Ku Tinggalkan Canduku, Demi Hari Esok yang Lebih Baik

Ku Tinggalkan Canduku, Demi Hari Esok yang Lebih Baik

Oleh Diana Christina

Dok, saya kapan bisa selesai minum metadon? Cape dok, harus bolak-balik

Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar kata “pecandu”? Tentu Anda sekalian memiliki tanggapan yang beraneka ragam, akan tetapi ijinkan saya menyampaikan opini saya sebagai calon seorang Psikolog yang saat ini sedang mempersiapkan diri untuk mengabdi kepada masyarakat.

Bermula dari kehadiran rekan-rekan PPH (Pusat Penelitian HIV) sebagai narasumber mengenai Harm Reduction, yakni sebuah program yang bertujuan untuk mengurangi dampak negatif bagi para pengguna NAPZA. Saya pun tanpa sadar mengingat kembali pengalaman saya ketika duduk di bangku SD (Sekolah Dasar) betapa kami seakan-akan diajarkan untuk sangat takut terhadap pengguna NAPZA. Tidak hanya narkoba sebagai suatu hal yang membahayakan, bahkan sedapat mungkin kita sebagai orang muda sebaiknya tidak berteman dengan para pengguna. Khawatir kalau-kalau kita terpengaruh oleh mereka.

Seiring berjalannya waktu, pengalaman tersebut terbawa hingga saat ini, dapat dikatakan saya cukup skeptis ketika membahas tentang orang-orang pengguna NAPZA. Bagi saya mereka pengguna NAPZA telah memilih jalan hidup mereka sendiri. Mereka memilih untuk menggunakan obat terlarang itu, jadi silahkan tanggung akibatnya. Hal ini yang pertama kali terlintas dibenak saya tanpa memberi ruang untuk mengetahui alasan dan perjuangan mereka untuk terbebas dari segala jenis obat terlarang.

Tanpa bermaksud mendiskriminasi, saya pribadi secara otomatis memikirkan berbagai macam cara dan alasan untuk menghindari mereka. Di benak saya, menghindar seakan-akan telah menjadi suatu hal logis yang memang perlu dilakukan.

Berhenti tidak semudah itu

Mungkin mudah bagi kita untuk mengatakan atau setidaknya sering pernah mendengar “…ya, kalau mau berhenti ya berhenti, semua tergantung niat kok!”, namun apakah kita sesungguhnya tahu persis apa yang mereka hadapi ketika berusaha untuk berhenti demi meraih kembali kehidupan mereka sebelum mengenal narboka? Sejujurnya saya tidak tahu apa yang mereka alami, sehingga saya pun meyakini hal yang sama bahwa berhenti itu tergantung niat.

Melalui kehadiran rekan-rekan PPH, saya sedikit demi sedikit membuat sebuah ruang dalam benak saya tentang cara pandang dan sikap yang baru terhadap para pecandu. Rasa ingin tahu saya perlahan muncul. Saya membaca kembali literatur mengenai penggunaan NAPZA dan dampaknya terhadap tubuh. Satu hal menarik yang saya temui, ternyata setiap manusia memiliki kecenderungan adiksi. Otak manusia secara konstan memproduksi hormon yang hampir serupa dengan marijuana (Kalat, 2009). Hal ini membuat saya berpikir bahwa pada dasarnya setiap manusia dengan rangsangan yang tepat dapat memicu kecenderungan adiksi mereka terhadap sesuatu.

Temuan saya meruntuhkan apa yang saya yakini selama ini. Bahwa saya cukup kuat untuk tidak terpengaruh, rasanya tidak demikian. Saya hanya orang yang beruntung, saya berada di lingkungan yang akses terhadap narkoba tergolong sulit. Bagaimana dengan mereka yang lingkungannya justru membuat akses terhadap narkoba semakin mudah? Sulitnya keadaan ekonomi, kondisi rumah yang tidak harmonis, lingkungan pertemanan yang memudahkan akses ke penggunaan narkoba, dan masih banyak lagi. Ya, sekali lagi temuan saya menyadarkan bahwa saya hanya beruntung.

Pecandu juga ingin pulih

Photo by William Farlow on Unsplash

Saya bersama rekan satu profesi lainnya didampingi oleh rekan PPH berkesempatan untuk datang ke Puskesmas dan bertemu langsung dengan para pecandu yang menjalani Terapi Metadon. Terapi Metadon yakni salah satu bentuk terapi yang diberikan sebagai bentuk pengganti penggunaan heroin. Metadon sendiri diketahui memiliki efek yang sama dengan heroin namun dapat dikatakan lebih aman karena dikonsumsi secara oral, tidak dengan jarum suntik.

Mungkin Anda sekalian berpikir bahwa, “Mereka enak ya, bisa ada penggantinya. Kalau berhenti kan seharusnya berhenti saja, kalau hanya diberikan pengganti kapan putus obatnya?” Saya pribadi memikirkan hal yang sama, sampai saya memiliki kesempatan untuk mengobrol langsung dengan para pecandu yang menjalani Terapi Metadon.

Rupaya terapi yang kita anggap enak ternyata tidak demikian halnya bagi mereka. Saya beberapa kali mendengar perbincangan dengan dokter di Puskesmas “Dok, saya kapan bisa selesai minum metadon? Cape dok, harus bolak-balik“. Beberapa orang yang sempat berbincang dengan saya pun mengaku bahwa “Cukup lah bikin ibu sedih… Udah harus bisa tanggung jawab, jalanin terapi supaya bisa dipercaya lagi sama keluarga…” Beberapa dari mereka pun ingin berkeluarga, dan ingin kembali memiliki pekerjaan tetap.

Percakapan singkat dengan mereka membuat saya sadar bahwa mereka hanya orang-orang yang tanpa sengaja terjerumus ke dalam penggunaan NAPZA, tanpa ada niat membahayakan dan menyulitkan orang-orang disekitarnya. Ketika saya menanyakan sejauh ini bagaimana relasi dengan keluarga dan teman-teman mereka menyatakan bahwa teman-teman mereka satu per satu meninggalkan mereka, keluarga pun sudah tidak mempedulikan mereka. Hal ini kemudian membuat saya berpikir, “lantas, apakah mungkin sikap acuh tak acuh kita sebagai orang terdekat justru membuat mereka pengguna NAPZA semakin jauh dari kehidupan yang lebih sehat?” Pada saat mereka membutuhkan dukungan dari orang terdekat, justru orang-orang terdekat mereka yang pertama melangkah mundur menjauhi mereka. Tanpa sadar justru sikap tidak peduli kita pada akhirnya membuat merasa tersingkirkan dan semakin terjerumus ke dalam candu mereka. Kini yang tersisa hanya  candu dan diri mereka.

Akhir-akhir ini media informasi banyak membahas mengenai keberhasilan pihak kepolisian untuk menangkap dan memenjarakan baik pengedar maupun pemakai narkoba. Saat ini pemerintah juga sedang aktif bertindak dalam upaya memerangi narkoba yang dianggap dapat merusak kesehatan baik secara mental maupun fisik para calon penerus bangsa. Melalui opini singkat saya, apakah selama ini upaya yang telah dilakukan sudah tepat sasaran? Mengingat salah satu kebutuhan utama para pecandu adalah perhatian dan penguatan dari orang-orang di sekitarnya. Bukankah kita sebagai orang-orang yang dapat dikatakan terbebas dari narkoba seharusnya bisa berpikir lebih jernih dari mereka para pecandu? Lantas, langkah nyata apa yang sekiranya sudah kita lakukan selama ini untuk membantu mereka? Atau mungkin selama ini kita merupakan salah satu dari orang-orang yang “menutup mata” padahal kita tahu mereka membutuhkan bantuan kita?

DAFTAR PUSTAKA

Kalat, J.W. (2009). Biological psychology. 10th Ed. Belmont, CA: Wadsworth.

 

Catatan: Tulisan ini merupakan refleksi penulis setelah mengikuti kegiatan “Kursus Harm Reduction 2017” oleh Program Magister Fakultas Psikologi Klinis Unika Atma Jaya Dan Pusat Penelitian HIV-AIDS Unika Atma Jaya. Penulis adalah mahasiswa Program Magister Psikologi Profesi Unika Atma Jaya.

Artikel mengenai Kursus Harm Reduction 2017 dapat dibaca melalui tautan ini: Mengenalkan Konsep Harm Reduction dalam Pelayanan Kesehatan