“Kak, Kondom Itu untuk Apa?”

Oleh: Ilona Gok Dame, Ketua Tim Peduli AIDS Atma Jaya

Ilustrasi oleh Lia Kantrowitz

Tim Peduli AIDS Atma Jaya atau dikenal dengan sebutan TPA, merupakan sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa yang bergerak di bidang sosial, secara khusus mengenai isu HIV-AIDS. TPA melakukan banyak program dan kegiatan setiap tahunnya. Salah satu kegiatan yang dilakukan TPA adalah penyuluhan dan kampanye pada bulan Desember 2017 yang dilakukan dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember. Kampanye dilakukan secara langsung di Kampus Atma Jaya Semanggi dan BSD serta secara digital di media sosial instagram.

Di Kampus Atma Jaya, kami membagikan pamflet kepada warga Atma Jaya yang berisi tentang tindakan diskriminasi dan stigma yang diterima oleh populasi kunci. Tidak hanya itu, kami juga membagikan penjelasan singkat kepada mereka tentang isi pamflet tersebut. Sedangkan dalam kampanye digital di media sosial, kami membuat twibbon dan caption bertemakan Take Action, No Discrimination. Pada caption, kami menjelaskan sedikit stigma dan diskriminasi yang diterima ODHA, kemudian tindakan non diskriminasi apa yang dapat kita lakukan bersama.

Bentuk kegiatan yang kedua yakni penyuluhan yang dilakukan di salah satu SMA Negeri di Jakarta Pusat. Kami memberikan penyuluhan ke 6 kelas yang terdiri dari kelas 11 dan kelas 10, dengan durasi penyuluhan di masing-masing kelas 45 menit. Informasi yang diberikan dalam penyuluhan yaitu informasi dasar HIV-AIDS, seperti perbedaan HIV & AIDS, cara penularan, cara pencegahan dan terapi ARV. Selain itu kami juga menjelaskan stigma dan diskriminasi serta dampaknya terhadap ODHA. Kami merasa penting untuk membagikan informasi-informasi ini kepada siswa SMA karena perilaku seks bebas, angka kehamilan tidak diinginkan, aborsi, pemerkosaan, hingga penularan penyakit seksual banyak terjadi di kalangan remaja. Penyuluhan seperti ini dapat menjadi salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran untuk menjaga diri sendiri dan orang lain di sekitarnya, khususnya pada remaja SMA.

Respon para siswa SMA cukup positif terhadap penyuluhan tentang HIV-AIDS ini, terlihat dari sikap mereka yang cukup aktif, dimana di setiap kelas minimal ada 5 orang yang bertanya. Pertanyaan yang diajukan antara lain seperti “Bagaimana caranya agar bayi tidak tertular virus HIV dari ibunya?”, “Apakah darah yang ada di PMI juga ada yang terdapat virus HIV?”, dan “Berapa lama seseorang yang positif HIV bisa hidup apabila melakukan terapi ARV?”. Dan dari seluruh pertanyaan yang diberikan, ada satu pertanyaan yang cukup membuat kami terkejut. Ada satu murid perempuan yang bertanya, “Kak, kondom itu untuk apa ya?”. Seorang anak SMA yang bersekolah di Jakarta Pusat belum tahu guna kondom itu hal yang mengagetkan bagi kami.

Dari kejadian itu membuat kami berpikir bahwa masih ada remaja yang tinggal di Jakarta Pusat yang belum tahu kegunaan kondom, berarti hal ini menunjukkan bahwa edukasi terkait seks masih belum diterapkan secara komprehensif dan menyeluruh. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh budaya kita yang masih menganggap pembicaraan tentang seks adalah hal yang tabu. Hal ini menjadi salah satu tantangan karena anak dapat mencari informasi dari sumber yang salah sehingga anak tidak mendapatkan informasi yang benar untuk dapat menjaga dirinya dan bergaul secara sehat.

Padahal pendidikan seks yang dilakukan sejak dini dapat menekan laju angka pengidap penyakit kelamin, AIDS dan aborsi yang dilakukan kalangan remaja. Bahkan juga bisa mencegah terjadinya perilaku penyimpangan seks. Materi seks tidak perlu ditutup-tutupi, karena akan menjadikan siswa bertambah penasaran dan ingin mencobanya. Namun, perlu juga disertai dengan penjelasan akibat seks itu sendiri.

Berkaca dari pengalaman ini, kami merasa bahwa pendidikan seks penting disampaikan sejak dini. Dan semua orang memiliki andil untuk menyebarkan informasi tersebut seluas-luasnya, maka kami berkomitmen untuk terus memberikan edukasi melalui berbagai program kerja kami kepada warga Atma Jaya dan masyarakat luas.