Survei: Ada 5.791 Pria Gay di Depok

Survei: Ada 5.791 Pria Gay di Depok

VIVA.co.id – Sebagai salah satu penyanggah Ibu Kota Jakarta, Depok pun kian menjadi kota yang terus mengalami perkembangan. Seperti kota metropolis pada umumnya, Depok pun menjadi sasaran empuk kaum urban.Ironisnya, di tengah perkembangan tersebut, angka perilaku seks menyimpang di kota ini pun ikut mengalami peningkatan.

Data Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kota Depok bahkan mencatat, sekitar 5.791 lelaki terlibat cinta sejenis alias lelaki suka lelaki (LSL) atau yang biasa disebut gay.

“Angka ini cenderung meningkat dari jumlah sebelumnya sebanyak 4.932 LSL pada tahun 2014 lalu. Meningkatnya angka ini tidak terlepas dari posisi Depok sebagai penyanggah ibu kota. Untuk tahun ini sampai dengan bulan Agustus, estimasi angkanya sekitar 5.791,” kata Sekretaris KPA Kota Depok, Herry Kuntowo pada VIVA.co.id, Senin 16 November 2015.

Yang tak kalah mencengangkan, kaum gay di Kota Depok pun memiliki komunitas. Biasanya, lanjut Herry, mereka berkumpul di pusat perbelanjaan dan kerap mencari mangsa di toilet umum.

“Mendeteksi komunitasnya susah, mereka tertutup. Namun ciri-cirinya dapat dikenali, biasanya dia ada di toilet. Nah, kalau dia melirik-lirik khususnya ke kemaluan kita saat sedang buang air kecil, itu patut dicurigai. Biasanya mereka ada di pusat perbelanjaan, namun ada juga di panti pijat,” bebernya.

Dari ribuan LSL yang terdeteksi, tak sedikit dari mereka yang masih berusia pelajar. Terkait hal ini, Pemkot Depok, melalui KPA tak tinggal diam. Salah satu upaya yang gencar dilakukan KPA untuk menekan angka tersebut adalah dengan melakukan penyuluhan dan pembinaan.

“Kita kumpulkan untuk merubah perilakunya. Rata-rata LSL ini adalah usia produktif. Selain pembinaan dan penyuluhan, upaya konkret yang kami lakukan untuk menangkal penyebaran penyakit ialah dengan memberikan tips seks aman, dengan menggunakan alat kontrasepsi,” jelas Herry.

PSK Ikut Marak

Seiring meningkatnya perilaku seks yang menyimpang, angka ODHA di Kota Depok pun ikut merangkak naik. Tahun 2014 tercatat, ada sekitar 426 ODHA, dan di tahun ini mencapai 488 kasus dengan 27 orang di antaranya meninggal dunia. “Untuk wanita pekerja seksnya mencapai 1.033,” ucap Herry.

Sementara untuk kasus gay, lanjut Herry, jumlah titik terbanyak kumpul berada di kawasan Jalan Margonda, yang merupakan pusat Kota Depok.

“Pelakunya ada juga yang sudah berkeluarga. Banyak alasan, ada yang karena tidak berisiko hamil. Terlepas dari itu semua, faktor lemahnya iman menjadi penyebab perilaku menyimpang ini berkembang, dan ini harus menjadi perhatian kita semua,” ujar dia. (ase) © VIVA.co.id

Kisah Penderita AIDS Jadi Instruktur Rehabilitasi Narkoba

Kisah Penderita AIDS Jadi Instruktur Rehabilitasi Narkoba

Oleh : Suryanta Bakti Susila, Nur Faishal (Surabaya)     

“Jangan nama asli, panggil saja saya Mayong.”

VIVA.co.id – Mayong namanya. Jakarta tempat lahirnya, Desember 1961 silam. Tubuhnya jangkung, tapi tak tegak. Rambutnya pendek, tapi tak cepak. Bolongan kecil bekas tindikan tampak di dua telinganya. Sorot matanya tak fokus. Giginya banyak yang tanggal. Tato naga menghiasi hampir seluruh kedua lengannya.

“Jangan nama asli, panggil saja saya Mayong,” katanya membuka obrolan saat VIVA.co.id menemuinya di kantor Yayasan Orbit, tempat dia direhabilitasi sekaligus mendampingi pecandu narkotika yang ingin pulih, di kompleks perumahan Jalan Rungkut Pandugo, Rungkut, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu sore, 28 November 2015.

Mayong lahir dan tumbuh di sebuah keluarga besar di Jakarta. Dia anak ke-10 dari 12 bersaudara. Dari semua saudara-saudaranya, Mayong mengaku dialah yang paling berantakan hidupnya.

“Rumah enggak ada, keluarga berantakan, masa depan hancur. Semua karena narkoba,” katanya.

Mayong mengaku mulai bergumul dengan barang haram sekitar awal 1990an. Mulanya minuman beralkohol, terpengaruh pergaulan konsumsinya meningkat ke narkoba.

“Semua jenis saya pakai. Sak ketemune (narkoba apa pun ada di mata langsung dipakai). Waktu itu saya lebih suka mariyuana. Tahun 90an mariyuana dan putau yang ngetren,” ungkapnya.

Mayong mengaku tahun 1990an adalah masa dirinya jadi pecandu berat. Ia bahkan nimbrung di sebuah komunitas para pecandu. Waktu itu, tiada hari tanpa narkoba. Dari cimeng sampai model suntik putau, dia melakoninya.

“Kalau sudah makai, seks bebas jadi satu paket,” ujarnya.

Setelah menikah pada tahun 1994, Mayong tetap jadi pemakai. Waktu itu, bersama istrinya dia pindah tinggal di Surabaya. Dia bekerja jadi satpam di sebuah bank swasta di Jalan Dharmahusada.

“Tahun 2000 saya dipecat gara-gara narkoba. Habis itu cerai, ditinggal istri. Beruntung belum punya anak,” kata Mayong mengenang.

Menganggur dan ditinggal istri membuat ketergantungannya pada narkoba kian menjadi-jadi. Tak ada uang untuk membeli, ia lalu memanfaatkan keahliannya melukis.

“Saya jadi pelukis tato. Tapi ya gitu, berapa pun penghasilan tato, ya habis buat ngedrug,” ujar Mayong.

Tahun 2005, Mayong tiba-tiba mengalami stroke. Ia tak bisa lagi jadi pelukis tato. Diantar kakaknya yang tinggal di Jombang, ia kemudian memeriksakan diri ke dokter di Surabaya.

“Waktu itu kakak dan saya diberi pemahaman oleh dokter, dikasih tahu ada virus mematikan masuk ke dalam tubuh. Ya, HIV/AIDS (human immunodeficiency virus infection and acquired immune deficiency syndrome) itu,” katanya.

Mayong mengira, virus mematikan itu masuk ke tubuhnya melalui jarum suntik saat mengonsumsi putau dulu atau melalui seks bebas. “Dulu biasa sharing jarum suntik pas makai. Kalau lagi pengin gak kepikiran beli sendiri. Adanya satu jarum, ya dipakai gantian,” ucapnya.

Kepalang tanggung, awalnya Mayong gusar terdiagnosa HIV/AIDS. Lalu ia sadar dan berusaha tegar.

“Saya sadar ini mungkin teguran dari Tuhan. Saya menyesal. Saya kemudian ikut program pemulihan di sebuah tempat rehabilitasi di Surabaya. Keluarga besar saya kasih tahu. Kakak yang antarkan saya ke tempat rehab,” ujarnya.

Sejak itu, setiap hari Mayong mengkonsumsi dua butir obat antiretroviral, disingkat ARV. Didukung pola hidup sehat, obat yang disubsidi pemerintah ini bisa membuatnya tetap pulih sampai sekarang, meski tak sepenuhnya sembuh.

“ARV bukan menyembuhkan, tapi menekan virus agar tidak cepat menyebar ke organ inti,” katanya.

Sejak tinggal di Yayasan Orbit pada tahun 2009, Mayong merasa menemukan kehidupan baru. Bersama aktivis pemerhati pecandu, dia bahkan kini didapuk menjadi host manager di yayasan tersebut. Tugasnya menjadi instruktur bagi para pecandu yang mengikuti program pemulihan.

“Di sini ada sembilan klien. Hanya saya yang ODHA (orang dengan HIV/AIDS),” ucapnya.

Dia bersyukur masih diberi kesempatan oleh Tuhan lepas dari candu berat dan memberi manfaat untuk membantu pecandu lain untuk pulih.

“Apalagi sekarang yang saya punya. Rumah tidak ada, keluarga berantakan. Hanya ini yang bisa saya perbuat memberi manfaat pada orang lain. Saya bersyukur diberi kesempatan oleh Tuhan, dari pada teman saya banyak mati karena narkoba,” kata Mayong.

Sumber: Viva.co.id

 

Majalah Jerman Cetak Edisi dengan Tinta Darah HIV Positif

Majalah Jerman Cetak Edisi dengan Tinta Darah HIV Positif

Ilustrasi HIV positif. (ANTARA FOTO/Siswowidodo)Jakarta, CNN Indonesia– HIV, tiga huruf yang sederhana tapi mengandung persoalan besar. Sebuah majalah pria di Jerman menggunakan tinta yang dicampur dengan darah HIV positif untuk mencetak tiga ribu eksemplar majalah edisi terbarunya.

Edisi musim semi majalah Vangardist itu menggunakan darah yang disumbangkan oleh tiga orang yang terinfeksi virus HIV positif. Ini adalah upaya untuk memulai percakapan tentang HIV, menurut Saatchi Swiss, Humas perusahaan yang memimpin kampanye tersebut.

Setiap salinan majalah dibungkus di dalam plastik. Pesan sarat makna tertulis di sana, “Robek segelnya, dan bantu robek stigma.”

“Dengan proyek yang unik ini, kami ingin membuat respons dalam sekejap dengan mengubah media kepada akar dari stigma itu sendiri – dengan mencetak setiap kata, baris, gambar, dan halaman majalah dengan darah orang yang mengidap HIV positif,” kata Jason Romeyko, direktur eksekutif humas perusahaan.

“Memegang majalah tersebut, pembaca dengan segera memecahkan ketabuaan (HIV).”

Rilis majalah tersebut muncul beberapa minggu sebelum Wina menjadi tuan rumah acara tahunan Life Ball, salah satu acara amal AIDS terbesar di dunia. Majalah ini seratus persen tidak membawa risiko infeksi ketika disentuh atau dibaca, berdasarkan pedoman produksi yang ditetapkan oleh Universitas Harvard dan Innsbruck, kata perusahaan majalah tersebut.

“Sebanyak 80 persen lebih kasus HIV yang dikonfirmasi tercatat pada 2013, dibandingkan sepuluh tahun sebelumnya. Diperkirakan 50 persen kasus HIV yang terdeteksi terlambat karena kurangnya pengujian disebabkan oleh stigma sosial virus tersebut,” ucap Julian Wiehl, CEO majalah.

Menurutnya, HIV adalah masalah yang sangat relevan untuk menjadi fokus, tidak hanya dari sudut editorial, tetapi juga dari sudut pandang komunikasi yang lebih luas.(win/mer)

http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150430095148-277-50224/majalah-jerman-cetak-edisi-dengan-tinta-darah-hiv-positif/

Aplikasi Kencan Dijadikan Pendorong Tes HIV

Aplikasi Kencan Dijadikan Pendorong Tes HIV

Jakarta, CNN Indonesia — Penasihat kesehatan Amerika Serikat kini memanfaatkan cara ‘modern’ untuk menjangkau para laki-laki yang berorientasi homoseksual tentang pentingnya tes HIV. Mereka menggunakan aplikasi kencan yang tersedia di ponsel pintar.

“Orang-orang yang kami coba raih semuanya berada di situs itu,” ujar Jen Hecht dari organisasi San Francisco AIDS Foundation (SFAF), mengutip laporan kantor berita Bloomberg.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), penularan HIV baru untuk lelaki homoseksual dan biseksual pada usia 24 tahun atau lebih muda mengalami lonjakan sebesar 22 persen dari tahun 2008 ke 2010.

Instansi kesehatan yang telah berusaha menjangkau para anak muda melalui iklan konvensional kini sudah beralih menggunakan aplikasi kencan, yang memperbolehkan para pengguna menyatakan status HIV-nya dan membuat semacam pengingat untuk melakukan tes.

Pendekatan melalui aplikasi kencan tersebut diakui telah mendorong ribuan pengguna untuk berkunjung ke klinik kesehatan.

Bulan lalu, demi mempromosikan tes HIV, SFAF bersama CDC berkoordinasi dengan penyedia kampanye online dan sejumlah layanan kencan seperti Hornet dan Jack’d.

Hecht mengatakan, para perusahaan penyedia aplikasi mendonasikan beberapa pesan kepada pengguna. Pesan-pesan tersebut telah dibaca oleh 19 juta pengguna dan menghasilkan lebih dari 30 ribu klik.

Sebelumnya, perusahaan Hornet bekerja sama dengan organisasi nonprofit Filipina pada Mei 2014 lalu untuk mengirim pesan himbauan tes HIV kepada 94 ribu pengguna, lengkap dengan tautan pendaftaran tes secara online.

Kala itu, ada lebih dari 4.300 pengguna yang merespons dan 539 di antaranya positif terkena HIV.

“Mereka (lelaki gay) selalu aktif menggunakan ponselnya untuk mencari lelaki gay lainnya,” ujar pendiri sekaligus CEO aplikasi kencan Hornet, Sean Howell. “Kami punya empat juta pengguna global yang berisiko tinggi terkena HIV dan kami peduli.” (set/ded)

http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20150213164133-185-31981/aplikasi-kencan-dijadikan-pendorong-tes-hiv/

Penerapan PPIA Terkendala Stigma

Penerapan PPIA Terkendala Stigma

 Foto ANTARA / M Agung Rajasa  “Do we want to kill them or save them? Because the easiest thing is to kill them.” Begitu salah satu petikan kalimat yang disampaikan Menteri Kesehatan RI saat itu, dr Nafsiah Mboi dalam International Conference on AIDS 2014 di Australia. Apresiasi luar biasa mengalir dari para peserta pertemuan internasional yang digelar pada Juli 2014 tersebut.
 
Hanya saja, seorang perempuan pengidap HIV merasa didiskriminasi oleh RS Fatmawati. Pasalnya, dia mendapat pengalaman yang bertolak belakang dengan pemikiran Nafsiah Mboi, khususnya dalam merealisasikan keinginannya melahirkan anak ketiganya secara normal dan menyusui sang bayi. Padahal,  untuk merealisasikan keinginannya itu  sudah ada program Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA).
 
” Ibu Nafsiah mengatakan, sesuai dengan pedoman WHO (World Health Organization) yang terbaru, ibu positif HIV yang sehat dan secara pemeriksaan laboratorium memenuhi syarat, untuk memberikan ASI dan melahirkan secara normal itu sangat diperbolehkan, malah disarankan,” kenangnya. Direktur Medis dan Perawatan (Director of Medical and Nursing) RSUP Fatmawati dr Lia G Partakusuma, SpK(K), MM, menjelaskan ada tiga faktor yang berperan dalam penentuan kelahiran bayi dari ibu pengidap HIV, yakni faktor ibu, bayi, dan obstetrik.

Kepala Klinik Wijaya Kusuma RS Fatmawati Endang Pudjiningsih menilai keinginan sang ibu untuk melahirkan lewat jalan lahir (normal) adalah hal yang sangat manusiawi. Tapi dia membenarkan pertimbangan dokter di bagian kebidanan yang memperhitungkan tingkat risiko. Apalagi, lanjut dia di Indonesia belum pernah ada keberhasilan kelahiran melalui jalan lahir dari seorang ibu pengidap HIV.

“Tidak ada dokter yang ingin hal buruk bagi pasiennya. Memang tetap ada risiko 2-4% kalau secara normal. Saya juga tidak menyarankan. Memangnya bisa dimasukkan lagi itu kalau bayi sudah lahir? Kami juga enggak mau dong punya pasien yang anaknya tertular HIV. Bagaimanapun, menurut aturan kesehatan. Kalau tidak, nanti dokter yang disalahkan,” urainya.
Dokter di bagian kebidanan RS Fatmawati yang menangani sang ibu penderita HIV itu, dr Eva mengatakan, pihaknya telah mengambil tindakan terbaik setelah mempertimbangkan untung ruginya.

Berdasarkan penelitian dan patofisiologinya, kata Eva, tindakan itu diambil karena dinilai lebih aman. Dengan bedah caesar, risiko terjadinya transmisi lebih kecil dibandingkan persalinan pervaginam. “Jadi bukan mutlak-mutlakan. Kalau caesar bukan mutlak tak tertular, tapi lebih kecil karena proses kompresi di jalan lahir relatif lebih sedikit sehingga transmisi kepada bayi itu kecil,” terangnya.(Nat/T-2)

http://www.mediaindonesia.com/investigasi/read/8131/Penerapan-PPIA-Terkendala-Stigma-4/2015/02/12

ODHA Merasa masih Didiskriminasi

ODHA Merasa masih Didiskriminasi

 Foto ANTARA/ Jefri Aries  PASANGAN suami istri itu tidak dapat menutupi kekecewaan terhadap RS Fatmawati yang memberi pelayanan berbeda dari rumah sakit sebelumnya. Di mana, para tim kesehatan dianggap belum mengetahui perkembangan terbaru dunia kesehatan terkait HIV/AIDS seusuai aturan WHO.  “Kalaupun mereka tahu, mereka tetap mengikuti standar rumah sakit walau itu merugikan pasien HIV positif. Kalaupun RS Fatmawati mengklaim sudah tidak melakukan diskriminasi atau stigma kepada ODHA, menurut saya itu masih omong kosong,” ujar sang istri.

Sang suami menyayangkan petugas administrasi di RS Fatmawati yang enggan menggunakan rekam medis istrinya sebelum menjadi pasien bersalin. Padahal, istrinya sudah lima tahun berobat sebagai pasien RS Fatmawati.  “Tapi karena kami datang ke poli kandungan, perawat tidak mau repot. Dia bikin status baru yang rekam medisnya hanya satu lembar dengan analisa rujukan dari puskesmas seadanya begitu,” katanya.

Menurutnya, catatan itu pun menjadi salah satu faktor dokter kandungan mengambil tindakan rencana kelahiran secara caesar. “Kami ya miris, perawat lebih senior harapannya lebih bisa menerima kondisi pasien,” terangnya.  Mereka sempat berkomunikasi dengan salah satu staf di Kemenkes perihal perlakuan tidak ramah dari dokter maupun petugas kesehatan di RS Fatmawati pada kunjungan pertama. “Pada kunjungan selanjutnya dokter tersebut mulai ramah,” kata sang suami.

Direktur Medis dan Perawatan (Director of Medical and Nursing) RSUP Fatmawati dr Lia G Partakusuma, SpK(K), MM, membenarkan istri dengan HIV itu pernah berobat di RS Fatmawati.  “Iya, dia dulu pernah berobat di sini, tapi rawat jalan. Itu berobat sudah lama, jadi adanya data lama. Kami kan perlu memantau terus bagaimana kondisi viral load, CD4 dia yang terbaru. Karena dalam rentang waktu panjang itu kan bisa saja dia relaps lagi, kami kan enggak tahu.(Nat/T-2)

http://www.mediaindonesia.com/investigasi/read/8130/ODHA-Merasa-masih-Didiskriminasi-3/2015/02/11

Pasien B20 itu Diperlakukan Berbeda

Pasien B20 itu Diperlakukan Berbeda

Foto ANTARA Jefri Aries  KEKECEWAAN perempuan dengan HIV itu terus bertambah. Selain melarang menjalani persalinan normal, dia juga tidak bisa memberi ASI kepada sang bayi. Selain itu, papar dia, RS Fatmawati menempatkan dirinya dan sang bayi di ruangan khusus dan langsung diberikan susu formula. “Kenapa bayi saya ditaruh di ruangan yang seharusnya bukan ruangan bayi, sendirian,” ungkap dia.

Ruangan yang terletak paling ujung itu tidak berisi boks bayi. Kotak tempat bayinya adalah satu-satunya di ruangan itu dan dikelilingi berbagai peralatan yang sudah tidak terpakai seperti lampu sorot dan sebagainya. “Mungkin seharusnya itu ruangan untuk barang, tapi anak saya ditaruh di sana,” tuturnya lirih.

Dia pun merasa para perawat bersikap diskriminatif. Ketika berada di kamar perawatan, ia kerap mendengar perawat-perawat yang datang saling berbisik, “Ini B20 ya, iya ini B20. Lalu mereka itu masih takut untuk memegang saya,” kenangnya.

Dia pun berkali-kali ditawari untuk melakukan steril kandungan agar tidak lagi hamil setelah persalinan tersebut, namun ditolaknya. “Mungkin dokter berpikir, apalagi sih ini orang HIV positif melahirkan, ya sudah disteril saja. Berkali-kali mereka menawarkan,”.

Begitu pula dengan penggunaan alat-alat untuk operasi caesar yang dijalani X. Semua alat hanya sekali pakai (single use) karena telah digunakan untuk pasien yang positif HIV. Padahal menurut aturan, alat-alat itu cukup dibersihkan dengan cairan clorin.

Saat ditemui Media Indonesia, Direktur Medis dan Perawatan (Director of Medical and Nursing) RSUP Fatmawati dr Lia G Partakusuma, SpK(K), MM, menegaskan perawatan sang bayi adalah ruang bayi. Tetapi, dia membenarkan ruangannya dipisahkan dengan bayi lainnya.

“Kami kan belum tahu apakah bayi ini viral load-nya undetect atau bagaimana. Kan belum bisa dipastikan, bayi baru bisa dites itu 3-6 bulan pada saat itu badanya sudah membentuk antibodi. Dan bayi itu kan rentan penyakit, bayinya rentan, bayi orang lain juga rentan. Jadi kami preventif jangan sampai ada penularan ke bayi lain,” katanya.

Sehingga, dia membantah RS Fatmawati menggunakan ruang gudang yang tidak terpakai untuk merawat bayi dari ibu penderita HIV.  Itu ruangan bayi, tapi memang boksnya cuma satu itu, tidak dengan bayi lain. Itu bukan tempat simpan barang lah. Kami juga tidak setega itu, ucapnya. (MI/Nat/T2)

http://www.mediaindonesia.com/investigasi/read/8091/Pasien-B20-itu-Diperlakukan-Berbeda-2/2015/02/10

Belum Seluruh Rumah Sakit Paham Penanganan ODHA

Belum Seluruh Rumah Sakit Paham Penanganan ODHA

(dok. Media Indonesia)  Sudah satu windu Indonesia berupaya mengendalikan penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV), atau sejenis virus yang menyerang sel darah putih yang menyebabkan turunnya kekebalan tubuh manusia. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah bentuk lanjut dari infeksi HIV, yang merupakan kumpulan gejala menurunnya sistem kekebalan tubuh.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, HIV AIDS yang pertama kali ditemukan di Provinsi Bali pada 1987 sudah menyebar hampir di seluruh kabupaten/kota di setiap provinsi di Indonesia.

Dalam pengembangan program dalam upaya pengendalian HIV/AIDS. Indonesia selalu mengacu pada perkembangan terbaru protokol World Health Organization (WHO).

Inovasi pencegahan penularan dari jarum suntik atau harm reduction ditelurkan pada 2006 karena epidemi HIV/AIDS di Indonesia saat itu paling banyak terjadi di kalangan pengguna narkoba suntik.

Pada 2010, Kemenkes membuat program pencegahan Penularan Melalui Transmisi Seksual (PMTS) karena mulai muncul kasus HIV pada ibu rumah tangga. Kasus penularan kepada ibu rumah tangga terus meningkat, begitu pula penularan dari ibu tersebut kepada bayi yang mereka lahirkan. Kemenkes akhirnya mengeluarkan program Penguatan Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak (PPIA) pada 2011.

Program PPIA mengacu pada PPTCT (Prevention Parents To Child Transmission) yang dibuat oleh WHO yang terus diratifikasi sesuai perkembangan penelitian mengenai HIV/AIDS. PPTCT pun mengalami perubahan seiring terobosan penggunaan  obat antiretroviral (ARV) yang mulai dianjurkan WHO pada 2013 dalam program Strategic use of ARV (SUFA).
Seorang perempuan yang tidak mau disebutkan namanya, mengaku mengidap HIV dan telah mengonsumsi ARV selama 9 tahun dan secara teratur mengikuti PPIA.

Namun, perempuan yang berusia 35 tahun itu mengaku kecewa karena tidak diperbolehkan melahirkan anak keduanya secara normal dan menyusui dengan ASI.

Ironisnya hal itu dialaminya di Rumah Sakit Fatmawati yang merupakan salah satu rumah sakit pemerintah kelas A yang memiliki koordinasi langsung di bawah Kementerian Kesehatan. “Saya sangat mengikuti anjuran dokter, selama sembilan tahun minum ARV sehari 2 kali dan itu tepat waktu setiap 12 jam,” ujarnya.

Rangkaian pemeriksaan dalam program PPIA untuk memastikan kesehatan tubuh pun dijalaninya satu persatu. Dia dan suaminya memang telah merencanakan sejak lama kehamilan dan melahirkan secara normal. Mereka bahkan telah mengikuti sejumlah workshop dan konseling program PPIA.

Awalnya, dirinya kontrol kehamilan di RS St Carolus, Jakarta Pusat. Saat itu, dia ditangani dr Ekarini  dengan merujuk pada PPIA yang telah sesuai dengan perkembangan terbaru. Dia pun mendapatkan dukungan penuh untuk melahirkan secara normal dan menyusui dengan ASI.

Setelah itu, bermodal rujukan dari RS St Carolus, dia akhirnya memilih bersalin di RS Fatmawati. Dia tidak menduga akan mendapatkan penanganan yang berbeda.

“Saya adalah pasien BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan), di RS Carolus tidak menerima persalinan dengan BPJS,” tuturnya menjelaskan alasan kepindahan ke RS Fatmawati.

Dia pun sempat dirujuk ke RS Tarakan, di mana dokternya berpraktik. Namun pada bulan ke tujuh kehamilan, dia mulai mempertimbangkan jarak rumah ke rumah sakit yang cukup jauh. Dirinya adalah warga Depok, Jawa Barat.

Dia pun akhirnya dirujuk ke RS Fatmawati dengan tetap terlebih dahulu melalui jalur puskesmas sesuai aturan BPJS. Hanya saja, puskesmas yang dia datangi belum ditunjuk mengimplementasi program PPIA. “Jadi jika menemukan pasien ODHA (orang yang hidup dengan HIV/AIDS) yang hamil, mereka akan merujuk ke RS. Jadi saya ke puskesmas hanya meminta rujukan,” sambungnya.

Saat pertama kali mendatangi RS Fatmawati, dirinya dan sang suami terkejut. Pasalnya, dokter di RS Fatmawati tetap menyatakan dia harus melahirkan secara caesar.

Padahal menurutnya, dia berani untuk melahirkan secara normal karena telah yakin dengan program PPIA yang dia jalanin. Dia pun selalu meng-update aturan terbaru WHO. “Saya tidak gambling dengan urusan ini. Karena ini berhubungan dengan nyawa anak, saya sudah jelaskan tapi sepertinya memang saya tidak punya posisi tawar menawar begitu,” ujar perempuan yang juga aktivis HIV/AIDS itu.

Dirinya pun akhirnya melahirkan anak ketiganya pada 15 Desember 2014 melalui operasi caesar. Bayi dengan berat 2,5 kilogram dan panjang 47 sentimeter itu diberi susu formula oleh pihak rumah sakit. Direktur Medis dan Perawatan (Director of Medical and Nursing) RSUP Fatmawati dr Lia G Partakusuma, SpK(K), MM, membantah ada pemaksaan kepada ibu melahirkan penderita HIV untuk menjalani caesar.

“Tidak begitu, kita tidak akan serta merta memaksa orang tidak boleh ini atau itu. Sudah ada diskusi sebenarnya antara pasien dan dokter. Dokter memutuskan begitu atas pertimbangan dan memilih yang nol risiko. Ya kami juga minta maaf kalau staf kami cara penyampaiannya tidak enak, mungkin ada yang menyinggung pasien,” kata dia. (Nat/T-2)

http://www.mediaindonesia.com/investigasi/read/8089/Belum-Seluruh-Rumah-Sakit-Paham-Penanganan-ODHA-1/2015/02/09

 

Obat HIV pada orang sehat efektif membunuh virus

Obat HIV pada orang sehat efektif membunuh virus

Obat antiretroviral yang diberikan kepada orang sehat akan membunuh virus HIV.    Pemberian obat HIV pada orang sehat atau sebelum terinfeksi dipandang sebagai cara yang sangat efektif dalam mencegah penyebaran virus HIV. Obat akan menunggu kedatangan virus dan membunuhnya, jika memang sampai memasuki tubuh seseorang. Pendekatan ini bergantung pada salah satu terobosan terbesar – obat antiretroviral, lapor wartawan BBC James Gallagher.

Penelitian yang dilakukan Medical Research Council and Public Health Inggris memperlihatkan bahwa pemberian obat HIV sementara orang masih sehat menyebabkan penurunan infeksi baru sebesar 86%.

Kajian ini menunjukkan satu kasus HIV dapat dicegah pada setiap 13 orang yang dirawat dalam setahun. Salah satu anggota tim penelitian mengatakan jika obat diberikan kepada “semua pria maka kita dapat menghentikan epidemi”. Obat ini memang tidak pernah diproduksi dalam skala ini, tetapi sekarang dipandang berkemungkinan mencegah ratusan infeksi baru.

Infeksi HIV sama saja dengan hukuman mati ketika pertama kali dilaporkan pada tahun 1980-an karena semua pasien akan mengalami Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS).

http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2015/02/150225_iptek_hivaids

Kampanye WHO untuk akhiri jarum suntik bekas

Kampanye WHO untuk akhiri jarum suntik bekas

Jarum suntik yang terkontimnasi menyebabkan jutaan kasus HIV dan Hepatitis setiap tahun.   Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meluncurkan kampanye besar-besaran untuk mengurangi infeksi yang disebabkan oleh jarum suntik bekas.

Jarum suntik yang kotor dan terkontaminasi menjadi penyebab jutaan kasus HIV dan Hepatitis setiap tahun.

Di satu desa di Kamboja lebih dari 270 orang diyakini terkena HIV -virus yang menyebabkan AIDS- karena seorang pekerja kesehatan tidak resmi menggunakan jarum-jarum suntik bekas, yang kemudian menyebarkan penyakit tersebut.

WHO mendesak penggunaan jarum suntik sekali pakai (single-use syringe) yang mereka harapkan menjadi praktik baku pada 2020.

Marc Koska, penemu jarum suntik sekali pakai, mengatakan bahwa sekilas tidak ada perbedaan antara jarum suntik konvensional dan jarum suntik sekali pakai.

“Bentuknya sama persis. Jarum ini dibuat dari bahan yang sama dan dengan peralatan yang sama pula. Ongkos produksinya juga sama. Demikian juga dengan cara pengoperasian,” kata Koska dalam wawancara dengan BBC.

Yang berbeda adalah ketika alat penekan cairan ditarik kembali, alat penekan akan mengunci secara otomatis dan kemudian patah menjadi dua.

Keadaan ini memaksa alat suntik menjadi tidak bisa lagi dipakai.

http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2015/02/150223_who_jarum_suntik