Tantangan untuk menyikapi permasalahan sosial dan struktural dalam melaksanakan penanggulangan AIDS: Catatan Seminar (4)

Tantangan untuk menyikapi permasalahan sosial dan struktural dalam melaksanakan penanggulangan AIDS: Catatan Seminar (4)

Artikel ini merupakan Catatan Seminar ke-4 sebagai rangkuman Seminar “Menyikapi Determinan Sosial dalam Penanggulangan HIV dan AIDS  di Indonesia” yang diadakan tanggal  16 Maret 2017 lalu.

Pada sesi ini, seminar membahas tantangan untuk menyikapi permasalahan sosial dan struktural dalam melaksanakan penanggulangan AIDS. Pembicara-pembicara pada sesi ini adalah Lembaga/Yayasan pendamping komunitas dan juga penyedia layanan kesehatan.

Sebagai pembicara pertama adalah Ahmad Maulana dari Yayasan Inter Medika (YIM), LSM yang bergerak pada komunitas LSL. Pada kesempatan ini, Ahmad mengemukakan bahwa strategi penjangkauan selama ini terasa monoton sehingga banyak kelompok dampingan (KD) yang merasa hanya sebagai obyek, terlihat dari kecilnya angka partisipasi anggota komunitas. Disamping itu, adanya sikap homophobia dan Ormas yang semakin lantang meneriakkan isu anti LGBT menyebabkan banyak KD yang tidak mau mengakses layanan di daerah tempat tinggalnya. read more

Catatan Seminar: Menyikapi Determinan Sosial dalam Penanggulangan HIV AIDS di Indonesia (3)

Catatan Seminar: Menyikapi Determinan Sosial dalam Penanggulangan HIV AIDS di Indonesia (3)

Artikel ini adalah artikel ketiga sebagai catatan seminar “Menyikapi Determinan Sosial dalam Penaggulangan HIV AIDS di Indonesia”. Seminar ini diadakan pada tanggal 16 Maret 2017 yang lalu. Sebagai keynote speaker dalam seminar ini adalah Prof. Irwanto PhD, beliau adalah peneliti senior pada PPH Unika Atma Jaya

Pada kesempatan ini, Prof. Irwanto menyampaikan materi mengenai “PROBLEM SOLVING DAN NORMA SOSIAL-BUDAYA- AGAMA”

Norma sosial-budaya, dan agama sebagai deeper knowledge. Dalam evolusinya selama ribuan tahun, disepakati adanya norma sosial dan budaya. Selanjutnya, ketika keyakinan dari pencipta menjadi bagian dalam hidup kita, maka muncullah norma agama. Norma-norma inilah yang digunakan untuk mengatur hidup kita sebelum adanya hukum positif. Nantinya, norma-norma ini akan dimasukkan ke dalam hukum positif atau legal framework. read more

Catatan Seminar: Menyikapi Determinan Sosial dalam Penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia (2)

Catatan Seminar: Menyikapi Determinan Sosial dalam Penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia (2)

Artikel Catatan Seminar Bagian ke-2 ini akan merangkup sesi tanya jawab yang berlangsung setelah paparan sesi pertama mengenai Permasalahan Sosial dan Struktural untuk Mewujudkan Pemenuhan Hak atas Kesehatan bagi Populasi Kunci.

Pertanyaan oleh Octavery Kamil

Dari pemaparan teman-teman tadi, sebagian telah mencoba untuk berbicara ke Kementerian Kesehatan dan pihak-pihak yang lain. Dalam pandangan teman-teman sendiri, apakah kita sudah melakukan yang seharusnya bisa kita lakukan atau masih ada yg kurang dalam konteks kerja di CSO? Kalau kita lihat, mulai dari 2006, kita sudah mendapatkan tempat istimewa dan dukungan dari KPA. Kita juga sudah memiliki akses di nasional maupun daerah. Apa itu semua sudah dilakukan atau masih ada yang belum dilakukan? Atau jangan-jangan kita mengerjakannya secara sendiri-sendiri sehingga menyebabkan tidak ada tanggapan dari pemerintah. read more

Catatan Seminar: Menyikapi Determinan Sosial dalam Penanggulangan HIV AIDS di Indonesia (1)

Catatan Seminar: Menyikapi Determinan Sosial dalam Penanggulangan HIV AIDS di Indonesia (1)

Pada tanggal 16 Maret 2017, Pusat Penelitian HIV AIDS Unika Atma Jaya menyelenggarakan seminar dengan topik “Menyikapi Determinan Sosial dalam Penanggulangan HIV AIDS di Indonesia” Seminar ini menghadirkan pembicara dari jaringan populasi kunci, LSM, Kementrian Kesehatan, profesional dan akademisi.

Kegiatan seminar ini akan dirangkum dalam empat artikel catatan seminar yang disusun sesuai sesi materi seminar.

Sesi 1: Permasalahan sosial dan struktural untuk mewujudkan pemenuhan hak atas kesehatan bagi populasi kunci read more

Peranan Masyarakat Sipil dalam Advokasi Revisi UU Narkotika

Peranan Masyarakat Sipil dalam Advokasi Revisi UU Narkotika

Pada 30 Agustus 2016. Pusat Penelitian HIV (PPH) Unika Atmaja mengadakan acara bulanan Lecture Series yang mengangkat topik Peranan Masyarakat Sipil dalam Advokasi Revisi UU Narkotika. Acara yang diadakan di Unika Atma Jaya dihadiri oleh 23 orag dari LSM HIV AIDS dan mahasiswa Unika Atma Jaya menghadirkan narasumber; Simplexisius Asa, Patri Handoyo, Asmin Fransiska, dan Darmawel Aswar dari BNN.

Perkembangan Revisi Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika

Perkembangan tentang wacana perevisian UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika mulai menguat ketika pada tahun 2013, rehabilitasi menjadi tolak ukur perlunya melakukan perevisi tersebut. Bahkan hal tersebut sudah masuk dalam Program Legislasi Nasional (proleknas). Ketika RUU masuk dalam proleknas, maka RUU tersebut perlu diutamakan. Pada tahun 2014, DPR Komisi 3 melakukan inisiasi untuk melakukan revisi UU tersebut. Pada proses isiasi tersebut, terjadi perubahan Kepala BNN, dari bapak Anang ke bapak Budi Waseso. Pada tahun 2015, Pak Budi Waseso, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) memberikan statement terkait niatnya untuk merevisi UU tersebut. Niat itu juga direstui oleh DPR lewat rapat yang diadakan oleh Badan Lesgislasi (Baleg) Komisi 3 DPR dengan menyetujui perevisian UU No. 35 tahun 2009. Dalam rapat selanjutnya, terdapat sepuluh RUU yang dijadikan sebagai proleknas prioritas yang seharusnya harus siap pada tahun 2016, namun tidak dapat dicapai pada tahun ini. Waktu yang dibutuhkan untuk membahas UU beserta NA adalah enam bulan. read more

Hambatan Riset Universitas di Indonesia : Studi Kasus Unika Atma Jaya

Hambatan Riset Universitas di Indonesia : Studi Kasus Unika Atma Jaya

Pada Hari Senin 27 Juni 2016, di Unika Atma Jaya diadakan acara Diseminasi Hasil Penelitian hasil kerjasama Knowledge Sector Initiative (KSI) dan Unika Atma Jaya dengan pembicara Prof. DR. Phil. Hana Pangabean dihadiri oleh Rektor, dosen dan staff dari Unika Atma Jaya.

Latar belakang penelitian adalah rendahnya jumlah publikasi penelitian Indonesia periode 1996-2008, yaitu berada di bawah Nigeria, Singapura, Thailand, dan Malaysia. Penelitian ini ingin mengetahui hambatan-hambatan apa saja yang menghalangi kinerja penelitian universitas. Sementara, tujuan penelitiannya adalah mengetahui diagnosa hambatan dan coping mechanism, penyebab, strategi advokasi dan intervensi dalam menjawab hambatan-hambatan yang ada. read more

Catatan Penelitian Dampak Penutupan Lokalisasi

Catatan Penelitian Dampak Penutupan Lokalisasi

foto LS0616 1Pada acara Lecture Series yang dilakukan secara rutin setiap bulanya, pada bulan ini membahas mengenai Catatan Penelitian Dampak Penutupan Lokalisasi. Acara ini dilaksanakan pada 24 Juni 2016 bertempat di Unika Atma Jaya, Jakarta dengan narasumber Ignatius Praptoraharjo – Peneliti Senior PPH Unika Atma Jaya dan Liana dari Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI). Dihadiri oleh 19 orang dari berbagai lembaga peduli HIV AIDS.

Pada sesi pertama presentasi dibawakan oleh Ignatius Praptoraharjo yang biasa dipanggil mas Gambit, menjelaskan bahwa Studi ini akan digunakan sebagai bahan untuk workshop perubahan strategi Program Pencegahan HIV Melalui Transmisi Seksual (PMTS) pasca penutupan lokalisasi. Penelitian ini ingin menilai aktivitas kebijakan penutupan lokalisasi , itu dilakukan di empat lokalisasi di tempat yang berbeda, yaitu Keramat Tunggak di Jakarta, Saritem di Bandung, Dolly di Surabaya, dan Tanjung Elmo di Papua. read more

Public Exposure  Berteman dengan Data; Penggunaan Infografis dalam Penyajian Data HIV

Public Exposure Berteman dengan Data; Penggunaan Infografis dalam Penyajian Data HIV

PE0616 1Pada 21 Juni 2016, Pusat Penelitian HIV (PPH) Unika Atma Jaya mengadakan acara Public Exposure Berteman dengan Data; Penggunaan Infografis dalam Penyajian Data HIV. Acara diadakan di Unika Atma Jaya dihadiri oleh 28 orang dari berbagai lembaga peduli HIV AIDS. Materi dibawakan oleh Natasya Sitorus – Manager Advokasi Lentera Anak Pelangi.

Tujuan acara ini; Untuk memperkenalkan cara lain dalam mempresentasikan data penelitian. Menambah wawasan peserta tentang ragam penyajian data penelitian menjadi lebih menarik dan mudah dipahami oleh pembaca. Presentasi penggunaan infografis dalam memaparkan hasil penelitian di PPH Unika Atma Jaya read more

Jumpa Pers Hasil Penelitian Awal Kekerasan Seksual pada Anak Jalanan

Jumpa Pers Hasil Penelitian Awal Kekerasan Seksual pada Anak Jalanan

Jakarta. Menurut statistik pemerintah Indonesia, pada tahun 1998 sebesar 2,8 juta anak-anak usia 10 sampai dengan 14 dinegara ini telah putus sekolah, bekerja untuk mendapatkan uang dan / atau menjual koran, pedagang asongan, menyemir sepatu, tukang parkir, pengamen, pemulung dan pengemis. Sementara pesentase remaja jalanan yang benar-benar menjadi tunawisma dan tinggal di stasiun bus, stasiun kereta dan tempat fasilitas umum tidak diketahui. Komisi Nasional Indonesia untuk Perlindungan Anak memperkirakan bahwa ada sekitar 1,7 juta anak jalanan yang rentan di seluruh 26 provinsi di Indonesia. read more

Lecture Series; Understanding HIV Risk in Transgender Youth

Lecture Series; Understanding HIV Risk in Transgender Youth

Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah waria yang cukup banyak. Menurut data statistik yang dimiliki Persatuan Waria Republik Indonesia, jumlah waria yang terdata dan memiliki Kartu Tanda Penduduk mencapai 3.887.000 jiwa pada tahun 2007. Saat ini menurut Kementerian Sosial Republik Indonesia bahwa belum adanya data yang akurat dan mutakhir tentang gambaran atau profil waria. Pada umumnya, seseorang disebut remaja jika usianya antara 18 sampai 21 tahun. Namun berbeda untuk waria atau kaum transgender. Sampai usia 30 tahun, mereka masih disebut remaja. Waria remaja ini biasanya masih mencari jati diri keputusan mejadi seorang transgender. read more