Lecture Series Partisipasi Remaja yang Bermakna dalam Program Kesehatan Reproduksi

Menurut WHO, remaja adalah mereka yang berada pada tahap transisi Antara masa kanak-kanak dan dewasa, dengan batasan usia 12-24 tahun. Pada masa remaja seseorang mengalami pertumbuhan dan perkembangan pesat baik fisik, psikologis maupun intelektual, hal ini menyebabkan remaja memiliki rasa ingin tahu yang besar, menyukai tantangan serta cenderung berani mengambil risiko atas perbuatannya tanpa didahului oleh pertimbangan yang matang. Risiko untuk terjerumus pada perilaku berisiko menjadi lebih besar ketika keputusan yang diambil tidak tepat, bahkan mungkin akan menanggung akibat dalam bentuk berbagai masalah kesehatan fisik dan psikologis. Salah satu masalah yang bisa timbul akibat perilaku tersebut adalah masalah kesehatan reproduksi. Kesehatan reproduksi sering disalahartikan secara sempit hanya sebagai hubungan seksual saja, sehingga banyak orang tua yang merasa bahwa topik pembicaraan ini tidak pantas untuk dibicarakan dengan remaja. Padahal, kesehatan reproduksi merupakan keadaan kesehatan fisik, mental, dan sosial yang sangat penting untuk dimengerti oleh remaja, sehingga tidak melulu membahas mengenai hubungan seksual. Oleh karena itu remaja perlu mendapatkan informasi dan pengetahuan yang benar mengenai kesehatan reproduksi ini.  Pemahaman yang masih rendah mengenai kesehatan reproduksi tentunya akan berdampak pada aktivitas seksual remaja dan risiko-risiko yang menyertainya seperti kehamilan di luar nikah, aborsi, infeksi menular seksual, dan lain sebagainya. Selain informasi dan pengetahuan yang benar, remaja juga membutuhkan pelayanan kesehatan reproduksi yang dapat memenuhi kebutuhan remaja. Upaya-upaya untuk mengembangkan program-program kesehatan reproduksi bagi remaja telah banyak dilakukan, salah satunya adalah dengan melibatkan remaja itu sendiri dalam pengembangan program. read more

[Friday Coffee Break] Lecture Series Paham dan Peduli HIV: Tes dan Pengobatan HIV

Tes dan Pengobatan HIV merupakan lecture series kedua dari rangkaian 6 lecture series yang direncanakan oleh Pusat Penelitian HIV-AIDS, Unika Atma Jaya bekerja sama dengan program Friday Coffee Break – UNIKA Atma Jaya. Pada lecture series ini dibahas mengenai pentingnya melakukan tes HIV, bagaimana dan dimana melakukan tes HIV serta terapi apa yang dapat dilakukan setelah mengetahui seseorang terinfeksi HIV. Sesi ini dibawakan oleh dr. Eldaa Prisca Refianti Sutanto yang merupakan salah satu alumni dari Fakultas Kedokteran UNIKA Indonesia Atma Jaya. read more

[Friday Coffee Break] Lecture Series HIV: Penularan dan Pencegahannya

                Pusat Penelitian HIV/AIDS Unika Atma Jaya bekerja sama dengan UNIKA Atma Jaya dalam kegiatan Friday Coffee Break, yaitu Lecture Series yang akan diadakan sebulan sekali setiap hari Jumat di Kampus Atma Jaya Semanggi. Lecture Series X Friday Coffee Break ini merupakan satu rangkaian kegiatan yang terdiri dari 6 Lecture Series.

                Lecture Series pertama, yaitu HIV: Penularan dan Pencegahannya, yang dibawakan oleh dokter Alegra Wolter yang merupakan salah satu alumni dari FK UAJ, dan mengatakan bahwa HIV  tidak dapat menginfeksi orang lain melalui gigitan serangga, berbagi makanan, batuk, bersin, berpelukan, keringat dan lain lain. HIV dapat menginfeksi orang lain melalui hubungan seks bebas, transfusi darah dan penggunaan jarum suntik. read more

Lecture Series “Risiko Penularan HIV pada Pasangan Populasi Kunci”


Lecture Series yang diadakan pada tanggal 26 Maret 2019 lalu membahas tentang Risiko Penularan HIV pada Pasangan Populasi Kunci yang dibuka oleh Kepala Pusat Penelitian HIV/AIDS UAJ, Ibu Evi Sukmaningrum, dan dihadiri oleh 4 pembicara, yaitu Lydia Verina Wongso dari PPH UAJ, Oldri Sherli Manukuan dari UNFPA, Ibu Posma Ida Manulu dari PKVHI, dr. Lanny Luhukay dari Subdit AIDS, Kemenkes RI.

Lydia Verina Wongso (PPH UAJ), memaparkan hasil kajian di 6 kota yang dilakukan oleh PPH Atma Jaya mengenai “Faktor Risiko dan Perlindungan Penularan HIV pada Pasangan Tetap Heteroseksual di Indonesia”. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa potensi penularan HIV dari populasi kunci ke pasangan tetap  meningkat, dan faktor-faktor yang meningkatkan potensi penularan HIV antara lain, kekerasan, ketergantungan emosi dan finansial, praktek poligami, perkawinan dini, dan kawin kontrak. Beberapa hambatan layanan yang ditemui dari hasil kajian lapangan ini adalah: enggannya klien menceritakan faktor risikonya ketika menerima konseling di fasilitas layanan kesehatan, tidak dilakukannya Konseling sebelum dan sesudah tes HIV, sulitnya menjangkau pelanggan pekerja seks perempuan sebagai kelompok ‘jembatan penularan HIV’ serta mobilitas Penasun dan WPS yang cukup tinggi. read more

Lecture Series HIV: Infeksi Oportunistik dan Ko-Infeksi

Lecture Series X Friday Coffee Break

Paham dan Peduli HIV/AIDS

HIV: Infeksi Oportunistik & Ko-Infeksi

Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia. Seseorang yang telah ditulari virus HIV, lama kelamaan daya tahan tubuhnya akan menurun, terlebih apabila tidak dilakukan pengobatan secara dini. Dengan kekebalan tubuh yang kurang kuat ini, maka orang dengan HIV sering mengalami berbagai Infeksi oportunistik (IO), yaitu infeksi yang sering terjadi pada individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Karena infeksi ini mengambil keuntungan dari sistem kekebalan tubuh seseorang yang lemah tersebut, maka ia dinamakan infeksi oportunistik. Infeksi ini dapat disebabkan oleh virus, bakteri, jamur atau parasit. Infeksi oportunistik yang sering terjadi pada orang dengan HIV adalah candidiasis, infeksi pheumonia, diare, herpes simpleks, toksoplasmosis, dan lain sebagainya. Tentunya bagi orang dengan HIV perlu mengenal berbagai IO yang berkemungkinan menyerang mereka, supaya dapat mencegahnya ataupun apabila terkena IO tersebut dapat segera mencari bantuan untuk pengobatannya. read more

LECTURE SERIES RISIKO PENULARAN HIV PADA PASANGAN POPULASI KUNCI

Jumlah kasus penularan HIV di Indonesia mulai bergeser dari pengguna napza suntik (penasun) ke penularan melalui hubungan seksual yang tidak aman. Data Kementerian Kesehatan (2016) menyatakan penularan HIV melalui hubungan seksual secara heteroseksual mendominasi sekitar 61% dari seluruh kasus HIV dan AIDS yang dilaporkan akibat dari perilaku seks yang tidak aman terutama ditemukan pada pasangan intim. Risiko penularan HIV pada pasangan intim dipengaruhi oleh faktor sosial dan ekonomi. Perilaku penggunaan kondom, relasi gender, perilaku penggunaan alkohol, merupakan beberapa faktor yang termasuk faktor sosial yang berkontribusi pada risiko penularan HIV pada pasangan. Penggunaan napza suntik (penasun) disebutkan sebagai salah satu perilaku yang berkontribusi pada penularan HIV pada pasangan (Sylversten et al, 2013; Nadol et al, 2015; Murthy, 2012; Gilbert 2010). Terdapat beberapa faktor yang berkontribusi pada tingginya penularan HIV pada pasangan intim di kelompok penasun, seperti penggunaan kondom yang rendah (El Bassel et al, 2014; Chakrapani, 2012) dan pasangan penasun yang tidak mengetahui status HIV pasangannya (Manaf et al, 2013).

Disamping faktor sosial di atas, kerentanan ekonomi juga dianggap sebagai salah satu penyebab terjadinya penularan HIV pada pasangan (Benoit, 2013; Syversten et al, 2013; Montgomery, 2012; Li et al, 2014). Faktor lain yang juga berkontribusi terhadap penularan HIV pada pasangan adalah ketidaktahuan pasangan akan status HIV pasangannya. Menurut Mucheke (2016), orang yang tidak memperdulikan status HIV pribadi dan pasangannya juga berpotensi untuk tertular HIV. Tidak mengungkapkan status HIV dapat terjadi Karena merasa takut mengetahui hasil kesehatan dan merasa bersalah terhadap pasangan (Cameron, 2012; Mucheke, 2016). Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa faktor risiko seperti perilaku penggunaan napza suntik, penggunaan kondom yang rendah, kekerasan dan ketidakpedulian terhadap status HIV turut berkontribusi terhadap prevalensi penularan HIV pada pasangan intim.

Beberapa upaya dapat dilakukan untuk melindungi pasangan dari HIV. Menurut Makwe dan Giwa-Osagie (2013) tes HIV berpasangan, sunat pada lelaki dan penggunaan kondom dinilai dapat melindungi pasangan dari penularan HIV. Selain itu, pasangan yang memiliki tingkat hubungan yang kuat dan komunikasi yang baik cenderung untuk melakukan seks dengan aman (Palinkas, 2014; Pettifor, 2014). Berbagai intervensi pun sudah dirancang untuk mengurangi risiko penularan HIV pada pasangan. Program tes HIV bersama pasangan (couple-based testing) juga dapat dilakukan sebagai bagian dari intervensi HIV pada pasangan (Spino et al, 2010). Menurut El-Bassel dan rekan (2012), program tes HIV berpasangan yang mempertimbangkan faktor kontekstual budaya dan sekaligus dilakukan bersama dengan materi pengurangan risiko dampak

buruk napza dapat berkontribusi pada menurunnya penularan HIV, meningkatkan penggunaan kondom secara aman dan mengurangi kekerasan berbasis gender pada kelompok penasun dan pasangannya. Becker dan rekan (2014) menambahkan konseling HIV yang ditambahkan dengan konseling kontrasepsi berhasil meningkatkan penggunaan kondom sebanyak 61%. Walaupun demikian, terdapat beberapa pertimbangan yang harus dicermati dalam melaksanakan tes HIV berbasis pasangan.

Untuk melihat pemanfaatan berbagai intervensi pada pasangan tetap populasi kunci yang telah dilakukan di Indonesia dan bagaimana program-program intervensi tersebut dapat mendukung pengurangan risiko penularan HIV pada pasangan populasi kunci, maka Pusat Penelitian HIV-AIDS (PPH) UNIKA Atma Jaya akan mengadakan lecture series yang akan mengupas permasalahan seputar intervensi pada pasangan tetap tersebut.

TUJUAN

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pemaparan mengenai strategi dan intervensi-intervensi yang dilakukan untuk perlindungan penularan HIV pada pasangan populasi kunci serta mendiskusikan berbagai permasalahan atau kendala yang dihadapi dalam pelaksanaannya.

 

WAKTU DAN TEMPAT

Kegiatan ini akan diselenggarakan pada:

Hari/Tanggal : Selasa / 26 Maret 2019

Waktu : 12.00 – 16.30

Tempat : Ruang Y.14.07, Gedung Yustinus Lt. 14, Kampus UNIKA Atma jaya Semanggi

Jl. Jend. Sudirman No. 51, Jakarta

 

PESERTA

Sasaran peserta lecture series ini adalah LSM pelaksana program HIV dan Harm Reduction (HR), penyedia layanan HIV dan HR, serta stakeholder yang terkait

 

SUSUNAN KEGIATAN

Waktu Kegiatan

11:45 – 12:00 Pendaftaran Peserta

12:00 – 12:30 Makan siang bersama

12:30 – 13:15 Paparan hasil penelitian PPH: Faktor Risiko dan Perlindungan HIV pada Pasangan Tetap oleh Tim Peneliti PPH

13:15 – 14:00 Strategi Penjangkauan Pasangan Populasi Kunci oleh UNFPA

14:00 – 14:10 Break

14:10 – 15:00 Pelayanan Test HIV bagi Pasangan Populasi Kunci oleh Subdit AIDS, Kemenkes

15:00 – 15:45 Fisibilitas Konseling Berpasangan oleh PKVHI

15:45 – 16:30 Diskusi Tanya jawab

 

LINK PENDAFTARAN :

http://tinyurl.com/LS-PPHUAJ

Jika Anda memiliki pertanyaan, silahkan hubungi:

Sari Lenggogeni | WA: 0812-8961-3557
development-pph@atmajaya.ac.id
atau datang ke PPH di Kampus UNIKA Atma Jaya Semanggi, Gedung K2, Ruang K21.08

WORKSHOP: Pengantar Analisis dan Visualisasi Data menggunakan Excel

Seringkali kita mendapat kesulitan dalam mengolah dan menganalisa data. Banyaknya data yang dimiliki membuat kita bingung akan bagaimana data-data tersebut dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan pekerjaan, penelitian atau dalam hal tugas kuliah. Sebenarnya cukup banyak software-software untuk pengolahan data yang dapat dimanfaatkan, misalnya SPSS, STATA, Minitab, SAS, dan lain sebagainya. Namun masing-masing software memiliki kelebihan/kekurangan serta kerumitan tersendiri, terlebih lagi sebagian besar dari software tersebut memiliki harga yang cukup mahal.

Microsoft Excel merupakan program aplikasi pada Microsoft Office yang digunakan dalam pengolahan angka. Program ini sering lebih sering dikenal dalam pencatatan dan pembuatan laporan keuangan. Namun ternyata dengan menggunakan Excel kita juga dapat membuat rangkuman, menganalisis dan mengeksplorasi data, serta mempresentasikannya dalam bentuk visual yang menarik. Salah satu keuntungan bekerja dengan Excel untuk analisis dan visualisasi data adalah hampir semua orang yang bekerja dengan komputer mempunyai aplikasi ini di dalam komputer/laptopnya, serta sebagian besar dari mereka juga lebih terbiasa dalam menggunakan aplikasi ini. Oleh karena itu, Pusat Penelitian HIV dan AIDS (PPH) Atma Jaya, merancang seri pelatihan pengolahan data dengan menggunakan Excel, yaitu mulai dari tingkat dasar (pengantar), Intermediate, hingga tingkat Advance.

TUJUAN

Kursus ini bertujuan membantu peserta untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar di dalam menghadapi tantangan pengolahan data agar dapat menjadi seorang data analis mandiri.

 WAKTU DAN TEMPAT

Kegiatan ini akan diselenggarakan pada:

Hari/Tanggal   : Kamis / 28 Maret 2019

Waktu              : 09.00 – 16.00

Tempat            : Ruang Seminar K2.203, Kampus UNIKA Atma jaya Semanggi,   Jl. Jend. Sudirman No. 51, Jakarta

SILABUS

Kursus ini akan disampaikan sesuai dengan tahapan-tahapan yang dilakukan dalam analisis data.

  1. Introduction: Peserta akan diperkenalkan mengenai struktur dan sistematika kursus serta tujuan akhir yang akan dicapai.
  • Data Exploration: Pada bagian ini peserta akan diperkenalkan pada cara melakukan impor data dari berbagai sumber menjadi data Excel spreadsheet yang akan dilanjutkan dengan eksplorasi data dalam bentuk konsistensi format, menghilangkan duplikasi data dan mengatasi data yang hilang (missing value)
  • read more

    LECTURE SERIES PAHAM DAN PEDULI HIV/AIDS 2019

    Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia. Penularan virus HIV dapat terjadi melalui cairan tubuh seperti darah, cairan vagina, sperma, dan ASI, namun tidaklah semudah yang dibayangkan atau mitos-mitos yang berkembang di masyarakat. Ada beberapa persyaratan atau kondisi yang harus dipenuhi  sehingga virus HIV dari seseorang dapat menulari orang lain, yang kita kenal dengan 4 prinsip penularan HIV, yaitu Exit, Survive, Sufficient dan Enter. Harus ada virus HIV yang keluar melalui cairan tubuh penginap HIV yang dapat bertahan hidup sampai virus tersebut masuk ke cairan tubuh orang lain dengan jumlah yang memadai dan masuk ke dalam tubuh seseorang, jika keempat prinsip ini terpenuhi barulah seseorang tersebut berisiko untuk tertular virus HIV.

    Banyak sekali mitos-mitos atau berita-berita hoax yang beredar di masyarakat mengenai cara peularan virus HIV ini, seperti HIV menular melalui alat makan, virus HIV dapat ditularkan melalui makanan kaleng yang sudah disuntikkan darah yang mengandung  virus, HIV dapat ditularkan melalui jarum suntik terinfeksi yang ditancapkan di bangku bioskop, dan banyak lagi berita-berita lain yang membingungkan masyarakat. Walaupun sudah banyak juga bantahan akan ketidakbenaran berita tersebut, namun masih banyak masyarakat yang masih mempercayainya. Pemahaman yang keliru ini dapat memicu stigma dan diskriminasi terhadap orang-orang dengan HIV dan AIDS. Oleh karena itu, pemberian informasi yang benar mengenai cara penularan dan pencegahan HIV, disamping dapat membentengi diri dari penularan HIV, juga harapannya dapat stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV dan AIDS di masyarakat secara umum.

    TUJUAN

    Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan informasi yang tepat mengenai HIV dan AIDS kepada audience sebagai bekal untuk mengurangi risiko penularan HIV dan juga secara tidak langsung akan berdampak pada pengurangan stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV.

    PENDAFTARAN

    LECTURE SERIES ini akan diadakan sepanjang tahun 2019 yang terbagi ke dlaam 6 sub-topik, yaitu sebagai berikut:

    1. HIV: Penularan dan Pencegahan | 29 Maret 2019 | 16.00 – 17.30
    2. HIV: Tes dan Pengobatan | 5 April 2019 | 16.00 – 17.30
    3. HIV: Infeksi oportunistik dan ko-infeksi | 3 Mei 2019 | 16.00 – 17.30
    4. HIV: Stigma dan diskriminasi | 28 Juni 2019 | 16.00 – 17.30
    5. HIV dan populasi spesifik | 6 September 2019 | 16.00 – 17.30
    6. Hidup baik dengan HIV/AIDS | 4 Oktober 2019 | 16.00 – 17.30

    Pendaftaran dapat dilakukan melalui link berikut:

    http://tinyurl.com/LS-PPHUAJ

    Jika Anda memiliki pertanyaan, silahkan hubungi: read more

    “Kualitas melalui inklusi”: Evaluasi pelatihan dan advokasi layanan kesehatan oleh komunitas di Indonesia

    “Kualitas melalui inklusi”: Evaluasi pelatihan dan advokasi layanan kesehatan oleh komunitas di Indonesia

    Penelitian terhadap populasi minoritas seksual dan gender (atau LGBTI) seringkali membuktikan bahwa populasi ini lebih rentan untuk memiliki kondisi kesehatan yang terganggu. Penelitian dari Institute of Medicine (IOM,2011) misalnya, menemukan bahwa minoritas seksual dan gender lebih rentan untuk dilecehkan, menjadi korban viktimisasi, menderita depresi hingga kecenderungan bunuh diri, dan cenderung memiliki prevalensi konsumsi rokok dan alkohol yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan populasi heteroseksual. Hal ini bisa jadi ada hubungannya dengan kenyataan bahwa populasi tersebut masih hidup dalam stigma, marjinalisasi, dan diskriminasi. Kondisi hidup tersebut, secara langsung atau tidak langsung, kemudian mempengaruhi kondisi kesehatan populasi minoritas seksual dan gender.

    Meskipun LGBTI lebih rentan memiliki masalah kesehatan, mereka seringkali masih harus menerima diskriminasi dari tenaga kesehatan dan bahkan diputus aksesnya untuk menerima fasilitas kesehatan. Selain itu, tenaga kesehatan juga memiliki pengetahuan yang rendah mengenai kebutuhan spesifik LGBTI terkait kesehatan, sehingga kurang mampu memberikan pelayanan kesehatan berkualitas. Pembuat dan perencanaan kebijakan bidang kesehatan juga seringkali tidak mempertimbangkan kebutuhan spesifik LGBTI terkait kesehatan sehingga tidak semua kebutuhan mereka dapat dipenuhi dalam fasilitas kesehatan publik.

    Membuka ruang partisipasi bagi populasi minoritas seksual dan gender dalam perencanaan program kesehatan, terbukti mampu meningkatkan akses populasi tersebut terhadap layanan kesehatan. Untuk mencari tahu lebih dalam terkait dampak partisipasi komunitas terhadap pelayanan kesehatan, COC sebagai organisasi yang sudah bergerak untuk meningkatkan fasilitas kesehatan bagi LGBTI, mengajak Pusat Penelitian HIV/AIDS UNIKA Atma Jaya sebagai partner akademis untuk negara Indonesia dalam penelitian yang juga akan dilaksanakan di negara Kenya dan Afrika Selatan. Penelitian ini rencananya akan berlangsung dari bulan April 2018 hingga Agustus 2019. Objektif penelitian ini ada tiga, yaitu:

  • Mencari tahu tingkat pemberdayaan komunitas, perilaku mencari layanan kesehatan, serta hubungan antara keduanya, juga pengalaman stigma dan diskriminasi yang dialami LGBTI saat mengakses fasilitas kesehatan.
  • Mendokumentasikan dan mendeskripsikan (terutama pada aspek framing, pendekatan, dan strategi) beragam pelatihan kesehatan dan advokasi terhadap kebijakan kesehatan yang sudah dilakukan oleh organisasi partner COC.
  • Mencari tahu dampak dari program-program pada poin dua terhadap sikap, pengetahuan, dan praktek pada penyedia layanan kesehatan dan pembuat kebijakan kesehatan.
  • read more

    Sumbangan untuk Permenkes RI No 21 Tahun 2013 yang Lebih Baik

    Sumbangan untuk Permenkes RI No 21 Tahun 2013 yang Lebih Baik

    Permenkes RI No 21 Tahun 2013 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS sudah digunakan selama lima tahun terakhir sebagai payung hukum yang menjadi fondasi dari seluruh program HIV-AIDS di Indonesia dalam semua level. Program-program yang diatur mencakup program individual dan keluarga, promosi kesehatan komunitas, pencegahan, diagnosa, perawatan, maupun rehabilitasi. Meskipun begitu, dalam lima tahun terakhir, banyak pula perubahan dan perkembangan terkait program HIV-AIDS yang mungkin belum dipertimbangkan dan dicantumkan dalam pembuatan Permenkes tersebut. Perkembangan terbaru tersebut mencakup ketersediaan akses pengobatan bagi ODHA tanpa mempedulikan tingkat keparahan dan CD4, promosi ARV, monitoring & evaluasi, dan lain sebagainya. Selain itu, perpindahan fungsi Komite Penanggulangan AIDS Nasional menjadi Program AIDS Nasional juga belum tercantum dalam peraturan tersebut. Padahal, peraturan tersebut selama ini sudah menjadi panduan dalam pembagian tugas antar distrik, provinsi, dan pemerintah pusat agar program HIV yang ada dapat dijalankan secara berkesinambungan.

    Menanggapi isu di atas, Pusat Penelitian HIV & AIDS (PPH UAJ) bekerjasama dengan Subdit AIDS, WHO, dan Hukormas berinisiatif untuk memberikan sumbangan berupa draft dari revisi Permenkes tersebut. Keberadaan proyek ini juga dirasa penting untuk dilakukan karena sejalan pula dengan Peraturan Presiden RI No 59 tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang berharap kementrian tidak mengeluarkan lebih dari satu peraturan untuk program kontrol penyakit yang sama. Draft ini tentunya disusun setelah melakukan peninjauan ulang oleh dua tim konsultan terhadap setiap pasal-pasal yang ada. Adapun proyek ini rencananya akan berlangsung mulai dari minggu ke empat bulan Februari 2018 hingga akhir Agustus 2018 dan melibatkan berbagai ahli dan komunitas di bidang HIV-AIDS dalam bentuk pertemuan-pertemuan konsultatif. Proyek ini rencananya juga akan ditutup dengan diselenggarakannya sebuah diseminasi yang mengundang stakeholders berskala nasional.

    Edwin Sutamto