Pendekatan Harm Reduction untuk Para Pecandu

Pendekatan Harm Reduction untuk Para Pecandu

Oleh Zia Majiatul Arobiah

Selama proses kuliah pembekalan harm reduction berlangsung banyak pengetahuan baru yang bisa didapatkan, baik terkait penyalahgunaan Narkoba, istilah-istilah yang digunakan dalam proses pengobatan dan pencegahan Narkoba. Selain itu, kita juga bisa lebih memahami bahaya Narkoba terhadap penyakit lainnya seperti HIV/AIDS dan hepatitis B dan C, serta teori dan intervensi yang bisa digunakan dalam menangani kasus Narkoba. Selain itu, kita juga mampu memahami bagaimana proses Narkoba dapat mempengaruhi otak kita sehingga bisa menjadi ketergantungan, dan mempengaruhi cara orang dalam berfikir merasa dan berperilaku.

Narkoba atau NAPZA atau zat adiktif menurut WHO 1982, merupakan semua jenis zat (kecuali oksigen dan air) yang jika masuk ke dalam tubuh dapat mempengaruhi cara orang berfikir, merasa dan berperilaku. Sedangkan, menurut Badan Narkotika Nasional, dengan berdasar pada Undang-Undang Narkotika (UU no 22 tahun 1997) Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Saat ini penyalahgunaan Narkoba atau NAPZA sudah menjadi perhatian penting pemerintah dan masyarakat Indonesia. Informasi atas masalah gangguan penggunaan Narkoba menjadi jauh lebih terbuka. Pendirian Badan Koordinasi Narkotika Nasional yang awalnya hanya memiliki fungsi koordinatif kemudian menjadi fungsi implementatif yaitu Badan Narkotika Nasional. Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN), jumlah pengguna Narkoba di Indonesia hingga November 2015 mencapai 5,9 juta orang. Kurang lebih 22 % dari total pengguna Narkoba tersebut adalah anak dan remaja usia sekolah. Dari survei BNN dan Puslitkes UI yang terakhir (2014) menunjukkan prevalensi penyalahgunaan Narkoba di tahun 2014 pada penduduk Indonesia usia 10 – 64 tahun adalah 2.18%, turun 0.02% dari prevalensi tahun 2011.

Ada beberapa banyak jenis-jenis Narkoba berikut jenis dan gejalanya (Eleanora, 2011):

  • Opium (Heroin, Morfin) dengan gejala perasaan tenang dan bahagia, apatis, malas bergerak, mengantuk, rasa mual dan gangguan perhatian.
  • Ganja dengan gejala rasa senang dan santai, mata merah, mulut kering, nafsu makan meningkat, kurang konsentrasi dan sering mengantuk.
  • Shabu dengan gejala kewaspadaan meningkat, bergairah, rasa senang dan bahagia, denyut nadi dan tekanan darah meningkat susah tidur dan hilangnya nafsu makan.
  • Kokain dengan gejala gelisah, denyut nadi meningkat, banyak bicara, kewaspadaan meningkat, tekanan darah meningkat, berkeringat, kekakuan otot leher, mudah berkelahi.

Gejala di atas terjadi karena penggunaan Narkoba memiliki pengaruh terhadap kerja sistem saraf, misalnya hilangnya koordinasi tubuh, karena di dalam tubuh pemakai kekurangan dopamin. Dopamin merupakan neurotransmitter yang terdapat di otak dan berperan penting dalam merambatkan impuls saraf ke sel saraf lainnya. Hal ini menyebabkan dopamin tidak dihasilkan. Apabila impuls saraf sampai pada bongkol sinapsis, maka gelembung-gelembung sinapsis akan mendekati membran presinapsis. Namun karena dopamin tidak dihasilkan, neurotransmitter tidak dapat melepaskan isinya ke celah sinapsis sehingga impuls saraf yang dibawa tidak dapat menyebrang ke membran post sinapsis. Kondisi tersebut menyebabkan tidak terjadinya depolarisasi pada membran post sinapsis dan tidak terjadi potensial kerja karena impuls saraf tidak bisa merambat ke sel saraf berikutnya. Neurotransmiter juga dapat mempengaruhi terjadinya perubahan perilaku dan emosi bahkan cara berpikir. Narkoba yang masuk ke dalam tubuh melalui darah menuju otak akan mempengaruhi keseimbanganan neurotransmiter tersebut sesuai jenis-jenisnya.

Bagaimana Narkoba dapat menyebabkan beberapa penyakit seperti HIV/AIDS dan hepatitis B dan C? Penularan penyakit tersebut bisa disebabkan akibat adanya pertukaran jarum suntik yang tidak steril. Pemakaian alat suntik secara bergantian sangat umum terjadi di kalangan Penasun (Pengguna Napza Suntik). Jika salah satunya terinfeksi HIV, dia dapat menularkan virus ini kepada siapapun yang memakai peralatan suntik bergantian bersamanya.  Penggunaan alat bergantian juga menularkan virus hepatitis B, virus hepatitis C, dan penyakit lain. Darah yang terinfeksi terdapat pada semprit (insul) kemudian disuntikkan bersama dengan Narkoba saat pengguna berikutnya memakai semprit tersebut. Ini adalah cara termudah untuk menularkan HIV karena darah yang terinfeksi langsung dimasukkan pada aliran darah orang lain.

Bagaimana dengan penularan HIV/AIDS pada pengguna Narkoba oral? Seperti yang dijelaskan di atas bahwa penggunaan Narkoba dapat mempengaruhi otak sehingga pengguna akan mengalami ketidaksadaran saat berhubungan intim tanpa menggunakan pengaman (kondom) hal ini juga dapat mempengaruhi penularan HIV/AIDS . Itu sebabnya pentingnya beberapa pendekatan dalam menangani masalah tersebut dengan mengembangkan program harm reduction, salah satunya adalah dengan layanan alat suntik steril, pembagian kondom dan program terapi rumatan metadon (PTRM).

Mengapa orang bisa menggunakan Narkoba? Ada beberapa faktor mengapa orang menggunakan Narkoba salah satunya adalah masalah keluarga, pengaruh teman sebaya, kesehatan mental secara keseluruhan dan riwayat candu keluarga. Hal tersebut didukung dengan penemuan penulis di lapangan di salah satu puskesmas di jakarta bahwa dari keempat alasan di atas faktor yang sangat besar mempengaruhi seseorang menggunakan Narkoba adalah adanya masalah dalam keluarga “perceraian orang tua” dan “pengaruh teman sebaya”. Maka yang terpenting adalah kita harus mengetahui terlebih dahulu apa alasan orang tersebut mengkonsumsi Narkoba? Apa pemicu utama yang menyebabkan hal tersebut terjadi?.

Selain dari pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan di atas kita juga harus memahami terlebih dahulu bahwa kepribadian orang adiksi itu ada 3 yaitu: harm avoidant: menghindari rasa sakit atau tidak enak dengan cara memilih obat untuk menghilangkannya, reward dependant: mendapatkan reward atau hadiah seperti kepuasan dalam diri saat menggunakan obat-obatan (meningkatkan mood), novelty seeking: perasaan ingin tau yang besar dan ingin mencari sesuatu yang baru dan berbeda.

Ada beberapa teori psikologi yang dapat menjelasakan adiksi dalam diri seseorang, menurut psikoanalisis semua perilaku adiktif karena adanya fiksasi di masa oral. Berbeda dengan psikoanalisis bahwa model psikososial menjelaskan adicted behavior adalah sesuatu yang bisa dipelajari dan menjadi suatu habit “bad habit” model psikososial percaya bahwa perilaku tersebut bisa diubah dari bad habit menjadi good habit dengan menggunakan pendekatan cognitive behavioral therapy (CBT). Selain cognitive behavior therapy (CBT) ada beberapa banyak intervensi yang diajarkan selama mengikuti kuliah pembekalan harm reduction, behavioral drug risk reduction counseling (BDRRC), terapi komunitas NAPZA berbasis institusi, methadone therapy termasuk salah satunya adalah harm reduction. Semua terapi tersebut sangat bermanfaat dalam mengurangi dampak buruk dari penyalahgunaan Narkoba.

Harm reduction adalah pendekatan yang pragmatis dan humanisti untuk mengurangi kerusakan secara individu maupun sosial, terutama yang berkaitan dengan penggunaan Narkoba dan zat psikotropika, khususnya untuk menekan resiko penularan HIV. Harm reduction merupakan suatu upaya pengurangan dampak buruk terhadap pengguna Napza dan masyarakat luas. Harm reduction menyadari realita dari pengguna Napza bahwa beberapa pengguna Napza sulit untuk menghentikan ketergantungan terhadap obat, meskipun mereka menyadari bahwa resiko yang terjadi berupa HIV/AIDS dan virus lain yang ditularkan lewat darah (Kim, Brannstrom, Worrall, 2014).

Fokus harm reduction untuk menahan serta mengurangi ketergantungan Narkoba dan mengurangi penyebaran HIV dikalangan Penasun maka harm reduction berfokus pada pengurangan dampak buruk. Pengurangan dampak buruk NAPZA dapat dipandang sebagai upaya pencegahan terhadap dampak buruk NAPZA tanpa mengurangi jumlah penggunaanya, dengan menekankan perubahan pada praktik yang lebih aman terhadap penggunaan Narkoba. Dengan kata lain harm reduction lebih mengutamakan pencegahan dampak buruk NAPZA dan bukan pencegahan penggunaan NAPZA (Edmonton, 2007).

Salah satu kegiatan harm reduction memiliki hierarki sarana sebagai berikut untuk mencapai tujuan khusus:

  • Penasun didorong untuk berhenti memakai Narkoba
  • Jika Penasun bersikeras untuk memakai Narkoba, maka ia didorong untuk berhenti memakai cara menyuntik
  • Jika Penasun bersikeras dengan cara menyuntik, maka ia didorong dan dipastikan tidak memakai atau berbagi peralatan suntiknya secara bergantian dengan pengguna lain.
  • Jika tetap terjadi penggunaan bergantian, maka Penasun didorong dan dilath untuk menyucihamakan peralatan suntiknya.

Beberapa kebijakan terkait dengan program Harm Reduction di Indonesia (Suharni, 2015) antara lain adalah;

  1. Kepmenkes No. 494/Menkes/SK/VII/2006 tetang penetapan Rumah Sakit dan Satelit Uji coba Serta Pedoman Pogram Terapi Rumatan Metadon.
  2. Peraturan Menko Kesra No.2/2007 tentang Kebijakan Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS melalui Pengurangan Dampak Buruk Pengguna Narkotika Psikotropika dan Zat Adiktif Suntik.
  3. Kepmenkes No. 486/Menkes/SKIV/2007 tentang Kebijakan dan Rencana Strategi Penanggulangan Penyalahgunaan NAPZA.
  4. Kepmenkes No. 420/Menkes/SK/III/2010 tentang Pedoman Layanan Terapi dan Rehabililitasi Komprehensif pada Gangguan Pengguna NAPZA berbasis Rumah Sakit.
  5. Kepmenkes No. 421/Menkes/SK/III/2010 tentang Standar Pelayanan Terapi dan Rehabilitasi Gangguan Penggunaan NAPZA.
  6. Kepmenkes No. 350/Menkes/SK/IV/ tentang penetapan rumah sakit pengampu dan satelit program terapi rumatan metadon serta pedoman program terapi rumatan metadon.
  7. Kepmenkes No. 378/Menkes/SK/IV/2008 tentang pelayananan rehabilitasi medik di rumah sakit.
  8. Kepmenkes No. 567/Menkes/SK/VII/ tetang Pedoman Pelaksanaan Pengurangan Dampak Buruk Narkotika, Psikotropik dan Zat Adiktif (NAPZA);
  9. Peraturan Pemerintah No 25 Tahun 2011 tentang Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu Narkotika
  10.  Keputusan Menteri Kesehatan No 1305 tahun 2011 tentang Instusi penerima Wajib Lapor
  11. Keputusan Menteri kesehatan No 2171 tahun 2011 tentang Tatacara Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu Narkotika tahun 2011
  12. Surat Edaran Mahkama Agung No 7 Tahun 2009 tentang Menempatkan Pemakai Narkoba Ke dalam Panti Terapi dan Rehabilitasi.

 

Pendekatan Harm Reduction  khususnya untuk para pecandu menawarkan suatu langkah yang lebih mendorong proses rehabilitasi dan pencegahan sebagai bagian dari pendekatan berbasis kesehatan masyarakat melalui pendekatan bertahap untuk mengurangi dampak secara lebih terukur sesuai dengan kondisi. Perlu sebuah paradigma alternatif yang lebih bisa merasakan (empati).

Manfaat yang didapatkan selama kuliah pembekalan harm reduction yaitu bertambahnya pengetahuan terkait teori-teori yang dapat diaplikasikan dalam penanganan Narkoba, keterampilan dalam berkomunikasi dengan para junkies (sebutan yang biasa digunakan untuk para pengguna) secara langsung dan melatih empati. Selain itu, perubahan sikap dan cara pandang penulis terhadap proses pengobatan yang dilakukan pada para junkies yang awalnya kaku menjadi lebih fleksible dan semakin mendukung pada pelaksanaan program harm reduction.

memahami individu harus secara menyeluruh dengan memperhatikan beberapa aspek baik biologis, psikologis dan juga sosial

Selama perkuliahan dan proses terjun kelapangan penulis mendapatkan beberapa banyak inspirasi salah satunya adalah dalam memahami individu harus secara menyeluruh dengan memperhatikan beberapa aspek baik biologis, psikologis dan juga sosial (biopsikososial). Salah satu yang harus diperhatikan juga adalah pentingnya dukungan keluarga dalam proses pemulihan para junkies. Selain itu, penting juga untuk mensosialisasikan tentang harm reduction dan bahaya Narkoba pada orang disekitar dengan dimulai dari orang yang terdekat. Penting juga untuk menjaga kesehatan dengan cara cek VCT, IMS dll. Dan terpenting adalah menjaga diri kita dan orang-orang terdekat untuk tidak menyentuh Narkoba sama sekali.

 

 

Daftar Pustaka

Badan Narkotika Nasional (BNN). 2015. Survei Nasional Perkembangan Penyalahgunaan Narkoba. Jakarta.

BNN & Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia. 2014. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia. Jakarta: Universitas Indonesia.

Edmonton, A, B. (2007). Working with People who use Drugs: A Harm Reduction Approach. Canadian Liver Foundation: Needle use Initiative.

Eleanora, N, F. (2011). Bahaya Penyalahgunaan Narkoba Serta Usaha Pencegahan dan Penanggulangannya (Suatu Tinjauan Teoritis). Journal Hukum: Bahaya Penyalahgunaan Narkoba. Vol. XXV (1), 439-452.

Kim, W, S. Brannstrom, P, M, A.Worral, S, J (2007). Comparing the Cost Effectiveness of Harm Reduction Strategies: A Case Study of Ukrina. Cost Effectiveness and Resource Allocation, 25: 12-25.

Sarasvita, R. (2017). Cognitive Behavior Therapy, Behavioral Drug Risk Reduction Counseling & Gangguan Penggunaan Napza: Pengetahuan Dasar. Presentasi Pembekalan Magister Profesi Psikologi Klinis Dewasa Universitas Atma Jaya.

Suharni, M. (2015). Pendekatan Penanggulangan Narkoba dan Kebijakan Harm Reduction. Kebijakan AIDS Indonesia.

 

Catatan: Tulisan ini merupakan refleksi penulis setelah mengikuti kegiatan “Kursus Harm Reduction 2017” oleh Program Magister Fakultas Psikologi Klinis Unika Atma Jaya Dan Pusat Penelitian HIV-AIDS Unika Atma Jaya. Penulis adalah mahasiswa Program Magister Psikologi Profesi Unika Atma Jaya

Artikel mengenai Kursus Harm Reduction 2017 dapat dibaca melalui tautan ini: Mengenalkan Konsep Harm Reduction dalam Pelayanan Kesehatan