20 PSK Kena HIV/Aids Masih Aktif Layani Pria Hidung Belang

20 PSK Kena HIV/Aids Masih Aktif Layani Pria Hidung Belang

BANJARBARU –  Wakil Walikota Banjarbaru Dr Ogi Fajar Nuzuli, membeber data mengejutkan saat rapat koordinasi (Rakor) bulanan pemko baru dimulai, kemarin.

Berdasar data dari kementerian kesehatan, dia menyebut di Kota Banjarbaru ini ada 800 orang terinfeksi HIV/AIDS.

Ogi yang juga selaku Ketua Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Banjarbaru itu merinci, dari perkiraan 800 warga itu, ada 105 telah diketahui identitasnya. Dari 105 orang itu 20 orang adalah Pekerja Seks Komersial (PSK) di eks Lokalisasi Pembatuan Jalan Kenanga Kelurahan Landasan Ulin.

Lanjutkan baca

Gubernur Bali Soroti Maraknya Kasus Bunuh Diri dan HIV

Gubernur Bali Soroti Maraknya Kasus Bunuh Diri dan HIV

Denpasar – Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengimbau masyarakat untuk meningkatkan komunikasi dalam keluarga guna mencegah kasus bunuh diri yang marak terjadi akhir-akhir ini di Pulau Dewata.

“Manusia itu cenderung introvert, itulah yang menyebabkan manusia susah untuk bercerita, jika memiliki masalah. Inilah sebagian besar yang menjadi pemicu hilangnya nyawa seseorang secara sia-sia,” kata Pastika saat berbicara di atas Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS), di Denpasar, Minggu (1/2).

Lanjutkan baca

Ibu-Ibu Rentan Tertular HIV/AIDS

Ibu-Ibu Rentan Tertular HIV/AIDS

NANGA BULIK– Penyebaran penyakit HIV/AIDS ternyata bukan hanya terjadi di kota-kota besar saja. Tetapi, penyakit yang hingga kini belum ada obatnya ini, ternyata telah merambah hingga daerah-daerah, hal ini disampaikan oleh narasumber dalam acara sosialisasi bahaya dan pencegahan HIV/AIDS, di aula kantor kecamatan Nanga Bulik, Jumat (30/1) Pada sosialisasi tersebut, komisi penanggulangan AIDS (KPA) kabupaten Lamandau, juga menggandeng direktur RSUD setempat untuk menjadi nara sumber. “Dari data tahun 2014, di kabupaten Lamandau, ditemukan 7 penderita HIV/AIDS, dan kaum ibu-ibu adalah salah satu pihak yang sangat rentan tertular penyakit tersebut,” kata Sekretaris KPA kabupaten Lamandau, Multatuli.

Lanjutkan baca

Pengidap HIV/AIDS Di Batu Meningkat, Ibu Rumah Tangga Terserang

Pengidap HIV/AIDS Di Batu Meningkat, Ibu Rumah Tangga Terserang

Kabar24.com, BATU – Penderita HIV/Aids di Kota Batu, Jawa Timur, cenderung menunjukkan tren yang meningkat. Kondisi tersebut mengundang keprihatinan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu karena penderitanya termasuk ibu rumah tangga.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Batu, Sri Rahati, mengatakan saat ini tercatat ada 136 penderita HIV/Aids yang tinggal di Kota Batu. Dari jumlah itu 50 penderita di antaranya sudah meninggal dunia.

“Yang mengejutkan penderita HIV/AIDS ini ternyata adalah ibu rumah tangga. Mereka menjadi subyek yang paling rentan tertular HIV/AIDS. Rata-rata ibu rumah tangga yang tertular HIV itu disebabkan karena tertular oleh suaminya,” kata Sri Rahati, Minggu (25/1/2015).

Lanjutkan baca

Waspadai 3 Hal Ini Agar Tidak Terkena HIV AIDS

Waspadai 3 Hal Ini Agar Tidak Terkena HIV AIDS

ilustrasi  Bisnis.com, JAKARTA—Kementerian Kesehatan mengatakan selain pemakaian narkoba dan seks bebas, ada tiga hal yang perlu diwaspadai agar terhindar dari penularan HIV. Hal tersebut umumnya sudah banyak diketahui masyarakat tapi tidak banyak orang yang merasa harus melakukannya.

Transfusi Darah Waspadai transfusi darah yang tidak steril, pastikan bahwa saat mendonorkan darah ataupun berada dalam kondisi memerlukan tranfusi darah tersebut bersih dan steril dari berbagai virus terutama HIV.

Tatto Dan Piercing Atau Tindik Tatto dan piercing atau tindik ini pun  harus diwaspadai karena bisa menjadi media penyebaran HIV. Untuk itu, pastikan jarum yang digunakan sudah steril atau baru.

ASI Dari Ibu Pengidap AIDS Wanita hamil penderita AIDS memiliki kemungkinan untuk menularkan HIV kepada janin yang dikandungnya karena cairan ini merupakan salah satu media penyebaran HIV.

Untuk pencegahan penyebaran bisa dilakukan dengan tidak memberikan ASI kepada bayi tersebut, tutur Siti Nadia, Subdit AIDS Kementerian Kesehatan di Jakarta Kamis (15/01). Lebih lanjut, pencegahan tersebut bisa dilakukan asalkan sudah mengetahui kondisi HIV-nya dari semenjak awal terinfeksi.Hal-hal inilah yang perlu diwaspadai oleh masyarakat agar terhindar dari penularan HIV hingga AIDS,katanya. (Fitri Rachmawati)

http://lifestyle.bisnis.com/read/20150115/106/391216/waspadai-3-hal-ini-agar-tidak-terkena-hiv-aids

 

Penyebaran HIV Di Indonesia Terbanyak Dari Pekerja Seks

Penyebaran HIV Di Indonesia Terbanyak Dari Pekerja Seks

iliustrsi  Bisnis.com, JAKARTA- Kementerian Kesehatan mengatakan media penyebaran virus HIV terbanyak di Indonesia adalah melalui hubungan seksual khususnya di kalangan pekerja seks, karena rata-rata mereka secara konsisten tidak menggunakan kondom.

Subdit AIDS Kementerian Kesehatan Siti Nadia menjelaskan penyebaran virus HIV di Indonesia paling banyak melalui media hubungan seks khususnya yang konsisten tidak menggunakan kondom.

“Baik itu heteroseksual maupun homoseksual, dan populasi terbanyak pertama pekerja seks, pengguna narkoba suntik, homoseksual, waria dan trans gender,” tuturnya Minggu (18/1/2015).

Adapun pada awal epidemi penyebaran virus HIV di Indonesia memang awalnya lebih banyak dari pengguna narkoba yang menggunakan berbagai jarum suntik. Namun kondisi saat ini menurut data dilapangan justru media yang terbanyak melalui hubungan seks khususnya dari pekerja seks.

Di mana penularan melalui seks ini sangat beresiko terhadap lelaki yang membeli atau menjadi pelanggan pekerja seks, lalu si lelaki tersebut kemudian menularkan kembali kepada pasangannya seperti pacar atau istrinya, dan akhirnya akan ditularkan oleh istrinya kepada anaknya pada masa kehamilan berlangsung sampai menyusui.

“Untuk itu kepada masyarakat diimbau untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat tertular virus HIV,” katanya. (Fitri Rachmawati)

http://lifestyle.bisnis.com/read/20150118/106/392180/penyebaran-hiv-di-indonesia-terbanyak-dari-pekerja-seks

KASUS HIV/AIDS: Paling Banyak Usia Produktif, Baru 30% Terdeteksi

KASUS HIV/AIDS: Paling Banyak Usia Produktif, Baru 30% Terdeteksi

ilustrasi  Bisnis.com, JAKARTA — Pengidap sindrom penurunan daya tahan tubuh (HAIV/AIDS) di Indonesia paling banyak adalah kelompok usia produktif.

Hal itu berdasarkan data Kementerian Kesehatan dari 2013 hingga 2014.  Kelompok usia produktif  itu adalah kelompok usia 25 sampai 49 tahun melalui transmisi heteroseksual hampir 61,5%.

 Siti Nadia dari Subdit AIDS Kementerian Kesehatan mengatakan dari total pengidap baru HIV/AIDS, rata-rata adalah kelompok usia produktif,  khususnya  penularan melalui perilaku seks bebas, baik dengan pasangannya atau pekerja seks komersial (PSK).

 “Akibatnya perilaku tersebut menyumbang 61,5% penularan HIV/AIDS terbanyak di Indonesia,” tuturnya Rabu (21/1/2015).

 Sementara itu, untuk tahun 2013 pengidap HIV baru sebanyak 29.037 dan AIDS 6.266 orang. Sedangkan,  tahun 2014  (konsidi hingga September) tercatat kasus baru HIV sekitar 22.869 dan AIDS 1.876 orang.

 “Dari data tersebut belum bisa disimpulkan pengidap HIV /AIDS apakah mengalami peningkatan atau penurunan, karena data belum terkumpul,” katanya.

 Menurutnya estimasi dari orang dengan HIV/AIDS (odha) adalah 591.823. Saat ini baru tercatat 150.296 orang, sehingga dari angka ini baru sekitar 30% odha yang ditemukan.

 “Perlu untuk kita mengakselerasi dan melakukan deteksi dini orang-orang yang berisiko HIV,” tambahnya. (Fitri Rachmawati)   

 http://lifestyle.bisnis.com/read/20150121/106/393304/kasus-hivaids-paling-banyak-usia-produktif-baru-30-terdeteksi                            

Cegah Peningkatan HIV, Kemenkes Lakukan PMTS Dan TOP

Cegah Peningkatan HIV, Kemenkes Lakukan PMTS Dan TOP

ilustrasi blackdoctor.org  Bisnis.com, JAKARTA – Tingginya jumlah pengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Indonesia mendorong Kemenkes fokus terhadap pencegahan penyebaran virus tersebut melalui program PTMS (Pencegahan Transmisi Menular Seksual) dan program TOP (Temukan Obati dan Petahankan) pada kelompok kunci atau rentan virus HIV.

Siti Nadia, Kasubdit HIV, AIDS dan Penyakit Menular Seksual Direktorat Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2ML) Kementerian Kesehatan, mengatakan melalui program PTMS dan TOP (Temukan Obati dan Pertahankan) kepada kelompok kunci yang rentan terhadap virus ini sebagai langkah akselerasi pencegahan virus HIV yang masih tinggi di Indonesia.

“Kelompok kunci menjadi prioritas utama karena kelompok kunci inilah yang sangat rentan terhadap penyebaran virus HIV,” tuturnya Minggu (25/1/2015).

Adapun kelompok kunci yang dinilai sangat rentan terhadap virus HIV, antara lain pekerja seksual, pengguna narkoba suntikan (penasun), waria dan transgender, penderita TB, ibu hamil, penderita infeksi menular seksual, pasangan ODHA (orang dengan HIV dan AIDS), pasien hepatitis, orang yang tinggal di daerah epidemi HIV hingga warga binaan pemasyarakatan.

Menurutnya, melalui program pencegahan transmisi menular seksual (PMTS) dan melakukan deteksi dini dengan strategi temukan obati dan pertahankan (TOP) yakni dengan menawarkan tes HIV secara rutin kepada kelompok kunci minimal setiap 6 bulan sekali dinilai akan mencegah percepatan penyebaran virus ini.

Selain itu, memberikan obat artinya segera minum obat Anti Retrovirus (ARV) tanpa harus melihat nilai CD4nya pada kelompok kunci seperti ibu hamil, koinfeksi TB HIV dan hepatitis, dan ODHA dengan CD4 kurang dari 350.

“Dan yang dimaksud pertahankan dalam program TOP ini adalah kegiatan untuk mempertahankan kepatuhan terjadap pengobatan ARV dengan melibatkan dukungan komunitas ODHA dan LSM,” katanya.

Ia menambahkan memilih intervensi pencegahan yang sesuai dengan pola penularan HIV seperti program rumatan dan metadon untuk menghilangkan ketergantungan terhadap penggunaan alat suntik dan penyedian alat suntik steril.

Selain itu, menyediakan pelayanan perawatan, dukungan dan pengobatan dapat di akses dan di manfaatkan oleh Orang yang terinfeksi HIV (ODHA). 

“Dan program-program pencegahan lainnya akan terus dilakukan a.l. melalui kampanye Aku Bangga Aku Tahu atau ABAT yang menyasar masyarakat di usia 15-24 tahun,” tambahnya. (Fitri Rachmawati)

http://lifestyle.bisnis.com/read/20150125/106/394864/cegah-peningkatan-hiv-kemenkes-lakukan-pmts-dan-top

                                

HIV/AIDS: Begini Cara Virus Penggembos Daya Tahan Bergerilya Di Tubuh Kita

HIV/AIDS: Begini Cara Virus Penggembos Daya Tahan Bergerilya Di Tubuh Kita

ilustrasi  Bisnis.com, JAKARTA — Sebelum berbicara tentang cara kerja virus HIV dalam tubuh, ada baiknya kita pahami apa itu HIV?

Virus ini hanya menyebar dan bekerja pada tubuh manusia. Dialah penyebab immunodeficiency  alias perusak sistem kekebalan dengan cara membuat daya tahan tubuh kita berkurang atau menurun. HIV di dalam tubuh bersifat menghancurkan sel-sel penting yang bertugas melawan penyakit. Tubuh yang kekurangan sistem kekebalan tidak dapat terlindungi dari penyakit. Virus ini berproduksi dengan cara mengambil alih sel tubuh yang diinfeksinya.

Pendeknya, HIV adalah virus yang masuk ke dalam tubuh dan melemahkan sistem kekebalan yang jika terus memburuk akan membawa pengidap HIV pada kondisi AIDS yakni kondisi hilangnya sistem pertahanan tubuh. Sehingga semua jenis infeksi dapat masuk dan akhirnya mengakibatkan kematian. Pada dasarnya sifat virus HIV dengan virus lainnya seperti influenza atau campak hingga polio sama saja, tidak jauh berbeda. Perbedaanya hanya pada sistem kekebalan yang ada di dalam tubuh akan mampu mengusir semua virus tersebut.

Cara Kerja HIV Dalam Tubuh Tubuh manusia mempunyai sistem kekebalan yang sering disebut sebagai sel darah putih. Sistem kekebalan tubuh kita mempunyai tugas yang berbeda yaitu sel CD4 positif bertugas sebagai sel yang mengenali dan memberi informasi jika ada benda atau sel asing yang masuk ke dalam tubuh. Sedangkan yang lainnya bertugas untuk menyerang dan melumpuhkan sel asing tersebut setelah menerima informasi dari sel CD4 positif. Nah, HIV adalah virus yang secara khusus menjadikan sel CD4 positif sebagai target serangan.

Proses HIV melumpuhkan sistem kekebalan tubuh manusia Pertama, HIV masuk ke tubuh dan mencari sel-sel CD4 positif, kemudian virus ini masuk ke sel CD4 positif untuk melumpuhkan dan menguasainya dengan cara memperbanyak diri di dalam sel CD4 positif ini. Kedua, sel-sel HIV baru yang telah menjadi banyak ini kemudian keluar dan mencari sel-sel CD4 positif lainnya dan mengulangi proses yang sama. Lalu ketiga, sel-sel penyerang datang dan menghancurkan sel CD4 positif yang telah terinfeksi HIV. Namun, sel-sel HIV yang baru telah menjadi banyak dan cepat mencari sel-sel CD4 positif dan memperbanyak diri lagi di dalamnya. Keempat, setelah melewati beberapa waktu, tubuh akan semakin banyak kehilangan sel-sel CD4 positif dan sistem kekebalan tubuh menjadi lemah.

Itu terjadi karena tugas sel-sel CD4 positif untuk mengenali sel-sel asing yang masuk ke dalam tubuh tersebut telah dikalahkan virus HIV. Karena sel-sel tubuh CD4 positif berkurang dalam tubuh, maka tubuh tidak bisa menerima informasi yang cukup untuk membentuk sel-sel penyerang yang dibutuhkan.Dalam keadaan seperti inilah berbagai jenis penyakit dapat masuk ke tubuh tanpa dapat dikenali dan dilawan. Akhirnya, rata-rata pengidap HIV berujung pada kematian.

http://lifestyle.bisnis.com/read/20150105/106/387965/hivaids-begini-cara-virus-penggembos-daya-tahan-bergerilya-di-tubuh-kita

2015 Tahun Penuh Tantangan, Peluang dalam Penanggulangan HIV/AIDS

2015 Tahun Penuh Tantangan, Peluang dalam Penanggulangan HIV/AIDS

Gel mikrobida dalam aplikator di Rumah Sakit Baragwanath di Soweto, Afrika Selatan, yang ambil bagian dalam studi mikrobisida yang disebut CAPRISA 004.  Pada awal 2015 akan diumumkan hasil dari keampuhan vaksin mikroba untuk secara efektif mencegah HIV.

Kepala lembaga advokasi HIV/AIDS ternama mengatakan 2015 adalah tahun penuh peluang besar dan tantangan berat dalam menanggulangi wabah yang sudah berlangsung 35 tahun dan menjangkiti lebih dari 30 juta orang.

Mitchell Warren mengatakan, tantangan memasuki tahun baru 2015 adalah bagaimana temuan-temuan ilmiah terbaru bisa diterapkan. Warren adalah direktur pelaksana AVAC, yang menurutnya, “bertujuan mempercepat pengembangan etika dan penyampaian secara global, terhadap cara-cara pencegahan HIV, sebagai bagian dari tanggapan yang menyeluruh.”

“Ini adalah tahun yang akan menentukan arah AIDS. Kita sudah memasuki periode wabah HIV/AIDS, lebih dari 34 tahun,” ujarnya.

“Sekarang adalah saatnya kita mengetahui apakah kita berada di jalur yang tepat untuk secara tuntas menghentikan wabah ini, atau terus bergelut dari tahun ke tahun dengan harapan melakukan yang terbaik, namun tidak tahu secara pasti.”

Ia mengatakan pada awal 2015 akan diumumkan hasil dari keampuhan vaksin mikroba untuk secara efektif mencegah HIV.

“Seperti yang Anda ingat, tahun 2010 lalu, kita mendapatkan bukti konsep awal uji coba CAPRISAyang menunjukkan bahwa gel tenofovirsebagian berperan melindungi perempuan-perempuan di Afrika Selatan,” ujarnya.

Tenofovir adalah antiretroviral yang umumnya digunakan untuk menjinakkan virus dalam tubuh, namun juga dikenal ampuh mencegah infeksi.

Sejak 2010, sebuah studi dilakukan untuk memastikan dan mengembangkan hasil temuan CAPRISA. Temuan ini disebut FACTS001 dan juga dilakukan di Afrika Selatan. Studi ini didanai pemerintah Amerika, Afrika Selatan dan Yayasan Gates.

Warren mengatakan FACTS001 bisa memastikan apakah geltenofovir, yang digunakan sebelum atau sesudah aktivitas seks bisa mencegah infeksi HIV.

“Hasilnya diharapkan diketahui padakwartal pertama tahun ini. Jika hasilnya positif dan membenarkan temuan CAPRISA, barulah kami pikirkan bagaimana menerapkannya di luar dari percobaan klinis. Jadi, saya berpendapat kwartal pertama ini sangat menarik, dengan menanti hasil uji coba tersebut,” ujarnya.

Juga di Afrika Selatan, uji coba vaksin AIDS lain sedang dilakukan tahun ini. Uji coba ini merupakan tindak lanjut uji coba vaksin Thailand pada 2009yang menunjukkan bahwa perlindungan terhadap HIV dimungkinkan. Namun hasil uji coba Afrika Selatan dan studi-studi terkait, belum akan tersedia untuk beberapa tahun ke depan.

Warren tidak melihat wabah HIV/AIDS akan berkahir, setidaknya dalam 10 tahun ke depan. Salah satu kendala adalah stigma dan diskriminasi yang terus berlangsung.

Ia mengatakan, jika masalah ini tidak diselesaikan, maka tidak ada vaksin atau antiretroviral yang akan efektif dalam jangka panjang. Ia menambahkan bahwa “belum ada hasil medis yang bisa mengubah persepsi seseorang tentang orang lain.”(Joe de Capua)

http://www.voaindonesia.com/content/tahun-penuh-tantangan-peluang-dalam-penanggulangan-hiv/2593689.html