Diskriminasi dan Pelanggaran HAM dalam Dialektika Kriminalisasi Penularan HIV sebagai Primum Remedium

Diskriminasi dan Pelanggaran HAM dalam Dialektika Kriminalisasi Penularan HIV sebagai Primum Remedium

Abstrak

Kata kunci: HAM, Keadilan Sosial, HIV, Kesehatan, Kriminalisasi

Putusan pengadilan di Inggris, Amerika Serikat, dan Peraturan Daerah provinsi prevalensi tinggi di Indonesia telah memuat sanksi pidana atas perbuatan terkait risiko penularan HIV (Human Immunodeficiency Virus). Sanksi pidana bukan hanya diarahkan kepada masyarakat secara luas, tetapi sebagian diarahkan khusus kepada ODHA (orang dengan HIV dan AIDS) yang sudah mengetahui bahwa dirinya HIV positif namun tidak mencegah penularan HIV. Tindak pidana dapat terjadi baik karena menyebabkan terjadinya penularan HIV maupun sebatas menempatkan pasangan seksualnya dalam risiko penularan HIV. Kajian doktrinal ini melihat perimbangan keadilan sosial, HAM, serta prioritas kesehatan masyarakat dengan adanya kriminalisasi penularan HIV. Lebih lanjut lagi, dikaji juga kegamangan normatif hukum pidana antara ultimum dan primum remedium, serta kesulitan penempatan unsur kesalahan pada kompleksitas variasi penularan seksual. Status HIV merupakan salah satu bentuk HAM atas privasi, sementara sebaliknya, kriminalisasi penularan HIV secara naif menempatkan unsur kesalahan pada seseorang yang tidak memberi tahu status HIV-nya kepada pasangan seksualnya dengan asumsi bahwa HAM atas privasi dapat dilanggar untuk melindungi HAM orang lain (kepentingan umum). Pembatasan subyek pidana ini tidak imbang dengan fakta minimnya pemenuhan HAM atas informasi tentang HIV, sehingga kriminalisasi bersifat diskriminatif. Ketakutan akan tanggung jawab pidana juga menimbulkan keengganan untuk mengetahui status HIV padahal tes HIV merupakan pintu masuk bagi layanan kesehatan dan psikososial komprehensif, khususnya pengobatan antiretroviral. Pengobatan antiretroviral terbukti melindungi HAM untuk hidup, namun hanya dapat diberikan pada orang yang sudah mengetahui status HIV. Ketika kriminalisasi terwujud dalam peraturan, maka dapat muncul juga perasaan aman yang palsu (false sense of security), yaitu ketika orang merasa dirinya telah terlindungi dari HIV karena beranggapan bahwa orang lain pasti akan tunduk pada peraturan tersebut (yang belum tentu terdiseminasi dan dipatuhi merata). Maka konteks kriminalisasi penularan HIV tidaklah menghentikan penularan HIV, tetapi justru mengancam keadilan sosial, disinsentif bagi upaya kesehatan masyarakat, dan melanggar HAM. read more

Jaringan Seksual dan Penggunaan Napza pada Pengguna Napza Suntik (Penasun) di enam (6) Propinsi di Indonesia

Raymond Tambunan, Octavery Kamil, Ignatius Praptoraharjo, Hosael Erlan, Irwanto
Pusat Penelitian HIV dan AIDS, Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta

Abstrak

Latar-belakang: Pengguna napza suntik (penasun) memainkan peranan yang penting dalam penyebaran HIV di Indonesia. Kelompok ini bukan saja memiliki risiko tinggi terinfeksi karena perilaku berbagi jarum suntiknya, tetapi juga memiliki risiko akibat hubungan seksual berganti pasangan dan rendahnya penggunaan kondom. Diperlukan pemahaman tentang pola perilaku penggunaan narkoba dan obat adiktif (napza) dan seksual di kalangan penasun untuk menyempurnakan program Harm Reduction (HR) yang ada. read more

“Analysis of the HIV-Sensitive Social Protection Schemes in Indonesia” [ILO]

Although nationally the HIV epidemic in Indonesia is still concentrated on vulnerable populations, the negative impacts of AIDS for infected people and their families have the potential to become catastrophic because the infected people are mostly economically productive and HIV and AIDS in Indonesia are disproportionally experienced by poor families. A variety of attempts to reduce mortality rates related to HIV and AIDS have been undertaken, however, the attempts to mitigate the impact of HIV and AIDS on families have not received sufficient attention from AIDS program in Indonesia. Lack of concern regarding social protection of the PLHIV and their families in turn will impede the government’s attempts to reduce poverty and provide universal access to health care. read more

Education Sector Response to HIV, Drugs, and Sexuality in Indonesia [UNESCO]

AN ASSESSMENT ON THE INTEGRATION OF REPRODUCTIVE HEALTH AND DRUG ABUSE ISSUES ON HIV EDUCATION IN JUNIOR AND SENIOR SECONDARY SCHOOLS IN PAPUA, MALUKU, WEST KALIMANTAN, RIAU ISLANDS, DKI

Indonesia is facing a progressing HIV epidemic. Despite 20 years of increasingly concerted effort, largely downstream, to prevent the spread of the epidemic, new cases of HIV infection continue to rise. Estimation shows that by the end of 2009 there were 333,200 people living with HIV (PLHIV) in Indonesia. The number of reported cumulative AIDS cases has risen sharply from 2,682 cases in 2004 to 19,973 by December 2009. Among the cases 25% are women [1]. read more

Jaringan Seksual Penasun [FHI]

Pengguna Napza suntik (penasun) memainkan peranan yang penting dalam penyebaran HIV di Indonesia. Kelompok ini bukan saja memiliki risiko tinggi terinfeksi karena perilaku berbagi jarum suntiknya, tetapi juga memiliki risiko akibat hubungan seksual berganti pasangan dan tidak menggunakan kondom.

Health Seeking Behaviour – IDU Bekasi [Burnet Institute]

Research Background
This research was started when a wish to answer several questions regarding the increasing number of injecting drug users in Indonesia came up and took form first and foremost where it touched health-seeking behavior related matters. For at least the recent past seven years since reported by the Indonesian Ministry of Health in 2003, West Java has belonged to the higher ranks of injecting drug users, whereas they also represent a greater proportion of those infected with HIV. Reports on HIV and AIDS cases in the Bekasi Region and City area confirmed that up to 2008, a number of 1060 cases in the Regional area and 351 cases in the City area are reported, which lead Bekasi to the second highest area on HIV and AIDS cases in West Java Province. read more

Asesmen Faktor-Faktor Psikososial pada Disclosure terhadap Anak  [DIKTI]

Asesmen Faktor-Faktor Psikososial pada Disclosure terhadap Anak [DIKTI]

Assesment | edmentum.comDalam Laporan Tahun 2010 Triwulan Keempatnya  (Oktober 2010 – Desember 2010)  Kementrian Kesehatan Republik Indonesia mencatat bahwa jumlah kasus baru HIV dan AIDS dalam kurun waktu pelaporan adalah 1405 kasus, yang dilaporkan oleh 62 Kabupaten/Kota dan 15 provinsi.  Cara penularan kasus HIV dan AIDS baru dilaporkan terbanyak melalui hubungan heteroseksual (78,22%),  IDU (16,30), perinatal (2,49%) dan LS (1,78%).  Peningkatan jumlah kasus HIV dan AIDS baru ini tentu sangat memprihatinkan, karena dampak dari kasus-kasus baru tersebut akan menentukan nasib ribuan keluarga, perempuan dan anak-anak di seluruh Indonesia. read more

Analisis Pembiayaan Perlindungan Sosial untuk ODHA [DIKTI]

Latar Belakang

Berbagai data menunjukkan bahwa percepatan laju pertumbuhan HIV di Indonesia yang sangat pesat peningkatnya di Asia.[1] Saat ini dilaporkan bahwa pada tahun 2004 terdapat 16 provinsi yang melaporkan data ODHA dan kini pada tahun 2009, namun di tahun 2009 telah tersebar laporan kasus HIV di 33 propinsi,[2] yang estimasinya pada tahun 2014 ODHA akan mencapai 813.720 orang, dimana 88% diantaranya adalah usia produktif yaitu usia 25-49 tahun.[3]

Interaksi Metadon dan ARV dalam Pengaruhnya terhadap Adherence [DIKTI]

Latar Belakang

Sejak tahun 1999 di Indonesia telah terjadi peningkatan jumlah orang yang terinfeksi HIV/AIDS (ODHA) pada kelompok orang berperilaku risiko tinggi tertular HIV yaitu para penjaja seks komersial dan penyalah-guna narkoba suntik di beberapa provinsi seperti DKI Jakarta, Riau, Bali, Jawa Barat dan Jawa Timur sehingga provinsi tersebut tergolong sebagai daerah dengan tingkat epidemi terkonsentrasi (concentrated level of epidemic). Tanah Papua sudah memasuki tingkat epidemi meluas (generalized epidemic). Pengguna atau adiksi Napza merupakan kelompok yang sangat berisiko terhadap infeksi HIV/AIDS, karena perilaku berbagi peralatan suntik napza bergantian menyebabkan penularan infeksi HIV/AIDS lebih tinggi dibandingkan dengan cara penularan lain. read more