Perilaku Pencarian Bantuan Kesehatan pada Pengguna Napza Suntik (Penasun) di Bekasi

(Health Seeking Behaviours among Injecting Drug Users in Bekasi)
Kerjasama Pusat Penelitian HIV/AIDS Atma Jaya dan Burnet Institute, 2010

Abstrak
Latar Belakang
Sejak tahun 2000, epidemi HIV di Indonesia dipicu oleh infeksi HIV di kalangan pengguna napza suntik (penasun). Bekasi adalah wilayah dengan tingkat infeksi HIV kedua tertinggi di propinsi Jawa Barat, Indonesia. Kegiatan penjangkauan dan pendampingan terhadap kelompok penasun di Bekasi juga masih sangat terbatas.
Sejak tahun 2002, Indonesia telah mengadopsi Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) yang kemudian dikembangkan menjadi 65 titik layanan di 10 propinsi, namun tercatat hanya sebagian kecil dari kelompok penasun yang mengakses layanan ini, juga layanan Harm Reduction (HR) lainnya seperti Layanan Jarum Suntik Steril (LJSS).

Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk 1) menggali faktor-faktor pendukung dan penghambat yang berperan dan menjadi dasar pencarian layanan kesehatan pada pengguna napza suntik di Bekasi 2) memperoleh gambaran tentang sikap, persepsi, dan pendapat para pengguna napza suntik tentang layanan kesehatan primer yang tersedia

Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengambilan data deskriptif dan eksploratif yang dilakukan melalui diskusi kelompok terarah dan wawancara mendalam terhadap penasun, keluarga dan pasangan penasun, staf penyedia layanan HR, baik dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Bekasi, maupun yang bekerja di klinik PTRM, pemangku kebijakan, tokoh agama dan masyarakat.

Hasil Penelitian
Dilaporkan bahwa penasun memiliki pengetahuan yang cukup mengenai bagaimana adiksi dan perilaku menyuntik mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan mereka. Sebagian besar penasun memiliki keyakinan bahwa untuk bisa sehat mereka perlu mengatasi adiksi dan berhenti menggunakan obat-obatan. Namun ada keyakinan di sebagian kecil responden penasun bahwa dengan berhenti menggunakan obat-obatan penyakit akan bermunculan. Mereka juga mengetahui keberadaan layanan HR di wilayah Bekasi dan skema asuransi pemerintah yang bisa mereka gunakan untuk membiayai perawatan mereka namun kurangnya pengetahuan tentang prosedur mengakses asuransi kesehatan ini yang menghalangi mereka untuk memperoleh manfaat dari skema tersebut. Hampir semua responden memiliki sikap positif terhadap layanan kesehatan yang tersedia namun kekhawatiran akan stigma, diskriminasi, kualitas layanan yang buruk, dan keharusan memberikan informasi terkait data pribadi, serta kemungkinan ditahan polisi, menjadi hambatan bagi mereka untuk mengakses layanan. Praktek pengobatan oleh diri sendiri adalah hal yang biasa saat penasun sakit, konsultasi mengenai kondisi kesehatan biasanya dilakukan melalui petugas penjangkauan dari LSM dan staf klinik PTRM.

Diskusi
Diperlukan advokasi untuk meyakinkan penasun mengenai manfaat program yang bisa diperoleh dengan mengakses layanan HR, khususnya layanan konseling dan tes HIV secara sukarela, PTRM, dan LJSS. Diperlukan juga usaha agar penyedia layanan tidak lagi menstigma dan mendiskriminasi penasun saat mengakses layanan. Para penyedia layanan kesehatan di Bekasi perlu mengembangkan strategi baru untuk meningkatkan perilaku penasun dalam mengakses layanan, dan tentunya juga meningkatkan kualitas layanan yang mereka sediakan.

 

{jd_file file==15}