Gangguan Jiwa (PPDGJ) III tahun 1993. Kementerian Kesehatan RI juga sudah mengeluarkan homoseksual sebagai gangguan kejiwaan. Moment itulah yang kemudian pada tanggal 26-29 Juli 2006 dalam sebuah konferensi International di Montreal-Kanada tentang seksualitas untuk memutuskan 17 Mei diperingati sebagai hari melawan Homophobia–Transphobia di seluruh dunia.

Adapun tujuan dari peringatan IDAHOT ini adalah untuk menarik perhatian secara internasional dari pembuat kebijakan, figur berpengaruh, pergerakan sosial, masyarakat umum, dan media agar peduli terhadap LGBTI yang kerap menjadi korban kekerasan dan perlakuan diskriminatif.

Selama sepuluh tahun terakhir IDAHOT menjadi momen paling penting bagi kelompok LGBTI untuk memobilisasi pergerakannya dalam tataran global. Hari tersebut menjadi tonggak sejarah untuk menarik perhatian para pengambil keputusan, masyarakat, figur berpengaruh dan otoritas lokal pada situasi mengerikan yang dialami oleh kelompok LGBTI dan semua orang yang tidak mau mengikuti norma gender dan seksual arus utama.

Saat ini IDAHOT diperingati di lebih dari 130 negara, termasuk 37 negara yang menyatakan pernikahan sejenis illegal, dengan 1600 dari 1280 organisasi pada tahun 2014. Mobilisasi ini menyatukan jutaan orang untuk mendukung pengakuan bahwa hak asasi manusia milik semua, terlepas apa orientasi seksual, identitas dan ekspresi gendernya.

Setiap tahun para aktivis dari seluruh dunia memilih satu tema yang mereka rasa harus mendapatkan prioritas perhatian. Untuk tahun 2016, dipilih tema “Mental Health and Well Being (Kesehatan Mental dan Kesejahteraan)”. IDAHOT tahun ini dapat menjadi ruang refleksi untuk menyikapi keberagaman dalam kerangka penghormatan terhadap kemanusiaan.

Sumber :

www.pkbi-diy.info; www.idahotindonesia.net; www.gayanusantara.or.id; http://pkbi-diy.info/?p=4335

http://www.plush.or.id/2016/05/artikel-idahot-international-day.html

Puasa bagi ODHA

Puasa bagi ODHA

puasa1PUASA Ramadan adalah ibadah yang sangat mulia bagi umat muslim. Setiap orang berusaha mendekatkan diri pada Allah dengan memperbanyak ibadah, dan tidak terkecuali teman-teman yang hidup dengan HIV-AIDS.

Pada dasarnya pengidap HIV/ AIDS atau Orang dengan HIV-AIDS (ODHA) masih mungkin untuk melaksanakan ibadah puasa Ramadan dengan baik. Namun, tentunya ada beberapa syarat yang harus mereka penuhi, agar ibadah mereka bisa berjalan dengan lancar. Syarat ini wajib dipenuhi karena memang dalam masa penyembuhan penyakit yang hingga kini belum ada obatnya tersebut, ada perlakuan khusus bagi mereka. Oleh sebab itulah dalam beberapa kondisi tertentu, puasa mungkin tidak dianjurkan bagi mereka.

Tentu banyak pertanyaan yang muncul, apakah teman-teman yang hidup dengan HIV-AIDS dapat berpuasa? Kondisi apa yang diperbolehkan? Kondisi apa yang tidak dianjurkan berpuasa? Dan bagaimana cara minum obat ARV mengingat dengan puasa akan ada interval jarak minum obat lebih dari 12 jam?

Beberapa patokan yang bisa digunakan untuk mengatakan kondisi stabil adalah, Pertama, Sudah minum obat ARV dengan teratur dan rutin. Kedua, Tidak ada infeksi aktif seperti tuberkulosis, toksoplasmosis, dan lainnya. Ketiga, tidak sedang demam, diare atau mual/ muntah hebat . Keempat, Jika mungkin, kondisi CD4 di atas 200.

Bagaimana cara minum ARV selama berpuasa? Cara paling tepat mengonsumsi obat bagi ODHA adalah dengan mengubah waktu minum ARV disesuaikan dengan waktu makan bulan puasa, yaitu mulai dari waktu berbuka hingga makan sahur dan sebelum imsak. Perlu adaptasi kira-kira satu hingga dua minggu untuk minum obat dengan cara tersebut.

Untuk obat yang diminum satu kali sehari, tentunya tidak terlalu banyak perubahan. Untuk obat yang diminum dua kali sehari seperti Coviro, Hiviral, Duviral, Staviral, Aluvia, Neviral, atau Abacavir ada panduannya. Pertama, Minum obat dosis pertama saat sahur, sebelum azan subuh. Kedua, Minum obat dosis kedua, segera setelah berbuka puasa . Ketiga, Obat ARV dapat diminum baik sebelum atau sesudah makan.

Makanan Bergizi

Adapun adaptasi lain adalah jumlah obat disesuaikan dengan kebutuhan ODHA dan jenisnya harus sesuai dengan kualitas makanan bergizi, yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral serta air.

Dari hasil penelitian telah terbukti, bahwa berpuasa menyebabkan tubuh kekurangan energi. Dengan kata lain, tubuh berupaya untuk menghemat energi dan merangsang sel-sel induk atau sel puncak untuk memproduksi sel-sel darah putih yang berfungsi untuk kekebalan tubuh dan melawan infeksi.

Jadi, untuk orang-orang dengan daya tahan tubuh yang rendah, seperti ODHA maka justru dengan berpuasa yang baik dan benar, akan memberi peluang untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya, di samping tetap secara rutin dan teratur mengonsumsi ARV.

Insya Allah dengan tekad dan niat puasa yang kuat disertai kondisi badan yang fit, serta tetap minum ARV dengan teratur, pasien ODHA bisa tetap menjalankan ibadah puasa dengan lancar. (kar-24) —Dokter Erlieza Roosdhania SpPD, dokter pada Bagian Penyakit Dalam RSUD RA Kartini Jepara.

http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/puasa-bagi-odha/

Persiapan ODHA berpuasa

Persiapan ODHA berpuasa

puasa2Puasa Ramadhan adalah ibadah yang sangat mulia bagi Umat Muslim. Setiap orang berusaha mendekatkan diri pada Allah dengan memperbanyak ibadah dan tidak terkecuali teman-teman yang hidup dengan HIV-AIDS.

Banyak sekali Pertanyaan yang muncul tentunya, apakah teman-teman yang hidup dengan HIV-AIDS dapat berpuasa? Kondisi apa yang diperbolehkan? Kondisi apa yang tidak dianjurkan berpuasa? Dan bagaimana cara minum obat ARV mengingat dengan puasa akan ada interval jarak minum obat lebih dari 12 jam?

Sebenarnya, ODHA juga dapat berpuasa apabila kondisi fisik mampu dan stabil. Beberapa patokan yang bisa digunakan untuk mengatakan kondisi stabil adalah:
•    Sudah minum obat ARV dengan teratur dan rutin
•    Tidak ada infeksi aktif seperti tuberkulosis, toksoplasmosis, dan lainnya
•    Tidak sedang diare atau mual/ muntah hebat
•    Jika mungkin, kondisi CD4 diatas 200

Bagaimana cara minum ARV selama berpuasa?
Untuk obat yang diminum satu kali sehari, tentunya tidak terlalu banyak perubahan. Untuk obat yang diminum dua kali sehari seperti Coviro, Hiviral, Duviral, Staviral, Aluvia, Neviral, atau Abacavir ada panduannya yakni :

  • Minum obat dosis pertama saat sahur, sebelum adzan shubuh. Imsak bukan berarti kita tidak boleh makan atau minum tetapi pertanda bahwa sebentar lagi adzan subuh. Patokan kita tidak boleh makan atau minum lagi adalah adzan subuh.
  • Minum oabt dosis kedua, segera setelah berbuka puasa
  • Obat ARV dapat diminum baik sebelum atau sesudah makan.

Nah, Jika informasi ini kurang meyakinkan dan kamu masih penasaran. Sebaiknya konsultasikan dahulu dengan dokter mu ya sebelum memutuskan mulai berpuasa. Semoga bermanfaat dan selamat bepuasa ya

Sumber Artikel : http://www.pokdisusaids.com/index.php? dan www.odhaberhaksehat.org