Lecture Series “Risiko Penularan HIV pada Pasangan Populasi Kunci”


Lecture Series yang diadakan pada tanggal 26 Maret 2019 lalu membahas tentang Risiko Penularan HIV pada Pasangan Populasi Kunci yang dibuka oleh Kepala Pusat Penelitian HIV/AIDS UAJ, Ibu Evi Sukmaningrum, dan dihadiri oleh 4 pembicara, yaitu Lydia Verina Wongso dari PPH UAJ, Oldri Sherli Manukuan dari UNFPA, Ibu Posma Ida Manulu dari PKVHI, dr. Lanny Luhukay dari Subdit AIDS, Kemenkes RI.

Lydia Verina Wongso (PPH UAJ), memaparkan hasil kajian di 6 kota yang dilakukan oleh PPH Atma Jaya mengenai “Faktor Risiko dan Perlindungan Penularan HIV pada Pasangan Tetap Heteroseksual di Indonesia”. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa potensi penularan HIV dari populasi kunci ke pasangan tetap  meningkat, dan faktor-faktor yang meningkatkan potensi penularan HIV antara lain, kekerasan, ketergantungan emosi dan finansial, praktek poligami, perkawinan dini, dan kawin kontrak. Beberapa hambatan layanan yang ditemui dari hasil kajian lapangan ini adalah: enggannya klien menceritakan faktor risikonya ketika menerima konseling di fasilitas layanan kesehatan, tidak dilakukannya Konseling sebelum dan sesudah tes HIV, sulitnya menjangkau pelanggan pekerja seks perempuan sebagai kelompok ‘jembatan penularan HIV’ serta mobilitas Penasun dan WPS yang cukup tinggi.

UNFPA telah menyusun SOP Program Pencegahan HIV pada Pasangan RISTI & ODHA oleh Petugas Lapangan yang merupakan pelengkap SOP penjangkauan dan pendukung sebaya yang tersedia di komunitas, yang disampaikan oleh Oldri Sherli Manukuan. Berdasarkan SOP ini, skema pencegahan HIV pada pasangan risti oleh petugas layanan: Menggali keberadaan pasangan & penilaian risiko, Menginformasikan keberadaan pasangan ke layanan atas seijin klien, Mendorong klien buka status HIV dan merujuk pasangan untuk tes HIV. Sedangkan skema pencegahan HIV pada pasangan ODHA oleh petugas layanan: Menggali keberadaan pasangan & status HIV pasangan, Menginformasikan keberadaan pasangan ODHA ke layanan & mendorong klien untuk buka status ke pasangan, Rujuk dan dampingi pasangan untuk tes HIV serta pantau apakah tes pasangan sudah dilakukan. Penting untuk melakukan pemantauan kegiatan pencegahan HIV pada pasangan ini. Disamping itu, menurut Oldri, juga perlu kerjasama dari pemerintah, swasta, masyarakat, media massa dan juga universitas yang terintegrasi untuk mendukung penanggulangan HIV itu sendiri.

Ibu Posma Ida Manulu (PKVHI) juga menambahkan bahwa kebanyakan infeksi baru ditularkan oleh orang yang tidak tahu statusnya sehingga yang bersangkutan tidak sadar bahwa ia berisiko untuk menularkan kepada pasangannya / orang lain. Disamping itu, 65% dari estimasi ODHA berasal dari non-populasi kunci, sehingga cukup sulit untuk menjangkau mereka. Dr. Lanny Luhukay (Subdit AIDS, Kemenkes RI) juga menjelaskan bahwa strategi untuk menghentikan penularan HIV, yaitu dengan cara STOP (Suluh, Temukan, Obati, Pertahankan).

Terakhir, dr. Lanny Luhukay menambahkan roadmap penanggulangan HIV, yaitu pada 2018, dilakukan penetapan target fast track 90-90-90, lalu 2020, 90% dari pasangan populasi kunci mengetahui status, dan 100% bayi dari ibu ODHA screening EID, 2022 merupakan pencapaian triple eleminasi, selanjutnya 2027 merupakan pencapaian target 90-90-90, dan pada 2030 merupakan eliminasi HIV, yang nantinya akan dilanjutkan dengan penemuan kasus baru per tahun yang didukung dengan penjangkauan LSM, mobile clinic, dan penambahan layanan / klinin tes HIV.

Melalui pembahasan dan diskusi pada Lecture Series ini dapat diketahui bahwa notifikasi pasangan feasible untuk dilakukan dan beberapa layanan sudah melakukannya, walaupun belum menjadi program yang testruktur di layanan, dan yang penting untuk menjadi pertimbangan adalah notifikasi pasangan mungkin akan meningkatkan kekerasan, sehingga perlu strategi khusus untuk kasus – kasus kekerasan.

Materi-materi diskusi dapat diunduh di link berikut:

Fisibiltas Konseling Berpasangan

Laporan Penelitian PPH UNFPA

Partner Notifikasi Subdit HIV AIDS

Presentasi SOP IPT UNFPA