Informasi Dasar Harm Reduction

Informasi Dasar Harm Reduction

Definisi dan Tujuan Harm Reduction

Ilustrasi www.daniels.co.ukDefinisi Harm Reduction (HR) menurut International Harm Reduction Association (2005) adalah “A comprehensive package of policies and programs which attempt to primarily reduce the adverse health, social & economic consequences of mood altering substances to drug users, their families and communities”.

Seperti arti katanya, HR merujuk pada kebijakan, program dan praktek-praktek yang tujuan utamanya adalah untuk mengurangi dampak merugikan dari penggunaan zat psikoaktif tanpa harus mengurangi konsumsi zat tersebut. Berbagai dampak merugikan yang bisa terjadi sebagai akibat dari penggunaan napza adalah HIV & AIDS, hepatitis B&C, biaya sosial, ekonomi yang timbul akibat penggunaan napza, serta aspek hukum dan kriminalisasi atas penggunaan napza. Intervensi dalam HR lebih difokuskan untuk mencegah dampak – dampak buruk tersebut pada orang-orang yang masih aktif menggunakan napza sehingga mereka dapat tetap hidup dengan baik dan produktif sampai pengobatan berhasil atau mereka berhenti atas kesadaran sendiri (1).

HR sebenarnya adalah konsep lama yang saat ini kembali digunakan untuk promosi dan peningkatan kesehatan masyarakat. HR mulai ramai dibicarakan kembali sejak merebaknya kasus infeksi HIV di kalangan pengguna napza suntik. Analogi yang biasa digunakan untuk memahami dasar pemikiran program HR adalah penggunaan sabuk pengaman bagi para pengendara mobil. Penggunaan sabuk pengaman tidak dapat mencegah terjadinya kecelakaan mobil tapi bertujuan untuk mencegah luka dan kematian saat kecelakaan terjadi. Dengan kata lain, penggunaan sabuk pengaman meminimalisir risiko terjadinya luka dan kematian pada pengendara mobil tanpa harus menghentikan mereka dari mengendarai mobil.

sumber: Harm Reduction: Mengapa begitu penting dalam pencegahan HIV? Rationale, Philosophy, Principles, Practices, Burnet Institute, Center for Harm Reduction. Apa yang menjadi ciri khas utama dari program HR?

Konsep dari program HR memiliki 3 ciri utama, yaitu (1)

1) Memiliki tujuan pragmatis jangka pendek untuk mencegah laju penyebaran HIV

2) Bekerja dengan hierarki sarana berikut untuk mencapai tujuan khusus:

  • Pertama, pengguna narkoba didorong untuk berhenti memakai narkoba
  • Jika pengguna narkoba memutuskan tetap menggunakan narkoba, maka didorong untuk menghentikan penggunaan dengan cara menyuntik.
  • Jika pengguna narkoba memutuskan untuk tetap menggunakan narkoba dengan menyuntik, maka didorong dan dipastikan untuk tidak memakai atau berbagi peralatan suntiknya secara bergantian dengan pengguna lain.
  • Terakhir, jika tetap terjadi penggunaan bergantian, maka pengguna narkoba didorong dan dilatih untuk mensterilkan peralatan suntiknya di antara setiap penggunaan

sumber: Harm Reduction: Mengapa begitu penting dalam pencegahan HIV? Rationale, Philosophy, Principles, Practices, Burnet Institute, Center for Harm Reduction.

3) Keterlibatan pengguna narkoba sebagai pelaku aktif dalam program, bukan hanya penerima layanan yang pasif

Paket Layanan Komprehensif

Ilustrasi Gambit PPH Atma JayaPencegahan penularan HIV melalui penggunaan jarum suntik tidak steril menjadi salah satu tantangan terbesar dalam upaya mewujudkan akses universal layanan kesehatan. Hasil kajian yang ada membuktikan bahwa paket layanan komprehensif yang mencakup pencegahan, perawatan dan pengobatan HIV bagi penasun diperlukan untuk dapat secara efektif mencegah laju penularan HIV. Paket layanan komprehensif ini mencakup 9 intervensi:

1. LASS (Layanan Alat Suntik Steril)

Layanan ini menyediakan peralatan suntik steril dan mendorong para pengguna untuk memakainya. LASS juga memberikan bantuan dalam pembuangan peralatan suntik bekas dengan tujuan untuk mengurangi risiko dari perilaku berbagi suntik bekas, serta penularan penyakit melalui jarum suntik yang seringkali dibuang sembarangan. Dalam penyediaan LASS juga penting untuk mengidentifikasi serta mengintervensi kondisi-kondisi yang bisa menjadi penghambat bagi penasun untuk mempraktekkan perilaku menyuntik yang aman.

Program penanggulangan HIV di Indonesia saat ini melaksanakan LASS sebagai salah satu program utama untuk kelompok risiko tinggi pengguna napza suntik. Pelaksana program LASS ini adalah puskesmas dan LSM. Program ini dilaksanakan dengan 2 metode, yaitu metode menetap (PKM, DIC LSM) dan mobile (PL). paket LASS yang diberikan kepada penasun berisi 3 buah jarum suntik baru, 3 buah alcohol swab, 3 buah kondom, dan materi KIE. Untuk semakin meningkatkan akses pengguna napza suntik terhadap jarum suntik steril, baru-baru ini Subdit AIDS dari Kementerian Kesehatan RI mengembangkan sebuah wacana untuk mengembangkan LASS di Apotik, namun ide ini masih didiskusikan di tahap awal.

2. Terapi subtitusi Opiat dan ketergantungan napza

Terapi substitusi bertujuan untuk menghentikan penggunaan napza secara bertahap dalam jangka panjang dengan mengalihkan pengguna yang menyuntik heroin ke zat jenis lain dengan tidak menyuntik. Program pemeliharaan metadon atau yang sering dikenal dengan nama Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) adalah salah satu program pengalihan yang sudah diteliti secara mendalam dan hingga saat ini diakui paling efektif. Pelaksanaan program ini didasari oleh pemahaman bahwa gangguan adiksi memerlukan penanganan yang sifatnya jangka panjang, komprehensif, dan berproses. Diluncurkan secara resmi pada tahun 2006, pelaksanaan PTRM di Indonesia diatur dalam peraturan Kemenkes 494/Menkes/SK/VII/2006. Sampai dengan akhir 2013, tercatat ada 85 layanan PTRM yang tersebar di sejumlah Puskesmas, rumah sakit, dan lembaga pemasyarakatan di Indonesia, dengan 18 titik layanan diantaranya tersedia di lima wilayah DKI Jakarta (2).

3. Tes dan konseling HIV

Layanan tes dan konseling HIV merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya penanggulangan HIV di Indonesia. Konseling bertujuan untuk memberi dukungan psikologis bagi mereka yang hidupnya akan (yang baru akan melakukan tes HIV) atau mungkin sudah terdampak oleh HIV dan AIDS. Selain itu, mendorong pengguna dengan perilaku berisiko untuk melakukan tes HIV dapat mencegah penularan HIV kepada orang lain dan juga membantu pengguna yang terinfeksi untuk dapat mengakses perawatan yang dibutuhkan.

4. Terapi antiretroviral (ART)

Pemberian obat antiretroviral (ARV) terbukti dapat meningkatkan kondisi kesehatan pasien HIV dan AIDS karena ARV bekerja secara efektif meningkatkan jumlah CD4 dan menurunkan jumlah virus HIV. Oleh karena itu, seperti di beberapa negara maju, Indonesia mulai mengembangkan program penggunaan strategis ARV atau yang dikenal dengan SUFA (strategic Use of ARV), untuk pencegahan dan pengobatan HIV, dengan memberikan obat ARV tanpa melihat jumlah CD4 pasien. Pelaksanaan penggunaan strategis ARV saat ini sedang diujicobakan di 13 kabupaten/kota dan masih terbatas pada kelompok populasi kunci, yaitu ibu hamil yang terinfeksi HIV, wanita pekerja seks langsung (WPSL), waria, lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL), pengguna napza suntik (penasun), pasien koefisien TB-HIV, dan ODHA yang pasangannya HIV negative (sero-discordant couple). Namun perlu diingat juga bahwa kepatuhan pasien adalah salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan terapi ARV. Pasien harus mengkonsumsi obat ARV setiap hari dengan dosis dan waktu yang tepat seumur hidup dan ketidakpatuhan dapat menimbulkan resistensi virus di dalam tubuh terhadap obat ARV.

Pemerintah Indonesia terus berusaha meningkatkan penyediaan layanan ART bagi ODHA. Untuk menekan angka kematian yang disebabkan oleh AIDS, pemerintah menyediakan obat ARV secara gratis bagi ODHA di seluruh Indonesia. Lebih jauh lagi, sejak November 2013 Kementerian Kesehatan RI menyediakan obat ARV triple fixed dose combination (triple FDC). Obat ARV triple FDC adalah kombinasi dari 3 macam obat ARV yang dimasukkan ke dalam sebuah kapsul yang diharapkan dapat meningkatkan kemudahan mengkonsumsi ARV karena ODHA hanya perlu minum satu kapsul dalam sehari. Selain kepraktisannya, efek samping dari obat ini juga sangat rendah sehingga diharapkan akan meningkatkan kepatuhan ODHA mengkonsumsi ARV. Sampai dengan Desember 2013, tercatat ada 380 layanan terapi ARV di Indonesia, terdiri dari 266 rumah sakit pengampu dan 114 layanan satelit dengan jumlah ODHA yang mengikuti terapi sebanyak 38,505 orang.

5. Pencegahan dan perawatan infeksi menular seksual (IMS)

Seperti yang sudah diketahui secara luas, IMS meningkatkan risiko penularan HIV karena perlukaan pada alat kelamin yang disebabkan oleh IMS mempermudah seseorang tertular HIV saat melakukan hubungan seksual tanpa pengaman. Program pencegahan dan perawatan IMS di Indonesia adalah bagian dari program pencegahan penularan melalui transmisi seksual (PMTS) yang dilakukan melalui berbagai aktivitas mulai dari pemberian informasi kesehatan seksual, konseling, pendidik sebaya, hingga pengembangan sistem rujukan untuk pengobatan IMS. Skrining dan layanan IMS menjadi salah satu dari empat elemen penting PMTS disamping ketiga elemen penting lainnya, yaitu komunikasi perubahan perilaku, penguatan pemangku kepentingan setempat, dan pengelolaan kondom dan cairan pelicin

Ilustrasi addictionblog.org6. Program kondom untuk penasun dan pasangan seksual penasun

Berbagai hasil penelitian dan survey yang ada menunjukkan bahwa tingkat penggunaan kondom secara konsisten di kalangan kelompok berisiko di Indonesia masih sangat rendah karena berbagai alasan seperti ketidaknyamanan saat berhubungan seksual dan masih rendahnya akses dan kualitas pelayanan yang tersedia. Rendahnya tingkat penggunaan kondom ini dinilai menjadi salah satu penyebab masih tingginya angka penularan IMS dan HIV di antara kelompok berisiko.

Melihat tingginya angka penularan HIV melalui transmisi seksual, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) baru-baru ini meluncurkan Iklan Layanan Masyarakat (ILM) yang bertujuan mempromosikan penggunaan kondom sebagai salah satu cara mencegah penularan HIV. Langkah ini dapat dilihat sebagai sebuah langkah besar mengingat keberadaan kondom sebagai salah satu metode pencegahan penularan berbagai penyakit menular seksual di Indonesia seringkali menjadi perdebatan karena dinilai mendorong terjadinya hubungan seksual, khususnya di kalangan orang muda.

7. Program KIE (komunikasi, Informasi, Edukasi) untuk penasun dan pasangannya

Mengingat pemberian informasi merupakan langkah penting pertama yang diperlukan dalam upaya perubahan perilaku, maka perlu dipastikan media dan pendekatan yang digunakan dalam program KIE efektif dan tepat sasaran. Saat ini materi KIE untuk penasun dan pasangannya disebarkan baik melalui buku-buku saku, diselipkan pada paket LASS, juga bisa diakses di layanan-layanan kesehatan untuk penasun baik di PKM maupun LSM. Kekonsistenan pesan dalam materi KIE yang akan disebarluaskan menjadi salah satu faktor penting untuk mendorong terjadinya perubahan perilaku di antara kelompok penasun.

8. Vaksinasi, diagnosis, dan pengobatan hepatitis

Penyakit hepatitis atau radang hati merupakan salah satu penyakit yang mengancam kesehatan ODHA dan penasun. Orang-orang yang menyuntikkan napza memiliki kerentanan yang sangat tinggi untuk terinfeksi virus hepatitis, khususnya hepatitis C (HCV). HCV tidak hanya ditularkan melalui penggunaan alat suntik secara bersamaan, tapi juga melalui peralatan lain, seperti wadah dan bahan yang digunakan untuk mencampur, dan juga saringan. Oleh sebab itu, pengunaan jarum suntik dan juga barang-barang pribadi secara bersamaan sebaiknya dihindari untuk mencegah terjadinya penularan. Lebih jauh lagi, koinfeksi HIV juga dapat mempercepat kerusakan hati yang ditimbulkan oleh infeksi ini, khususnya HCV. Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui vaksinasi, kecuali untuk hepatitis C. Untuk mencegah semakin parahnya kerusakan hati yang ditimbulkan virus hepatitis, berbagai upaya pengobatan untuk hepatitis A, B, dan C saat ini sudah tersedia. Berdasarkan hasil studi yang pernah dilakukan, ditemukan bahwa masih banyak penasun yang belum terpapar dengan informasi mengenai diagnosa dan pengobatan hepatitis, khususnya HCV. Oleh sebab itu, masih sangat diperlukan upaya untuk memastikan ketersediaan layanan informasi, pengobatan dan perawatan hepatitis yang murah dan mudah diakses oleh penasun.

9. Pencegahan, diagnosis, dan pengobatan Tubercolosis (TB)

Tuberkulosis (TB) adalah salah satu penyakit yang paling sering diderita oleh penasun. Berdasarkan hasil studi yang dilakukan di Indonesia, ditemukan bahwa penasun memiliki risiko lebih tinggi untuk terinfeksi TB terkait HIV dibandingkan dengan individu yang bukan penasun. Sejak tahun 1999, pemerintah Indonesia meluncurkan inisiatif public-private mix dalam penyediaan layanan untuk TB dengan melibatkan Rumah Sakit di Indonesia. Sejak tahun 2003 penyediaan layanan sudah tersedia secara nasional dan akan terus ditingkatkan.

Sembilan intervensi ini secara ilmiah sudah terbukti keefektifannya dalam pencegahan penularan HIV. Namun penting juga untuk diingat bahwa meskipun masing-masing intervensi secara terpisah sangat bermanfaat dalam menanggulangi HIV namun intervensi-intervensi ini merupakan bagian dari paket layanan komprehensif dan mendatangkan manfaat yang maksimal ketika semua layanan disediakan secara bersamaan untuk saling melengkapi.

Ilustasi www.keepcalm-o-matic.co.ukApakah menyetujui Harm Reduction berarti mendukung penggunaan napza?

Saat bicara mengenai HR, seringkali fokus diarahkan hanya pada komponen intervensi yang menyediakan layanan jarum suntik steril. Komponen ini seringkali diinterpretasikan sebagai bentuk persetujuan terhadap perilaku menggunakan napza. Komponen ini lebih tepat dilihat sebagai salah satu cara untuk mencapai tujuan pragmatis jangka pendek, yaitu mencegah laju penyebaran HIV, yang akan menentukan keberhasilan dalam mencapai tujuan jangka panjang, yaitu mencegah dan menghentikan penggunaan napza secara menyeluruh. Intervensi ini juga tidak dapat berdiri sendiri dan harus dilihat sebagai komponen yang saling melengkapi dengan komponen yang lain. Perlu juga dilihat lebih jauh bahwa meskipun tujuan utama program HR untuk mencegah laju penyebaran HIV bersifat pragmatis jangka pendek, hierarki sarana dan paket layanan komprehensif dalam program HR merefleksikan tujuan jangka panjang program untuk mencegah, mengurangi, dan menghentikan penggunaan napza secara menyeluruh.

Jika dianalogikan kembali menggunakan contoh sebelumnya, dengan mewajibkan pengendara mobil untuk menggunakan sabuk pengaman tidak berarti pemerintah merestui atau menyetujui tindakan mengemudi yang berisiko tapi justru mengakui fakta mengenai sering terjadinya tindakan mengemudi yang berisiko dan berusaha untuk menanggulangi akibat dari tindakan buruk tersebut. Menyediakan layanan alat suntik steril bagi para pengguna napza suntik bukan berarti menyetujui atau mendorong pengguna untuk terus menyuntik napza tapi lebih didasarkan pada fakta bahwa tindakan menyuntik berisiko memang terjadi dan tidak mudah untuk dicegah sehingga diperlukan usaha untuk mengurangi dampak yang merugikan dari menggunakan napza suntik. Tujuan utamanya adalah untuk menjaga praktik menyuntik yang dilakukan oleh para pengguna yang mau berhenti atau belum bisa berhenti agar tetap aman. (Emmy & Gracia Simanullang-PPH Atma Jaya)

Rujukan

  1. Burnet Institute , Centre for Harm Reduction. Harm Reduction: Mengapa begitu penting dalam pencegahan HIV? Rationale, Philosophy, Principles, Practices.
  2. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2013). Laporan kasus HIV dan AIDS Triwulan III tahun 2013. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
  3. Kebijakan AIDS Indonesia. (diakses pada 08 September 2014). Kebijakan Obat Nasional dan Layanan ARV
  4. Komisi Penanggulangan AIDS Indonesia (KPAN). (Diakses pada 08 September 2014). Info HIV dan AIDS ( http://www.aidsindonesia.or.id/contents/37/78/Info-HIV-dan-AIDS#sthash.9MNFDkDS.dpuf)
  5. Persaudaraan Korban Napza Indonesia. (Diakses pada 08 September 2014). Reportase kegiatan: TOT Pendidik Pengobatan HIV – TB – Hepatitis C dan Penanganan Overdosis bagi Komunitas ( http://www.pkni.org/tot-pendidik-pengobatan-hiv-tb-hepatitis-c-dan-penanganan-overdosis-bagi-komunitas/)
  6. Spiritia. (2005). Seri Buku Kecil: Hepatitis Virus dan HIV (diadaptasi dari buku Viral Hepatitis and HIV yang diterbitkan oleh AIDS Community Research Initiative of America (ACRIA)).
  7. The Center for Harm Reduction, Macfarlane Burnet Centre for Medical Research and Asian Harm Reduction Network. (1999). Menanggapi epidemi HIV di kalangan pengguna narkoba suntikan: dasar pemikiran pengurangan dampak buruk narkoba.
  8. World Health Organization, UNODC, UNAIDS. (2009). Treatment Guide for countries to set targets for universal access to HIV prevention, treatment and care for injecting drug users.