Outcome Measurement 2015: United For Body Rights (UFBR) Program

Unite for Body Rights Program (UFBR) merupakan inisiatif kolaboratif dari lima LSM Belanda yang berfokus pada Kesehatan Seksual dan Reproduksi (SRHR) dengan tujuan untuk meningkatkan kesehatan reproduksi seksual dan hak-hak di negara berkembang di kalangan perempuan, laki-laki, remaja, dan kelompok marginal terlepas dari budaya mereka dan latar belakang agama, usia, jenis kelamin, dan orientasi seksual.

Di Indonesia, UFBR dilaksanakan pada empat provinsi, yakni DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Lampung, dan Jambi dari 2011 hingga 2015. Sebelum program UFBR dilaksanakan, outcome measurement awal (baseline) dilakukan pada tahun 2011 (dan pada tahun 2013 untuk kurikulum intervensi SETARA). Laporan ini akan menjelaskan hasil outcome measurement akhir (endline) yang dilakukan pada tahun 2015 untuk melacak perubahan di area target SRHR sejak dimulainya program UFBR. read more

Laporan Penelitian: Faktor-faktor yang Memungkinkan dan Menghambat Akses Layanan Kesehatan, Sosial dan Psikososial bagi Anak dengan HIV di Indonesia

Jumlah anak terinfeksi HIV dan angka kematian terkait HIV pada anak semakin meningkat. Secara global, pada tahun 2013 diestimasikan ada 3.3 juta anak berusia kurang dari 15 tahun di dunia terinfeksi HIV (WHO, UNICEF, UNAIDS, 2013). Dari jumlah tersebut, sebanyak 240.000 anak (11%) merupakan angka baru infeksi HIV di tahun 2013.

Hampir semua kasus HIV pada anak merupakan hasil penularan virus dari ibu yang positif melalui proses selama kehamilan, melahirkan maupun menyusui. Walaupun program Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak (PPIA) sudah mulai dikembangkan di berbagai negara, beberapa penelitian menemukan bahwa angka keberhasilan program tersebut masih cukup rendah (Meyers et al., 2007). Persentase ibu hamil yang melakukan tes HIV di negara miskin dan berkembang diperkirakan baru mencapai (21%) pada tahun 2011 (WHO, UNICEF, UNAIDS, 2013). Hal ini mengakibatkan jumlah anak yang terinfeksi HIV sejak lahir masih cukup tinggi. Lebih lanjut, beberapa studi menunjukkan bahwa inisiasi dini terhadap terapi ARV pada anak dapat mengurangi angka kematian pada anak dengan HIV. Namun, cakupan perawatan ART pada anak terinfeksi HIV masih rendah yaitu sebesar (34%) di tahun 2012 (UNAIDS, 2013). Hal ini menunjukkan bahwa masih minimnya keberhasilan pendidikan dan dukungan bagi ibu terinfeksi HIV serta masih lemahnya layanan diagnosis HIV pediatrik. read more

Laporan Penelitian: Surveilans Biologis dan Perilaku terhadap Penularan HIV/AIDS, Hepatitis B, Hepatitis C, dan Sifilis pada Pengguna Sabu di Enam Kota di Indonesia

Dalam rangka melengkapi pengetahuan mengenai penggunaan sabu di Indonesia, penelitian ini dilakukan dari awal Februari 2016 hingga Juni 2017. Dengan memilih enam kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta Barat, Denpasar, Batam, Makassar, Medan dan Bandung, penelitian ini dilakukan dengan melibatkan 1498 partisipan pengguna aktif sabu. Sebagai surveilans terpadu biologis dan perilaku pertama yang dilakukan pada pengguna sabu dalam konteks intervensi HIV/AIDS, disimpulkan beberapa temuan mengenai karakteristik dan faktor penggunaan sabu, serta konteks jaringan sosial, seksual, dan akses ke layanan. Beberapa rekomendasi terkait program dan kebijakan, serta untuk penelitian selanjutnya juga telah disampaikan. Simak figur berikut untuk informasi lebih lanjut: read more

Laporan Studi Kualitatif: Dampak Penutupan Lokalisasi di Empat Kota (Jakarta, Bandung, Surabaya dan Jayapura)

Secara utama penutupan lokasi transaksi seks telah ‘mematikan’ intervensi Pencegahan HIV Melalui Transmisi Seks (PMTS) di kota-kota tersebut karena logika program ini yang berbasis pada lokasi. Demikian juga sinergi yang hendak dibangun melalui pendekatan ini juga tidak bisa berjalan lagi karena akan bertentangan dengan kebijakan pemda setempat.

  • PMTS mengasumsikan adanya tempat yang menetap terjadinya transaksi seks sehingga ditutupnya lokasi juga berarti menghapus pokja yang ada. Keengganan untuk terlibat dalam program PMTS berbasis lokasi karena dianggap menentang kebijakan pemerintah daerah jika menyediakan layanan kepada WPS di lokasi. LSM juga menghentikan layanan informasi dan rujukan di lokasi walaupun secara informal (via telepon) masih dilakukan.
  • Praktis Komunikasi Perubahan Perilaku (KPP) sudah tidak terjadi lagi di lokasi yang ditutup kecuali di Bandung dan Jakarta yang masih ada pekerja seks (PS) yang ditemui. Frekuensi pertemuan antara PS dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) semakin berkurang. Penjangkauan di jalan menjadi lebih berisiko bagi PS (maupun klien) karena menjadi target razia yang semakin meluas. Rujukan dan dukungan pengobatan ARV berhenti karena PS berpindah dan sulit untuk dilacak keberadaannya. Semakin kecilnya angka rujukan dan akses untuk pemeriksaan IMS dan KTS (Konseling dan Tes Sukarela) karena terhentinya layanan mobile clinic.
  • Penyediaan kondom pasca penutupan lokalisasi menjadi terhenti. Metode distribusi kondom berubah dari pokja ke individu-individu (dari LSM, penyedia layanan kesehatan, organisasi berbasis komunitas dan kader-kader) yang bersedia membagikan kondom di lokasi kerja mereka.
  • Tatalaksana Infeksi Menular Seksual (IMS) dalam PMTS tidak bisa berjalan lagi karena puskesmas di sekitar lokasi tidak melayani pekerja seks secara rutin. Mobilisasi untuk pemeriksaan IMS tidak memungkinkan lagi karena pola pencarian kesehatannya lebih bersifat individual. Tata laksana IMS dalam PMTS tidak bisa berjalan lagi karena saat ini pola pencarian kesehatan pekerja seks lebih bersifat individual.

Laporan penelitian ini bebas untuk diunduh melalui tautan berikut ini:

Jika anda mengalami kendala dalam mengunduh dokumen ini atau ada pertanyaan lain, silakan hubungi kami melalui email: pph@atmajaya.ac.id read more

Laporan Penelitian: Survei Kualitas Hidup Waria di Indonesia

Hasil penelitian ini telah menggarisbawahi pentingnya pengakuan terhadap ekspresi dan identitas gender waria sebagai dasar untuk meningkatkan kualitas hidup dari waria, karena secara psikologis pengakuan ini akan mampu menciptakan situasi psikologis yang lebih baik (psychological well-being) dan kualitas hidup yang lebih baik bagi waria. Pengakuan ini secara substantif akan tampak pada pengakuan dalam identitas formalnya karena hal ini akan meningkatkan akses yang lebih besar dalam pendidikan, layanan sosial dan kesehatan dan kegiatan politik tanpa khawatir akan terjadinya stigma, sentimen negatif dan diskriminasi atas identitas gendernya. Meski demikian upaya untuk memperoleh identitas gender secara formal sebagai prasyarat untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomis maupun psikologis bagi waria akan menghadapi tantangan yang besar dari masyarakat mengingat dominasi heteronormativitas yang ada dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Untuk itu beberapa rekomendasi yang bisa diajukan dari analisis data survei ini perlu dibaca dalam konteks tersebut sehingga rekomendasi ini lebih berfokus pada hal-hal yang lebih bersifat pragmatis daripada bersifat ideologis. Oleh karena itu perubahan yang diharapkan dan perlu diupayakan dari rekomendasi yang diberikan adalah pada tataran operasional karena langsung berkaitan dengan layanan yang bisa dimanfaatkan oleh waria saat ini. read more

Studi Kasus: Integrasi Respon HIV dan AIDS ke dalam Sistem Kesehatan dan Efektivitas Program Layanan Alat Suntik Steril di DKI Jakarta

Penanggulangan HIV sudah menjadi prioritas kesehatan di DKI Jakarta. Isu HIV sudah masuk sebagai program prioritas dalam RPJPD 2005-2025 dan RPJMD 2013-2017 yang mengacu pada MDGs untuk memastikan prioritas Pemda dalam meningkatkan cakupan akses layanan kesehatan termasuk HIV. Komitmen politik Pemerintah Daerah terlihat dari peran dan kebijakan yang diambil oleh Gubernur DKI Jakarta yang diikuti oleh Pemda dan SKPD lainnya. Selain itu, terdapat beberapa kebijakan kunci di DKI Jakarta termasuk Perda HIV nomor 5 tahun 2008 tentang penanggulangan HIV&AIDS sebagai kebijakan daerah terkait HIV; Pergub nomor 26 tahun 2012 tentang pembentukan KPAP/K sebagai salah satu kebijakan daerah terkait HIV dan Surat edaran Kepala Dinkes tahun 2009 tentang kemandirian Pemda untuk menganggarkan pertemuan penasun, pertemuan keluarga, pemberian jarum, pembelian metadon. read more

PENELITIAN OPERASIONAL: Evaluasi dan Intervensi Pengobatan Terapi Rumatan Metadon (PTRM)

Hasil kajian penjajakan terhadap situasi layanan program rumatan metadon di empat puskesmas di Provinsi DKI Jakarta menunjukkan beberapa hal yang perlu memperoleh perhatian sebagai berikut:

  • Walaupun tidak semua petugas mengetahui prosedur penyediaan layanan PTRM, pelaksanaan di tingkat layanan telah mengacu pada pedoman yang digunakan. Ada persamaan pengetahuan mengenai prinsip dasar pelaksanaan PTRM baik di tingkat layanan maupun klien misalnya dalam persyaratan awal mengakses layanan, kebijakan pemberian dosis awal, THD, tappering off dan dosis bagi yang mengonsumsi obat ARV dan TB.
  • Jumlah pasien yang mengakses layanan rumatan metadon secara rutin relatif stabil dengan tingkat kepatuhan yang cukup tinggi dan tingkat drop out cukup rendah.
  • Intervensi perilaku dan psikososial secara rutin belum tersedia di puskesmas karena keterbatasan SDM dan kapasitas teknis. Intervensi psikososial yang dilakukan lebih banyak berupa konseling untuk kenaikan atau penurunan dosis.
  • Rotasi staf puskesmas cukup tinggi sehingga tidak semua staf memiliki tingkat pemahaman yang sama tentang layanan yang diberikan sehingga berakibat pada kinerja yang bervariasi diantara staf PTRM. Apoteker cenderung tidak pernah dirotasi tetapi dokter, perawat dan koordinator HR memiliki turn over yang tinggi.
  • Adanya kejenuhan di antara petugas layanan dan klien dikarenakan prosesnya lama. Tingkat motivasi mengikuti layanan PTRM mempengaruhi kesuksesan klien dalam mengikuti program ini.
  • Hampir setengah klien rumatan masih menggunakan napza lain seperti amphetamine dan benzodiazephine. Beberapa klien juga masih mengakses LASS tapi tidak ada mekanisme di tingkat layanan untuk menindak lanjuti klien PTRM yang masih mengakses LASS.
  • Tes urin yang dilakukan sebagai sarana monitoring dan evaluasi dirasa kurang efektif oleh klien karena tidak dilakukan secara rutin karena adanya keterbatasan anggaran.
  • Faktor-faktor pendukung kesuksesan terapi dari segi petugas layanan dan klien mengatakan bahwa pengaruh keluarga dan lingkungan sangat penting termasuk motivasi diri. Pelibatan keluarga sangat penting dalam mendukung proses terapi klien.
  • read more

    Laporan Penelitian Operasional Kelayakan Integrasi Penemuan Kasus TB Secara Aktif pada kelompok Populasi Kunci ke dalam Kegiatan Outreach Program HIV

    Hasil kajian terhadap proses intervensi program TB REACH di empat kab/kota terpilih menunjukkan beberapa hal yang perlu memperoleh perhatian sebagai berikut:

    1. Walaupun tidak semua petugas outreach belum memahami mekanisme pengelolaan program TB, pelaksanaan di tingkat layanan telah mengacu pada pedoman yang digunakan. Adanya persamaan pengetahuan mengenai prinsip dasar pelaksanaan rujukan TB baik di tingkat layanan maupun klien misalnya dalam persyaratan untuk mengakses layanan TB memberi daya ungkit yang cukup dalam pelaksanaan kegiatan ini.
    2. Jumlah klien dari tiga komunitas yang mengakses layanan rujukan TB cukup kelihatan polanya pasca dilakukan intervensi pelatihan sehingga bisa digambarkan besaran prevalensi TB pada tiap populasi kunci ini dimasing-masing kab/kota terpilih seperti yang sudah disajikan didalam evaluasi hasil intervensi bab IV.
    3. Komunikasi pelaksanaan program TB REACH juga menjadi penentu penting dari keberhasilan sebuah program sehingga informasi yang sampai dilapangan tidak sepotong-potong melalui beberapa periode waktu tertentu. Hal ini akan sangat berdampak terhadap kejelasan sebuah pelaksanaan program dilapangan.
    4. Adanya ketidakpastian terkait proses klaim sampai menjelang berakhirnya periode program TB REACH sangat mempengaruhi proses kesuksesan pelaksanaan kegiatan program ini karena adanya penurunan motivasi pada petugas penjangkau dibeberapa lembaga swadaya masyarakat. Dukungan kebijakan lokal yang berpihak pada program mulai dari tingkat fasyankes dengan pemberian kemudahan dalam mengakses rujukan TB akan memberi motivasi tambahan bagi petugas penjangkau dalam merujuk klien dengan suspek TB.
    5. Begitu juga dukungan kebijakan suku dinas kab/kota setempat yang mau ikut telibat aktif dalam pengelolaan program akan sangat membantu dalam menjembatani komunikasi antara penyedia layanan (fasyankes) dengan petugas outreach di lembaga swadaya masyarakat agar secara bersama-sama ikut berkontribusi mendongkrak angka capaian rujukan TB REACH ini.

    Berdasarkan evaluasi kegiatan intervensi TB REACH di empat kab/kota tersebut, maka dikembangkan sebuah intervensi asistensi teknis dalam pengelolaan program TB yang dimaksudkan untuk meningkatkan efektivitas rujukan TB ini. Permasalahan strategis yang diantisipasi dalam pengembangan intervensi ini adalah terkait pengelolaan manajemen program TB di masing-masing lembaga swadaya masyarakat. Intervensi asistensi teknis ini  dilakukan agar manajemen lemabaga swadaya masyarakat bisa memahami pengelolaan program TB secara komprehensif. read more

    Pengaruh Global Health Initiative Terhadap Keberadaan dan Peran Organisasi Masyarakat Sipil dalam Pengendalian HIV di Indonesia

    Pusat Penelitian HIV AIDS Unika Atma Jaya telah selesai melaksanakan penelitian dengan judul “Pengaruh Global Health Initiative (GHI) Terhadap Keberadaan dan Peran Organisasi Masyarakat Sipil dalam Pengendalian HIV di Indonesia”. Penelitian ini dilaksanakan selama 7 bulan dari mulai bulan Februari – September 2015. Tujuan umum penelitian adalah melihat pengaruh dan dampak GHI terhadap peran OMS pada sistem kesehatan di dalam upaya peningkatan kapasitas dan penanggulangan HIV AIDS. Penelitian berisikan informasi, data dan analisis hasil wawancara yang dilakukan ke KPAN, KPA tingkat propinsi, Kementerian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan tingkat propinsi dan kota, penyandang dana dan LSM yang bekerja pada program HIV AIDS di wilayah Surabaya, Malang, DKI Jakarta, Medan, Denpasar, dan Bandung. Dalam sajian penelitian ini juga memperlihatkan bahwa peran GHI cukup besar dalam mendukung partisipasi masyarakat sipil untuk terlibat dalam penanggulangan HIV AIDS karena peran strategiknya dalam penanggulangan HIV AIDS.
    Dalam kesempatan yang baik melalui hasil penelitian yang PPH Unika Atma Jaya lakukan, kami mengucapkan terimakasih kepada semua narasumber yang telah terlibat dan memberikan informasi dalam penelitian ini. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Knowledge Sector Initiative (KSI) karena telah memberikan bantuan dana dalam mendukung penelitian mandiri ini. Semoga Penelitian ini dapat menjadi masukan yang ilmiah dalam pengelolaan program HIV AIDS melalui dana GHI di masa yang akan datang. read more