PBB meluncurkan inisiatif ‘All In’ untuk mengakhiri AIDS pada remaja

PBB meluncurkan inisiatif ‘All In’ untuk mengakhiri AIDS pada remaja

Peer educator Arafat speaks with a group of school children and distribute HIV/AIDS awareness materials, in a community in Khartoum, Sudan. Photo: UNICEF/SUDA2014-XX166/Noorani  Dalam memerangi HIV/AIDS, kemajuan untuk remaja telah tertinggal, para pemimpin dunia telah berkumpul di suatu pertemuan PBB di Nairobi, Kenya, dan menekankan pada hari Selasa (17/2), saat mereka meluncurkan inisiatif global yang bertujuan untuk mengakhiri penyebab utama kedua kematian di antara kaum muda di seluruh dunia.

Sementara kemajuan besar telah dicapai di hampir setiap bidang respon terhadap virus penurun kekebalan tubuh manusia, hanya satu dari empat anak dan remaja di bawah usia 15 tahun memiliki akses terhadap pengobatan yang dapat menyelamatkan jiwa. Dan kematian mulai menurun pada semua kelompok umur, kecuali di antara usia 10-19 tahun, menurut PBB.

“Anak-anak dan orang muda harus menjadi yang pertama dalam meninkmati keuntungan dari kemajuan yang telah kita buat dalam mengakhiri epidemi, bukan yang terakhir,” kata D irektur Eksekutif Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) Anthony Lake, dalam peluncuran landasan baru untuk melakukan tindakan guna mendorong hasil yang lebih baik untuk remaja, dengan mendorong perubahan kebijakan dan melibatkan kaum muda dalam upaya tersebut.

Inisiatif ‘All In‘, suatu kemitraan antara UNAIDS [Program Bersama PBB untuk HIV/AIDS] dan UNICEF,  memiliki tujuan untuk mencapai para remaja mendapatkan layanan HIV yang dirancang sesuai dengan kebutuhan khusus mereka, dan untuk mempercepat kemajuan dalam upaya global mengakhiri epidemi AIDS pada tahun 2030.

“Kita perlu untuk mencapai para remaja yang terlewatkan, dan melibatkan semua anak muda dalam upaya untuk mengakhiri AIDS pada remaja. Bahkan, kita tidak dapat mencapai tujuan generasi yang bebas AIDS tanpa mereka,” Lake menekankan. Lebih dari 200 pendukung muda dan para pemimpin dari gerakan remaja dan pemuda hadir pada peluncuran ‘All In‘ di Nairobi pada hari Selasa (17/2).

Infeksi HIV baru di kalangan remaja belum menurun dengan cepat bila dibandingkan dengan kelompok usia lainnya. Remaja putri adalah mereka yang paling terkena dampak. Di Afrika Selatan, misalnya, lebih dari 860 anak perempuan terinfeksi HIV setiap minggunya pada tahun 2013, bila dibandingkan dengan 170 anak laki-laki.

“HIV adalah penyebab utama kematian di kalangan remaja di Afrika dan perempuan muda merupakan golongan yang paling terkena dampak. Ini adalah ketidakadilan moral. Saya mengimbau kepada kaum muda untuk memimpin gerakan ‘All In‘, bersama-sama dengan PBB, mitra publik dan sektor swasta, serta negara-negara itu sendiri, untuk mengakhiri epidemi AIDS pada remaja,” kata Michel Sidibé, Direktur Eksekutif UNAIDS.

Hal ini juga merupakan masalah yang mendesak di Asia Timur dan Pasifik. Thailand, misalnya, menghadapi kenaikan baru dalam kasus HIV, terutama di kalangan anak muda, dengan 70% dari semua merupakan kasus infeksi menular seksual (IMS), terjadi pada kelompok usia 15-24 tahun. Data baru yang diluncurkan pada tahun 2014 menunjukkan infeksi telah meningkat diantara kelompok anak muda yang berisiko, yaitu mereka yang terlibat dalam pekerjaan seks, mereka yang menggunakan obat dengan jarum suntik, dan laki-laki muda yang berhubungan seks tanpa kondom dengan laki-laki.

UNICEF di Thailand menggunakan data ini untuk berbicara dengan pemerintah tentang mengurangi usia persetujuan untuk melakukan tes HIV di bawah usia 18 tahun, memberikan pelatihan bagi petugas kesehatan yang bekerja dengan kaum muda yang memiliki risiko, dan memperluas pendidikan HIV di sekolah. Pada bulan Desember 2014, pedoman resmi mengenai tes HIV diubah sesuai dengan rekomendasi tersebut.

Sementara itu, UNAIDS telah menetapkan Sasaran Jalur Cepat baru yang ingin dicapai pada tahun 2020 untuk remaja, termasuk mengurangi infeksi HIV baru setidaknya hingga 75%, mengurangi kematian terkait AIDS hingga 65%, dan mencapai nol diskriminasi. Pencapaian target tersebut akan menempatkan dunia di jalur untuk mengakhiri AIDS pada remaja pada tahun 2030, dan mengakhiri epidemi AIDS global yang merupakan ancaman terhadap kesehatan masyarakat.

Sebagian besar dari 2,1 juta remaja yang hidup dengan HIV pada tahun 2013 menjadi terinfeksi setidaknya 10 tahun yang lalu, ketika ibu mereka sedang hamil, saat melahirkan atau pada bulan-bulan pertama kehidupan – pada saat obat antiretroviral yang dapat mengurangi kemungkinan penularan HIV tidak tersedia. Banyak yang belum pernah didiagnosis, mengundurkan diri dari program pengobatan dan perawatan.

Sumber: UN launches ‘All In’ initiative to end adolescent AIDS

http://unic-jakarta.org/2015/02/18/pbb-meluncurkan-inisiatif-all-in-untuk-mengakhiri-aids-pada-remaja/

 

Peneliti Belgia Temukan Strain HIV Baru yang Lebih Agresif di Kuba

Peneliti Belgia Temukan Strain HIV Baru yang Lebih Agresif di Kuba

ilustrasi   Leuven, Belgia, Baru-baru ini peneliti dari Belgia mengklaim menemukan strain virus penyebab AIDS yang baru di Amerika Tengah. Masalahnya, strain ini konon lebih agresif dari strain HIV yang pernah ada.

Tim peneliti dari University of Leuven, Belgia mendapatkan fakta ini setelah mempelajari sejumlah kasus HIV (Human Imunodeficiency Virus) di Kuba. Di negara yang terletak di kawasan Amerika Tengah ini dilaporkan terjadi peningkatan jumlah pasien AIDS hanya dalam kurun tiga tahun setelah terpapar HIV untuk pertama kali.

Kemudian mereka pun mencoba menganalisis sampel darah 73 pasien yang baru saja terinfeksi HIV di Kuba. Dari situ ditemukan bahwa 52 orang di antaranya telah terkena AIDS, sedangkan 21 orang lainnya dinyatakan positif HIV namun virusnya belum berkembang menjadi AIDS.

Lantas sampel darah ke-52 orang tadi dibandingkan dengan sampel darah 22 pasien AIDS yang terinfeksi virus dengan strain yang lebih umum. Ternyata dalam darah ke-52 pasien itu terkandung lebih banyak HIV dibandingkan mereka yang terkena AIDS karena virus dengan strain lama.

Oleh peneliti, strain HIV baru ini kemudian diberi nama CRF19. ‘Kelebihannya’, ketika seseorang terinfeksi strain virus ini, ia bisa terkena AIDS hanya dalam kurun 2-3 tahun setelah pertama kali didiagnosis terpapar virus. Padahal umumnya, proses ini memakan waktu sekitar 10 tahun.

“Kami telah memastikan bahwa pasien baru terinfeksi 1-2 tahun sebelumnya. Sebab saat kami lakukan tes HIV, hasilnya mereka tidak terinfeksi HIV 1-2 tahun sebelumnya. Tapi di tahun ketiga, tahu-tahu mereka sudah terkena AIDS,” ungkap peneliti utama, Professor Anne-Mieke Vandamme

Seperti dikutip dari jurnal EBioMedicine, Rabu (18/2/2015), peneliti bahkan menduga saking cepatnya perkembangan strain ini, si pasien mungkin tidak menyadari kalau ia sudah terinfeksi.

Lantas mengapa bisa begini? Prof Vandamme menduga ada perubahan fase dalam perkembangan virus HIV. Jadi secara umum, sebelum bisa masuk ke sel tubuh manusia, virus HIV harus menambatkan dirinya ke sel tersebut. Namun tidak langsung menempel ke sel, melainkan ke semacam ‘titik jangkar’ yang ada di sel dan sebenarnya adalah protein dari membran atau lapisan luar sel.

“Pada infeksi normal, virus akan menempel pada ‘titik jangkar’ yang disebut CCR5. Tapi setelah melalui periode laten, virus ini lama-lama berpindah ke ‘titik jangkar’ lainnya yang disebut dengan CXCR4 untuk bisa cepat masuk ke sel. Kami menduga, strain baru ini bisa langsung ‘nemplok’ di titik kedua lebih cepat setelah pasien terinfeksi,” jelasnya.

Akibatnya, periode laten virus HIV-nya menjadi pendek dan kondisi kesehatan pasien memburuk secara drastis. Pada akhirnya, si pasien akan mulai memperlihatkan gejala AIDS lebih cepat daripada pasien yang terinfeksi strain HIV biasa.

Peneliti semakin yakin dengan dugaan perubahan fase tersebut setelah menemukan molekul RANTES dalam jumlah tinggi di tubuh pasien dari Kuba. RANTES merupakan salah satu bagian dari sistem kekebalan manusia yang seharusnya berkolaborasi dengan CCR5 untuk mencegah virus HIV ‘menempel’ ke sel untuk pertama kali.

Namun dengan tingginya kadar molekul RANTES dalam tubuh pasien Kuba, itu artinya protein CCR5 yang ada di tubuh pasien tidaklah sebanyak seharusnya, sehingga virus HIV bisa melompat langsung ke ‘titik jangkar’ kedua dan mempercepat perkembangannya menjadi AIDS.

“Sejauh ini kami telah menemukan 144 pasien yang terkena virus rekombinan ini, bahkan mungkin bisa lebih. Rekombinan ini awalnya berasal dari Afrika tapi kami tak tahu bagaimana bisa menyebar ke Kuba, dan kami lihat penyebarannya masih tergolong lambat. Jadi belum ditemukan dimanapun,” kata Prof Vandamme.

Untungnya sang profesor juga mengatakan sebagian besar pengobatan untuk AIDS yang ada saat ini masih efektif untuk mengatasi strain HIV yang baru ini. Asalkan diagnosis dan pengobatannya dilakukan lebih dini tentunya.(lil/up)

http://health.detik.com/read/2015/02/18/073802/2836190/763/1/peneliti-belgia-temukan-strain-hiv-baru-yang-lebih-agresif-di-kuba

Kemenkes Pastikan HIV Tidak Menular Melalui Pakaian Bekas

Kemenkes Pastikan HIV Tidak Menular Melalui Pakaian Bekas

ilustrasi indonewstoday  Jakarta, HIV (Human Imunodeficiency Virus) bisa menular melalui tiga cara yakni lewat darah, cairan kelamin, dan dari ibu ke anak. Sehingga tidak tepat jika HIV disebut-sebut bisa menular melalui pakaian bekas.

“Sampai saat ini penularan HIV hanya melalui tiga cara tersebut. Selain itu, virus HIV hanya bisa hidup di tubuh manusia, jadi begitu keluar dari tubuh manusia dia akan mati,” tegas dr Endang Budi Hartuti dari Subdit AIDS dan PMS Kemenkes RI.

“Virus tersebut punya survival yang tidak begitu bagus ketika sudah berada di luar tubuh manusia,” imbuh dr Endang saat dihubungi detikHealth, Rabu (4/2/2015).

Pun ketika cairan kelamin seperti sperma atau darah menempel di pakaian dan sudah kering, virus tidak akan menular. Apalagi, mengingat butuh waktu beberapa lama pakaian bekas bisa sampai di tangan pembeli. Sehingga, bisa dipastikan virus sudah mati.

dr Endang juga menekankan sampai sekarang belum pernah ada kasus yang tercatat oleh Kemenkes bahwa penularan HIV bisa terjadi lewat penggunaan pakaian bekas. Sebab, hanya melalui kontak darah seperti penggunaan jarum suntik bersama, cairan kelamin (hubungan seksual), dan dari ibu ke anaklah HIV bisa menular.

Meski demikian, dr Endang mengimbau ketika masyarakat membeli pakaian bekas, ada baiknya cucilah terlebih dahulu. Hal ini penting dilakukan untuk menghindari penularan penyakit lain yang kemungkinan bisa terjadi, misalnya penyakit kulit.

“Tapi bukan HIV lho ya, untuk menghindari kemungkinan penularan penyakit lainnya karena sekali lagi, HIV itu kan human immunodeficiency virus, human, jadi dia hanya bisa hidup di dalam tubuh manusia,” pungkas dr Endang.

Sebelumnya, dalam wawancara dengan media Menteri Gobel menyebut pakaian bekas impor bisa menularkan berbagai penyakit termasuk penyakit kulit dan infeksi HIV. Selama ini Indonesia memang melarang impor pakaian bekas karena membuat industri tekstil beskala kecil di dalam negeri tidak berkembang. Namun kemudian Menteri Gobel segera menyampaikan maaf dan klarifikasi. (Radian Nyi Sukmasari)

http://health.detik.com/read/2015/02/04/104818/2822944/763/1/kemenkes-pastikan-hiv-tidak-menular-melalui-pakaian-bekas

 

Soal Baju Bekas Bisa Tularkan HIV, Menteri Gobel Sampaikan Klarifikasi

Soal Baju Bekas Bisa Tularkan HIV, Menteri Gobel Sampaikan Klarifikasi

ilustrasi krjogja  Jakarta, Menteri Perdagangan Rachmat Gobel menulai kecaman karena menyebut HIV (Human Imunodeficiency Virus) bisa menular lewat baju bekas impor. Melalui akun twitter, Menteri Gobel segera menyampaikan maaf dan klarifikasi.

“Mohon maaf, saya klarifikasi: mengenai pemakaian pakaian bekas bisa menularkan berbagai macam penyakit. Thanks atas koreksi berbagai pihak,” tulis Menteri Gobel melalui akun @RachmatGobel, seperti dikutip pada Rabu (4/2/2015).

Sebelumnya, dalam wawancara dengan media Menteri Gobel menyebut pakaian bekas impor bisa menularkan berbagai penyakit termasuk penyakit kulit dan infeksi HIV. Selama ini Indonesia memang melarang impor pakaian bekas karena membuat industri tekstil beskala kecil di dalam negeri tidak berkembang.

Pernyataan bahwa baju bekas bisa menularkan HIV menuai kritik pedas dari para aktivis Indonesia AIDS Coalition (IAC). Dalam rilisnya, IAC menyebut bahwa pernyataan tersebut bisa menciptakan stigma negatif terhadap upaya penanggulangan HIV yang selama ini gencar dilakukan.

Salah seorang aktivis IAC, Ayu Octariani mengatakan bahwa penyataan Menteri Gobel menjadi pekerjaan rumah bagi Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN). Menteri Kesehatan dan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan menduduki posisi ketua dalam komisi tersebut.

“Jangankan mengedukasi masyarakat umum, di lingkar kabinet sendiri yang notabene berasal dari kalangan yang cukup punya pendidikan saja masih terdapat miskonsepsi terkait HIV dan AIDS,” kata Ayu.

Para ahli mengatakan, HIV menular lewat kontak cairan tubuh. Beberapa cara penularannya adalah melalui pemakaian jarum suntik yang tidak steril secara bergantian pada pengguna NAPZA suntik, hubungan seks yang tidak aman, serta air susu ibu yang terinfeksi. (up/vit)

http://health.detik.com/read/2015/02/04/101906/2822911/763/soal-baju-bekas-bisa-tularkan-hiv-menteri-gobel-sampaikan-klarifikasi

Wow! Aplikasi Smartphone Ini Mampu Cek HIV dan Raja Singa dalam 15 Menit

Wow! Aplikasi Smartphone Ini Mampu Cek HIV dan Raja Singa dalam 15 Menit

ilustrasi sodtwarehiv  Jakarta, Aplikasi pengecek denyut jantung, asisten diet hingga penghitung kalori menjadi aplikasi kesehatan yang ramai digunakan oleh pemakai smartphone. Kini seiring berkembangnya teknologi, tes darah untuk mengecek HIV dan penyakit raja singa juga sudah bisa dilakukan dengan smartphone.

Adalah para peneliti dari Columbia University yang mengembangkan aplikasi ini. Dengan menempelkan alat sensor darah di smartphone Anda, dalam 15 menit status HIV dan penyakit raja singa atau sifilis dapat segera Anda ketahui.

“Alat ini akan merevolusi sistem pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Tak perlu keluar uang banyak dan menghabiskan waktu di laboratorium, alat ini mampu mendeteksi HIV dan Sifilis dalam waktu 15 menit,” tutur Profesor Samuel Sia, ahli biomedical engineering dari Columbia University. dikutip dari Daily Mail, Kamis (5/2/2015).

Prof Sia mengatakan bahwa alat yang belum diberi nama ini sudah diujicobakan di Rwanda, Afrika. Peneliti melakukan tes darah kepada 96 pasien yang berasal dari klinik-klinik pengobatan umum.

Pasien terdiri dari pengidap HIV positif yang ingin mencegah penularan ke anak, masyarakat yang ingin melakukan cek secara sukarela hingga para warga yang termasuk ke dalam kelompok risiko tinggi. Hasilnya, 97 persen partisipan merekomendasikan penggunaan alat ini.

Tak hanya HIV, Prof Sia mengatakan bahwa aplikasi dari alat ini juga mampu mendeteksi sifilis. Ia mengatakan bahwa dengan hadirnya alat ini, diharapkan penularan dan angka kejadian penyakit-penyakit tersebut dapat turun. Sebabnya, skrining sudah lebih mudah dilakukan.

“Kami percaya bahwa dengan waktu dan biaya skrining yang lebih sedikit, jumlah orang yang melakukannya pun akan lebih banyak. Dengan begitu harapan kami untuk memusnahkan penyakit-penyakit tersebut di tahun-tahun ke depan dapat tercapai,” tandasnya.

Saat ini alat beserta aplikasi ciptaan Prof Sia masih dalam tahap pengembangan. Rencananya aplikasi ini akan dijual dengan harga Rp 400.000 hingga Rp 500.000. (mrs/vit)

http://health.detik.com/read/2015/02/05/170253/2824837/763/wow-aplikasi-smartphone-ini-mampu-cek-hiv-dan-raja-singa-dalam-15-menit?l992203755

Hasil Riset Ilmuwan Prancis; Kode Genetik HIV Diubah, Pasien AIDS Bisa Sembuh

Hasil Riset Ilmuwan Prancis; Kode Genetik HIV Diubah, Pasien AIDS Bisa Sembuh

Foto Ilustrasi AFP  PARIS – Penderita HIV/AIDS punya harapan baru untuk bisa sembuh dari penyakit mematikan tersebut. Para ilmuwan di Prancis menemukan rekayasa genetika yang mengakibatkan virus penyebab HIV/AIDS itu tidak bisa berkembang biak. Penemuan tersebut mereka tuangkan dalam jurnal Mikrobiologi Klinik dan Infeksi. Jika dikembangkan, hal itu bisa menjadi strategi yang baru untuk memerangi penyebaran penyakit tersebut.

’’Penemuan ini ibarat sebuah jalan besar untuk penyembuhan,’’ ujar salah seorang penulis jurnal Didier Raoult dari Institut Kesehatan dan Penelitian Medis Prancis kemarin (4/11).

Penelitian itu dimulai ketika mereka menemukan adanya dua pria yang tiba-tiba sembuh dari HIV/AIDS. Masing-masing didiagnosis positif HIV sejak 30 tahun lalu dan seorang lagi sejak 2011. Kondisidua ODHA (Orang dengan HIV/AIDS, Red) tersebut pernah drop dan jatuh sakit. Namun, belakangan tes darah rutin mereka bersih. Tidak ada virus penyebab AIDS yang ditemukan. Para ilmuwan memercayai bahwa fenomena tersebut bukanlah sesuatu yang baru dan dua orang itu tidak unik. Mungkin, masih ada pasien seperti itu di luar sana.

Setelah dilakukan penelitian pada keduanya, virus HIV penyebab AIDS di tubuh dua pasien tersebut tidak aktif. Penyebabnya adalah perubahan kode genetik dalam virus HIV yang terhubung dengan sel di tubuh mausia. Hal itu tidak dijelaskan secara pasti bagaimana genetis virus HIV di dua pasien tersebut bisa berubah. Namun, berdasar penelitian para ilmuwan Prancisitu, simulasi dari sebuah enzim bisa mendapatkan efek serupa dengan yang terjadi pada kedua pasien diatas. Enzim tersebut sejatinya diteliti untuk menangani kecanduan obat.

Dalam jurnal itu, juga ditegaskan bahwa virus HIV tidak bisa memperbanyak diri akibat perubahan kode DNA tersebut. Para peneliti menyimpulkan bahwa hal itu adalah bagian dari evolusi yang terjadi secara tiba-tiba antara virus tersebut dan manusia. Itu disebut dengan endogenisasi.

’’Penyembuhan HIV mungkin bisa muncul melalui endogenisasi HIV ke manusia,’’ tulis para peneliti dalam jurnal mereka. ’’Kami percaya bahwa adanya DNA HIV ini bisa menjadi sebuah langkah untuk penyembuhan dan perlindungan dari HIV,’’ tambahnya. Saat ini penelitian tersebut masih dikembangkan. (AFP/sha/c22/ami)

http://www.jawapos.com/baca/artikel/8841/Kode-Genetik-HIV-Diubah-Pasien-AIDS-Bisa-Sembuh

 

Studi: Penggunaan Craiglist Tingkatkan Risiko Mengidap HIV

Studi: Penggunaan Craiglist Tingkatkan Risiko Mengidap HIV

Ilustrasi virus HIV/Aids (Shutterstock).  Suara.com – Sebuah penelitian di Amerika Serikat menemukan hubungan antara penggunaan Craiglist dengan meningkatnya jumlah penderitah HIV Aids. Penelitian yang digelar Universitas Minnesota itu menunjukkan bahwa untuk tiap orang yang baru mengenal situs iklan baris personal itu, maka risiko munculnya kasus HIV baru naik sebesar 16 persen.

Dalam penelitian itu para ilmuwan menganalisis data Craiglist dari 33 negara bagian di AS selama 1999 sampai 2008.

Meningkatnya kasus HIV tampak ketika membandingkan penggunaan Craiglist di wilayah-wilayah yang belum mengenal situs layanan iklan baris itu dengan daerah lain yang sudah aktif menggunakannya selama setidaknya satu tahun.

James Chan, peneliti dalam studi itu, mengatakan ia melakukan riset tersebut setelah membuka iklan-iklan Craiglist di New York, AS.

“Saya terkejut karena saya menemukan bahwa hampir semua iklan di sana adalah ajakan untuk berkencan. Iklan-iklan itu sangat eksplisit,” kata Chan.

Dalam periode riset itu, Craiglist sendiri sudah melarang iklan-iklan jasa prostitusi dan setiap tawaran jasa personal selalu ditempeli dengan peringataan berbunyi “Seks aman mengurangi risiko terjangkit penyakit yang menular lewat hubungan seksual.”

“Penelitian kami menunjukkan bahwa HIV kini menyebar lewat rute baru, yakni melewati wilayah digital,” jelas Chan.

Craiglist sendiri jamak digunakan di AS, Eropa, Australia, dan sebagian wilayah Asia. Situs ini menyediakan layanan iklan baris mulai dari lowongan pekerjaan, penjualan barang bekas, kencan, hingga jodoh. (The Independent) Liberty Jemadu

http://www.suara.com/tekno/2015/02/02/175239/studi-penggunaan-craiglist-tingkatkan-risiko-mengidap-hiv

MENKES SAMPAIKAN DUA UPAYA PENTING PENGENDALIAN HIV-AIDS

MENKES SAMPAIKAN DUA UPAYA PENTING PENGENDALIAN HIV-AIDS

ilustrasi nichd.nih.gov  Indonesia merupakan salah satu negara di Asia yang mengalami perkembangan epidemi HIV yang cepat. Meski prevalensi HIV di antara orang dewasa secara umum masih rendah, kecuali di Tanah Papua, namun prevalensi HIV pada kelompok populasi tertentu masih tinggi, seperti pada pengguna Napza Suntik atau pengguna narkoba suntik (Penasun), pekerja seks komersial (PSK) dan lelaki suka seks dengan lelaki (LSL).

Upaya pengendalian HIV-AIDS dan infeksi menular seksual (IMS) dimaksudkan untuk mencegah terjadinya penularan dan penyebaran HIV-AIDS dan IMS di kalangan masyarakat. Salah satu pendekatan pengendalian HIV-AIDS dan IMS adalah perubahan perilaku berisiko. Di samping itu, bagi mereka yang sudah tertular HIV atau disebut orang dengan HIV-AIDS (ODHA), diberikan terapi antiretroviral (ARV) untuk mencegah kematian atau mortalitas, memperpanjang umur, dan meningkatkan kualitas hidupnya.

Suksesnya Pengendalian HIV-AIDS dan IMS akan memberikan kontribusi penting terwujudnya bangsa Indonesia yang sehat, bermutu, produktif dan berdaya saing, ujar Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Moeloek, Sp.M (K), saat memberikan arahan pada Pertemuan Tahunan Kelompok Kerja dan Panel Ahli HIV-AIDS dan Infeksi Menular Seksual di Kantor Kementerian Kesehatan RI, Jumat pagi (12/12).

Sejak kasus AIDS pertama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 1987 sampai dengan saat ini, berbagai respon untuk mengendalikan penyakit ini telah dilakukan. Banyak kemajuan yang telah dicapai dalam upaya Pengendalian HIV-AIDS dan IMS dalam tiga dasa warsa terakhir, diantaranya peningkatan jenis dan cakupan layanan, peningkatan penyediaan reagen dan obat, serta bahan dan alat yang diperlukan. Meskipun demikian, masih dijumpai kesenjangan atau disparitas antar wilayah geografi, kelompok penduduk, dan tingkat sosial ekonomi. Disparitas ini utamanya terkait dengan 1) kapasitas pelayanan kesehatan, 2) jenis dan luasnya epidemi, serta 3) ketersediaan sumber daya.

Sementara itu, Millenium Development Goals (MDG) ditargetkan untuk dicapai pada tahun 2015 dan masyarakat dunia akan memulai upaya unyuk mencapai Sustainable Development Goals (SDG). Padahal, masih ada tugas yang masih harus kita selesaikan, yaitu: 1) upaya menekan laju infeksi baru HIV, 2) peningkatan pengetahuan komprehensif, 3) peningkatan penggunaan kondom pada hubungan seks berisiko, serta 4) peningkatan akses pengobatan.

Selain itu, komitmen mewujudkan Getting To 3 Zeroes: Zero New HIV Infection, Zero Stigma and Discrimination dan Zero AIDS Related Death harus kita capai. Semoga dengan adanya Pokja dan Panli HIV-AIDS menjadikan rencana kerja lebih komprehensif dan pelibatan berbagai program dapat semakin terarah dan terkoordinasi, sehingga pencapaian 3 zeroes akan segera tercapai di Indonesia., tutur Menkes.

Sejak tahun 2007, telah dibentuk Kelompok Kerja Penanggulangan HIV-AIDS dan IMS, yang beranggotakan wakil dari masing-masing unit utama di lingkungan Kementerian Kesehatan RI yang berkaitan dengan Pengendalian HIV-AIDS dan IMS. Dengan adanya Pokja tersebut, diharapkan koordinasi, sinkronisasi dan harmonisasi dalam pelaksanaan upaya pengendalian HIV-AIDS dan IMS dapat berjalan dengan sebaik-baiknya, sehingga respon terhadap epidemi HIV di jajaran kesehatan dapat berjalan secara optimal, efisien, terintegrasi dan terkoordinasi dan masyarakat yang memerlukan benar-benar mendapatkan manfaat. (Sumber: depkes.go.id)

http://diskes.sumutprov.go.id/artikel-80-menkes-sampaikan-dua-upaya-penting-pengendalian-hivaids-.html

Mendag Gobel Dikritik Aktivis HIV-AIDS Karena Baju Bekas Impor

Mendag Gobel Dikritik Aktivis HIV-AIDS Karena Baju Bekas Impor

ilustrasi ngonoodotcom  Jakarta -Dalam sebuah kesempatan, Menteri Perdagangan Rachmat Gobel menyebut pakaian bekas impor berbahaya karena bisa menularkan HIV (Human Imunodeficiency Virus). Pernyataan tersebut menuai kecaman dari Indonesia AIDS Coalition (IAC).

Dalam keterangan tertulisnya, IAC menyebut pernyataan Menteri Gobel menyesatkan dan ‘berbau hoax’ karena HIV hanya menular melalui kontak cairan tubuh. Salah paham tentang cara penularan virus mematikan tersebut, dikhawatirkan akan menciptakan stigma negatif terhadap upaya penanggulangan HIV.

Mewakili IAC, Ayu Octariani menyinggung peran Menteri Kesehatan serta Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan sebagai Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN). Dikatakan, masih ada pekerjaan rumah yang besar dalam upaya menganggulangi HIV-AIDS.

“Jangankan mengedukasi masyarakat umum, di lingkar kabinet sendiri yang notabene berasal dari kalangan yang cukup punya pendidikan saja masih terdapat miskonsepsi terkait HIV dan AIDS,” kata Ayu, seperti dikutip Rabu (4/2/2015).

Para dokter mengatakan bahwa HIV menular antara lain lewat pemakaian jarum suntik yang tidak steril, hubungan seks yang tidak aman, dan melalui air susu ibu yang terinfeksi. Penularan melalui jalur-jalur tersebut juga sudah bisa dicegah, misalnya dengan kondom pada hubungan seks tidak aman.

Sebelumnya, Gobel mengatakan bahwa menurut penelitian laboratorium, penyakit yang ditularkan mulai dari penyakit kulit hingga HIV. “(Penyakit) kulit, bisa kena HIV. Beneran, itu sudah ada hasil laboratoriumnya,” ucapnya di Gedung DPR/MPR/DPD, Jakarta, Selasa (3/2/2015).

Oleh karena itu, ujar Gobel, pihaknya akan keras dalam menindak pakaian bekas impor yang masuk. Bila ada penangkapan penyelundupan pakaian bekas, Gobel tak segan langsung membakarnya. Dia juga akan bekerja sama dengan pihak Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan.

Dari mana pakaian bekas impor ini banyak masuk? “Riau, Sulawesi Tenggara katanya. Banyak di mana-mana masuk. Masuknya juga pakai kapal nelayan yang kalau itu diberantas Bu Susi (Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan) akan berdampak luas. Bukan hanya illegal fishing, tapi juga untuk perdagangan kita sebetulnya,” papar Gobel.(up/hds)

http://finance.detik.com/read/2015/02/04/100527/2822902/4/mendag-gobel-dikritik-aktivis-hiv-aids-karena-baju-bekas-impor

Tenaga Rehabilitasi Korban Narkoba Kurang

Tenaga Rehabilitasi Korban Narkoba Kurang

JAKARTA, KOMPAS.com – Kementerian Sosial masih kekurangan tenaga rehabilitasi penyalahguna narkotika dan obat-obatan berbahaya. Penyediaan tenaga untuk rehabilitasi itu penting karena dalam enam bulan ke depan Kementerian Sosial menargetkan penanganan 10.000 penyalahguna narkoba.

Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial (Kemensos) Samsudi mengatakan, untuk merehabilitasi 10.000 penyalahguna narkoba dibutuhkan 700 pekerja sosial (peksos) dan 500 konselor adiksi dengan rasio yaitu 1 peksos menangani 7 orang penyalahguna narkoba dan 1 orang konselor adiksi menangani 10 penyalahguna narkoba. Namun, saat ini, baru tersedia 117 peksos dan 113 konselor adiksi sehingga Kemensos masih kekurangan 583 peksos dan 387 konselor adiksi.

Lanjutkan baca