[Friday Coffee Break] Lecture Series Paham dan Peduli HIV: Tes dan Pengobatan HIV

Tes dan Pengobatan HIV merupakan lecture series kedua dari rangkaian 6 lecture series yang direncanakan oleh Pusat Penelitian HIV-AIDS, Unika Atma Jaya bekerja sama dengan program Friday Coffee Break – UNIKA Atma Jaya. Pada lecture series ini dibahas mengenai pentingnya melakukan tes HIV, bagaimana dan dimana melakukan tes HIV serta terapi apa yang dapat dilakukan setelah mengetahui seseorang terinfeksi HIV. Sesi ini dibawakan oleh dr. Eldaa Prisca Refianti Sutanto yang merupakan salah satu alumni dari Fakultas Kedokteran UNIKA Indonesia Atma Jaya.

Dr.Eldaa memaparkan bahwa ada dua pendekatan tes HIV, yaitu dengan Konseling dan Tes HIV atas inisiatif pemberi layanan kesehatan (KTIP), dan Konseling dan Tes HIV Sukarela (KTS). Orang yang perlu melakukan tes HIV tersebut antara lain, populasi kunci (perlu diulang setiap 6 bulan) seperti pekerja seks, pengguna napza suntik (Penasun), Laki-laki seks dengan laki-laki (LSL) dan waria, pasangan orang yang hidup dengan HIV, ibu hamil di wilayah epidemi meluas dan terkonsentrasi, pasien TB, semua orang yang berkunjung ke fasyankes di daerah epidemi HIV meluas, pasien IMS, orang dengan hepatitis B/C, warga binaan permasyarakatan, dan LBT atau lelaki berisiko tinggi.

Ia juga menginformasikan gejala – gejala orang terinfeksi HIV, seperti kehilangan berat badan lebih dari 10% dari berat badan dasar, demam terus menerus, diare terus menerus, infeksi yang ditimbulkan oleh jamur atau virus, gangguan pernapasan seperti batuk terus menerus, sesak napas terus menerus, tuberkulosis, pneumoia berulang, dan sinusitis kronik, lalu ada gejala neurologis seperti nyeri kepala terus menerus, kerjang, demam, hingga menurunnya fungsi kognitif.

Selain itu, dijelaskan juga bahwa tes HIV dapat dilakukan mulai dari puskesmas yang dapat menggunakan BPJS ataupun di rumah sakit yang memerlukan biaya. Apabila seseorang didiagnosa positif HIV, maka akan disarankan untuk melakukan terapi Antiretroviral (ARV). Terapi ARV ini sebaiknya dimulai sedini mungkin tanpa memandang jumlah CD4. Tahapan untuk terapi ARV ini adalah: penentuan stadium klinis yang dapat dilihat dari gejala klinis pasien dan klasifikasi CD4 melalui pemeriksaan setiap 6 bulan, selanjutnya dilakukan tahapan persiapan pemberian ARV dengan melakukan serangkaian tes seperti skrining TB, Hep B, Hep C dan IMS, kemudian barulah dimulai terapi ARV dengan pemantauan melalui CD4 (setiap 6 bulan), efek samping, sindrom pulih imun dan kegagalan terapi. Pemantauan setelah pemberian ARV perlu dilakukan melalui evaluasi terapi oleh dokter, perawat dan konselor.

Sama halnya dengan obat-obatan lainnya, ARV juga memiliki beberapa efek samping dalam rentan waktu tertentu. Pada beberapa minggu awal dapat terjadi gangguan pencernaan seperti mual, muntah dan diare. Selanjutnya dalam kurun waktu 4 minggu hingga 6 bulan kemungkinan terjadi anemia. Lalu pada waktu penggunaan 6 bulan hinggaa 18 bulan, dapat terjadi gangguan fungsi hati, gangguan fungsi pankreas, nyeri sendir, peningkatan kadar kolestrol. Terakhir dalam kurun waktu lebih dari 1 tahun, dapat terjadi gangguan fungsi ginjal. Terapi ARV juga memiliki kemungkinan kegagalan terapi, tetapi jika gagal lini pertama dapat diterapi dengan lini kedua atau ketiga.

Secara keseluruhan, dr. Eldaa menyampaikan bahwa melakukan tes HIV merupakan hal yang sangat penting agar dapat mendeteksi orang  yang terinfeksi HIV sejak awal, sehingga dapat mencegah terinfeksinya orang lain, dan dapat segera dilakukan terapi sesegera mungkin sehingga pasien yang terinfeksi HIV akan mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik.

Materi Lecture Series ini dapat diunduh pada link di bawah ini:

HIV: Tes dan Pengobatannya