Menghadapi Kasus Penyalahgunaan NAPZA dalam Perspektif Calon Psikolog Klinis

Menghadapi Kasus Penyalahgunaan NAPZA dalam Perspektif Calon Psikolog Klinis

Oleh : Farida Eka Putri

NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif), berdasarkan pengertian dari WHO (1982) adalah semua zat kecuali makanan, air atau oksigen yang jika dimasukkan kedalam tubuh dapat mengubah fungsi tubuh secara fisik dan psikologis. Menurut Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009, narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman, baik sintesis maupun semisintesis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Pada satu sisi NAPZA merupakan obat atau bahan yang bermanfaat di bidang pengobatan, pelayanan kesehatan, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Namun di sisi lain dapat menimbulkan ketergantungan apabila dipergunakan tanpa adanya pengendalian dari dokter ataupun ahli medis lainnya.

NAPZA yang masuk kedalam tubuh manusia baik dengan cara diminum, dihisap maupun disuntik tanpa adanya saran serta pengawasan dari ahli medis akan mempengaruhi tubuh terutama otak atau susuanan saraf pusat, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan fisik, psikis, dan fungsi sosialnya karena terjadi kebiasaan, ketagihan (adiksi) serta ketergantungan (dependensi) terhadap NAPZA.

NAPZA yang disalahgunakan tersebut, akan berakibat sangat merugikan bagi pemakainya (diri sendiri), keluarga, pihak sekolah (pendidikan) serta masyarakat bangsa dan negara.

Ketergantungan NAPZA merupakan penyakit mental dan perilaku yang dapat berdampak pada kondisi kejiwaan yang bersangkutan dan masalah lingkungan sosial. Ditinjau dari sejumlah kasus, walaupun tidak ada data yang pasti mengenai jumlah kasus penyalahgunaan NAPZA, namun diperkirakan beberapa tahun terakhir jumlah kasus penyalahgunaan NAPZA cenderung semakin meningkat, bahkan jumlah yang sebenarnya diperkirakan sesuai dengan fenomena “gunung es”, dimana jumlah kasus yang ada jauh lebih besar daripada kasus yang dilaporkan atau dikumpulkan (dalam catatan pribadi, kursus Harm Reduction 10 – 11 Juli 2017).

Dampak penyalahgunaan NAPZA terhadap kesehatan tubuh jika digunakan secara terus menerus atau melebihi takaran mengakibatkan ketergantungan sehingga terjadi kerusakan organ tubuh seperti jantung, paru-paru, hati dan ginjal. Dampak penyalahgunaan pada seseorang sangat tergantung pada jenis NAPZA yang dipakai, kepribadian pemakai dan situasi atau kondisi pemakai. Secara umum dampak penyalahgunaan dapat terlihat pada fisik, psikis maupun sosial. Dampak psikis dan sosial antara lain adalah lamban kerja, apatis, hilang kepercayaan diri, tertekan, sulit berkonsentrasi, gangguan mental, antisosial, asusila dan dikucilkan oleh masyarakat (Kaplan,1993). Selain itu, penyalahgunaan yang menggunakan jarum suntik, khususnya pemakaian jarum suntik secara bergantian, risikonya adalah tertular penyakit seperti hepatitis B, C, HIV & AIDS. Penggunaan yang berlebihan atau over dosis dapat menyebabkan kematian (dalam catatan pribadi, kursus Harm Reduction 10-11 Juli 2017).

Seperti yang telah dipaparkan oleh dua pemateri pada kursus Harm Reduction, yakni Ibu Evi Sukmaningrum, PhD dan Bapak Dr. Very Kamil, S.Psi., M.Sos, Psikolog, bahwasanya ada berbagai tahapan yang pasti akan dialami oleh individu dengan ketergantungan NAPZA, sebelum individu tersebut menjadi ketergantungan mereka melewati beberapa tahapan. Tahap awal yang dinamakan kompromi yaitu tahap dimana individu “coba-coba” dengan tawaran atau godaan-godaan untuk menggunakan NAPZA. Setelah itu masuk kepada tahap toleransi, tahap dimana individu setuju dan memutuskan untuk menggunakan NAPZA. Kemudian meningkat menjadi habit yakni mengkonsumsi NAPZA adalah hal yang sudah menjadi kebiasaan pada kehidupan sehari-harinya. Setelah menjadi kebiasaan, tahap penggunaan berubah menjadi adiksi, pemakai NAPZA sudah merasa “ingin terus menambah” dalam menggunakannya dan semakin ketagihan. Akhirnya individu yang sudah terikat kuat oleh NAPZA tidak bisa lagi melepaskan diri dari jeratan obat-obatan berbahaya tersebut sampai tahapan terakhir yaitu penjara (jika ia tertangkap polisi), rehabilitasi (jika individu tersebut menginginkan perubahan positif pada hidupnya) atau bahkan kematian (jika ia tidak dapat tertolong akibat mengkonsumsi NAPZA).

Permasalahan yang kompleks akibat penyalahgunaan NAPZA tidak hanya dirasakan langsung oleh penyalahguna, tetapi juga lingkungan terdekatnya terutama keluarga. Permasalahan yang dialami oleh penyalahguna NAPZA telah meluas menjadi masalah  psikososial contohnya seperti: stigmatisasi, perlakuan diskriminatif, kurangnya percaya diri, rasa rendah diri, tidak adaya motivasi untuk berusaha, menurunnya harga diri dan stres – stres lain yang muncul akibat perubahan situasi yang cukup ekstrim.

Sebagai seorang Psikolog Klinis sebaiknya kita harus tetap memandang bahwa masih  terdapat kelebihan-kelebihan dan kekuatan-kekuatan yang positif walaupun individu tersebut sedang berada didalam kondisi yang menyakitkan. Masih terdapat hal-hal yang baik pada individu itu pada kondisi terburuk sekalipun. Seperti yang dikemukakan Joseph & Linley (2008) ketika berbicara tentang konsep positive psychology yang menekankan pada eksplorasi potensi-potensi positif dalam diri manusia. Lebih memusatkan perhatian pada kelebihan dan kekuatan yang dimiliki oleh manusia.

Ketika mempercayai bahwa masih ada potensi baik itu pada diri individu khususnya dalam hal ini adalah orang-orang yang sudah “tercebur” dalam penyalahgunaan NAPZA, Psikolog memiliki peran yang signifikan untuk dapat membantu meningkatkan kesadaran akan masalah yang dialami oleh penyalahguna NAPZA. Psikolog berkontribusi besar untuk membantu penyalahguna NAPZA agar dapat kembali berfungsi secara individu maupun sosialnya. Misalnya saja Psikolog dapat memberikan terapi ataupun konseling untuk meningkatkan kesadaran akan masalah yang dialami oleh pengguna NAPZA serta kekuatan-kekuatan yang dimilikinya yang dapat digunakan untuk melakukan perubahan perilaku penyalahguna , mengatasi kesulitan (meningkatkan keterampilan penyalahguna NAPZA untuk menghadapi segala sesuatu seperti membantu memberikan motivasi untuk mengikuti proses detokfikasi dan pertolongan lainnya) dan menentukan keputusan (meningkatkan kemampuan penyalahgunan NAPZA dalam mengambil keputusan, seperti mengambil keputusan tujuan hidupnya) , serta meningkatkan kemampuan penyalahguna NAPZA dalam menjalin hubungan interpersonal, seperti membantu mengatasi pulihnya hubungan dengan anggota keluarga, sehingga proses penyembuhan dapat berjalan optimal.

Namun untuk sekarang ini sebagai seorang calon Psikolog Klinis, yang telah dibekali ilmu tentang Harm Reduction hal yang dapat dilakukan adalah memberikan sosialisasi kepada masyarakat dimulai dari lingkungan sekitar terlebih dahulu, bahwasanya orang-orang yang telah terjerumus dalam penyalahgunaan NAPZA/Narkoba/Narkotika ialah orang-orang yang sebenarnya membutuhkan dukungan sosial untuk dapat terlepas dari situasi dan kondisi ketergantungan obatnya tersebut. Dalam hati kecil mereka mengharapkan kesembuhan dan dianggap keberadaannya dalam masyarakat. Bukan untuk diberikan stigma atau dikucilakan lagi sehingga mereka semakin terjatuh dalam kondisinya itu dan lebih berbahaya lagi merusak diri sendiri dan lingkungan sekitar.

 

Daftar Pustaka

Kaplan, Harold. M, D., Benjamin, J.S, et al. (1993). Synopsis of psychiatry:

disorders related to substance volume I. 7th edition. New York: Williams &Wilkins.

Joseph S, & Linley, P.H. (2008). Trauma, recovery and growth. New Jersey: John

Wiley & Sons, Inc.

 

Catatan: Tulisan ini merupakan refleksi penulis setelah mengikuti kegiatan “Kursus Harm Reduction 2017” oleh Program Magister Fakultas Psikologi Klinis Unika Atma Jaya Dan Pusat Penelitian HIV-AIDS Unika Atma Jaya.  Penulis adalah mahasiswa Program Magister Psikologi Profesi Unika Atma Jaya.

Artikel mengenai Kursus Harm Reduction 2017 dapat dibaca melalui tautan ini: Mengenalkan Konsep Harm Reduction dalam Pelayanan Kesehatan