Understanding HIV Risk in Transgender Youth

Understanding HIV Risk in Transgender Youth

Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah waria yang cukup banyak. Menurut data statistik yang dimiliki Persatuan Waria Republik Indonesia, jumlah waria yang terdata dan memiliki Kartu Tanda Penduduk mencapai 3.887.000 jiwa pada tahun 2007. Saat ini menurut Kementerian Sosial Republik Indonesia bahwa belum adanya data yang akurat dan mutakhir tentang gambaran atau profil waria. Pada umumnya, seseorang disebut remaja jika usianya antara 18 sampai 21 tahun. Namun berbeda untuk waria atau kaum transgender. Sampai usia 30 tahun, mereka masih disebut remaja. Waria remaja ini biasanya masih mencari jati diri keputusan mejadi seorang transgender.

Permasalahan yang sering timbul dalam sub populasi waria remaja adalah : Kerentanan terhadap IMS dan HIV dimana sebagian besar waria remaja adalah pekerja seks dan usia remaja menyebabkan rendahnya posisi tawar mereka terhadap para pelanggannya dalam perilaku seks aman. Kerentanan lain nya berkitan dengan kekerasan yang sering dialami oleh waria remaja , baik oleh pelanggan, masyarakat, maupun institusi.

Pada acara Lecture series kali ini bertempat di Kampus Unika Atma Jaya pada tanggal 12 May 2016 PPH Unika Atma Jaya mengundang Dr. Rob Garofalo, M.D., MPH, Professor of pediatrics and preventative medicine at Northwestern University’s Fienberg School of Medicine. Beliau juga Kepala Divisi dari Adolescent Medicine at Ann & Robert H. Lurie Children’s Hospital of Chicago dan Director of the hospital’s Gender, Sexuality and HIV Prevention Center.  Di Pusat tersebut, Dr. Garofalo adalah orang yang pertama kalinya mengembangkan program komprehensif dalam memberikan penanganan yang sifatnya multidisiplin terkait dengan gender-nonconforming children and adolescents di area Midwest, USA.

Acara ini dihadiri oleh para aktivis dan pemerhati masalah mengenai transgender bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang lebih mendalam mengenai waria remaja, khususnya untuk memahami tentang risiko yang terjadi pada waria remaja.

Diawal presentasinya Rob menekankan bahwa transgender bukanlah penyakit atau gangguan pada kejiwaan. Rob membuat sebuah Pilot Project Intervention Development: “Life Skills” yang bertujuan bukan untuk mengubahj transgender tetapi bagaimana masyarakat dapat menerima mereka.

Di Amerika, pada kasus Casey, seorang transgender woman dengan anatomi tubuh laki-laki pernah mendapatkan pelecehan seksual ketika berada di rumah penampungan untuk laki-laki. Dia terpaksa menjadi pekerja seks komersial untuk mendapatkan uang. Bayarannya menjadi lebih tinggi ketika ia mau melakukan hubungan seks tanpa menggunakan kondom. Pada akhirnya dia terinfekisi HIV. Sekarang Casey menjadi mahasiswa S2 disalah satu universitas di Amerika.

Di Amerika banyak program intervensi HIV untuk laki-laki dan perempuan, tapi sampai saat ini belum ada program yang khusus untuk transgender. Banyak permaslahan yang sebebarnya sederhana bagi orang ‘normal’, bisa menjadi sesuatu yang sulit untuk para transgender, seperti; mencari kerja, mendapat pelecehan ketika naik kendaraan umum, dan lain sebagainya. Belum lagi masalah kesehatan transgender yang menggunakan suntik hormone dan silicon .

Jumlah remaja transgender yang pernah terlibat kerja seks di Amreika sebanyak 67%. Mereka sudah aktif secara seksual, melakukan seks anal tanpa menggunakan kondomAlasan tidak menggunakan kondom: pasangan terlihat sehat; pasangan akan marah; ditekan oleh pasangan untuk tidak pakai kondom; seks lebih menarik tanpa kondom; repot

Dari semua yang pernah melakukan kerja seks, 23% positif HIV. Sedangkan yang tidak pernah melakukan kerja seks sebanyak 6% positif HIV. Melakukan pekerjaann sebagai pekerja seks merupakan sebuah cara untuk mereka dapat bertahan hidup bagi transgender muda. Kerja seks sebagai bentuk ’validasi’ atau penerimaan mereka sebagai perempuan, karena adanya klien laki-laki yang mau dengan mereka.

Pencegahan HIV pada transgender remaja merupakan hal yang kompleks, karena lebih banyak hal yang merupakan prioritas bagi mereka dibandingkan seks yang amanIntervensi yang dilakukan adalah memberikan life skills untuk mereka.

Pilot Intervention Development: “Life Skills” kemudian dikembangkan untuk menyasar kompleksitas isu transgender yang biasanya hanya menyasar isu kondom atau HIV. Project dimulai dengan diskusi bersama 3 orang transgender muda untuk menulis kurikulum bersama. Kemudian dilakukan intervensi pada kelompok kecil yang terdiri dari 6 sesi dan diadakan 2 kali seminggu.

Dalam pilot project ini ada 51 peserta yang direkrut. Ada 38 orang mengikuti sesi 1 atau lebih, dan 13 tidak pernah hadir dalam sesi. Tingkat retensi dan kehadiran cukup tinggi, 84% bertahan sampai kursus selesai. Lebih dari 90% peserta menyatakan akan merekomendasikan kursus kepada orang lain.

Prinsip utamanya : transgender pride & self esteem; kemampuan berkomunikasi secara asertif; keterampilan advokasi; perumahan dan layanan kesehatan; edukasi HIV dan praktik seks yang lebih aman; negosiasi dengan pasangan – terutama tentang kerja seks; kombinasi semuanya.

Setelah pilot project ini ada pengurangan >20% pada seks anal tanpa kondom. Tantangan studi ini adalah isu persetujuan etik karena melibatkan anak di bawah 18 tahun tanpa persetujuan (consent) orangtua. Apakah disain studi seperti ini bisa diterima secara etis? Bentuk intervensi seperti ini harus dimulai sejak usia yang sangat muda (sedini mungkin) Mempekerjakan transgender dalam project ini menjadi tantangan tersendiri. Sulit untuk mengajarkan life skills saat fasilitator kelompok juga mengalami isu yang sama dengan kelompok muda yang menjadi peserta.

Bentuk intervensi seperti ini perlu direplikasi, disesuaikan, dan diperbanyak. Perlu ada intervensi komunitas dan struktural untuk perumahan, pendidikan, dan pekerjaan. Level intervensi individual juga diperlukan melalui program mentoring (termasuk religious dan faith based); PreP – test and treat; poin terakhir adalah tidak hanya sekedar bergerak di isu HIV, perlu melihat transgender muda melalui perspektif yang lebih luas.