PPH Unika Atma Jaya Sebagai Pusat Penelitian Kebijakan HIV

PPH Unika Atma Jaya Sebagai Pusat Penelitian Kebijakan HIV

Pusat Penelitian HIV AIDS (PPH) merupakan salah satu pusat penelitian di bawah struktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Unika Atma Jaya. Di usianya yang ke 7 tahun ini, PPH berusaha secara konsisten untuk memberikan fokus penelitian pada permasalahan kesehatan terutama penanggulangan epidemi HIV dan AIDS di Indonesia. Berdasarkan fokus penelitian tersebut maka pendekatan yang digunakan adalah bahwa penyebaran dan penularan HIV di masyarakat terjadi secara tidak merata dimana kelompok miskin dan marginal memiliki burden of disease yang lebih besar dari pada masyarakat umum.

Dalam sambutannya, KSI yang diwakili oleh Tanti, berharap bahwa PPH Atma Jaya terus berkembang menjadi pusat penelitian kebijakan tidak hanya universitas tetapi juga stakeholder lain

Dalam proses kerjanya, PPH Unika Atma Jaya telah mendapatkan dukungan dana DFAT melalui Knowledge Sector Initiatives (KSI) untuk periode sekitar tiga tahun, berawal tahun 2014 dan akan berakhir di bulan Mei 2017. Dalam dua tahun pertama, dukungan KSI lebih difokuskan untuk untuk tiga hal; (a) Peningkatan kapasitas organisasi, (b) Peningkatan kualitas penelitian, dan (c) Menerjemahkan hasil penelitian dalam kebijakan.  PPH Atma Jaya terlibat dalam knowledge community yang diinisiasi oleh KSI, dengan fokus utama pada kelompok kerja research in higher education (WG RIH) dan knowledge to policy (K2P).  Pada tahap terakhir dari dukungan dana KSI fase pertama, dukungan pendanaan digunakan untuk mendorong dua area utama, yaitu: dukungan terhadap Penelitian di Universitas untuk memperkuat sinergitas dan koordinasi antara seluruh pusat yang berada di bawah LPPM dan pendanaan utama (core funding) organisasi.

Selama tiga tahun proses pembelajaran bersama KSI, terjadi banyak perubahan, khususnya dalam hal pencapaian visi dan strategi organisasi, kemampuan dalam pengelolaan pengetahuan, peningkatan kapasitas penelitian, dan meningkatnya hubungan kerjasama yang cukup menyolok dengan pihak pemangku kebijakan, komunitas, maupun lembaga-lembaga dalam maupun luar negeri. Harapan ke depan, PPH Unika Atma Jaya dapat menjadi pusat penelitian kebijakan kesehatan yang mampu mengembangkan Puslit lain di Universitas Atma Jaya untuk bersama melakukan advokasi baik dalam skala internal dan eksternal terkait isu yang berpihak pada komunitas miskin dan terpinggirkan.

dr Endang dari Kemenkes mengapresiasi PPH Atma Jaya sebagai pusat penelitian khusus untuk kebijakan HIV karena di Litbang Kemenkes lebih berfokus ke penelitian yang bersifat klinikal.

Dr Endang Budi dari Kementrian Kesehatan mengemukakan bahwa kerja sama antara Kemenkes dengan PPH sejauh ini lebih banyak pada penelitian operasional terkait isu sosial. Contohnya: pelaksanaan Early Infant Diagnostic pada bayi dalam rangka mencegah penularan HIV dari ibu ke anak di DKI Jakarta. Program ini membantu bayi memulai pengobatan dengan lebih cepat.

PPH bersama Indonesia AIDS Coalition (IAC) tengah merancang sebuah sistem terkait monitoring ARV dengan dukungan Kementrian Kesehatan seperti diutarakan oleh Iman dari IAC. Dalam beberapa kegiatan penelitiannya PPH melibatkan komunitas populasi kunci. Sebagai contoh pelibatan anggota Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) dalam proses pengambilan data dan analisis data pada penelitian dampak penutupan lokalisasi tahun 2016. (hk)

 

 

 

 

(Artikel ini merupakan bagian dari rangkuman kegiatan Seminar “History of Change:¬†Pembelajaran 3 tahun PPH bersama Knowledge Sector Initiative (KSI)” yang diselenggarakan pada tanggal 16 Mei 2017 bertempat di Gedung Yustinus, Unika Atma Jaya.)