“Kualitas melalui inklusi”: Evaluasi pelatihan dan advokasi layanan kesehatan oleh komunitas di Indonesia

“Kualitas melalui inklusi”: Evaluasi pelatihan dan advokasi layanan kesehatan oleh komunitas di Indonesia

Penelitian terhadap populasi minoritas seksual dan gender (atau LGBTI) seringkali membuktikan bahwa populasi ini lebih rentan untuk memiliki kondisi kesehatan yang terganggu. Penelitian dari Institute of Medicine (IOM,2011) misalnya, menemukan bahwa minoritas seksual dan gender lebih rentan untuk dilecehkan, menjadi korban viktimisasi, menderita depresi hingga kecenderungan bunuh diri, dan cenderung memiliki prevalensi konsumsi rokok dan alkohol yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan populasi heteroseksual. Hal ini bisa jadi ada hubungannya dengan kenyataan bahwa populasi tersebut masih hidup dalam stigma, marjinalisasi, dan diskriminasi. Kondisi hidup tersebut, secara langsung atau tidak langsung, kemudian mempengaruhi kondisi kesehatan populasi minoritas seksual dan gender.

Meskipun LGBTI lebih rentan memiliki masalah kesehatan, mereka seringkali masih harus menerima diskriminasi dari tenaga kesehatan dan bahkan diputus aksesnya untuk menerima fasilitas kesehatan. Selain itu, tenaga kesehatan juga memiliki pengetahuan yang rendah mengenai kebutuhan spesifik LGBTI terkait kesehatan, sehingga kurang mampu memberikan pelayanan kesehatan berkualitas. Pembuat dan perencanaan kebijakan bidang kesehatan juga seringkali tidak mempertimbangkan kebutuhan spesifik LGBTI terkait kesehatan sehingga tidak semua kebutuhan mereka dapat dipenuhi dalam fasilitas kesehatan publik.

Membuka ruang partisipasi bagi populasi minoritas seksual dan gender dalam perencanaan program kesehatan, terbukti mampu meningkatkan akses populasi tersebut terhadap layanan kesehatan. Untuk mencari tahu lebih dalam terkait dampak partisipasi komunitas terhadap pelayanan kesehatan, COC sebagai organisasi yang sudah bergerak untuk meningkatkan fasilitas kesehatan bagi LGBTI, mengajak Pusat Penelitian HIV/AIDS UNIKA Atma Jaya sebagai partner akademis untuk negara Indonesia dalam penelitian yang juga akan dilaksanakan di negara Kenya dan Afrika Selatan. Penelitian ini rencananya akan berlangsung dari bulan April 2018 hingga Agustus 2019. Objektif penelitian ini ada tiga, yaitu:

  1. Mencari tahu tingkat pemberdayaan komunitas, perilaku mencari layanan kesehatan, serta hubungan antara keduanya, juga pengalaman stigma dan diskriminasi yang dialami LGBTI saat mengakses fasilitas kesehatan.
  2. Mendokumentasikan dan mendeskripsikan (terutama pada aspek framing, pendekatan, dan strategi) beragam pelatihan kesehatan dan advokasi terhadap kebijakan kesehatan yang sudah dilakukan oleh organisasi partner COC.
  3. Mencari tahu dampak dari program-program pada poin dua terhadap sikap, pengetahuan, dan praktek pada penyedia layanan kesehatan dan pembuat kebijakan kesehatan.

Data kuantitatif untuk keperluan objektif pertama akan dicapai melalui penyebaran kuesioner kepada 200 partisipan LGBTI. Untuk keperluan objektif kedua dan ketiga, data kualitatif akan diambil melalui wawancara kepada perwakilan organisasi partner COC serta pembuat kebijakan dan penyedia layanan kesehatan. Studi kasus dari ketiga negara target penelitian kemudian akan dibandingkan untuk kemudian digunakan dalam perumusan best practices bagi pelayanan kesehatan untuk populasi LGBTI. Dengan begitu, penelitian ini terutama akan sangat bermanfaat bagi populasi LGBTI dan stakeholders di ketiga negara  dalam konteks pemberian layanan kesehatan.

Edwin Sutamto