Mengenal Ary Bumi Kartini: Project Officer Proyek “Yes, I Can!”

Mengenal Ary Bumi Kartini: Project Officer Proyek “Yes, I Can!”

Nama saya Ary Bumi Kartini, biasa dipanggil “Ary” atau “Bumi oleh keluarga dan teman-teman. Saya lahir di Jogjakarta pada tanggal 23 April, terlahir sebagai anak bungsu dari 5 bersaudara.

Saya menyelesaikan S1 pada tahun 2003 di salah satu PT Swasta di Jogjakarta, namun sebelum wisuda S1 saya mencoba mencari kesibukan dengan menjadi relawan di salah satu lembaga sosial masyarakat yaitu PKBI DIY yang bergerak di isu kesehatan reproduksi. Saya memang memiliki ketertarikan dengan isu tersebut dan kebetulan teman sepermainan lebih dulu bergabung dengan lembaga ini. Melalui lembaga inilah yang kemudian  membawaku memiliki banyak teman dan pengalaman.

Proses rekrutmen di PKBI DIY sangat luar biasa pada saat itu (di divisi yang saya daftar ada 100 orang dan hanya 10 orang yang lolos tahap selanjutnya) setiap orang yang ingin bergabung harus mengirimkan lamaran dan harus diantar sendiri. Setelahnya ada proses wawancara dan magang selama 3 bulan sebelum dinyatakan sebagai relawan. Maka berangkatlah saya ke kantor PKBI DIY dan bertemu dengan perempuan (keibuan) namanya Mbak Vinolia (beliau menyebutkan namanya), yang kemudian saya tahu bahwa beliau adalah Waria (sekilas tidak tahu kalau Beliau seorang waria). Sejak kecil hingga kuliah, saya belum pernah kenal secara langsung dengan Waria. Sehingga doktrin yang muncul di pikiran saya adalah waria itu dandanannya menor, make up tebal, gincu merah tebal menyala, baju seksi dan jahat. Tapi tidak dengan Mbak Vinolia ini, tampilannya sederhana, tidak bermake up, tidak pake baju seksi dan dengan ramahnya menerimaku untuk mendaftar menjadi relawan. Beliau menjelaskan dengan detail proses rekrutmen yang akan saya ikuti.

Setelah bergabung dengan PKBI DIY, teman-temanku pun menjadi sangat beragam. Istilah Jawa, tumplek bleg – semua jadi satu, apapun latar belakang dan karakter orang. Disitulah mulai mengenal teman-teman waria, anak jalanan, PS (Pekerja Seks) dan gay. Dari perkenalan inilah yang akhirnya mengubah cara pandangku terutama tentang waria. Memang, tak kenal maka tak sayang, sesuai dengan pepatah ini, kita (saya) tidak akan pernah tau tentang mereka kalau kita tidak mengenalnya. Dari Mbok Vin (akhirnya ku panggil dia simbok sebutan ibu di Jawa) aku banyak belajar bagaimana percaya diri meski kita berbeda dengan yang lain. Beliau yakin semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk mewujudkan cita-cita.

Yang saya tahu setelah Mbok Vin keluar dari PKBI DIY, beliau bersama beberapa teman eks PKBI DIY mendirikan LSM Kebaya  (Keluarga Besar Waria Yogyakarta) pada tahun 2006 yang berlokasi di Jogjakarta yang kemudian membawa nama harumnya ke seluruh pelosok negeri dan internasional. Saat ini Mbok Vin menjadi Direktur di LSM Kebaya, mungkin Mbok Vin juga tidak akan pernah menyangka dapat mencapai semua ini, namun dengan pengetahuan, pengalaman, kegigihan, konsistensi dan jejaringnya Beliau mampu membuktikan bahwa waria mampu bersaing dan berani mewujudkan cita-citanya.