Jumpa Pers Hasil Penelitian Awal Kekerasan Seksual pada Anak Jalanan

Jumpa Pers Hasil Penelitian Awal Kekerasan Seksual pada Anak Jalanan

Jakarta. Menurut statistik pemerintah Indonesia, pada tahun 1998 sebesar 2,8 juta anak-anak usia 10 sampai dengan 14 dinegara ini telah putus sekolah, bekerja untuk mendapatkan uang dan / atau menjual koran, pedagang asongan, menyemir sepatu, tukang parkir, pengamen, pemulung dan pengemis. Sementara pesentase remaja jalanan yang benar-benar menjadi tunawisma dan tinggal di stasiun bus, stasiun kereta dan tempat fasilitas umum tidak diketahui. Komisi Nasional Indonesia untuk Perlindungan Anak memperkirakan bahwa ada sekitar 1,7 juta anak jalanan yang rentan di seluruh 26 provinsi di Indonesia.

Banyak hari Remaja jalanan hidup di bawah tekanan terus menerus dan bertahan dalam keterbatasan seperti mendapatkan makanan, tempat tinggal, dan sumber daya yang dibutuhkan untuk bertahan hidup. Remaja jalanan juga menjadi sasaran kekerasan dan korban seksual umum. Remaja jalanan yang lebih tua sering menjadikan remaja jalanan yang lebih muda sebagai pelampiasan berhubungan seksual secara anal sebagai ritual “melindungi” remaja dan anak-anak jalanan yang lebih muda.

Kecenderungan memiliki perilaku seksual berisiko di kalangan remaja jalanan juga menempatkan mereka pada risiko tinggi untuk terkena HIV dan infeksi menular seksual lainnya (IMS). Menurut Prof Irwanto,“Peristiwa seks antar anak jalanan juga sudah cukup tinggi sehingga mendekati persoalan dengan cara abstinence hampir tidak mungkin. Persoalan seks merupakan satu dari seribu dari persoalan-persoalan yang terjadi pada anak.”

Melihat permasalahan tersebut, Pusat Penelitian HIV (PPH) Atma Jaya melakukan penelitian awal kekerasan Seksual pada Anak Jalanan. Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan program HIV AIDS dan mengujicobakan secara inovatif kepada remaja jalanan, sesuai dengan usia dan jenis kelamin.

jumpapers0516 2Kekek Apriana sebagai salahsatu penelti dari PPH Atma Jaya, mengatakan, “Perilaku seksual dengan senior dan penggunaan obat-obatan untuk membuat gairah seksual bertahan lama. Satu narasumber ada pula yang berpendapat bahwa tidak apa-apa melakukan hubungan seksual dengan pacar asal dibatasi. Lokasi seks bermacam-macam, mulai dari tempat nongkrong, pinggir empang, kolong jembatan, halte, dan hotel”

Menurut, Walter dari Sahabat Anak , “Mereka sangat susah mengakses bantuan pemerintah karena mereka tidak punya identitas. Ketika ditanya akte kelahiran sebagai syarat masuk sekolah, sekolah gratis sama seklai tidak dapat mereka akses karena mereka belum mengurus Akte Kelahiran. Sahabat Anak membantu support Hak Anak (Administrasi Kependudukan) , memberi pengetahuan kesehatan dan pengobatan gratis, beasiswa berprestasi. Menyadarkan mereka tentang kekerasan, perilaku seks, melaporkan ke pihak berwajib dan konseling, kesehatan reproduksi-pengetahuan HIV/AIDS, pacaran pernikahan dan rumah tangga. Pendampingan korban dengan pemulihan psikologi, kenyamanan korban dan keluarganya”

Jumpa Pers Hasil Awal Penelitian Kekerasan Seksual pada Anak Jalanan diadakan oleh Pusat penelitian Atma Jaya (PPH) pada Senin 16 May 2016 di Kampus Unika Atma Jaya Jakarta dengan menghadirkan narasumber; Prof. Irwanto – PPH Atma Jaya; Kekek Apriana DH, MSi – Peneliti PPH Atma Jaya; Walter Simbolon – Sahabat Anak dihadiri oleh dua puluh dua wartawan dari media cetak, elektronik, dan online.