PENELITIAN OPERASIONAL: Evaluasi dan Intervensi Pengobatan Terapi Rumatan Metadon (PTRM)

Hasil kajian penjajakan terhadap situasi layanan program rumatan metadon di empat puskesmas di Provinsi DKI Jakarta menunjukkan beberapa hal yang perlu memperoleh perhatian sebagai berikut:

  1. Walaupun tidak semua petugas mengetahui prosedur penyediaan layanan PTRM, pelaksanaan di tingkat layanan telah mengacu pada pedoman yang digunakan. Ada persamaan pengetahuan mengenai prinsip dasar pelaksanaan PTRM baik di tingkat layanan maupun klien misalnya dalam persyaratan awal mengakses layanan, kebijakan pemberian dosis awal, THD, tappering off dan dosis bagi yang mengonsumsi obat ARV dan TB.
  2. Jumlah pasien yang mengakses layanan rumatan metadon secara rutin relatif stabil dengan tingkat kepatuhan yang cukup tinggi dan tingkat drop out cukup rendah.
  3. Intervensi perilaku dan psikososial secara rutin belum tersedia di puskesmas karena keterbatasan SDM dan kapasitas teknis. Intervensi psikososial yang dilakukan lebih banyak berupa konseling untuk kenaikan atau penurunan dosis.
  4. Rotasi staf puskesmas cukup tinggi sehingga tidak semua staf memiliki tingkat pemahaman yang sama tentang layanan yang diberikan sehingga berakibat pada kinerja yang bervariasi diantara staf PTRM. Apoteker cenderung tidak pernah dirotasi tetapi dokter, perawat dan koordinator HR memiliki turn over yang tinggi.
  5. Adanya kejenuhan di antara petugas layanan dan klien dikarenakan prosesnya lama. Tingkat motivasi mengikuti layanan PTRM mempengaruhi kesuksesan klien dalam mengikuti program ini.
  6. Hampir setengah klien rumatan masih menggunakan napza lain seperti amphetamine dan benzodiazephine. Beberapa klien juga masih mengakses LASS tapi tidak ada mekanisme di tingkat layanan untuk menindak lanjuti klien PTRM yang masih mengakses LASS.
  7. Tes urin yang dilakukan sebagai sarana monitoring dan evaluasi dirasa kurang efektif oleh klien karena tidak dilakukan secara rutin karena adanya keterbatasan anggaran.
  8. Faktor-faktor pendukung kesuksesan terapi dari segi petugas layanan dan klien mengatakan bahwa pengaruh keluarga dan lingkungan sangat penting termasuk motivasi diri. Pelibatan keluarga sangat penting dalam mendukung proses terapi klien.