POTRET KERENTANAN ANAK JALANAN DI DKI JAKARTA 2016

POTRET KERENTANAN ANAK JALANAN DI DKI JAKARTA 2016

Oleh : Kekek Apriana, MSi

Potret Kerentanan Anak Jalanan

Kerentanan anak jalanan masih menjadi salah satu perhatian dalam penelitian yang di kembangkan PPH Atma Jaya. Anak jalanan adalah sosok muda yang tumbuh, berkembang dan bekerja di jalanan. Atau dapat dikatakan bahwa anak jalanan adalah mereka yang berusia 4-24 tahun yang menghabiskan hidupnya di jalanan. Khusus di DKI Jakarta, diperkirakan terdapat sekitar 8200 lebih anak jalanan yang menghabiskan hidup dan tinggal di jalanan (Data Paparan Dinsos DKI Jakarta, 2015). Dari angka 8200 tersebut sebagian besar terdeteksi selama 24 jam selalu hidup di jalan atau melakukan kegiatan di jalan dan tidak memiliki tempat tinggal tetap. Menurut de Moura (2002), anak-anak jalanan dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yakni anak yang bekerja di jalanan dan anak yang hidup di jalanan. Mayoritas anak-anak yang bekerja dan hidup di jalanan ini menghadapi beragam keadaan sulit yang menimbulkan kerentanan seperti kekerasan, kriminalitas, terancam tidak sekolah, penyalagunaan narkoba dan tertular HIV AIDS. Kerentanan menurut Kepmensos RI no. 49/HUK2014 adalah keluarga yang berisiko mengalami masalah, baik dari diri maupun dari lingkungan sehingga tidak dapat mengembangkan potensi.

Anak Jalanan termasuk dalam kategori kelompok rentan karena mudah dilanggar haknya sehingga mudah menjadi korban (baik secara individu maupuan kelompok) dikarenakan kekhasan/kekhususan yang dimiliki. Rentan mengandung pengertian adanya kekhususan tertentu yang menyebabkan mereka (kelompok rentan) lebih berisiko terlanggar hak-haknya/lebih berisiko menjadi korban sehingga memerlukan perlindungan yang lebih dibandingkan mayoritas masyarakat pada umumnya (Mediasi HAM, Ditjen HAM, Kementrian Hukum dan HAM RI, Februari 2012).

Dalam sebuah FGD yang diselenggarakan oleh PPH Atma Jaya bulan April 2016 lalu bersama dengan kelompok anak jalanan tampak bahwa isu-isu kerentanan yang ditemukan adalah kekerasan phikis, kekerasan fisik seperti pemukulan oleh petugas, oleh sebaya, oleh orang dewasa di sekitar hingga kekerasan seksual. Isu kerentanan lain yang tampak pada penggunaan jenis narkoba yang beredar seperti pil, shabu dan minuman keras yang dioplos khusus. Kerentanan pada anak jalanan ini menimbulkan berbagai masalah sosial dan kesehatan seperti gangguan pada tumbuh kembang anak, rentan terhadap berbagai potensi bahaya dan tindak kekerasan secara fisik, psikis maupun seksual. Kekerasan dan eksploitasi tersebut bisa dari teman sebaya, abang-abangan ataupun orang yang tidak dikenal. Menurut Soetarso (2004), masalah anak jalanan tidak dapat dilepaskan dari berbagai hal seperti:

  1. Berlangsungnya kemiskinan struktural dalam masyarakat tanpa pengawasan.
  2. Semakin terbatasnya tempat bermain bagi anak karena pembangunan yang semakin tidak mempertimbangkan kepentingan dan perlindungan anak.
  3. Semakin meningkatnya gejala ekonomi upah dan terbukanya peluang bagi anak untuk mencari uang dari jalanan

Kecenderungan menjadi pelaku atau korban dari perilaku kekerasan, korban dari perilaku kekerasan seksual berisiko di kalangan remaja jalanan juga menempatkan anak jalanan terkena HIV dan infeksi menular seksual lainnya (IMS). Kebanyakan anak-anak jalanan yang berhubungan seks, karena desakan dari sebaya atau orang dewasa baik secara langsung atau tidak langsung untuk menjaga keharmonisan hidup di jalanan. Hubungan seks berisiko ini seringkali ditukar dengan imbalan uang, tempat tinggal, makanan, atau obat-obatan terlarang dari kehidupan jalanan, seperti memiliki banyak pasangan seksual, penggunaan kondom yang tidak konsisten, dan aktivitas seksual berisiko tinggi (Irwanto, 1995; Haley, 2004).

Menanggapi Potret Anak Jalanan

Karakteristik demografi anak jalanan berdasarkan data dari Dinas Sosial Propinsi DKI Jakarta menyebutkan terdapat 426 anak jalanan laki laki dan 290 anak jalanan perempuan yang pernah dijangkau selama tahun 2015. Populasi anak jalanan ini terpecah-pecah di berbagai wilayah dan di pinggiran DKI Jakarta seperti Depok, Tangerang dan Bekasi. Hampir separuh dari anak jalanan pernah dijangkau pada tahun-tahun sebelumnya. Dan sebagai besar dari anak jalanan itu tidak mendapatkan pendidikan formal dari sekolah dan sudah hidup di jalanan karena orangtuanya adalah anak jalanan juga.

Anak jalanan ini meneruskan profesi orangtuanya sebagai anak jalanan dengan bekerja sebagai pemulung, penjual barang bekas, pekerja seks, pengamen, dan tenaga kerja harian. Sebagian besar anak jalanan berkumpul di pasar, stasiun, terminal, pelabuhan, taman, pinggir jalan dan kuburan. Menanggapi potret tersebut gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan bahwa fenomena anak jalanan ini bukanlah hal yang baru dan jumlahnya selalu meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan ini mendapatkan respon yang kongkret dari pemerintah propinsi DKI Jakarta. Salah satu respon dilakukan adalah mengeluarkan kebijakan khusus untuk menekan jumlah anak jalan dengan program menurunkan satgas dan P3S (Petugas Pelayanan, Pengawasan dan Pengendalian Sosial) untuk menjangkau anak jalanan dibeberapa titik dan mengamankannya. Anak jalanan yang dijangkau akan dirujuk ke rehabilitasi sosial untuk mendapatkan pembinaan (Tribun, Maret 2014).

Potret anak jalanan yang tampaknya di respon dengan intervensi penertiban oleh Pemda DKI Jakarta belum menjawab isu kerentanannya yang sebenarnya menjadi masalah dari anak jalanan. Masalah seperti minim akses pendidikan, ketrampilan, informasi, kekerasan, narkoba dan HIV AIDS. Sebut saja informasi dari petugas sosial dari Dinas Sosial Jakarta Utara yang menjelaskan kasus anak perempuan jalanan mulai usia 14 tahun mengalami pelecehan seksual dan terpaksa menjadi pekerja seks. Dinas Sosial sendiri belum memiliki formula khusus untuk menanganinya. Selain belum memiliki sistim penanganan selaian penertikan, pendokumentasian kasus inipun tidak dilakukan karena belum ada upaya lebih lanjut untuk mengatasi kekerasan di jalanan. Hal lain dari kerentanan HIV AIDS ini adalah anak jalanan tidak mendapatkan ruang di masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan dan cenderung tidak dianggap menjadi bagian dari masyarakat. Banyak perilaku anak jalanan yang dianggap sangat mengancam kehidupan masyarakat lain seperti pencopet dan tukang palak.

Bagaimana Sebaiknya Menanggapi Potret Anak Jalanan

Besar harapannya, DKI Jakarta memiliki program pencegahan yang inovatif, dapat diakses, dan ditargetkan untuk didedikasikan kepada anak jalanan. Program ini penting untuk memberikan pola perilaku dalam mengurangi kekerasan dan bahkan meniadakan kekerasan pada anak jalanan program yang mampu memutus rantai penularan penyebaran HIV dan penyalahgunaan narkoba. Indonesia terutama DKI Jakarta adalah tempat yang ideal dan sesuai untuk mengembangkan dan menguji intervensi dengan model yang tersebut diatas. Program yang melibatkan anak jalanan untuk menolong diri mereka dan pendampingan yang kuat dari pemerintah kepada mereka.

Jika remaja jalanan mendapatkan intervensi pemberdayaan yang tepat, mereka akan lebih siap untuk membuat keputusan yang lebih aman yang mampu mengurangi isu kerentanan yang dapat terjadi seperti tersebut diatas. Kegiatan ini dapat melibatkan LSM pendamping anak jalanan, Kementrian Sosial, Dinas sosial, Lembaga Perlindungan Anak dan perwakilan lain di DKI Jakarta. Kegiatan ini dimulai dengan merancang program pencegahan dan penanganan yang inovatif pada anak jalanan terkait dengan intervensi pengurangan kerentanan pada anak jalanan di Indonesia, bagaimana situasi terkini anak jalanan di DKI Jakarta, pengetahuan HIV AIDS, Napza dan perilaku seksual pada anak jalanan di DKI Jakarta. Dinas Sosial dan LSM pendamping anak jalanan dapat meningkatkan kapasitasnya terkait dengan penanganan kekerasan, informasi IMS, HIV AIDS dan Narkoba.