Akselerasi ART untuk Pencegahan dan Pengobatan dari Perspektif Komunitas

Akselerasi ART untuk Pencegahan dan Pengobatan dari Perspektif Komunitas

SERI DIALOG KEBIJAKAN

“Akselerasi ART untuk Pencegahan dan Pengobatan dari Perspektif Komunitas”

13 Desember 2013

 

Latar Belakang

Ilustrasi | medicaldaily.comSaat ini tengah popular dibahas mengenai istilah SUFA (Strategic Use of Antiretroviral) atau akselerasi ART sebagai salah satu program untuk menanggulangi HIV. Program ini akan dijalankan oleh Kementerian Kesehatan dengan pilot project di 13 Kota/Kabupaten. Sampai hari ini sudah dijalankan beberapa rangkaian workshop dengan mengundang perwakilan komunitas di Kota/Kabupaten tersebut. Hal yang perlu menjadi perhatian adalah peran komunitas dalam pengembangan program SUFA ini.

Download – TOR CSO Dialogue SUFA.doc

Waktu Acara
09.30 – 09.35 Pembukaan oleh Elis Widen (UNAIDS)
09.35 – 09.55 Pemaparan singkat mengenai program SUFA dan Surat Edaran Menteri Kesehatan No. 129 tahun 2013 oleh Aditya Wardhana (IAC)
09.55 – 10.15 Pemaparan singkat mengenai lokakarya SUFA di beberapa daerah oleh Harry Prabowo (GWL-INA)
10.15 – 10.35 Tanggapan mengenai program SUFA dari perspektif perempuan oleh Baby Rivona (IPPI)
10.35 – 11.30 Diskusi
11.30 – 12.30 Makan siang
12.30 – 14.00 Diskusi dengan Siti Nadia (Subdit AIDS Kemenkes)
14.00 – 14.20 Pemaparan singkat Call for Proposal IPF oleh Elis Widen (UNAIDS)
14.20 – 14.30 Penutup
Kesimpulan:

Ada pendapat pro dan kontra terkait dengan program SUFA yang akan dijalankan. Isu yang berkembang antara lain ketersediaan ARV untuk mencukupi kebutuhan, kesiapan penyedia layanan, dan peran komunitas dalam program SUFA. Ada beberapa hal yang masih perlu untuk dibahas antara komunitas, pemerintah, dan donor program SUFA bisa berjalan dengan baik.

Download – Notulensi CSO Forum Dialogue 2 (September)

Pengalaman dan Kebutuhan Perempuan Pengguna Napza Suntik dalam Program Pengurangan Dampak Buruk Napza di Indonesia

LECTURE SERIES

Pengalaman dan Kebutuhan Perempuan Pengguna Napza Suntik dalam Program Pengurangan Dampak Buruk Napza di Indonesia

18 Oktober 2013

 

Latar Belakang

Perilaku menyuntikkan napza merupakan penyebab terbesar penularan virus melalui darah termasuk penularan HIV di Indonesia. Sekitar 36% dari pengguna napza suntik hidup dengan HIV. Jumlah perempuan penasun sekitar 5-10% dari populasi jumlah penasun di Indonesia. Menurut Survey Terpadu Biologis dan Perilaku (2007) prevalensi HIV di antara perempuan pengguna napza suntik adalah 57,1%. Perempuan penasun memiliki kebutuhan substansial yang berbeda dan menghadapi risiko kesehatan yang lebih tingi daripada penasun laki-laki. Populasi perempuan penasun agak terabaikan dalam respon HIV secara nasional. Kegiatan ini diharapkan dapat menggali pengalaman perempuan penasun untuk membahas program seperti apa yang efektif bagi mereka.

Download – TOR Lecture Series Perempuan Penasun.pdf

Waktu Acara
14.05 – 14.10 Pembukaan oleh Sally Atya Sasmi sebagai moderator
14.10 – 14.35 Kebijakan pemerintah saat ini dalam menjawab kebutuhan perempuan penasun oleh Afriyanti (Penanggung Jawab HR untuk Subdit AIDS Kemenkes)
14.35 – 14.40 Sharing pengalaman mengakses layanan dampak buruk napza, kesehatan seksual dan perawatan ketergantungan napza oleh Erika (Perempuan Penasun)
14.40 – 15.20 Perspektif gender sebagai bagian dari program pengurangan dampak buruk napza di Indonesia oleh Syafirah Hardani (KPAN)
15.20 – 16.00

Layanan yang efektif bagi perempuan penasun ditinjau dari situasi global oleh Claudia Stoicescu (Harm Reduction International)

Download – Presentasi Meningkatkan Layanan Kesehatan Bagi Perempuan Penasun.pdf

Download – Doc. Meningkatkan Layanan Kesehatan Bagi Perempuan Penasun.pdf

16.00 – 16.30 Diskusi
Kesimpulan:

Penyediaan layanan HR dirasa masih kurang ‘ramah’ terhadap perempuan. Kurangnya informasi perempuan penasun mengenai layanan HR serta adanya stigma dan diskriminasi tertentu bagi perempuan menyebabkan perempuan merasaa enggan untuk mengakses layanan kesehatan. Sulitnya menjangkau perempuan penasun juga menyebabkan kurangnya data mengenai jumlah perempuan penasun sehingga memengaruhi bentuk layanan yang disediakan. Perlu adanya strategi yang efektif untuk menjangkau perempuan penasun agar diperoleh data yang aktual mengenai jumlah perempuan penasun. Dengan adanya Stranas Percepatan Pengarusutamaan Gender Melalui Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender diharapkan dapat meningkatkan partisipasi perempuan dalam penyusunan program maupun reformasi kebijakan. Selain itu perlu adanya integrasi antara isu HIV dengan isu lainnya (perempuan, kekerasan, dll) agar bentuk layanan yang diberikan bisa menyeluruh.

Download – Notulensi Lecture Series Perempuan Penasun

Seri Dialog Kebijakan Terkait Keberlanjutan Pendanaan Program Penanggulangan AIDS – September 2013

Seri Dialog Kebijakan Terkait Keberlanjutan Pendanaan Program Penanggulangan AIDS – September 2013

“Penanggulangan AIDS Butuh Kemandirian Pendanaan”
25 September 2013

Latar Belakang

Ilustrasi | Christopher Furlong:Getty Images guim.co.ukPada beberapa daerah, penanggulangan HIV dan AIDS yang ada belum begitu menjadi komitmen yang mendatangkan dukungan alokasi pendanaan yang cukup dari pemerintah daerah setempat.Peningkatan kemandirian pendanaan program penanggulangan HIV dan AIDS adalah indikator penting keberhasilan program pencegahan. Pada seri dialog kali ini membahas mengenai potensi pendanaan dari APBD untuk program penanggulangan HIV dan AIDS.

Lanjutkan baca

Seri Dialog Kebijakan Terkait Keberlanjutan Pendanaan Program Penanggulangan AIDS – Agustus 2013

“Dana AIDS dalam bahaya paska 2015?”
19 Agustus 2013

Latar Belakang

Kehadiran lembaga donor di Indonesia telah mendorong perluasan akses bagi program-program penanggulangan HIV dan AIDS. Salah satunya adalah dengan adanya pendanaan bagi Organisasi Masyarakat Sipil (Civil Society Organization – CSO) yang memiliki peran besar dalam program penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia namun kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Seiring akan berakhirnya masa pendanaan Global Fund dan beberapa donor untuk program penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia pada 2015, menjadi sebuah tantangan bagi pemerintah Indonesia. Hanya sekitar 40% dana untuk program penanggulangan HIV dan AIDS berasal dari pemerintah, 60% berasal dari lembaga donor.

Lanjutkan baca

Workshop Advokasi

 

Laporan Kegiatan Workshop Advokasi dan Berjejaring sebagai Bagian penting dalam Pengembangan Program Penanggulangan HIVAIDS di Indonesia Download

Simposium Pengobatan HIV sebagai Pencegahan Kerjasama Spiritia

Simposium 1

Antiretroviral (ARV) untuk Pencegahan Download
Evidence-based medicine Download
Pengobatan ARV sebagai upaya pencegahan Download
Simposium Setengah Hari Informasi Pengobatan HIV Terkini yang Pertama Download

Simposium 2

Kesinambungan Pengobatan Antiretroviral Di Indonesia Download
Kesinambungan Pengobatan ARV di Indonesia Download
Problema Distribusi ARV Di Rumah Sakit Rujukan Download

Simposium 3

Pedoman Nasional Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak terkini Download
Pemberian ARV pada PMTCT Download
Pemberian Makanan Bayi sehubungan HIV Download
Pemutakhiran Pedoman Nasional Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Bayi Download
Persalinan Bagi Wanita Hamil yang terinfeksi HIV Download

ICDPR

Expert Meeting Ahli Kesehatan Februari 2009

Indonesian Coalition For Drugs Policy Reform Download

Expert Meeting Maret 2009

Aspek Kesehatan Jiwa Dalam Kasus Penyalahgunaan NAPZA Download
Beberapa Komentar Terkait RUU Narkotika Download
Kesepakatan Dalam Masyarakat Terhadap Penyalahgunaan NAPZA Download
Kompleksitas Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba Kriminalisasi Pengguna Download
Narkoba Untuk Keluarga Bermasalah? Download
Pandangan & Rekomendasi terhadap Kebijakan Narkoba di Indonesia Download
Perubahan Paradigma Kebijakan Napza Di Indonesia Download
Perubahan Paradigma Kebijakan Napza Download
Setting the Tone Nuansa Kebijakan Narkotika di Indonesia Download