Pengalaman dan Kebutuhan Perempuan Pengguna Napza Suntik dalam Program Pengurangan Dampak Buruk Napza di Indonesia

LECTURE SERIES

Pengalaman dan Kebutuhan Perempuan Pengguna Napza Suntik dalam Program Pengurangan Dampak Buruk Napza di Indonesia

18 Oktober 2013

 

Latar Belakang

Perilaku menyuntikkan napza merupakan penyebab terbesar penularan virus melalui darah termasuk penularan HIV di Indonesia. Sekitar 36% dari pengguna napza suntik hidup dengan HIV. Jumlah perempuan penasun sekitar 5-10% dari populasi jumlah penasun di Indonesia. Menurut Survey Terpadu Biologis dan Perilaku (2007) prevalensi HIV di antara perempuan pengguna napza suntik adalah 57,1%. Perempuan penasun memiliki kebutuhan substansial yang berbeda dan menghadapi risiko kesehatan yang lebih tingi daripada penasun laki-laki. Populasi perempuan penasun agak terabaikan dalam respon HIV secara nasional. Kegiatan ini diharapkan dapat menggali pengalaman perempuan penasun untuk membahas program seperti apa yang efektif bagi mereka.

Download – TOR Lecture Series Perempuan Penasun.pdf

Waktu Acara
14.05 – 14.10 Pembukaan oleh Sally Atya Sasmi sebagai moderator
14.10 – 14.35 Kebijakan pemerintah saat ini dalam menjawab kebutuhan perempuan penasun oleh Afriyanti (Penanggung Jawab HR untuk Subdit AIDS Kemenkes)
14.35 – 14.40 Sharing pengalaman mengakses layanan dampak buruk napza, kesehatan seksual dan perawatan ketergantungan napza oleh Erika (Perempuan Penasun)
14.40 – 15.20 Perspektif gender sebagai bagian dari program pengurangan dampak buruk napza di Indonesia oleh Syafirah Hardani (KPAN)
15.20 – 16.00 Layanan yang efektif bagi perempuan penasun ditinjau dari situasi global oleh Claudia Stoicescu (Harm Reduction International)

Download – Presentasi Meningkatkan Layanan Kesehatan Bagi Perempuan Penasun.pdf

Download – Doc. Meningkatkan Layanan Kesehatan Bagi Perempuan Penasun.pdf

16.00 – 16.30 Diskusi
Kesimpulan:

Penyediaan layanan HR dirasa masih kurang ‘ramah’ terhadap perempuan. Kurangnya informasi perempuan penasun mengenai layanan HR serta adanya stigma dan diskriminasi tertentu bagi perempuan menyebabkan perempuan merasaa enggan untuk mengakses layanan kesehatan. Sulitnya menjangkau perempuan penasun juga menyebabkan kurangnya data mengenai jumlah perempuan penasun sehingga memengaruhi bentuk layanan yang disediakan. Perlu adanya strategi yang efektif untuk menjangkau perempuan penasun agar diperoleh data yang aktual mengenai jumlah perempuan penasun. Dengan adanya Stranas Percepatan Pengarusutamaan Gender Melalui Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender diharapkan dapat meningkatkan partisipasi perempuan dalam penyusunan program maupun reformasi kebijakan. Selain itu perlu adanya integrasi antara isu HIV dengan isu lainnya (perempuan, kekerasan, dll) agar bentuk layanan yang diberikan bisa menyeluruh.

Download – Notulensi Lecture Series Perempuan Penasun