Modal Sosial dan Kualitas Hidup Pengguna Napza Suntik di DKI Jakarta

Modal Sosial dan Kualitas Hidup Pengguna Napza Suntik di DKI Jakarta

Penanggulangan HIV AIDS pada kelompok Pengguna Napza Suntik (Penasun) akan berhasil jika kelompok tersebut memiliki kesadaran dan kemampuan untuk melindungi dirinya dari kemungkinan penularan penyakit tersebut. Salah satu kemampuan yang belum banyak diperhatikan adalah kemampuan modal sosial. Banyak penelitian telah menunjukkan bagaimana pengaruh modal sosial yang dimiliki oleh individu atau kelompok dalam memberikan perlindungan atau meningkatakan status kesehatan.

Pusat Penelitian HIV dan AIDS Unika Atma Jaya menyelenggarakan Lecture Series pada tanggal 8 Agustus 2017 yang lalu mendiskusikan hasil penelitian tentang bagaimana pengaruh modal sosial terhadap status kesehatan penasun di Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan beberapa pembicara diantaranya Octavery Kamil (selaku peneliti topik lecture series), Khrisna Anggara (BNN Prov DKI Jakarta), dan juga pembicara dari KIOS.

Penelitian ini yang merupakan penelitian disertasi dari Octavery Kamil bertujuan untuk  melihat hubungan antara modal sosial dengan kualitas hidup pada penasun, termasuk mendidentifikasi factor-faktor  yang memiliki asosiasi dengan kualitas hidup dan kesehatan penasun. Selain itu, penelitian ini juga mengkaji proses bekerjanya modal sosial pada jaringan sosial penasun di level mikro dan mezzo dalam mempengaruhi kualitas hidup penasun di DKI Jakarta.

Octavery menjelaskan bahwa jaringan sosial penasun, sebelum pakaw tentu tidak berbeda dengan yang dimiliki masyarakat lainnya. Ada keluarga, keluarga jauh, teman, dan tetangga. Mungkin di luar lingkungan, dia aktif dalam berbagai kegiatan. Dia kemudian masuk dalam dunia adiksi, dan akhirnya dunianya pindah ke dunia pakaw. Terkecuali beberapa orang yang sangat dekat akan masih menjadi bagian dari dunianya. Bisa jadi ibu, ayah, atau anggota keluarga yang lain. Ada juga dengan saudara. Anggota keluarga ini yang biasanya akan tetap dekat, walaupun si penasun sedang aktif pakaw. Apalagi ketika sudah berhenti.

Model Hipotesi – Analisa Regresi (dokumen Octavery Kamil)

Dari hasil penelitian ini, menunjukkan adanya asosiasi yang signifikan antara modal sosial dengan kualitas hidup penasun. Masing masing bonding dan bridging social capital terbukti memiliki asosiasi yang signifikan dengan kualitas hidup. Variable pekerjaan, tempat tinggal, dan intensitas hubungan dengan staf program pengurangan dampak buruk juga memberikan dampak signifikan terhadap modal sosial.

Kebijakan kriminalisasi mengakibatkan penasun berada dalam posisi rentan untuk kehilangan dukungan sosial dan modal sosial. Pembuat kebijakan disarankan untuk memprioritaskan kebijakan yang dapat mengurangi pemenjaraan. Adanya upaya untuk meningkatkan kualitas dan akses layanan pemulihan dan layanan sosial lainnya. Mengaktifkan dan meningkatkan kembali kelompok kerja pengurangan dampak buruk. Satu hal yang tidak kalah penting adalah perlunya kesinambungan program yang sudah berjalan. (hk)

 

 

(Artikel ini merupakan bagian dari rangkuman kegiatan Lecture Series “Modal Sosial dan Kualitas Hidup pada Penasun di DKI Jakarta” yang diselenggarakan pada tanggal 8 Agustus 2017 bertempat di PPH Unika Atma Jaya.)