Pelaksanaan Kegiatan Integrasi Penemuan Kasus TB Aktif ke Dalam Kegiatan Penjangkauan  pada Populasi Kunci dalam Penanggulangan HIV dan AIDS

Pelaksanaan Kegiatan Integrasi Penemuan Kasus TB Aktif ke Dalam Kegiatan Penjangkauan pada Populasi Kunci dalam Penanggulangan HIV dan AIDS

   Jakarta. Secara global TB merupakan penyebab kematian yang utama dan masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang tidak kunjung tuntas di negara-negara berkembang (WHO, 2013). Meski sudah ada upaya untuk meningkatkan penyediaan layanan kesehatan untuk TB yang meluas dan berupaya untuk membuka berbagai hambatan bagi masyarakat untuk mengakses layanan tersebut tetapi pada kenyataannya masih banyak orang yang tidak terdeteksi, tidak terdiagnosis, tidak memperoleh perawatan secara paripurna atau bahkan angka kematian yang disebabkan oleh TB hingga 1,6 juta pertahun (WHO, 2008). Meski sudah ada program DOTS yang diperkenalkan sejak tahun 1995, di Indonesia hingga saat ini kematian yang diakibatkan oleh TB masih berkisar 64,000 orang per tahun, prevalensi TB berkisar 680,00 orang dan kasus TB baru berkisar 460,000 orang (WHO, 2014).

Menurut Yakup Gunawan – Program Manager RED Institute.”Tantangan dalam kegiatan kolaborasi TBHIV adalah belum adanYa persamaan persepsi tentang kolaborasi pada tingkat layanan antara team DOTS dan poli HIV”

Situasi ini telah mendorong pengembangan strategi untuk menurunkan beban TB di berbagai negara. Stp TB Partnership yang juga telah diadopsi oleh Program TB Nasional telah mengembangkan 6 strategi dalam untuk mencapai tujuan tersebut yaitu: (1) penguatan dan perluasan kualitas DOTS, (2) menyikapi Multi Drug Resistant TB (MDRTB), TB-HIV dan tantangan lainnya; (3) penguatan sistem kesehatan, (4) melibatkan semua penyedia layanan kesehatan; (5) memberdayakan masyarakat; dan (6) mendorong penelitian (WHO, 2006; Kemenkes 2006).

Berbagai strategi ini pada dasarnya menggarisbawahi pentingnya upaya untuk menemukan kasus TB secara aktif. Upaya penemuan kasus secara aktif ini diharapkan bisa melengkapi penemuan kasus pasif (passive case-finding). Upaya ini dimaksudkan untuk menjamin bahwa orang-orang dengan TB aktif bisa dideteksi sedini mungkin agar bisa mengurangi tingkat penularan TB dan bisa menghindari dampak yang lebih buruk dari penyakit ini baik dari sisi klinis, ekonomi dan sosial.

Salah satu bentuk implementasi dari strategi tersebut adalah dengan dikembangkannya program Kolaborasi TB-HIV yang dimulai pada tahun 2007 dimana TB merupakan penyakit penyerta (co-infeksi) utama pada orang-orang TB. Diperkirakan kematian yang diakibatkan TB pada orang dengan HIV positif adalah sebanyak 1,500 orang per tahun dengan insidensi diperkirakan sebanyak 7,100 pada tahun 2012 (WHO, 2014).

Kegiatan kolaborasi TB-HIV saat ini lebih berfokus pada penemuan kasus HIV pada pasien TB atau sebaliknya penemuan kasus TB pada pasien HIV positif baik di klinik TB atau klinik HIV. Strategi penemuan kasus secara aktif pada dasarnya masih sangat lemah karena strategi yang ada masih mencerminkan penemuan kasus TB pasif. Masih sedikit kegiatan penemuan kasus TB secara aktif dilakukan pada tingkat komunitas dari populasi yang terdampak oleh HIV seperti pekerja seks, waria, lelaki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) atau pengguna napza suntik (penasun) hingga saat ini, kecuali bagi warga binaan di lembaga pemasyarakatan atau rumah tahanan.

Upaya Kementerian Kesehatan untuk memulai penemuan kasus TB secara aktif di tingkat komunitas populasi kunci yang terdampak oleh HIV dan AIDS adalah dengan mengembangan proyek TB REACH dimana tujuannya adalah meningkatkan penemuan kasus TB pada populasi kunci dan mendukung upaya akselerasi testing HIV dan inisiasi dini ARV. Satu kegiatan yang akan dilaksanakan oleh proyek ini adalah mengintegrasikan upata penemuan kasus TB secara aktif ke dalam kegiatan outreach (penjangkauan dan pendampingan) pada populasi kunci dalam penanggulangan HIV dan AIDS khususnya kelompok waria, pekerja seks dan pengguna napza suntik (penasun) di 23 kabupaten/kota dari 4 provinsi (Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta dan Papua).

Beberapa alasan mengapa populasi kunci dalam penanggulangan AIDS ini dijadikan sasaran dalam penemuan kasus TB aktif karena adanya beberapa pertimbangan yaitu: 1 Prevalensi HIV populasi kunci yang tinggi mengakibatkan kelompok ini rentan terhadap TB sehingga TB menjadi infketif penyerta yang paling banyak pada orang dengan HIV positif. 2. Secara khusus, penggua napza suntik merupakan kelompok dengan angka kesakitan dan angka kematian akibat TB yang tinggi 3. Mayoritas populasi kunci diperiksa TB ketika status mereka sudah HIV positif sehingga berakibat pada terlambatnya perawatan 4 Kelompok marginal sering mendapat stigma social karena latar belakang perilakunya sehingga cenderung untuk tidak mencari bantuan dan layanan kesehatan meskipun telah tersedia di masyarakat termasuk layanan HIV dan TB.

Melihat situasi tersebut Pusat Penelitian Atma Jaya telah melakukan diskusi  TB HIV  di Unika Atma Jaya.  Dengan narasumber Nurjannah, SKM. M.Kes focal point TBHIV Subdit AIDS Ditjen P2PL Kemenkes. Yakup Gunawan – Program Manager RED Institute.