Jaringan Seksual dan Penggunaan Napza pada Pengguna Napza Suntik (Penasun) di enam (6) Propinsi di Indonesia

Raymond Tambunan, Octavery Kamil, Ignatius Praptoraharjo, Hosael Erlan, Irwanto
Pusat Penelitian HIV dan AIDS, Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta

Abstrak

Latar-belakang: Pengguna napza suntik (penasun) memainkan peranan yang penting dalam penyebaran HIV di Indonesia. Kelompok ini bukan saja memiliki risiko tinggi terinfeksi karena perilaku berbagi jarum suntiknya, tetapi juga memiliki risiko akibat hubungan seksual berganti pasangan dan rendahnya penggunaan kondom. Diperlukan pemahaman tentang pola perilaku penggunaan narkoba dan obat adiktif (napza) dan seksual di kalangan penasun untuk menyempurnakan program Harm Reduction (HR) yang ada.

Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: 1) mengumpulkan informasi mengenai tipe pasangan dan relasi seksual, serta pola perilaku seksual; dan 2) mengumpulkan informasi tentang faktor sosial dan kontekstual yang memengaruhi relasi dan perilaku seksual di antara penasun dan pasangan seksualnya.

Metode: desain penelitian menggunakan potong-lintang (cross sectional) yang bersifat deskriptif kuantitatif dengan menggunakan metode survei. 720 penasun di 10 kota di enam propinsi di Indonesia, yaitu: Sumatera Utara, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur dilibatkan dalam penelitian ini. Kuesioner diadopsi dari beberapa studi yang pernah dilakukan pada kelompok ini. Kuesioner terdiri dari pertanyaan-pertanyaan seputar latar belakang responden, sejarah dan pola penggunaan napza serta perilaku seksual (termasuk penggunaan kondom), serta jaringan seksual. Staf senior dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan petugas lapangan yang bekerja pada program-program HR di lokasi penelitian membantu dalam perekrutan dan wawancara penasun. Kriteria inklusi yang digunakan adalah: penasun yang telah didampingi oleh LSM yang bekerja di lokasi survei, seksual aktif, dan masih menggunakan Napza suntik dalam satu tahun terakhir. Analisa data dilakukan secara deskriptif dalam bentuk tabulasi atau tabulasi silang, dan uji statistik chi-square, serta GEE (Generalized Estimating Equation).

Hasil: Dari 720 responden, 92% berjenis kelamin laki-laki dengan usia berkisar antara 16 sampai 50 tahun. Usia pertama kali menggunakan napza dan berhubungan seksual adalah 16-20 tahun dan 10-11 tahun, masing-masing. Jenis Napza yang paling banyak digunakan pertama kali adalah ganja dan alkohol, keduanya merupakan precursor penggunaan heroin. Sebagian penasun yang mengikuti layanan rumatan metodon, juga masih menggunakan heroin, subutex, dan jenis lainnya. Penggunaan zat beragam (poly drugs) juga masih tinggi. Hasil juga menunjukkan tingkat mobilitas yang tinggi di kalangan penasun, dimana mereka menyuntik dan melakukan hubungan seks di beberapa kota di Indonesia. Penasun memiliki beberapa tipe pasangan seksual (misalnya: pasangan tetap, kasual, dan komersial). Dalam waktu yang bersamaan mereka melakukan hubungan dengan semua tipe pasangan seksual. Penggunaan kondom tergantung jenis pasangan, yaitu cenderung menggunakan pada pasangan tidak tetap dan tidak dikenal. Sebagian besar penasun pernah mengalami infeksi menular seksual (IMS).

Diskusi: Tingginya perilaku berisiko yang dilakukan penasun di lokasi penelitian membutuhkan intervensi program HR yang komprehensif. Pendidikan seksual dan konseling adiksi perlu dimasukkan dalam program HR. Penjangkauan pada pasangan penasun sangat diperlukan mengingat pola seksual penasun yang beragam. Penggunaan kondom harus ditekankan pada semua tipe pasangan seksual. Pola mobilitas yang tinggi di kalangan penasun memerlukan kerja sama antara pengelola program di kota-kota besar, untuk mencegah penyebaran HIV dan AIDS yang lebih luas.

{jd_file file==16}