Diseminasi Hasil Penelitian Evaluasi dan Intervensi Terapi Rumatan Metadon (PRTM) di DKI Jakarta

Diseminasi Hasil Penelitian Evaluasi dan Intervensi Terapi Rumatan Metadon (PRTM) di DKI Jakarta

  Pengguna napza suntik (penasun) adalah salah satu kelompok yang rentan terhadap infeksi HIV. Menurut hasil Survei Terpadu Biologi dan Perilaku (STBP) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2011, prevalensi HIV pada penasun sebesar 41% dan belum semua penasun mengikuti program pengurangan dampak buruk (harm reduction). Misalnya, hanya 53% yang mengakses layanan PTRM dan 50% yang mengakses Layanan Alat Suntik Steril (LASS).

Program PTRM diluncurkan secara resmi pada tahun 2006. Di propinsi DKI Jakarta terdapat 18 layanan PTRM yang tersebar di 5 wilayah dengan 1.193 penasun yang mengakses layanan tersebut secara aktif. Program PTRM diluncurkan mengingat gangguan adiksi memerlukan penanganan komprehensif, berproses, dan bersifat jangka panjang.

Disadari bahwa selama kurang lebih 8 tahun ini PTRM belum menunjukkan hasil yang maksimal, baik dari sisi klien (pengguna layanan) dan dari sisi klinik (pemberi layanan). Isu-isu seputar pemberian dosis, angka drop out, kepatuhan, dan lain-lain masih dirasakan.

Berkaitan dengan hal ini, Kementerian Kesehatan Ditjen PP & PL bekerja sama dengan Pusat Penelitian HIV dan AIDS Unika Atma Jaya Jakarta melakukan suatu penelitian operasional untuk memperbaiki layanan PTRM dan memberikan rekomendasi untuk penyempurnaan pedoman tata laksana PTRM di masa yang akan datang.

Penelitian ini terdiri dari tiga tahap, tahap penjajakan, tahap intervensi, dan tahap evaluasi. Dengan sudah diselesaikannya tahap penjajakan, maka Pusat Penelitian HIV dan AIDS Unika Atma Jaya Jakarta akan mengadakan dialog bersama dengan Kementerian Kesehatan (Ditjen PP & PL), PKM yang memiliki layanan PTRM, dan klien PTRM untuk memaparkan hasil penjajakan dari penelitian ini. Dialog ini diharapkan dapat mengonfirmasi hasil penjajakan kepada klien maupun penyedia layanan untuk kemudian merekomendasikan bentuk intervensi yang bisa dilakukan.

Acara yang diadakan di Ruang Ilmiah 1. Unika Atma Jaya Jakarta dihadiri sekitar 50 orang dari Kementerian Kesehatan RI – Subdit AIDS. Puskesmas (PKM) dan klien dari Gambir , Grogol Petamburan, Tambora , Tanjung Priuk dan Kios Atma Jaya. Acara ini bertujuan untuk; Memaparkan dan menginformasikan hasil penjajakan yang telah dilakukan;Menentukan prioritas permasalahan yang ditemukan dari hasil penjajakan; danMerekomendasikan bentuk-bentuk intervensi yang bisa dilakukan.

Diseminasi dibuka oleh ibu Afri dari Kementrian Kesehatan dengan pemaparan mengenai latar belakang diadakannya penelitian operasional untuk evaluasi dan intervensi PTRM di DKI Jakarta. DKI Jakarta dipilih sebagai lokasi penelitian karena jumlah klien PTRM terbanyak ada di wilayah ini.

Beliau mengatakan, “Evaluasi yang dilakukan perlu menggunakan konteks Layanan Koprehensif Berkesinambungan (LKB) dalam melihat sejauh mana PTRM terintegrasi dengan LKB untuk HIV/AIDS dan masih banyak klien PTRM yang datang untuk mengakses layanan belum di tes HIV. Faktor-faktor yang menyebabkan ini juga perlu mendapat perhatian”

Beliau menambahkan, “Saat ini ada 18 titik layanan PTRM yang aktif di DKI Jakarta. Di beberapa daerah terlihat adanya penurunan jumlah klien, namun para staf penyedia layanan masih memiliki komitmen besar untuk tetap menyediakan layanan. Kasus di Batam misalnya, dari 76 klien menjadi 6 klien PTRM, namun staf tetap memiliki komitmen untuk menyediakan layanan’

Acara dilanjutkan dengan pemaparan dari Theresia Arum mewakili Tim peneliti PPH Atma Jaya mengenai hasil penjajakan yang sudah dilakukan dalam penelitian operasional untuk evaluasi dan intervensi PTRM.

Setelah pemaparan dari hasil penemuan di lapangan, muncul berbagai pendapa dari isu layanan;

Turun Dosis.

Konselor adiksi diperlukan karena PTRM bukan hanya mengenai naik turun dosis tapi juga perubahan perilaku dsb. Banyak klien yang mulai mengalami kejenuhan, penting untuk memikirkan bagaimana menangani kejenuhan klien

Persyaratan untuk ikut PTRM terkait kepemilikan KTP masih seringkali menjadi hambatan bagi klien untuk mengakses

Terkait masalah sulitnya turun dosis bisa direncanakan sejak awal, klien seharusnya mendapat informasi yang lebih jelas mengenai bagaimana merencanakan berapa lama ia bisa ikut program dan waktu yang diperlukan untuk tapering off.

Situasi Saat Ini

Lingkungan yang kurang mendukung, seperti saat ini banyak bandar narkoba di daerah Grogol Petamburan. Didapatkan beberapa bulan terakhir jumlah yang mencampur dengan opiat lebih tinggi dibandingkan dengan yang menggunakan benzo. Di lapangan juga ditemukan bahwa tempat-tempat yang digunakan truk untuk mangkal banyak digunakan oleh klien untuk nyuntik.

Pihak kepolisian ketika diminta mengawasi keberadaan bandar narkoba malah menyalahkan PKM karena memberikan layanan substitusi. Perlu dipikirkan bagaimana caranya agar bisa sama sama mencapai tujuan dari program Harm Reduction untuk menurunkan angka infeksi.

Di PKM Tambora ditemukan klien PTRM yang mengakses LASS dalam seminggu bisa sampai dengan 3 hari, bahkan ada yang setiap hari mengakses LASS. Perilaku mencampur penggunaan metadon dengan zat lain seperti benzo juga banyak ditemukan sehingga seringkali staf dari layanan merasa dilematis jika diminta menurunkan dosis metadon padahal tahu di lapangan masih banyak klien yang aktif menggunakan napza dan mencampur penggunaan napza

Pelayanan online metadon dengan menggunakan finger prints yang bisa diakses dimana saja sebaiknya diadakan kembali

Spesialis Kesehatan Jiwa.

Sebenarnya penggunaan napza masuk ranah layanan kesehatan jiwa, tapi di PKM tidak ada layanannya (bahkan di seluruh Indonesia). Sepertinya perlu ditempatkan 1 orang Spesialis Kesehatan Jiwa (SPKJ) untuk bisa membantu menangani pasien pecandu. Selain itu tenaga konselir adiksi juga perlu diadakan untuk bisa membantu menangani permasalahan mencampur penggunaan zat

Jika yang ditempatkan adalah dokter SPKJ menjadi kurang tepat karena SPKJ bisa menangani masalah kejiwaan selain masalah kecanduan, yang selama ini ada di PKM sudah dirasa cukup. Sehingga yang perlu dilakukan klien adalah percaya bahwa staf PTRM memiliki kemampuan untuk bisa menyediakan layanan, setidaknya 60% kemungkinan bagi klien untuk sembuh.

Perbandingan yang dilakukan berdasarkan pengalaman dalam mengikuti program rehabilitasi yang dilakukan oleh SPKJ terasa berbeda, dokter dengan latar belakang SPKJ lebih memahami dan tahu bagaimana menanggapi klien, tidak mudah terpancing oleh perilaku klien.

Untuk tindak lanjut akan dilakukan pertemuan kembali untuk membahas permasalahn yang ada lebih mendalam.

Kios Atma Jaya: Anual Report 2014 Banten

Kios Atma Jaya: Anual Report 2014 Banten

Tahun 2014 baru saja berlalu. Namun kesan yang dirasakan begitu kuat. Ada banyak cerita yang tersimpan dan dibukukan dalam selembar cerita lapangan yang mudah-mudahan dapat berguna bagi kita semua terutama para pembaca dan pemerhati masalah epidemi HIV dan AIDS.

Cerita Kios hanyalah serpihan kecil dari banyaknya cerita Program Harm Reduction yang ada di ujung Barat pulau Jawa. Dengan segala kondisi dan topografi wilayah yang terbentang Luas, kota dan kabupaten Tangerang selalu menarik untuk melihat rentetan cerita lapangan, mulai dari mobiltas para pecandu narkotika, karakteristik, topografi wilayah hingga ketimpangan antara idealisme dan realita di lapangan yang sering berbenturan dengan idealisme dengan yang sebenarnya.

Lanjutkan baca

Metode PrEP Dapat Mencegah HIV

Metode PrEP Dapat Mencegah HIV

Jakarta. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia telah mengeluarkan beberapa kebijakan dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS, termasuk perluasan pengobatan ARV melalui “Strategic use of ARV (SUFA)” atau juga yang lebih dikenal dengan “test and treat”. Saat ini, salah satu alternative strategi dalam upaya penanggulangan HIV pada kelompok populasi kunci adalah intervensi biomedis yaitu ‘pengobatan sebagai pencegahan”, atau yang lebih dikena dengan istilah ilmiah Pre-exposure prophylaxis (PrEP ).

Robert Magnani, PhD. Independent consultant,Clinton Health Access Initiative (CHAI) mengatakan, “Pada dasarnya PrEP merupakan intervensi untuk mencegah orang-orang yang berperilaku berisiko yang belum terinfeksi agar tidak terinfeksi HIV. Obat yang saat ini digunakan adalah Truvada (Emtricitabine-Tenofovir disoproxil fumerate, kombinasi FTC/TDF, yang paling sering digunakan) dan juga dalam percobaan dengan obat yang hanya mengandung Tenofovir”

Bukti-bukti ilmiah melalui uji klinis di Amerika dan Thailand pada kelompok populasi kunci, seperti; lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL), laki-laki biseksual, heteroseksual dan wanita menunjukan efektifitas PrEP dalam menekan infeksi baru HIV artinya dengan minum pill PrEP secara konsisten setiap hari, maka dapat menekan resiko penularan HIV sebesar 92%. Lebih lanjut, semua penelitian ini tidak melaporkan adanya tingkat keparahan yang berat terhadap penggunaan PrEP walaupun diminum setiap harinya, kecuali mengalami efek samping ringan seperti sakit perut dan hilang nafsu makan.

Robert menambahkan, “Studi lain yang dilakukan sebagai bagian dari Pre-Exposure Prophylaxis Initiative (iPrEX) mencoba melihat kadar PrEP dalam darah, dan ditemukan 92% pengurangan infeksi HIV pada 44% responden yang dalam darahnya terdeteksi kandungan PrEP. Studi terhadap populasi IDU pertama kali dilakukan di Bangkok, Thailand, dan ditemukan pengurangan infeksi HIV 49% pada kelompok IDU yang diberi PrEP.”

Di dunia internasional PrEP sudah digunakan sebagai salah satu alternative upaya pencegahan HIV dan AIDS, terutama pada kelompok LSL. Di Indonesia sendiri, PrEP telah dimasukan dalam Strategi Renacana Aksi Nasional 2015-2019 penanggulangan HIV dan AIDS yaitu dalam strategi pengembangan program komprehensif pada gay, waria, dan LSL. Namun demikian, informasi dan kebijakan tentang PeRP masih terbatas sehingga diperlukan pengetahuan dan penyebaran informasi yang benar tentang PrEP.

Steve Wignall, MD. Senior Advisor CHAI, menjelaskan, “US CDC 2014 merekomendasikan PrEP dikombinasikan dengan strategi pencegahan lainnya (kondom, mengurangi jumlah pasangan) untuk gay atau biseksual laki-laki yang telah melakukan hubungan seks tanpa kondom atau menderita IMS dalam enam bulan terakhir dan tidak dalam hubungan monogami dengan pasangan yang baru-baru ini diuji negatif HIV.”

Anindita Gabriella, Kepala Pusat Penelitian HIV/AIDS Atma Jaya, mengatakan “PrEP adalah salah satu alternatif upaya pencegahan HIV dan AIDS yang mulai menunjukkan hasil baik dalam beberapa penelitian di dunia. Beberapa penelitian di luar negeri menunjukkan intervensi ini memberikan hasil baik dalam mengurangi risiko infeksi HIV secara cukup signifikan, khususnya pada kelompok LSL. Meskipun demikian, tentunya masih dibutuhkan kajian-kajian yang lebih mendalam dan diskusi lebih lanjut antar semua pihak yang terlibat dan terdampak jika intervensi ini ingin dicoba untuk diimplementasikan di Indonesia, mengingat upaya dan biaya yang perlu diinvestasikan untuk intervensi ini tentunya tidak sedikit.”

Berkaitan dengan masih adanya pro dan kontra dalam kebijakan PrEP sebagai strategi pencegahan HIV, maka Pusat Penelitian HIV dan AIDS (PPH), Atma Jaya mengadakan dialog bersama pada 22 Januari 2015 di Eatology, Jakarta dengan para narasumber; Robert Magnani, PhD. Independent consultant,Clinton Health Access Initiative (CHAI). Steve Wignall, MD. Senior Advisor CHAI..Perwakilan LSM, Husein Basalamah dari Kios Atma Jaya, Hartono dari GWL-INA.

Inilah Kami KIOS: Laporan Kegiatan Program Tahun 2014

Inilah Kami KIOS: Laporan Kegiatan Program Tahun 2014

KIOSTidak Kenal Lelah…….

Itulah gambaran kerja kerja kios selama peri- ode 9 bulan ini, meskipun banyak tantangan di sana sini, pergulatan dengan segala per- masalahan di lapangan rupanya menjadi bagian dalam sejarah pribadi dan kelompok kerja.
Banyaknya persoalan di lapangan mulai dari mixing drugs, penggerebekan bahkan kekerasan yang mewarnai perjalanan HR di Jakarta Barat menjadi cerita yang menarik. Belum lagi beban pekerjaan yang bertambah karena pemerintah lewat KPA menginplementasikan program mereka kepada LSM. Se- but saja penjangkauan VCT, bulan bakti VCT, SUFA dan lain sebagainya.
Namun hal yang menarik bahwa semua kegi- atan di atas tidak mengurangi standar Kios da- lam bekerja, terlihat capaian yang cukup signi- fikan. Hal itu lebih karena semua kegiatan da- pat di kelola dan dimonitor dengan baik.
Mudah-mudahan ini tidak membuat kita jadi bangga, tetapi terus menjaga kualitas kerja dengan maximal. By John

Lanjutkan baca

PENGOBATAN BAGI ANAK DENGAN HIV/AIDS HADAPI MASALAH

PENGOBATAN BAGI ANAK DENGAN HIV/AIDS HADAPI MASALAH

Jakarta, Pengobatan bagi anak yang hidup dengan HIV/AIDS masih menghadapi dilema, disatu sisi pengobatan dengan menggunakan Antiretroviral (ARV) harus dilakukan namun di sisi lain pola pengobatan yang ada masih banyak mengalami hambatan dan permasalahan sehinggi penanganan anak yang hidup dengan HIV/AIDS masih belum optimal.

Pusat Penelitian HIV AIDS (PPH) Atma Jaya memberikan informasi terkait dengan isu pengobatan bagi anak HIV/AIDS hadapi masalah pada acara Temu Media, 8 Januari 2015 di Jakarta dengan narasumber Chris W. Green – Yayasan Spiritia. dr. Nia Kurniawati – Kepala Poli Imuno Alergi Anak RSCM. dr. Nadya – Kasubdit AIDS Kemenkes RI. Natasya Evalyne Sitourus – Advokasi dan Psikososial Manager Lentera Anak Pelangi.

Data Kementerian Kesehatan per-Desember 2009, terdapat 1.280 anak-anak usia 0-18 tahun yang hidup dengan HIV/AIDS. Mengingat perkiraan jumlah Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) (296.000), mungkin ada lebih dari 500.000 orang yang terdampak HIV/AIDS, jumlah itu bisa bertambah ketika kita berhadapan dengan fenomena puncak gunung es.

Sementara untuk persentase kumulatif kasus AIDS menurut kelompok umur untuk usia kurang dari 1 tahun sebanyak 1 persen, usia 1- 4 tahun sebesar 1,2 persen, dan usia 5-14 tahun sebesar 0,7 persen. Sementara anak usia 15-19 tahun sebesar 2,9 persen (data dari Kementerian Kesehatan hingga 30 September 2010).

Sama dengan pengobatan dan pendampingan bagi orang dewasa yang hidup dengan HIV/AIDS, pengobatan dan pendampingan bagi anak-anak juga memerlukan kontinuitas baik dari penyediaan ARV untuk anak, pemeriksaan kesehatan berkala hingga pendampingan psikologis.

Meski jumlah anak yang terinfeksi HIV meningkat, namun tidak dibarengi kualitas dan kuantitas layanan kesehatan terhadap anak.Sejumlah kasus ARV langka di berbagai daerah menunjukkan negara belum siap mengantisipasi ledakan epidemi HIV, terutama anak-anak.

Beberapa anak yang membutuhkan ARV diberikan resep dengan dosis obat yang tidak pasti, dihitung dari dosis orang dewasa.

Perhatian kepada anak yang terdampak HIV /AIDS di Indonesia belum terlihat nyata. Diluar kewajiban yang seharusnya dijalankan pemerintah, sejumlah LSM di Jakarta dan beberapa kota di Jawa dan Bali telah merawat anak dengan HIV, dan mereka yang terkena dampak epidemi (yatim piatu).

Akses antiretroviral (ARV/obat terapi HIV) bagi anak, layanan kesehatan reproduksi yang layak bagi perempuan, dukungan mitigasi bagi ibu dan anak terinfeksi HIV, stigma serta diskriminasi kepada perempuan dan anak masih harus terus menjadi perhatian kita semua jika kita ingin meraih target MDGs dan mensejahterakan rakyat Indonesia.

Meski diakui penyediaan ARV makin membaik, tapi masih menghadapi masalah pengaturan rantai pasokan, terutama di kota satelit atau kota-kota kecil. Masalah ini juga menyebabkan beberapa klien pada akhirnya mengakses ARV yang dijual secara komersial.

Ketidaktersediaan ARV pediatrik, terutama dalam bentuk sirup dalam hampir setiap layanan yang tersedia.Beberapa anak yang membutuhkan ARV diberikan resep dengan dosis obat yang tidak pasti, dihitung dari dosis orang dewasa.

Sementar layanan terapi ARV harus dihubungkan dengan layanan kesehatan mental lainnya untuk menangani masalah komplikasi emosional, termasuk kelelahan, dan memastikan kepatuhan.

Fakta dan kondisi anak positif HIV sangat menggugah keprihatinan semua pihak dari semua aspek, termasuk pendidikan.Pendidikan mereka pun sering kali terputus.Ada yang dikeluarkan dari sekolah, atau mendapat perlakuan stigma dan diskriminasi di dunia pendidikan.

Atas dasar tersebut maka perlu kiranya semua pihak, baik pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dokter dan tenaga kesehatan serta para pihak yang menjadi pemangku kebijakan dalam penanganan dan pengobatan anak-anak yang hidup dengan HIV/AIDS untuk dapat bekerjasama dan berkoordinasi untuk menanggulangi masalah yang masih terjadi.

Acara ini dihadiri oleh 19 media; detik.com, merdeka.com, kompas.com, okezone.com, TVRI, DAAI TV, The Jakarta Globe, Koran Kompas, Republika, Sindonews.com, Jawa Pos, Sinar harapan, Koran Jakarta, beritasatu.com, Inilah.com, Suara Merdeka, Koran Sindo, Majalah Ummi, Antara News Agency.

In House Training  Qualitative Research

In House Training Qualitative Research

Dalam isu HIV dan AIDS, penelitian kualitatif telah membantu untuk memahami perilaku-perilaku terkait dengan penularan HIV dan gaya hidup serta budaya yang menentukan faktor-faktor yang penting seperti makna risiko dan perlindungan, prioritas perilaku dan negosiasi, jaringan dukungan sosial dan lain-lain. Penelitian kualitatif juga telah mampu mengidentifikasi dan menggambarkan berbagai populasi atau jaringan sosial yang sangat sulit untuk diakses seperti pengguna napza suntik, laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki lain atau pekerja seks.

Pada 2-4 Desember 2014, Pusat Penelitian HIV dan AIDS (PPH) Atma Jaya mengadakan in-house training dengan materi Metode Penelitian Kualitatif. Pelatihan ini diadakan karena melihat pentingnya melakukan penelitian kualitatif untuk memahami konteks perilaku terkait pencegahan dan pengobatan HIV dan AIDS untuk memberikan bukti yang kuat dan mendalam untuk pengembangan kebijakan. Dalam pelatihan ini peserta diharapkan mampu memahami konsep metode penelitian kualitatif dan memahami penyusunan disain penelitian kualitatif.

Pelatihan dilaksanakan di Hotel All Seasons, Jakarta tidak hanya diikuti oleh staf PPH Atma Jaya, Kios, dan Lentera Anak Pelangi, tapi juga oleh peserta dari beberapa lembaga lain, seperti; ARI, HCPI, Karisma, Kotex, dan OPSI. Seluruh peserta terlibat aktif dan antusias dalam mengikuti setiap sesi dalam pelatihan ini. Instruktur dalam pelatihan ini tidak hanya berasal dari Atma Jaya, tetapi juga dari Universitas Indonesia dan Institut Pertanian Bogor yang sudah berpengalaman dalam melakukan penelitian kualitatif.

Pada hari pertama peserta diajak memahami terlebih dahulu mengenai konsep penelitian kualitatif, untuk kemudian belajar mengenai langkah-langkah mendisain penelitian kualitatif. Agar mempermudah, peserta diajak belajar untuk merumuskan pertanyaan penelitian kualitatif yang benar. Di hari kedua peserta mempelajari mengenai pengelolaan dan analisis data kualitatif. Tidak hanya penelitian perilaku, tapi juga penelitian kebijakan. Peserta berlatih dengan menganalisis dan membuat laporan singkat mengenai data wawancara yang diberikan. Hari ketiga peserta dilatih menggunakan software Nvivo dalam membuat koding dan skema untuk mempermudah proses analisis data hasil wawancara. Di hari terakhir peserta juga diminta membuat laporan singkat berdasarkan skema yang telah dibuat menggunakan software Nvivo.

Pelatihan ini diharapkan bisa mendukung peserta untuk mengembangkan ketrampilan mendisain, melaksanakan dan melakukan penelitian kualitatif. Sesuai dengan tujuannya, setiap materi diharapkan bisa memberikan perspektif teoritik dan praktis dalam merancang dan melaksanakan penelitian kualitatif serta memahami proses penerjemahan hasil penelitian tersebut menjadi sebuah kebijakan atau program.

Laporan Quartal Ketiga DKI Jakarta: Kios Informasi Kesehatan Pusat Penelitian HIV Unika Atma Jaya 2014

Laporan Quartal Ketiga DKI Jakarta: Kios Informasi Kesehatan Pusat Penelitian HIV Unika Atma Jaya 2014

Hallo Kios

TIDAK KENAL LELAH! Itulah gambaran kerja kerja kios selama periode 9 bulan ini, meskipun banyak tantangan di sana sini, pergulatan dengan segala permasalahan di lapangan rupanya menjadi bagian dalam sejarah pribadi dan kelompok kerja.

Banyaknya persoalan di lapangan mulai dari mixing drugs, penggerebekan bahkan kekerasan yang mewarnai perjalanan HR di Jakarta Barat menjadi cerita yang menarik. Belum lagi beban pekerjaan yang bertambah karena pemerintah lewat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) menginplementsikan program mereka kepada LSM. Sebut saja penjangkauan tes HIV secara sukarela(VCT), bulan bakti VCT, SUFA dan lain sebagainya.

Namun hal yang menarik bahwa semua kegiatan di atas tidak mengurangi standar Kios dalam bekerja, terlihat capaian yang cukup signifikan. Hal itu lebih karena semua kegiatan dapat di kelola dan dimonitor dengan baik. Mudah-mudahan ini tidak membuat kita jadi bangga, tetapi terus menjaga kualitas kerja dengan maximal.

Lanjutkan baca

Refleksi Intervensi Penasun di Provinsi Banten

Refleksi Intervensi Penasun di Provinsi Banten

penasun di bantenBanten sebagai sebuah Provinsi karena terjadinya pemekaran wilayah provinsi di Indonesia di era reformasi. Banten lebih dikenal sebagai provinsi yang relijius dimana penduduknya dikenal sangat berpegang teguh dengan nilai-nilai dan prinsip agama. Tidak heran jika ketika kita memasuki pintu gerbang provinsi ini yang pertama kali terlihat adalah slogan bertuliskan “Akhlakul Khotimah” atau dalam bahasa Indonesia-nya berarti “Akhlak yang baik”.

Nilai-nilai religi juga diterapkan oleh pemerintahan daerah, salah satunya adalah tidak diperbolehkannya minuman beralkohol dijual belikan secara bebas di wilayah Banten. Sangat bertolak belakang dengan DKI Jakarta yang akan sangat mudah mendapatkannya.

Lain dengan alkohol, lain pula dengan narkotika. Walaupun telah ada larangan penjualan minuman keras yang dituangkan dalam Peraturan Daerah, tidak serta merta menjadikan provinsi Banten bebas dari penggunaan serta peredaran gelap narkotika.

Lanjutkan baca

Audiensi Klinik Komunitas Kios Atma Jaya ke Pemprov DKI

Audiensi Klinik Komunitas Kios Atma Jaya ke Pemprov DKI

Terkait dengan perijinan klinik komunitas yang diprakasai oleh Kios Atma Jaya belum mendapatkan respon dari pemerintah provinsi DKI Jakarta, Tim Kios Atma Jaya melakukan audiensi ke pemerintah provinsi DKI Jakarta pada Kamis (13/11). Pemerintah provinsi DKI Jakarta merespon surat yang dikirim Kios Atma Jaya melalui kepala Sekda DKI Jakarta, dimana sebelumnya Kios Atma Jaya mengajukan surat audiensi kepada pelaksana tugas Gubernur DKI Jakarta, Basuki Cahaya Purnama dua pekan sebelum petemuan ini terjadi.

Pertemuan tersebut dipimpin langsung oleh kepala biro Kesejahteraan Sosial Setda Dki, Supeno. Dalam diskusi tersebut Supeno dengan tegas mengungkapkan bahwa perijinan klinik tidak akan pernah terjadi jika bukan untuk peruntukannya. Dalam hal ini klinik yang diijinkan oleh pemda DKI adalah untuk kesehatan dengan sebuah syarat harus menerima pasien yang telah mendaftar di BPJS

Sesuai dengan Pergub DKI tahun 2013 tidak memberikan ijin kepada klinik yang berada di wilayah pemukiman warga. Beberapa alasan yang memperkuat hal tersebut yaitu terkait limbah. Klnik kesehatan yang memenuhi syarat memiliki sistem IPAR yaitu pembuangan limbah) yang tidak merugikan lingkungan sekitarnya.

Alasan-alasan diatas menjadi penting untuk diperhatikan mengingat klinik yang ada dipemukiman bisa berdampak pada lingkungan. Itulah sebabnya kelengkapan dokument menjadi penting seperti ada perijinan untuk gangguan keamanan ke dinas terkait.

Husen Basalamah selaku pimpinan Kios Atma Jaya mengajukan keberatan dan meminta masukan dari Pemda mengingat klinik Kios Atma Jaya hampir pasti tidak memiliki limbah. Layanan yang tersediapun bersifat konsultasi. Namun sekali lagi Supeno menegaskan pemprov bisa membantu dan mendukung kegiatan klinik Komunitas Atma Jaya terkait pendanaan jika ada kebutuhan namun tidak dengan perijinan. “Kami pasti membantu anda jika ada kebutuhan terkait klinik, anda bisa langsung hubungi saya, tapi tidak dengan ijin klinik. Namun selama klinik berada dalam roll kedokteran maka kami tidak akan menutupnya. Namun jika menyalahi aturan, ada mal praktik kami tidak segan-segan dan langsung menutupnya”. Lanjut Supeno, “jika ada ijin praktik dokter ya silahkan yang penting tidak menyalahi aturan”.

Dalam pertemuan ini Kios meminta saran dari pemda DKI terkait permasalahan klinik komunitas Kios. Beliau menyarankan bahwa salah satu alternatif akhir untuk klinik Kios adalah menjadi satelit dari PKM grogol Petamburan. Jika melihat dokumen Kios terkait perkembangan perijinan selama ini, kendala yang dihadapi berbenturan dengan pergub yang dikeluarkan oleh Pemprov DKI. Di satu sisi jika ijin gangguan dipenuhi masih banyak lagi ijin lainnya terkait dokumen yang harus dipenuhi.

Pertemuan yang baru dimulai pada pukul 14. 00 WIB ini dihadiri oleh SKPD terkait antara lain kantor Agama, Keretaris Daerah DKI, Dinas Kesehatan, Komisi penaggulangan AIDS Propinsi DKI Jakarta, Dinas Kebersihan, Dinas Pariwisata, pokja HIV-AIDS.

Memberi pelayanan sosial kepada mereka yang membutuhkan jauh lebih berarti ketimbang perijinannya, maka tetaplah memberi sesuatu yang berarti buat komunitas Anda tanpa menghiraukan birokrasi. Salam perjuangan. (John Gentar – Kios Atma JAya)

 

Strategi Test and Treat dalam Penanggulangan HIV dan AIDS:

Strategi Test and Treat dalam Penanggulangan HIV dan AIDS:

Saat ini sedang banyak dibicarakan oleh para pakar, peneliti, pemegang kebijakan, penyedia layanan dan pemanfaat layanan khususnya populasi yang terdampak oleh HIV dan AIDS mengenai inisiasi dini terapi antiretroviral (ARV) untuk pencegahan dan pengobatan. Program ini sering disebut SUFA (Strategic Use of Antiretroviral) ataupun juga TasP (Treatment as Prevention).

Berkaitan dengan masih adanya perdebatan tentang efektivitas strategi test dan treat ini, Pusat Penelitian HIV dan AIDS (PPH), Universitas Katolik Atma Jaya mengadakan acara Lecture Series di @america Pasific Place Jakarta. Pada 28 Oktober 2014 dengan narasumber; dr. Siti Nadia – Subdit AIDS Kementerian Kesehatan RI, dr. M. Karyana, M.Kes. Ketua INA-RESPOND – Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI, Irawati – Divisi Penelitian Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, dr. Budiarto – HIV treatment specialist Deputy country director Clinton Health Access Initiative (CHAI), dr. Inda Mutiara – Pengelola Program HIV dan AIDS Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Dr. Arum Ambarsari Puskesmas Kalideres, Jakarta Barat. Hari Prabowo – Yayasan Inter Medika

Untuk mengetahui berbagai permasalahan-permasalahan yang mungkin timbul dalam implementasi strategi ini baik dari sisi kebijakan, penyediaan layanan dan pemanfaatannya dalam konteks populasi umum atau populasi tertentu. Maka dilakukan penelitian pelaksanaan uji coba program SUFA di 13 kabupaten/kota; Medan, Jakarta Barat, Bandung, Surakarta, Surabaya, Malang, Denpasar, Badung, Manado, Makasar, Sorong, Jayapura, dan Jayawijaya.

Inisiasi dini terapi antiretroviral (SUFA) adalah salah satu upaya pengobatan dini yang dilakukan tanpa melihat kondisi CD4 seseorang. Begitu seseorang terinfeksi HIV langsung diberikan ARV. Biasanya, orang yang terinfeksi HIV baru diberikan obat ARV pada saat CD4 dibawah 350. CD4 adalah jenis sel darah putih atau limfosit. CD4 berfungsi sebagai sistem kekebalan tubuh yang diserang oleh virus HIV.

Para NarasumberMenurut dr Budiarto, “Semua hal tersebut berkaitan dengan jumlah virus dalam darah yang berarti. Jadi bila dapat ditemukan seawal mungkin dimana jumlah virus masih rendah maka sebaiknya diobati seawal mungkin untuk menurunkan virus sampai kadar tidak terdeteksi”

Perlu diketahui SUFA bukanlah program baru melainkan lanjutan dari layanan terapi ARV yang sudah berjalan di Indonesia, sekarang ditambah dengan beberapa komponen baru dalam layanan, seperti layanan untuk pasangan yang salah satunya terinfeksi HIV (sero-discordant)

Dr. Arum Ambarsari mengatakan ”Pendekatan SUFA berhasil meningkatkan jumlah klien HIV+ yang mengakses layanan ART di Puskesmas Kalideres dari 72,7% ditahun 2012 menjdi 87,5% di tahun 2014. Sehingga layanan perlu untuk terus ditingkatkan untuk pelayanan kesehatan bagi Orang Dengan HIV & AIDS (ODHA) secara kreatif dan inovatif dengan memanfaatkan potensi yang ada”

Diharapkan pada Lecture Series kali ini dapat memberikan pemahaman kepada yang hadir tentang konsep dan strategi Test dan Treat dalam penanggulangan HIV dan AIDS serta menyediakan informasi tentang perkembangan penelitian atau uji coba Test dan Treat di Indonesia dan mengidentifikasi berbagai potensi hambatan dan tantangan penerapan strategi Test dan Treat di masa mendatang baik bagi populasi umum maupun populasi tertentu.