Laporan Penelitian Operasional Kelayakan Integrasi Penemuan Kasus TB Secara Aktif pada kelompok Populasi Kunci ke dalam Kegiatan Outreach Program HIV

Hasil kajian terhadap proses intervensi program TB REACH di empat kab/kota terpilih menunjukkan beberapa hal yang perlu memperoleh perhatian sebagai berikut:

  1. Walaupun tidak semua petugas outreach belum memahami mekanisme pengelolaan program TB, pelaksanaan di tingkat layanan telah mengacu pada pedoman yang digunakan. Adanya persamaan pengetahuan mengenai prinsip dasar pelaksanaan rujukan TB baik di tingkat layanan maupun klien misalnya dalam persyaratan untuk mengakses layanan TB memberi daya ungkit yang cukup dalam pelaksanaan kegiatan ini.
  2. Jumlah klien dari tiga komunitas yang mengakses layanan rujukan TB cukup kelihatan polanya pasca dilakukan intervensi pelatihan sehingga bisa digambarkan besaran prevalensi TB pada tiap populasi kunci ini dimasing-masing kab/kota terpilih seperti yang sudah disajikan didalam evaluasi hasil intervensi bab IV.
  3. Komunikasi pelaksanaan program TB REACH juga menjadi penentu penting dari keberhasilan sebuah program sehingga informasi yang sampai dilapangan tidak sepotong-potong melalui beberapa periode waktu tertentu. Hal ini akan sangat berdampak terhadap kejelasan sebuah pelaksanaan program dilapangan.
  4. Adanya ketidakpastian terkait proses klaim sampai menjelang berakhirnya periode program TB REACH sangat mempengaruhi proses kesuksesan pelaksanaan kegiatan program ini karena adanya penurunan motivasi pada petugas penjangkau dibeberapa lembaga swadaya masyarakat. Dukungan kebijakan lokal yang berpihak pada program mulai dari tingkat fasyankes dengan pemberian kemudahan dalam mengakses rujukan TB akan memberi motivasi tambahan bagi petugas penjangkau dalam merujuk klien dengan suspek TB.
  5. Begitu juga dukungan kebijakan suku dinas kab/kota setempat yang mau ikut telibat aktif dalam pengelolaan program akan sangat membantu dalam menjembatani komunikasi antara penyedia layanan (fasyankes) dengan petugas outreach di lembaga swadaya masyarakat agar secara bersama-sama ikut berkontribusi mendongkrak angka capaian rujukan TB REACH ini.

Berdasarkan evaluasi kegiatan intervensi TB REACH di empat kab/kota tersebut, maka dikembangkan sebuah intervensi asistensi teknis dalam pengelolaan program TB yang dimaksudkan untuk meningkatkan efektivitas rujukan TB ini. Permasalahan strategis yang diantisipasi dalam pengembangan intervensi ini adalah terkait pengelolaan manajemen program TB di masing-masing lembaga swadaya masyarakat. Intervensi asistensi teknis ini  dilakukan agar manajemen lemabaga swadaya masyarakat bisa memahami pengelolaan program TB secara komprehensif.

Hasil yang diharapkan dari intervensi asistensi teknis ini diharapkan lembaga swadaya masyarakat tidak semata-mata hanya terfokus pada capaian hasil rujukan TB, tetapi pengelolaan program TB secara utuh mulai dari proses perencanaan strategi intervensi outreach, cara memberikan materi TB dan melakukan  proses skrining TB, menilai dahak yang benar, merujuk pasien TB yang dianggap suspek sampai proses pengelolaan data rujukan TB diharapkan melalui kegiatan intervensi yang komprehensif ini akan menjadi pembelajaran besar dalam tantangan pelaksanaan program kedepan nantinya.

Evaluasi atas intervensi yang dilakukan ini menunjukkan bahwa pengembangan kapasitas staf petugas outreach dan pengelola program mampu secara optimal terhadap perubahan cakupan intervensi rujukan TB walaupun adanya keterbatasan waktu implementasi RTL hasil intervensi. Sekali lagi intervensi ini telah mampu menunjukkan adanya perubahan-perubahan awal di dalam penguatan prosedur kegiatan outreach sampai kemudian ke proses rujukan layanan TB di fasyankes setempat.