Mustahil Sendirian Keluar dari “Jeruji Penjara” yang Dibangun Sendiri

Mustahil Sendirian Keluar dari “Jeruji Penjara” yang Dibangun Sendiri

Oleh Devina Wicaksana

Wah, kalo lagi pedaw (efek teler setelah menggunakan zat heroin, red) mah rasanya enak banget mbak, beban pikiran, stres, apa juga hilang aja, kayak udah nggak punya masalah apa-apa lagi. Damai mbak, udah nggak mikirin apa-apa lagi. Badan rasanya enak, sakit apa juga hilang semua, jadi ngantuk…

demikian ujar C mengenai sensasi kenikmatan yang ia alami semasa ia masih aktif menggunakan putauw (heroin). C merupakan narasumber wanita yang bersedia penulis temui selepas mengikuti Program Terapi Rumatan Methadone (PTRM) di Puskesmas Grogol Petamburan pada hari Rabu, 12 Juli 2017 yang lalu.

C mengaku sudah mengikuti terapi methadone sejak tahun 2008 secara rutin semenjak dirinya dan suaminya terdiagnosa positif mengidap HIV / AIDS sepuluh tahun silam. Sejak saat itu, C dan suaminya harus rutin mengonsumsi ARV dan methadone untuk mengatasi gejala wakas (gejala putus obat atau withdrawal). Saat ini C tinggal sendiri di daerah Poris tanpa ditemani siapapun, lantaran suami C harus mendekam di balik jeruji besi. C tidak kuasa membendung air matanya ketika menceritakan bahwa suaminya rela menggantikan dirinya yang pernah tertangkap polisi sedang mengedarkan putauw. Kondisi ini menyebabkan putri semata wayang mereka yang baru berusia 6 tahun harus tinggal bersama kedua orang tua C di kampung di daerah Jawa Tengah. Selama berbincang-bincang dengan penulis, beberapa kali C terlihat dihampiri oleh dua orang laki-laki yang terlihat gelisah dan berjalan mondar-mandir di dekat C. Kedua laki-laki tersebut meminta sesuatu kepada C, yang dijawab C dengan kalimat sederhana “lagi nggak ada gua”.

Perkenalan C dengan narkotika sudah dilakukannya semenjak masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Ia dikenalkan pada putauw oleh pamannya sendiri yang saat itu tertangkap basah sedang cucaw di rumah C ketika kedua orang tua C sedang pergi. Awalnya C menolak untuk menyuntikkan zat terlarang tersebut masuk ke tubuhnya, namun ia terjebak dalam provokasi pamannya yang mengatakkan “masa anak bidan takut sama jarum suntik, malu dong.” Mulai saat itu, C akhirnya menjadi penasun bersama-sama dengan teman-teman sekolahnya dan membeli putauw dengan cara patungan dari uang jajan mereka masing-masing.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika Pasal 1 ayat (1), (2), dan (3), Narkotika didefinisikan sebagai zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilang rasa, mengurangi sampai menghilangnya rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan yang dibedakan ke dalam golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang ini (Nugroho, 2016). Berdasarkan definisi tersebut, jelas bahwa apa yang dialami oleh C sudah termasuk ke dalam ketergantungan zat.

Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder edisi kelima/ DSM-V (APA, 2013), kriteria A untuk mendiagnosa seseorang mengalami Opioid Use Disorder ditandai dengan sebelas ciri-ciri dengan minimal 2 indikator terpenuhi dalam periode 12 bulan terakhir. Pola penggunaan opioid yang bermasalah dan berakibat pada penurunan yang signifikan ini dapat termanifestasi dalam: (1) dosis yang dikonsumsi lebih banyak atau digunakan melebihi periode waktu yang dimaksudkan; (2) Ada hasrat yang terus-menerus atau usaha yang tidak berhasil untuk mengurangi ataupun mengendalikan penggunaan zat; (3) Penderita menghabiskan waktu yang sangat banyak untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang dibutuhkan untuk mendapatkan zat, menggunakan zat, serta pulih dari efek zat tersebut; (4) Mengidam, atau keinginan yang sangat kuat, adanya desakkan untuk mengonsumsi zat; (5) Penggunaan zat berakibat pada adanya kegagalan untuk memenuhi sebagian besar peran dan kewajiban dalam pekerjaan, sekolah atau di rumah; (6) Penggunaan zat yang berkelanjutan walaupun berdampak pada masalah sosial atau interpersonal yang muncul berulang kali atau terus-menerus, yang disebabkan atau diperparah oleh efek zat; (7) Aktivitas-aktivitas rekreasional, sosial, dan pekerjaan penting terpaksa dilepaskan atau dikurangi akibat penggunaan zat; (8) Adanya penggunaan zat dalam situasi yang secara fisik justru berbahaya; (9) Penggunaan zat tidak berhenti walaupun sudah memiliki pengetahuan mengenai masalah psikologis dan masalah fisik yang muncul berulang kali, yang mungkin disebabkan / diperparah oleh penggunaan zat; (10) Adanya efek tolerance; dan (12) Adanya gejala putus obat / withdrawal.

Kesebelas gejala yang telah dipaparkan sebelumnya muncul ataupun pernah dialami oleh C, kendatipun untuk saat ini C sudah berhasil mempertahankan dosis methadone yang dikonsumsinya sampai pada 70 mL per hari. Terkait dengan keriteria A3, C sendiri mengaku bahwa semasa ia masih rutin cucaw, kegiatan yang langsung ia lakukan ketika bangun di pagi hari tidak lain dan tidak bukan adalah pergi keluar dan mencari putauw untuk mengobati reaksi putus obat yang dialaminya. C menuturkan bahwa ia pergi mencari putauw tanpa peduli bahwa dirinya belum mencuci muka, belum menyikat gigi, belum mandi, dan dengan kondisi baju yang masih berantakan. Apapun yang ada di hadapannya dapat ia jual demi mendapatkan uang untuk membeli putauw, yang paling ia ingat adalah ia pernah menjual gas LPG milik ibunya ketika ibunya tengah memasak.

Saat ini C tidak memiliki pekerjaan apapun selain menjadi bandar kecil ataupun melakukan tindakan kriminal. Ketika ditanya lebih jauh, C mengaku aktivitas sehari-harinya adalah nyimenk (menghisap ganja, red) sekitar 1 – 2 jam setelah meminum methadone, dan menjambret di pasar untuk menambah penghasilannya. Kelekatan asosiasi antara pecandu dengan tindakan kriminal yang biasa mereka lakukan inilah yang seringkali menimbulkan stigma negatif bahwa pecandu itu manipulatif dan pandai menipu. Stigma negatif inilah akhirnya membuat sebagian besar masyarakat memilih untuk menjauhi para pecandu ataupun menganggap bahwa orang yang sudah terjerumus ke dalam lingkaran gelap narkoba tidak layak untuk mendapatkan pertolongan. Padahal apabila ditelusuri lebih jauh, kontribusi lingkungan dalam membentuk perilaku kecanduan pada para pecandu juga memainkan peran yang sangat besar sehingga kita sebagai helping professional tidak bisa terlalu naïf dan menutup mata.

Pendekatan individual yang bersifat directive seperti konseling berbasis Cognitive Behavioral Therapy (CBT) memang merupakan pendekatan yang paling logis serta mudah dimengerti. Kendatipun demikian, psikolog klinis sejatinya harus mulai berani beranjak dari ranah mikro dengan unit analisis individual menuju ke ranah makro yang juga menekankan pentingnya lingkungan dalam intervensi. Ada berbagai pendekatan yang bisa dan sudah dilakukan, misalnya adalah dengan pendekatan psikodrama, pendekatan kelompok seperti pengembangan teknik sosialisasi dan peniruan tingkah laku, terapi komunitas baik yang berbasis institusi maupun masyarakat, dan masih banyak lagi (Prawitasari, 2011).

Terkait dengan terapi komunitas, petugas penjangkau/ outreach worker yang biasanya merupakan mantan pecandu memegang peranan yang sangat penting sebagai ujung tombak untuk melakukan blusukkan ke tempat-tempat tongkrongan/ hotspot. Mereka bertugas untuk menemukan teman-teman sesama pecandu (baik baru maupun lama), memberikan psikoedukasi, mengajak tes VCT, melakukan assessment awal, menjadi peer support, menukar jarum suntik bekas dengan jarum suntik baru yang masih steril, dan sebagainya. Mengingat kerentanan dan tantangan yang dihadapi oleh para petugas penjangkau (misalnya menghadapi kecurigaan dianggap sebagai “cepu” polisi), tidak heran apabila mereka dianggap sebagai ujung tombak.

Jadi sebagai seorang calon psikolog klinis, tugas yang harus dilunasi adalah membuka jaringan koneksi yang seluas-luasnya tidak hanya terbatas pada tenaga kesehatan saja, tetapi juga kepada sebanyak mungkin pihak yang turut terlibat. Hal ini dapat dilakukan pertama-tama dengan menghilangkan terlebih dahulu “alergi” terhadap para pecandu sebelum berkembang menjadi stigma, dengan memiliki pola pikir bahwa pecandu yang saat ini dihadapi mungkin saja suatu saat dapat berubah menjadi seorang outreach worker dapat turut membantu teman-temannya supaya pulih dari ketergantungan. Selain itu, seiring dengan satuan tugas baru yang belum lama diresmikan oleh Pemprov DKI Jakarta, para psikolog klinis dapat menyumbangkan keahlian dan keterampilannya dengan bergabung menjadi “Pasukan Ungu” ataupun menjalin kerjasama dengan pasukan yang berada di bawah naungan Dinas Sosial Pemprov DKI Jakarta ini (Purba, 2016).

 

 

Referensi :

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed). Washington DC: APA.

Nugroho, W. D., Sunarto & Firganefi. (2016). Penegakkan Hukum terhadap Tindak Pidana Narkotika yang Dilakukan Polisi (Sudi Wilayah Hukum Polda Lampung). Diakses pada 18 Juli 2017 dari jurnal.fh.unila.ac.id/index.php/pidana/article/download/758/649.

Prawitasari, J. E. (2011). Psikologi Klinis: Pengantar Terapan Mikro dan Makro. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Purba, D. O. (2016, 21 Oktober). Apa Saja Tugas “Pasukan Ungu?” diakses pada 18 Juli 2017 dari http://megapolitan.kompas.com/read/2016/10/21/19210281/apa.saja.tugas.pasukan. ungu.

 

Catatan: Tulisan ini merupakan refleksi penulis setelah mengikuti kegiatan “Kursus Harm Reduction 2017” oleh Program Magister Fakultas Psikologi Klinis Unika Atma Jaya Dan Pusat Penelitian HIV-AIDS Unika Atma Jaya.  Penulis adalah mahasiswa Program Magister Psikologi Profesi Unika Atma Jaya.

Artikel mengenai Kursus Harm Reduction 2017 dapat dibaca melalui tautan ini: Mengenalkan Konsep Harm Reduction dalam Pelayanan Kesehatan