Metode PrEP Dapat Mencegah HIV

Metode PrEP Dapat Mencegah HIV

Jakarta. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia telah mengeluarkan beberapa kebijakan dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS, termasuk perluasan pengobatan ARV melalui “Strategic use of ARV (SUFA)” atau juga yang lebih dikenal dengan “test and treat”. Saat ini, salah satu alternative strategi dalam upaya penanggulangan HIV pada kelompok populasi kunci adalah intervensi biomedis yaitu ‘pengobatan sebagai pencegahan”, atau yang lebih dikena dengan istilah ilmiah Pre-exposure prophylaxis (PrEP ).

Robert Magnani, PhD. Independent consultant,Clinton Health Access Initiative (CHAI) mengatakan, “Pada dasarnya PrEP merupakan intervensi untuk mencegah orang-orang yang berperilaku berisiko yang belum terinfeksi agar tidak terinfeksi HIV. Obat yang saat ini digunakan adalah Truvada (Emtricitabine-Tenofovir disoproxil fumerate, kombinasi FTC/TDF, yang paling sering digunakan) dan juga dalam percobaan dengan obat yang hanya mengandung Tenofovir”

Bukti-bukti ilmiah melalui uji klinis di Amerika dan Thailand pada kelompok populasi kunci, seperti; lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL), laki-laki biseksual, heteroseksual dan wanita menunjukan efektifitas PrEP dalam menekan infeksi baru HIV artinya dengan minum pill PrEP secara konsisten setiap hari, maka dapat menekan resiko penularan HIV sebesar 92%. Lebih lanjut, semua penelitian ini tidak melaporkan adanya tingkat keparahan yang berat terhadap penggunaan PrEP walaupun diminum setiap harinya, kecuali mengalami efek samping ringan seperti sakit perut dan hilang nafsu makan.

Robert menambahkan, “Studi lain yang dilakukan sebagai bagian dari Pre-Exposure Prophylaxis Initiative (iPrEX) mencoba melihat kadar PrEP dalam darah, dan ditemukan 92% pengurangan infeksi HIV pada 44% responden yang dalam darahnya terdeteksi kandungan PrEP. Studi terhadap populasi IDU pertama kali dilakukan di Bangkok, Thailand, dan ditemukan pengurangan infeksi HIV 49% pada kelompok IDU yang diberi PrEP.”

Di dunia internasional PrEP sudah digunakan sebagai salah satu alternative upaya pencegahan HIV dan AIDS, terutama pada kelompok LSL. Di Indonesia sendiri, PrEP telah dimasukan dalam Strategi Renacana Aksi Nasional 2015-2019 penanggulangan HIV dan AIDS yaitu dalam strategi pengembangan program komprehensif pada gay, waria, dan LSL. Namun demikian, informasi dan kebijakan tentang PeRP masih terbatas sehingga diperlukan pengetahuan dan penyebaran informasi yang benar tentang PrEP.

Steve Wignall, MD. Senior Advisor CHAI, menjelaskan, “US CDC 2014 merekomendasikan PrEP dikombinasikan dengan strategi pencegahan lainnya (kondom, mengurangi jumlah pasangan) untuk gay atau biseksual laki-laki yang telah melakukan hubungan seks tanpa kondom atau menderita IMS dalam enam bulan terakhir dan tidak dalam hubungan monogami dengan pasangan yang baru-baru ini diuji negatif HIV.”

Anindita Gabriella, Kepala Pusat Penelitian HIV/AIDS Atma Jaya, mengatakan “PrEP adalah salah satu alternatif upaya pencegahan HIV dan AIDS yang mulai menunjukkan hasil baik dalam beberapa penelitian di dunia. Beberapa penelitian di luar negeri menunjukkan intervensi ini memberikan hasil baik dalam mengurangi risiko infeksi HIV secara cukup signifikan, khususnya pada kelompok LSL. Meskipun demikian, tentunya masih dibutuhkan kajian-kajian yang lebih mendalam dan diskusi lebih lanjut antar semua pihak yang terlibat dan terdampak jika intervensi ini ingin dicoba untuk diimplementasikan di Indonesia, mengingat upaya dan biaya yang perlu diinvestasikan untuk intervensi ini tentunya tidak sedikit.”

Berkaitan dengan masih adanya pro dan kontra dalam kebijakan PrEP sebagai strategi pencegahan HIV, maka Pusat Penelitian HIV dan AIDS (PPH), Atma Jaya mengadakan dialog bersama pada 22 Januari 2015 di Eatology, Jakarta dengan para narasumber; Robert Magnani, PhD. Independent consultant,Clinton Health Access Initiative (CHAI). Steve Wignall, MD. Senior Advisor CHAI..Perwakilan LSM, Husein Basalamah dari Kios Atma Jaya, Hartono dari GWL-INA.