Ngapain lo ambil klinis?

Ngapain lo ambil klinis?

oleh: Arnold Lukito

qualitative researchPertanyaan yang sering sekali saya temui ketika rekan-rekan sejawat saya tahu saya mengambil program Magister Psikologi Profesi Klinis Dewasa. Pertanyaan yang juga seringkali saya respon hanya dengan menyengir, tergantung seberapa dekat saya dengan orang itu. Pertanyaan yang kadang membuat saya malas menjawabnya, terlebih kalau diajukan dengan nada tidak percaya.

Banyak alasan orang menanyakan hal itu. Alasan yang paling sering, dan ironisnya paling tidak saya sukai, adalah karena saya mengambil peminatan Psikologi Sosial ketika saya berkuliah di S1. Sejak dulu saya paling menentang pengkotak-kotakan ilmu. Apalagi kalau ilmu yang sama hanya beda peminatan seperti yang saya alami. Justru saya merasa sangat beruntung sempat terpapar pada hal-hal yang diajarkan di kelas peminatan Psikologi Sosial, karena sangat memperkaya dan justru menjadi inventori pengetahuan yang berharga dalam mendalami Psikologi Klinis saat ini.

Salah satu paparan yang saya dapatkan saat mengambil kelas peminatan adalah mengenai harm reduction. Lima tahun lalu, saya pertama kali berkenalan dengan Pusat Penelitian HIV/AIDS (PPH) UNIKA Atma Jaya dan juga Kios Informasi Kesehatan UNIKA Atma Jaya. Di situ jugalah saya pertama kali mengenal konsep harm reduction. Di satu sisi saya merasa beruntung terpapar lebih dini pada konsep tersebut, terlebih ketika mengetahui mayoritas teman seangkatan saya belum pernah mendengar konsep itu. Di sisi lain, hal tersebut justru membuat saya sedikit merasa sedih.

Saya kurang tahu bagaimana dengan Fakultas Psikologi di Universitas lain, tapi sepanjang yang saya tahu untuk jenjang S1 konsep harm reduction memang relatif kurang populer di luar lingkup mahasiswa peminatan Psikologi Sosial. Padahal menurut saya, harm reduction adalah suatu pendekatan yang cukup penting diketahui oleh mahasiswa peminatan Psikologi Klinis. Saya setuju dengan kurikulum Magister Psikologi Profesi Klinis Dewasa UNIKA Atma Jaya yang merasa harm reduction sebagai suatu hal yang penting hingga mendapat porsi tersendiri dalam pembekalan para mahasiswa. Dengan segala rasa hormat, saya merasa terkadang ini adalah hal yang luput dari rekan-rekan Psikolog maupun praktisi Psikologi Klinis, atau kita sebut Clinician. Kasus-kasus, masalah, dan pendekatan yang bersifat individual dan mikro mungkin cenderung lebih populer atau familiar bagi Clinician. Memang hal tersebut tidak salah, dan tidak berarti semua Clinician harus mendalami harm reduction. Namun alangkah baiknya jika setidaknya rekan-rekan Clinician terpapar pada hal tersebut sebelum memutuskan apakah hendak memperdalamnya atau tidak.

Berkaca dari pengalaman saya ketika S1, hal yang paling berkesan bagi saya saat itu ketika pertama kali mengenal harm reduction adalah tersadarnya saya betapa kompleksnya masalah yang ditangani. Hal yang kembali diingatkan pada saya saat ini ketika mengambil S2. Memang saya belum bisa sepenuhnya memutuskan apakah saya akan mendalami ini ke depannya. Namun saya dapat mengatakan dengan cukup tegas bahwa saya percaya harm reduction adalah suatu pendekatan dan paradigma yang perlu diketahui dan dikenal seluas-luasnya. Tidak hanya oleh Clinician, namun juga oleh masyarakat Psikologi, bahkan masyarakat secara umum. Terlebih mengingat masih adanya salah kaprah dan pemahaman yang keliru mengenai harm reduction, yang seolah dianggap justru mempromosikan perilaku-perilaku buruk.

Mengacu pada skema matriks pengetahuan oleh Drew (1999), yang biasa dikenal sebagai Drew’s Boston Box, ada dua parameter yaitu pengetahuan dan kesadaran, yang membentuk menjadi empat kuadran, yaitu:

  1. Tahu dan sadar kalau tahu
  2. Tahu tapi tidak sadar kalau tahu
  3. Tidak tahu tapi sadar kalau tidak tahu
  4. Tidak tahu dan tidak sadar kalau tidak tahu

 

Bagi sebagian besar orang nampaknya konsep harm reduction masih berada dalam kuadran “tidak tahu dan tidak sadar kalau tidak tahu”. Tugas kitalah sebagai orang-orang yang sudah mempelajari maupun mendalami dan aktif terlibat dalam harm reduction untuk mengedukasi masyarakat mengenai hal ini, termasuk pemahaman yang tepat mengenainya. Ini dapat kita lakukan dimulai dari hal sederhana dan dari lingkungan terdekat kita. Dengan demikian setidaknya kita dapat menggeser konsep harm reduction, setidaknya menjadi “tidak tahu tapi sadar kalau tidak tahu”. Alangkah baiknya kalau bisa sampai menjadi “tahu dan sadar kalau tahu”.

 

Catatan: Tulisan ini merupakan refleksi penulis setelah mengikuti kegiatan “Kursus Harm Reduction 2017” oleh Program Magister Fakultas Psikologi Klinis Unika Atma Jaya Dan Pusat Penelitian HIV-AIDS Unika Atma Jaya.  Penulis adalah mahasiswa Program Magister Psikologi Profesi Unika Atma Jaya.

Artikel mengenai Kursus Harm Reduction 2017 dapat dibaca melalui tautan ini: Mengenalkan Konsep Harm Reduction dalam Pelayanan Kesehatan