Pelibatan Bidan dalam Penanggulangan HIV  Melalui Program Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak

Pelibatan Bidan dalam Penanggulangan HIV Melalui Program Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak

IMG_0731Jakarta. Dalam penularan HIV dari ibu ke bayi selama masa kehamilan dapat terjadi melalui hubungan transplasenta dengan risiko 5 sampai 10%. Plasenta merupakan sumber bagi bayi untuk mendapatkan nutrisi selama berada di dalam kandungan. Jika plasenta telah terinfeksi virus HIV, darah ibu yang sudah terinfeksi tersebut akan bercampur dengan darah bayi sehingga resiko tertular HIV pada bayi sangat besar. Oleh karena itu, asuhan kebidanan komprehensif pada ibu hamil trimester I, II dan III dengan status HIV + sangat diperlukan.

Beberapa tantangan di Indonesia program penularan HIV dari ibu kepada bayinya, menurut dr. Ekarini dari RSUD Tarakan, “ Masih adanya petugas kesehatan masih memilih pasien dan belum melakukan terapi HIV/IMS secara terpadu pada ibu hamil karena petugas kesehatan belum memahami panduan pencegahan infeksi secara benar”

Beliau menambahkan, “Tantangan kasus demi kasus terkait dalam menangani ibu hamil yang hidup dengan HIV, bagaimana pengalaman merawat pasien yang memberikan ASI, dimana ada dua bayi –kakak beradik yang dilahirkan oleh pasangan yang ibunya terinfeksi HIV dan disusui dengan ASI ekslusif ternyata bisa tidak terinfeksi HIV “
IMG_0727Sedangkan Dra. Ropina Tarigan, Am-Keb, MM dari Ikatan Bidan Indonesia,mengatakan “Bidan dapat mengontrol penularan infeksi HIV dari ibu ke anak dan menyediakan asuhan bagi orang dengan HIV positif. Oleh karena ini bidan dan perlu memiliki pengetahuan dan ketrampilan mensosialisasikan cara penularan dan pencegahan HIV dan AIDS hingga menanggulangi stigma yang ditujukan pada pasien dengan HIV positif maupun diri mereka sendiri”

Selain dokter dan bidan, Lecture Series yang diadakan oleh Pusat Peneltian HIV (PPH) Atma Jaya tanggal 27 Januari 2016 di Jakarta mengangkat tema Pelibatan Bidan dalam Penanggulangan HIV Melalui Program Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak, juga menghadirkan Hartini, seorang aktivits HIV yang mengidentifkasikan dirinya sendiri sebagai orang yang hidup dengan HIV. Hartini berbagi pengamalaman tentang program PPIA yang ia ikuti sampai melahirkan bayinya yang HIV negatif.

Berbagai kendala yang dihadapi oleh Hartini, ketika ia memilih untuk mempunyai anak. Dia mengatakan, “Sulitnya bertemu dengan bidan atau dokter yang mau menerima konsultasi walaupun hanya sebatas merencanakan kehamilan pada Orang Dengan HIV AIDS (ODHA). Masih tingginya stigma dan diskriminasi yang tanpa disadari dilakukan oleh petugas kesehatan. Saya mendapatkan penolakan persalinan normal dari bidan puskesmas dan banyak yang memberikan larangan terkait pemberian ASI”.

Pusat Penetilian HIV/AIDS Atma Jaya
Unika Atma Jaya Jakarta merupakan salah satu universitas utama di Indonesia yang melakukan penelitian yang berfokus pada aspek sosial dan keperilakuan permasalahan HIV & AIDS di Indonesia, khususnya pada populasi pengguna narkoba, anak jalanan, dan anak-anak yang terdampak HIV & AIDS. Para peneliti dan aktivis di Unika Atma Jaya telah mengembangkan sejumlah intervensi penanggulangan HIV & AIDS bagi pengguna narkoba di Jakarta sejak tahun 2001 dan program mitigasi dampak buruk HIV & AIDS bagi anak-anak di Jakarta sejak tahun 2008.Mempertimbangkan semakin beragamnya kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang telah dilakukan oleh para peneliti dan aktivis di Unika Atma Jaya, maka dibentuklah Pusat Penelitian HIV & AIDS (PPH) sebagai bagian dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unika Atma Jaya Jakarta. Upaya awal dalam mengembangkan pusat penelitian ini dilakukan dengan menjalin kerja sama dengan University of Illinois at Chicago (UIC) untuk menanggapi inisiatif Global Partnership for Social Science AIDS Research yang ditawarkan oleh The U.S. National Institute of Health (US NIH).